tutorial pembuatan skripsi teknik budidaya rumput laut

pertama membuat matrik alias sinopsis skripsi

Judul Rumusan Masalah Variabel Indikator Sumber Data Metode Penelitian Hipotesis
Pengaruh Berat Bibit Awal Dengan Metode Jalur Terhadap Persentase Pertumbuhan

Harian   Populasi Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Di Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi Sebagai Sumber Belajar Biologi SMA Kelas XII Semester I Pokok Bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan

Bagaimana Pengaruh Berat Bibit Awal Dengan Metode Jalur Terhadap Persentase Pertumbuhan

Harian   Populasi Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Di Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi Sebagai Sumber Belajar Biologi SMA Kelas XII Semester I Pokok Bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan?

Variabel bebas:

Pengaruh Berat Bibit Awal Dengan Metode Jalur

 

Variabel terikat:

Persentase Pertumbuhan

Harian   Populasi Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Di Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi

antara:

sumber belajar biologi SMA XII Semester I Pokok Bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan

 

 

1.          Kriteria bibit rumput laut yang baik:

a.         Berat benih untuk metode apung 50-100 gram, jarak tiap ikatan benih sekitar 15-20 cm (Aslan, 1991: 63)

a.       Bibit yang digunakan merupakan thallus muda yang bercabang banyak, rimbun, dan berujung runcing.

b.       Bibit tanaman harus sehat dan tidak terdapat bercak, luka, atau terkelupas sebagai akibat terserang penyakit ice-ice atau terkena bahan cemaran, seperti minyak.

c.        Bibit rumput laut harus terlihat segar dan berwarna cerah, yaitu coklat dan hijau cerah.

d.       Bibit harus seragam dan tidak boleh bercampur dengan jenis lain.

e.        Berat bibit awal diupayakan seragam, sekitar 100 gram per ikatan/ rumpun. (Anggadiredja, 2009:30-31)

 

 

2.           Laju pertumbuhan populasi bibit rumput laut (Euceuma cottonii) pada lokasi budidaya

 

a.       Pertambahan panjang rumput laut yang dibudidayakan diukur dengan penggaris secara berkala.

b.       Pertambahan berat rumput laut yang ditimbang secara berkala.

 

3.      Metode jalur

Merupakan kombinasi antara metode rakit dan rawai . Kerangka metode ini terbuat dari rakit (bambu) yang tersusun sejajar. Kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali utama berdiameter 6 mm sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 7m x 5 m per petak dengan 1 unit terdiri dari 7-10 jalur. Pada kedua ujung setiap unit diberi jangkar . penanaman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur dengan jarak 25 cm. (Sudradjat 2009:148 )

 

4.      Lingkungan yang menjadi syarat tumbuh rumput laut:

a.       Suhu air yang baik berkisar antara 20- 28oC

b.       ph air laut yang baik antara 7,3-8,2

c.        kedalaman perairan laut untuk budidaya rumput laut untuk metode lepas dasar anatara 30-60 cm pada waktu surut terendah, sedangkan untuk metode rakit apung, rawai, dan jalur sebaiknya pada perairan dengan kedalaman sekitar 2-15m.

d.       Kecepatan arus dengan menggunakan aliran bola pimpong dalam satuan waktu tertentu

 

e.        Organisme pengganggu

Lokasi budi daya diusahakan pada perairan yang tidak banyak terdapat organisme pengganggu misalnya ikan baronang, bintang laut, bulu babi, dan penyu.

5.         Sumber belajar biologi

Fred Percipal (1998) dalam (Novrianti, 2008) ada Tiga Persyaratan Sumber Belajar yaitu sebagai berikut:

a.      Harus tersedia dengan cepat

b.       Harus memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri

c.     Harus bersifat individual misalnya harus dapat memenuhi berbagai kebutuhan para siswa dalam belajar mandiri.

Pembelajaran biologi melalui 2 aspek yaitu produk dan proses yang terdapat di dalamnya.

Ciri- ciri sumber belajar:

1.       Sumber belajar harus mampu memberikan kekuatan dalam proses belajar mengajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal

2.       Sumber belajar harus mempunyai nilai-nilai intruksional edukatif, yaitu dapat mengubah dan membawa perubahan yang sempurna terhadap tingkah laku sesuai dengan tujuan yang ada

3.       Dengan adanya klasifikasi sumber belajar, maka sumber belajar yang dimanfaatkan mempunyai ciri- ciri:

A.      Tidak terorganisasi tidak sistematis dalam bentuk maupun isi

B.      Tidak mempunyai tujuan pembelajaran yang eksplisit

C.      Dapat digunakan untuk beberapa satuan pembelajaran

4.       Sumber belajar yang dirancang mempunyai ciri-ciri yang spesifik sesuai dengan tersedianya media

5.       Sumber belajar dapat dipergunakan secara sendiri-sendiritetapi juga dapat digunakan secara kombinasi.

6.       Sumber belajar dapat dibedakan menjadi 2 sumber belajar yang dirancang dan sumber belajar yang tinggal dipakai (Musfiqon, 2010: 131)

Penentuan bahan kajian keunggulan lokal di dasari pada beberapa kriteria:

1.       Kesesuaian dengan tingkat pengembangan peserta didik

2.       Kemampuan guru dan ketersediaan tenaga pendidik yang diperlukan

3.       Tersedianya sarana dan prasarana

4.       Tidak bertentangan dengan agama dan nilai luhur bangsa

5.       Tidak menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan.

6.       Kelayakan berkaitan dengan pelaksanaan di sekolah

7.       Lain- lain yang dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kondisi dan situasi daerah (Ahmadi dkk: 2012, 20)

 

Adapun proses biologi meliputi:

1. Observasi

2. Klasifikasi, prediksi, inferensi

3. Membuat hipotesis

4. Mendesain dan melakukan percobaan

5. Menggunakan alat ukur

6. Identifikasi variabel

7. Mengontrol variabel

8.Mengumpulkan data

9. Mengoranisasi data (tabel,grafik,dll)

10. Memaknakan data, tabel , grafik

11. Menyusun kesimpulan

12.Mengkomunikasikan hasil/ide/secara tertulis maupun lisan (Komarayanti: 2007:27)

 

Sedangkan produk biologi meliputi:

1.       Fakta

2.       Konsep

3.       Prinsip

4.       Prosedur

5.       Teori

6.       Hukum dan postulat (Komarayanti: 2007:28)

Selanjutnya produk biologi tersebut disajikan dengan analisis kurikulum (silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Biologi SMA

 

 

I.      Subjek Penelitian adalah:

1). Pengaruh Berat Bibit Awal Dengan Metode Jalur

 

2). Persentase Pertumbuhan

Harian   Populasi Rumput Laut (Eucheuma Cottonii)

II. Informan

a.       Nara sumber:

Petani rumput laut di dusun Andelan Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi

b.       Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuwangi

c.        Studi Literatur (pustaka dan jurnal ilmiah)

1.       Tempat penelitian:

dusun Andelan Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi

2.       Jenis penelitian :

Eksperimen

3.       Pengumpulan data :

a.       Survey

b.       Observasi

c.        Wawancara

d.       Eksperimen

e.        Dokumentasi

Pemantauan laju pertumbuhan yaitu dengan sampling 1 kali dalam seminggu, dengan rumus:

G=     (Wt/Wo)1/t – 1     x 100%

Keterangan:

G= Laju Pertumbuhan Harian (%)

Wo= Bobot Rata- rata awal (gram)

Wt= bobot rata- rata akhir (gram)

t = umur tanaman (Anggadiredja, 2006:39)

 

 

b) Pertumbuhan mutlak (Effendie 1997):

 

ΔW = Wt – Wo (3)

dimana: ΔW = pertumbuhan mutlak dalam berat (gram)

Wt = berat pada saat pengukuran (gram)

Wo = berat awal (gram)

Rumus menghitung   persentase pertumbuhan harian rumput laut

 

Dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri

dari satu faktor dan enam kali ulangan.

Perlakuan terdiri dari 25 gram, 50 gram (kontrol), 75 gram, 100 gram.

Waktu Pengamatan:

7 hari, 14 hari, 21 hari, 28 hari, 35 hari, 45 hari.

Data yang diperoleh, dianalisis menggunakan ANAVA satu jalur. Jika F hitung ≥

F tabel 5 %, maka terdapat pengaruh yang signifikan, dan dilanjutkan dengan uji BNT

(Beda Nyata Terkecil) untuk mengetahui beda antar perlakuan.

 

 

Rumus penghitungan arus air laut

V = S(tali) / t

Keterangan :

V = kecepatan arus (m/s)

S(tali) = panjang tali

t = waktu yang diperlukan untuk tali menegang

 

 

Ada Pengaruh Berat Bibit Awal Dengan Metode Jalur Terhadap Persentase Pertumbuhan

Harian   Populasi Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Di Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi Sebagai Sumber Belajar Biologi SMA Kelas XII Semester I Pokok Bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan

 

membuat proposal skripsi dengan memulai bab 1 sampai bab 3

PENGARUH BERAT BIBIT AWAL DENGAN METODE JALUR TERHADAP PERSENTASE PERTUMBUHAN HARIAN POPULASI RUMPUT LAUT (EUCHEUMA COTTONII) DI DESA SUMBER KENCONO KECAMATAN WONGSOREJO KABUPATEN BANYUWANGI SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI SMA KELAS XII SEMESTER I”

(Pokok bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan )

 

 

 

PROPOSAL SKRIPSI

 

Oleh:

Aini Maskuro

NIM 091 0211 107

        

 

 

 

 

 

 

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

Desember , 2012

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Penelitian

Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan. Upaya tersebut terbukti dengan penetapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan ditindak lanjuti dengan Kurikulum Berkarakter Bangsa. Hal ini dilakukan oleh pemerintah guna untuk memberikan inovasi, reformasi dan perkembangan dari dunia pendidikan itu sendiri. Karena tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari sistem nilai pancasila dirumuskan dalam Undang- Undang No. 20 tahun 2003, pasal 3 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggng jawab.

Dari peraturan Undang- Undang No. 20 tahun 2003, pasal 3 di atas, maka dapat disimpulkan salah satu upaya inovasi, reformasi, dan perkembangan yang dilakukan oleh pemerintah dalam bidang pendidikan yaitu dengan menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing- masing satuan pendidikan. (Sanjaya, 200:128). Alasan lahirnya KTSP didorong oleh adanya keinginan untuk memberi kebebasan kepada masing-masing wilayah bahkan sekolah untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri yang relevan (sesuai) dengan potensi, perkembangan dan kebutuhan siswa dengan lingkungannya. (Ahmadi, 2012:117).

Dari pengertian KTSP di atas, ada beberapa hal yang berhubungan dengan makna operasional, maka dalam pengembangannya, KTSP tidak akan lepas dari ketepatan-ketepatan yang telah disusun pemerintah secara nasional. Kedua, sebagai kurikulum operasional, para pengembang KTSP, dituntut harus memperhatikan ciri khas kedaerahan, sesuai dengan bunyi Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 ayat 2, yakni bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Ketiga sebagai kurikulum operasional, para pengembang kurikulum di daerah memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum menjadi unit-unit pelajaran (Sanjaya, 2008:128-129). Sehingga dari ketiga makna operasional KTSP tersebut diharapkan agar dapat mewujudkan program pemerintah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.

Kurikulum Berkarakter Bangsa merupakan tindak lanjut dari KTSP. Dimana pada Kurikulum Berkarakter Bangsa menyisipkan nilai karakter baik dalam kegiatan pembelajaran maupun dalam sistem penilaian. Hal ini bertujuan agar peserta didik memiliki karakter sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Karakter yang dimaksud adalah gambaran tingkah laku yang dimiliki oleh seseorang yang mencerminkan nilai- nilai kehidupan dan melekat pada diri seseorang. Terdapat 5 parameter orang yang memiliki karakter yaitu: (1) orang disebut berkarakter apabila memegang teguh nilai- nilaikehidupan yang berlaku universal (misalnya: cinta kasih, memiliki komitmen yang kuat, kesetiaan, solidaritas, disiplin, tanggung jawab, demokratis, adil, dan jujur), (2) memiliki komitmen kuat dengan memegang prinsip kebenaran hakiki, (3) harus mandiri, meski menerima masukan dari luar, (4) teguh akan pendirian pendirian yang benar, (5) memiliki kesetiaan yang solid. Karena itu sudah seharusnya kurikulum yang berlaku saat ini memberikan perhatian tang lebih besar pada pendidikan budaya dan karakter bangsa dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. (Rohman, 2012:232-234). Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki, mengkaji, menginternalisasi, serta mempersonalisasi nilai- nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. (Amri, 2011- 31)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tindak lanjut KTSP dengan Kurikulum Berkarakter Bangsa diharapkan dapat memunculkan karakter peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, termasuk salah satu diantaranya yaitu pembelajaran Biologi yang berwawasan pemanfaatan lingkungan sekitar dan pengembangan potensi daerah sebagai objek belajar Biologi.

Adapun ciri- ciri subjek belajar Biologi yang perlu diperhatikan yaitu (a) struktur anak, (b) kontak anak dengan lingkungannya, (c) persepsi anak terhadap lingkungannya, dan (d) perilaku belajarnya. (Komarayanti, 2007 : 16)

Sehubungan dengan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar ini, Nasution (1985:125) dalam (Novrianti: 2008) menyatakan bahwa pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : dengan cara membawa sumber-sumber dari masyarakat ke atau lingkungan ke dalam kelas dan dengan cara membawa siswa ke lingkungan. Tentunya masing-masing cara tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan, metoda, teknik dan bahan tertentu yang sesuai dengan tujuan pengajaran.

Sementara itu, inovasi penggunaan sumber belajar dengan memanfaatkan sumber daya alam yang banyak ditemui di sekitar lingkungan kita masih relatif jarang dilakukan oleh guru-guru Biologi SMA. Padahal dengan pemanfaatan dan penggunaan lingkungan sekitar untuk dijadikan sebagai sumber belajar Biologi sangat sesuai dengan pendekatan lingkungan yang berarti mengkaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar guna untuk mempermudah pemahaman materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari- hari siswa (Nuryani, 2003: 110). Selain itu juga dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa dalam mengasah metode ilmiah siswa. Melalui pemanfaatan lingkungan tersebut, siswa akan dengan mudah memperoleh pengetahuan baru dan menemukan konsep sendiri bukan dengan menghafal konsep yang hanya tercantum di textbook saja. Sehingga paradigma atau anggapan pelajaran Biologi yang terkesan menghafal dapat berkurang dengan adanya pembelajaran Biologi yang bermakna, salah satunya dengan pemaanfaatan lingkungan dan sumber daya alam sebagai alternatif sumber belajar Biologi.

Dari uraian di atas, maka pemanfaatan lingkungan sekitar siswa baik yang berada di pedesaan, perkotaan, sekitar laut, pantai, hutan, taman nasional, home industry dan lain sebagainya sangat diperlukan untuk pengenalan objek belajar Biologi yang bermakna. Sehingga siswa dapat menemukan konsep Biologi melalui kontak langsung dengan lingkungan yang dijadikan sumber belajar Biologi.

Implementasi pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar Biologi dalam pembelajaran di kelas dapat disampaikan dengan menggunakan strategi pembelajaran Biologi yang menarik seperti dengan menerapkan metode fieldtriep (pembelajaran di luar kelas), pendekatan lingkungan, pendekatan Contekstual Teacher Learning dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan agar pembelajaran Biologi menjadi aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan.

Akhir- akhir ini, di desa Sumber Kencono kecamatan Wongsorejo kabupaten Banyuwangi terdapat potensi daerah yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar Biologi untuk pokok bahasan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan yaitu pengaruh berat bibit awal dengan metode jalur terhadap persentase pertumbuhan harian populasi rumput laut (eucheuma cottonii) di desa Sumber Kencono kecamatan Wongsorejo kabupaten Banyuwangi . Di mana di desa tersebut hanya ditemui dua tempat budidaya rumput laut (Eucheuma cottonii) yang relatif besar dan berkesinambungan yaitu tepatnya di dusun Andelan. Hasil budidaya rumput laut (Eucheuma cottonii) di eksploitasi hingga ke luar kota, seperti: kota Situbondo, Pasuruan, Gresik, hingga Surabaya. Jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh petani di desa tersebut adalah cottonii dengan varian dua warna yaitu cottonii berwarna hijau dan merah.

Pada umumnya petani rumput laut (Eucheuma cottonii) hanya menerapkan metode konvensional yaitu metode jalur tanpa memperhatikan syarat tumbuh optimum yang mempengaruhi kualitas pertumbuhan populasi rumput laut yang dibudidayakan. Selain itu para petani rumput laut (Eucheuma cottonii) hanya memperhatikan salah satu syarat tumbuh berdasarkan pengalaman membudidayakan rumput laut (Eucheuma cottonii) yang dilakukan beberapa tahun yang lalu. Syarat tumbuh tersebut adalah musim tanam yaitu pada bulan Oktober sampai bulan Desember diperoleh panen rumput laut (Eucheuma cottonii) yang baik. Sedangkan untuk bulan Februari sampai bulan April diperoleh panen rumput laut (Eucheuma cottonii) yang jelek. Padahal untuk memperoleh panen rumput laut (Eucheuma cottonii) yang optimum tidak hanya ditentukan oleh satu faktor lingkungan, melainkan harus memperhatikan kondisi bibit rumput laut salah satunya berat awal bibit. Hal ini sangat menghawatirkan upaya pelestarian populasi rumput laut (Eucheuma cottonii) di desa tersebut.

Dengan adanya kondisi tersebut, maka hal ini dapat dijadikan kajian ekologi tumbuhan yang hidup di laut terkait dengan perbedaan berat awal bibit rumput laut (Eucheuma cottonii) dengan metode jalur yang dibudidayakan di desa tersebut. Sehingga dapat meningkatkan pengetahuan rumput laut untuk mengembangkan budidaya yang dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem biota laut yang ada di desa tersebut dan di daerah sekitarnya.

Dalam mengkaji konsep ekologi tumbuhan yang hidup di laut tentunya tidak akan lepas dari faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhannya baik faktor biotik maupun abiotik. Melalui kajian objek rumput laut (Eucheuma cottonii) ini diharapkan dapat menambah dan memperkaya pengetahuan mengenai komponen ekosistem baik biotik maupun abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan populasi rumput laut (Eucheuma cottonii). Selanjutnya proses dan produk penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar Biologi di SMA.

Dari beberapa uraian di atas dapat sebagai bahan pertimbangan, maka penelitian ini berusaha mengungkap objek belajar dan persoalan Biologi yaitu “pengaruh berat bibit awal dengan metode jalur terhadap persentase pertumbuhan harian populasi rumput laut (eucheuma cottonii) di desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi Sebagai Alternatif Sumber Belajar Biologi di SMA Kelas XII Semester I” untuk pokok bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan Sub Pokok bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan Rendah.

 

  • Rumusan Masalah

Pokok permasalahan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berat bibit awal dengan metode jalur terhadap persentase pertumbuhan harian populasi rumput laut (Eucheuma cottonii) di desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi dan diharapkan proses dan produk dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai alternatif sumber belajar Biologi di SMA Kelas XII Semester I” untuk pokok bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan Sub Pokok bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan Rendah.

 

 

  • Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui pengaruh berat bibit awal dengan metode jalur terhadap persentase pertumbuhan harian populasi rumput laut (Eucheuma cottonii) di desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi.
  2. Produk dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai alternatif sumber belajar Biologi di SMA kelas Kelas XII Semester I” untuk pokok bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan Sub Pokok bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan Rendah.

 

  • Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

  1. Sebagai informasi bagi guru Biologi SMA dan calon guru Biologi agar dapat memanfaatkan lingkungan alam sekitar sebagai sumber belajar dalam hal pengadaan invovasi media belajar Biologi yang telah di olah dalam rancangan pembelajaran sesaui dengan pengembangan Kurikulum Berkarakter Bangsa.
  2. Sebagai strategi pembelajaran Biologi yang dapat memberikan pengalaman belajar sesuai dengan objek dan persoalan biologi yang terdapat di lingkungan sekitarnya.
  3. Produk penelitian yang dijadikan sumber belajar biologi dapat diaplikasikan sebagai pengembangan perangkat pembelajaran yang disajikan dalam pengajaran mikro (microteaching).
  4. Sebagai informasi kepada petani rumput laut khususnya di desa Sumber Kencono kecamatan Wongsorejo kabupaten Banyuwangi untuk meningkatkan kualitas budidaya rumput laut dengan memperhatikan syarat tumbuh optimum rumput laut.
  5. Sebagai informasi kepada masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut.
    • Definisi Istilah

Sesuai dengan judul penelitian ini yaitu “pengaruh berat bibit awal dengan metode jalur terhadap persentase pertumbuhan harian populasi rumput laut (Eucheuma cottonii) di desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi Sebagai Alternatif Sumber Belajar Biologi di SMA Kelas XII Semester I”. Maka diadakan pembatasan istilah sebagai berikut:

1.5.1. Pengaruh

Pengaruh yang dimaksud adalah efek dari yang ditimbulkan.

1.5.2 Persentase Pertumbuhan Harian

Pertumbuhan adalah perubahan ukuran suatu organisme yang dapat berupa berat atau panjang dalam waktu tertentu yang dapa dinyatakan dengan rumus: :

1.5.3 Populasi

Kumpulan individu sejenis yang menempati areal tertentu

 

 

 

1.5.4 Bibit Rumput laut

Bibit rumput laut yang dimaksud adalah jenis (Eucheuma cottonii) dengan varian yaitu cottonii hijau

1.5.5 Metode Jalur

Merupakan kombinasi antara metode rakit dan rawai . Kerangka metode ini terbuat dari rakit (bambu) yang tersusun sejajar. Kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali utama berdiameter 6 mm sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 7 m x 5 m per petak dengan 1 unit terdiri dari 7-10 jalur

1.5.6 Kawasan Desa

Kawasan desa yang dimaksud adalah kawasan desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi tepatnya di dusun Andelan. Jadi bukan semua kawasan desa, akan tetapi kawasan tersebut dapat mewakili keberadaan rumput laut di desa tersebut.

1.5.6 Sumber Belajar Biologi

Sumber belajar biologi yanng dimaksud segala sesuatu yang berupa benda hidup, tak hidup, fenomena, dan gejalanya yang dappat dimanfaatkan untuk memperoleh pengalaman langsung dalam rangka dijadikan objek belajar dan pemecahan masalah biologi.

 

 

 

 

 

 

  • Ruang Lingkup Penelitian

Untuk membatasi permasalahan yang ada maka pengkajian pengaruh berat bibit awal dengan metode jalur terhadap persentase pertumbuhan harian populasi rumput laut (Eucheuma cottonii) di desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi budidayakan adalah pada jenis bibit rumput laut varian ccottonii hijau dengan berat 25 gram, 50 gram, 75 gram dan 100 gram.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Kependidikan

2.1.1 Hakikat Belajar Biologi

Belajar biologi bukan hanya mementingkan aspek pengetahuan akan tetapi juga harus mengungkap proses biologi. Untuk mengungkap aspek proses maka belajar biologi dapat melibatkan situasi belajar yakni belajar di dalam kelas, kerja laboratorium, ataupun kegiatan pembelajaran dengan kerja laboratorium yang dilakukan di luar kelas.(Puasati, 2008)

Menurut Komarayanti (dalam Alfirdaus, 2009: 8) biologi sebagai ilmu memiiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan ilmu lainnya dalam hal objek, persoalan dan metodenya. Selain itu biologi juga memiliki struktur keilmuan yang jelas.

Berdasarkan struktur keilmuan BSCS (Biological Science Curricullum Study), Biologi memiliki objek kehidupan berupa kerajaan (Kingdom): (A) Plantae, (B) Animalium (hewan), (C) Protista. Ketiga objek tersebut dikaji dari tingkat organisasi kehidupan yaitu: (a) molekul, (b) sel, (c) jaringan dan organ, (d) individu, (e) populasi, (f) komunitas, (g) bioma. Adapun persoalan yang dikaji meliputi 9 tema dasar yaitu: (1) Biologi (Sains) sebagai proses inkuiri/penemuan (inkuiri), (2) sejarah konsep biologi, (3) Evolusi, (4) Keanekaragaman dan keseragaman, (5) genetik, (6) Organisme dan Lingkungan, (7) perilaku, (8) struktur dan fungsi, (9) Regulasi. (Komarayanti, 2007: 24)

Adapun tujuan belajar IPA menurut (Anggraeni 2010), yaitu:

  1. Mengembangkan keterampilan berpikir siswa

 

  1. Mengembangkan keterampilan siswa dalam merancang, melaksanakan percobaan sebagai strategi pembelajaran & pemecahan masalah
  2. Memahami hakekat sains sebagai proses, produk, dan sikap ilmiah
  3. Meningkatkan sikap ilmiah (scientific attitude) dalam memahami fenomena alam
  4. Mengaplikasikan pengetahuan sains dalam kehidupan sehari-hari, teknologi,lingkungan dan masyarakat .

2.1.2 Kegiatan Pembelajaran Biologi

Komarayanti (2007: 8) menyatakan selama kurun waktu yang relatif lama proses belajar mengajar IPA (Biologi) telah berlangsung secara “tradisional” pembelajaran yang semacam itu kurang inovatif karena: (a) banyak siswa mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi ajar yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya mereka tidak memahaminya. (b) sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan atau dimanfaatkan.(c) siswa sulit memahami konsep akademik yang diajarkan oleh guru dengan menggunakan sesuatu yang abstrak melalui penyampaian metode ceramah. Padahal mereka sangat perlu dapat memahami konsep- konsep yang berhubungan dengan masyarakat pada umumnya dimana mereka akan hidup dan bekerja.

Menurut Suratno (2006) dalam Alfirdaus (2009: 10) pembelajaran biologi mengajak subjek belajar untuk belajar berbagai gejala alam dengan mengikuti kaidah ilmiah dan bukan hanya sekedar menghafal konsep namun ditekankan mencari dan menemukan konsep. Selanjutnya Komarayanti (2007: 27) menegaskan pembelajaran biologi harus mengembangkan keterampilan proses ilmiah yang meliputi: (1) observasi; (2) klasifikasi, prediksi, inferensi; (3) membuat hipotesis, (4) mendesain dan melakukan percobaan; (5) menggunakan alat ukur; (6) identifikasi variabel; (7) mengontrol variabel; (8) mengumpulkan data; (9) mengorganisasi data dalam tabel, grafil dan lain- lain; memaknakan data, tabel, grafik; (11) menyusun kesimpulan; (11) mengkomunikasikan hasil/ ide/ secara tertulis maupun lisan. Selain itu Science A Procee Approach (SAPA) tidak meentingkan konsep melainkan menuntut pengembangan pendekatan proses secara utuh yaitu metode ilmiah dalam setiap pelaksanaannya, sedangkan jenis-jenis ketrampilan proses dalam pendekatan keterampilan proses sains dapat dikembangkan secara terpisah-pisah, bergantung metode yang digunakan. (Rustaman, 2003 : 93)

Pendidikan karakter itu sendiri adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam pendidikan karakter disekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen pendirian itu sendiri, yaitu isi kurikulum,proses pembelajaran dan penilaian. Penanganan aatau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kurikuler, pemberdayaan sarana dan prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/ lingkungan.(Rohman, 2012: 65-66). Selanjutnya langkah- langkah pembentukan karakter menurut Najib Sulhan (2012: 20) (dalam Amri, 2012:43-44) sebagai berikut:

  1. Memasukkan konsep karakter pada setiap pembelajaran dengan cara:
  2. Memasukkan nilai kebaikan pada anak (knowing the good). Menanamkan konsep diri pada anak setiap memasuki pelajaran.
  3. Menggunakan cara yang membuat anak memiliki alasan atau keinginan untuk berbuat baik.(desiring the good)
  4. Memberikan beberapa contoh kepada anak mengenai karakter yang sedang dibangun.
  5. Memberikan sikap mencintai perbuatan baik (loving the good).
  6. Melaksanakan perbuatan baik (acting the good).
  7. Membuat slogan yang mampu menumbuhkan kebiasaan baik dalam segala tingkah laku masyarakat sekolah.
  8. Pemantauan secara kontinyu merupakan wujud dari pelaksanaan pembangunan karakter.
  9. Penilaian orang tua memiliki peranan yang besar dalam membengun karakter anak.

Dari uraian pendidikan karakter di atas dapat disimpulkan untuk diterapkan ke semua mata pelajaran termasuk pada pelajaran biologi. Melalui keterampilan proses sains dalam pelajaran biologi dapat membentuk karakter siswa seperti jujur, teliti, peduli lingkungan dan kerja keras dalam berproses di pelajaran biologi melalui keterampilan proses sains.

 

 

2.1.3 Lingkungan sebagai sumber belajar Biologi

Balajar mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang saling berintegrasi di dalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah sumber belajar. Sadiman (1989) dalam (Novrianti, 2008) menyatakan bahwa sumber belajar adalah segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan atau memudahkan terjadinya proses belajar. Selanjutnya (Amri, 2011: 122) menyatakan sumber belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat digunakan oleh siswa agar terjadi perilaku belajar. Adapun langkah analisis sumber belajar adalah:

  1. pilih klasifikasi sumber belajar
  2. gunakan klasifikasi ini untuk mengidentifikasi sumber- sumber belajar yang tersedia di lingkungan di mana pelajaran itu akan dilaksanakan
  3. analisis kualitas berdasarkan tujuan pembelajaran dan kuantitas sumber belajar untuk mengetahui kecermatan media dalam penyampaiannya.

Kemudian ditegaskan oleh Rohani, 1997: 102 dalam (Musfiqon, 2012: 129 ), sumber belajar adalah segala macam sumber yang ada di luar diri siswa yang keberadaannya memudahkankan proses pembelajaran. Adapun komponen sumber belajar meliputi: pesan, manusia, material (media-software), peralatan (hardware), teknik (metode), dan lingkungan yang dipergunakan secara sendiri- sendiri maupun dikombinasikan untuk memfasilitasi terjadinya pembelajaran. Selanjutnya menurut Udin Saripuddin dan Winataputra (1999: 65) dalam (Djamarah dan Zain, 2010: 122) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu: manusia, buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan.

2.1.4. Syarat- syarat dan manfaat Sumber belajar

Pada dasarnya sumber belajar yang di pakai dalam pendidikan  adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan di buat agar memungkinkan siswa belajar secara individual. Untuk menjamin bahwa sumber belajar tersebut adalah sumber belajar yang cocok, gambar tersebut harus memenuhi persyaratan, Fred Percipal (1998) dalam (Novrianti, 2008) ada tiga Persyaratan Sumber Belajar yaitu sebagai berikut:

  1. Harus tersedia dengan cepat
  2. Harus memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri
  3. Harus bersifat individual misalnya harus dapat memenuhi berbagai kebutuhan para siswa dalam belajar mandiri.

 

Berdasarkan pada persyaratan tersebut maka sebuah sumber belajar harus berorientasi pada siswa secara individu, berbeda dengan sumber belajar tradisional yang dibuat berdasarkan pada pendekatan yang berorientas pada guru atau lembaga pendidikan

Dalam kegiatan instruksional ada banyak sumber dan daya yang dapat  kita manfaatan baik yang tedapat di ruang maupun yang banyak tedapat di sekitar kita, dan semuanya bermanfaat untuk meningkatkan cakrawala berfikir siswa dalam rangka peningkatan hasil belajar. Berikut ini ada beberapa manfaat sumber belajar menurut P&K (1983:7) ( dalam Novrianti, 2008) yaitu :

  1. Sumber belajar dapat memberikan perjalanan belajar yang kongkrit dan langsung kepada pelajarnya. Seperti kegiatan darma wisata ke pabrik, pusat tenaga lstrik, pelabuhan dan sebagainya.
  2. Sumber belajar menyajikan sesuatu yang tidak mungkin di adakan atau di kunjungi dan di lihat secara langsung oleh siswa. Contohnya seperti penggunaan peta, denah, foto dan sebagainya.
  3. Sumber belajar dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian  yang ada di dalam kelas, misalnya buku, foto-foto dan nara sumber
  4. Sumber belajar dapat memberikan informasi yang akurat dan terbaru, misalnya penggunaan buku teks, majalah, dan orang sumber informasi
  5. Sumber belajar dapat memecahkan masalah pendidikan atau pengajaran baik dalam lingkup mikro maupun makro
  6. Sumber belajar dapat memberikan motivasi yang positif, lebih-lebih jika di atur dan direncanakan pemanfaatannya dengan tepat.
  7. Sumber belajar dapat merangsang untuk berfikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut.

Selanjutnya menurut (Sudrajat, 2008) fungsi sumber belajar adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
  2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
  3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
  4. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
  5. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
  6. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.

Menurut Semiawan (1990: 96) ( dalam Novrianti, 2008) ada empat sumber belajar yang berkenaan langsung dengan lingkungan sebagai berikut:

  1. Masyarakat kota atau desa sekeliling sekolah
  2. Lingkungan fisik di sekitar sekolah
  3. Bahan sisa yang tidak terpakai dan barang bekas yang terbuang yang dapat menimbulkan pemahaman lingkungan
  4. Peristiwa alam dan peristiwa  yang terjadi di manfaatkan cukup menarik perhatian siswa. Ada peristiwa yang tidak mungkin atau tidak dapat dipastikan akan terulang  kembali. Jangan lewatkan peristiwa itu tanpa adanya catatan pada buku atau alam pikiran siswa.

 

Secara garis besar sumber belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Sumber belajar harus mampu memberikan kekuatan dalam proses belajar mengajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal
  2. Sumber belajar harus mempunyai nilai-nilai intruksional edukatif, yaitu dapat mengubah dan membawa perubahan yang sempurna terhadap tingkah laku sesuai dengan tujuan yang ada
  3. Dengan adanya klasifikasi sumber belajar, maka sumber belajar yang dimanfaatkan mempunyai ciri- ciri :
  4. Tidak terorganisasi tidak sistematis dalam bentuk maupun isi
  5. Tidak mempunyai tujuan pembelajaran yang eksplisit
  6. Dapat digunakan untuk beberapa satuan pembelajaran
  7. Sumber belajar yang dirancang mempunyai ciri-ciri yang spesifik sesuai dengan tersedianya media
  8. Sumber belajar dapat dipergunakan secara sendiri-sendiritetapi juga dapat digunakan secara kombinasi.
  9. Sumber belajar dapat dibedakan menjadi 2 sumber belajar yang dirancang dan sumber belajar yang tinggal dipakai (Musfiqon, 2010: 131)

Penentuan bahan kajian keunggulan lokal di dasari pada beberapa kriteria:

  1. Kesesuaian dengan tingkat pengembangan peserta didik
  2. Kemampuan guru dan ketersediaan tenaga pendidik yang diperlukan
  3. Tersedianya sarana dan prasarana
  4. Tidak bertentangan dengan agama dan nilai luhur bangsa
  5. Tidak menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan.
  6. Kelayakan berkaitan dengan pelaksanaan di sekolah
  7. Lain- lain yang dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kondisi dan situasi daerah (Ahmadi dkk: 2012, 20)

Selanjutnya menurut (Rustaman, 2010) Alasan penggunaan media pembelajaran dalam Biologi, adalah:

  1. Biologi mencakup/ memiliki konsep abstrak. Perlu adanya visualisasi konsep abstrak untuk membantu pemahaman pada tingkat dasar.
  2. Menerangkan proses kejadian.
  3. Menggambarkan proses penalaran.
  4. Meningkatkan kreativitas guru.
  5. Meningkatkan motivasi belajar siswa.

 

2.2 Tinjauan Keilmuan

2.2.1 Klasifikasi Ilmiah Rumput Laut (Eucheuma cottonii)

            Berikut klasifikasi Ilmiah Rumput Laut (Eucheuma cottonii) menurut Anggadireja (2006: 7) sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Rhodophyta

Kelas : Rhodophyceae

Ordo : Gigartinales

Famili : Solieracea

Genus : Eucheuma

Species : Eucheuma cottonii (Kappaphycus alvarezii)

2.2.2 Deskripsi dan Morfologi Rumput Laut (Eucheuma cottonii)

Dari segi morfologi, rumput laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan antara akar, batang dan daun. Secara keseluruhan, tanaman ini mempunyai morfologi yang mirip, walaupun sebenarnya berbeda. Bentuk- bentuk tersebut sebenarnya hanyalah thallus rumput laut ada bermacam- macam, antara lain bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong dan rambut dan sebagainya. Thalli ini ada yang tersusun uniselluler (satu sel) atau multiselluler (banyak sel). Percabangan thallus ada yang dichotomous (bercabang dua terus menerus), pectinate (berderet searah pada suatu sisi thallus utama), pinnate (bercabang dua- dua pada sepanjang thallus utama secara berselang seling), ferticillate (cabangnya berpusat melingkari aksis atau sumbu utama) dan ada juga yang sederhana, tidak bercabang. Sifat substansi thalli juga beraneka ragam, ada yang lunak seperti gellatin (gellatinous), keras diliputi atau mengandung zat kapur (calcareous), lunak seperti tulang rawan (cartilagenous) , berserabut (spongious) dan sebagainya.

Struktur anatomi thalli untuk tiap jenis rumput laut berbeda- beda, misalnya pada family yang sama antara Eucheuma spinosum dengan Eucheuma cottonii, potongan thallus yang melintang mempunyai susunan sel yang berbeda . Perbedaaan- perbedaan ini membantu dalam pengenalan berbagai jenis rumput laut baik dalam mengidentifikasi jenis, genus ataupun family.

Gambar 1: Rumput laut (Eucheuma cottonii)

Sumber : dokumentasi pribadi

Pigmen yang terdapat dalam thallus rumput laut dapat digunakan dalam membedakan berbagai kelas. Pigmen ini dapat menentukan warna thallus sesuai dengan pigmen yang ada pada kelas Chlorophyceae, Phaeophyceae, Rhodophyceae, dan Cyanophyceae. Perbedaan warna thalli menimbulkan adanya ciri algae yang berbeda seperti Algae hijau, algae coklat, algae merah dan algae biru. Namun dalam kenyataannya kadang-kadang kita sulit menentukan salah satu kelas hanya berdasarkan pada warna thallus yang kita ketahui, karena algae merah kadang-kadang berwarna hijau kekuning-kuningan, coklat kehitam-hitaman atau kuning kecoklata-coklatan. Keadaan warna tidak selalu dapat digunakan dalam menentukan kelasnya. Perubahan warna sering terjadi hanya karena faktor lingkungan yang berubah. Kejadian ini merupakan proses modifikasi yaitu perubahan bentuk dan sifat luar (fenotif) yang tidak kekal sebagai akibat pengaruh lingkungan antara lain iklim dan oseanografis yang relatif cukup besar. Pigmen yang menentukan warna ini antara lain klorofil, karoten, phycoerythrin, dan phycocyanin yang merupakan pigmen-pigmen utama disamping pigmen-pigmen lain. phycoerythrin, dan phycocyanin hanya terdapat pada Rhodophyceae dan Cyanophyceae. Sedangkan klorofil dan karoten dijumpai pada keempat kelas algae, hanya kadarnya yang berbeda. (Aslan: 1991: 20 )

Eucheuma adalah alga merah yang biasa ditemukan di bawah air surut rata-rata pada pasut bulan-setengah. Alga ini mempunyai thallus yang silindris berdaging dan kuat dengan bintil-bintil atau duri-duri yang mencuat ke samping pada beberapa jenis, thallusnya licin. Warna alganya ada yang tidak merah, tetapi hanya coklat kehijau-hijauan kotor atau abu-abu dengan bercak merah.Di Indonesia tercatat empat jenis, yakni Eucheuma spinosum, Eucheuma edule, Eucheuma alvarezii dan Eucheuma serra (Romimohtarto dan Juwana, 2005 dalam Alam, 2011 : 5)

Ciri–ciri dari genus Eucheuma sp. yaitu thallus dan cabang-cabangnya berbentuk silinder atau pipih. Waktu masih hidup warnanya hijau hingga kemerahan dan bila kering warnanya kuning kecoklatan. (Direktorat Jenderal Perikanan, 1990 dalam Alam, 2011 : 5). Selanjutnya menurut (Anggadiredja, 2006:9) menjelaskan ciri- ciri Eucheuma cottonii yaitu thallus silindris, permukaan licin, cartilageneus (menyerupai tulang rawan/ muda), serta berwarna hijau terang, hijau olive, dan cokelat kemerahan. Percabangan thallus berujung runcing atau tumpul, ditumbuhi nodulus (tonjolan-tonjolan), dan duri lunak/ tumpul untuk melindungi gametangia. Percababgan bersifat alternatus (berseling), tidak teratur, serta dapat bersifat dichotomus (percabangan dua- dua) atau trichotomus (sistem percabangan tiga- tiga).

Perkembangbiakan rumput laut pada dasarnya ada dua macam yaitu secara kawin dan tidak kawin. Pada perkembangbiakana secara kawin, gametofit jantan melalui pori spermatangia akan menghasilkan sel jantan yang disebut spermatia. Spermatia ini akan membuahi sel betina pada cabang carpogonia dari gametofit betina. Hasil pembuahan ini akan keluar sebagai carpospora. Setelah terjadi proses germinasiakan tumbuh menjadi tanaman yang tidak beralat kelamin atau disebut sporofit. Perkembangbiakan dengan cara tidak kawin terdiri dari penyebaran tetraspora, vegetatif, dan konjugatif. Sporofit dewasa menghasilkan spora yang disebut tetraspora yang sesudah proses germinasi tumbuh menjadi tanaman beralat kelamin, yaitu gametofit jantan dan gametofit betina. Perkembangbiakan secara vegetatif adalah dengan cara setek. Potongan seluruh bagian dari talus akan membentuk percabangan baru dan tumbuh berkembang menjadi tanaman biasa. Konjugasi merupakan proses peleburan dinding sel dan percampuran protoplasma antara dua thally. (Poncomulyo, 2006: 5-6). Karpospora sebagai hasil bergabungnya gamet jantan dan betina. Pada saat persemian, tetra spora dari tumbuh-tumbuhan aseksual pada gilirannya menghasilkan tumbuh-tumbuhan aseksual. (Marine, 2010)

Anggadireja (2006, 9) menegaskan habitat rumput laut (Eucheuma cottonii) hanya mungkin hidup pada lapisan fotik, yaitu kedalaman sejauh sinar matahari masih mampu mencapainya. Eucheuma cottonii tumbuh di rataan terumbu karang dangkal sampai kedalaman 6 m, melekat di batu karang, cangkang kerang, dan benda keras lainnya. Selanjutnya Gembong (1991:89) menegaskan kebanyakan rumput laut yang tergolong divisi Rhodopyceae hidup dalam air laut terutama dalam lapisan- lapisan air yang dalam, yang hanya dapat dicapai oleh cahaya bergelombang pendek. Hidupnya sebagai bentos melekat pada suatu substrat dan benang- benang pelekat atau cakram pelekat.

2.2.3 Faktor- faktor Lingkungan

2.2.3.1 Faktor Abiotik

Yaitu berupa faktor- faktor fisik dan kimiawi dalam lingkungan yang meliputi:

  1. Cahaya

Mutu dan kualitas cahaya berpengaruh terhadap produksi spora dan pertumbuhannya. Spora Gelidium dapat dirangsang oleh cahaya hijau, sedangkan cahaya biru menghambat pembentukan zoospora, misalnya pada Protosiphon. Pembentukan spora dan pembelahan sel dapat terangsang oleh cahaya merah berintensitas tinggi. Intensitas cahaya yang tinggi misalnya merangsang persporaan Porphyra , tetapi menghambat persporaan Eucheuma. Kebutuhan cahaya pada algae merah agak rendah dibanding algae coklat. Persporaan Gracilaria verrucosa misalnya, berkembang baik pada intensitas cahaya 400 lux, sedangkan Ectocarpus tumbuh cepat pada intensitas cahaya antara 6500-7500 lux.

  1. Musim dan suhu

Prosuksi spora dapat dipengaruhi oleh musim, misalnya produksi maksimal tetraspora dan karpospora Glacilaria umumnya terdapat di musim panas. Struktur gametofit dan sporofit pada Glacilaria mamilaria terbentuk di musim panas.

Perkembangan stadia reproduksi beberapa jenis algae tergantung pada kondisi suhu dan intensitas cahaya atau pada kombinasi diantara kedua para meter tersebut. Perkembangan tetraspora Polysiphonia misalnya berlangsung baik pada suhu antara 25-30o C, tetapi terhambat pada kombinasi suhu rendah dan intensitas cahaya tinggi. (Aslan, 1991: 42)

Sedangkan menurut Anggadiredja (2006: 28) suhu air optimal di sekitar budidaya rumput laut berkisar 26-30o C.

Rumput laut hidup dan tumbuh pada perairan dengan kisaran suhu air antara 20–28 oC, namun masih ditemukan tumbuh pada suhu 31 oC (Direktorat Jenderal perikanan, 1990) dalam Alam (2011: 11)

  1. Kadar garam (Salinitas)

Kesuburan algae dapat dipengaruhi oleh kadar garam atau slinitas, misalnya Glacilaria verrucosa kebanyakan mandul pada bulan-bulan yang bersalinitas tinggi (30-35 permil). Glacilaria yang berasal dari Atlantik dan pasifik timur pertumbuhan maksimum pada saat dibudidayakan adalah dengan salinitas 15-38 permil dengn kadar optimum 25 permil, yang ditunjang kadar Nitrogen dan fosfat yang rendah dan berhubungan langsung dengan pasang surut dan curah hujan.Selanjutnya (Sudrajat 2008: 145) menyatakan K. Alvarezii merupakan rumput laut yang relatif tidak tahan terhadap kisaran kadar garam yang tinggi (stenohaline). Kadar garam yang sesuai untuk pertumbuhannya berkisar 28-35 g/kg. Sedangkan menurut (Anggadiredja, 2006: 28) salinitas (kandungan garam NaCl dalam air) untuk pertumbuhan rumput laut Eucheuma sp. yang optimal berkisar 28-33 per mil. Oleh karena itu, lokasi budidaya diusahahakan yang jauh dari sumber air tawar seperti dekat muara sungai karena dapat menurunkan salinitas air.

Makroalgae umumnya hidup di laut dengan salinitas antara 30‰–32‰. Namun banyak jenis makroalgae mampu hidup pada kisaran salinitas yang besar. Fucus misalnya, mampu hidup pada kisaran salinitas antara 28‰-34‰. Salinitas berperan penting dalam kehidupan makroalgae. Salinitas yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menyebabkan gangguan pada proses fisiologis (Luning, 1990) dalam Alam (2011: 11)

  1. Gerakan air

Kebanyakan spora algae bersifat plantonis sehingga gerakan dan sebarannya dipengaruhi pola dan sifat gerakan air. Selain itu kekuatan air mempengaruhi melekatnya spora pada substratnya. Algae yang tumbuh diperairan yang selalu berombak dan berarus kuat akan mempunyai sifat dan karakteristikspora yang berbeda dengan algae yang berada diperairan tenang. Spora algae yang umbuh diperairan tipe pertama di atas, contohnya adalah Eucheuma serra, E. Spinosum, Gelidium spp, dan Pterocladia sp umumnya bersifat cepat tenggelam dan mempunyai kemampuan menempel yang kuat dan cepat pada substrat. Sedangkan algae diperairan tenang, misalnya Gracilaria, Hypnea, Acanthophora dan Padina, erat kaitannya dengan ukuran, bentuk dan lapisan lendir pada spora. Gerakan air berperanan penting pula di dalam memerbaiki kondisi pertukaran zat hara dan menghindarkan pengendapan untuk menunjaang pertumbuhan. (Aslan, 1991: 42). Selanjutnya Anggadiredja (2006: 28) menegaskan lokasi untuk budidaya rumput laut Euchuma sp harus terlindung dari arus (pergerakan air) dan hempasan ombak yang terlalu kuat. Apabila hal ini terjadi, arus dan ombak akan merusak dan menghanyutkan tanaman. Pergerakan air berkisar 0,2- 0,4 m/ detik. Dengan kondisi seperti ini, akan mempermudah penggantian dan penyerapan hara yang diperlukan oleh tanaman, tetapi tidak sampai merusak tanaman.

  1. Zat hara

Kadar Nitrat dan fosfat mempengaruhi stadia reproduksi algae bila zat hara tersebut melimpah diperairaan. Kadar nitrat dan fosfat di perairan akan mempengaruhi kesuburan gametofit algae coklat (Laminaria nigrescene) (Aslan,1991: 41-43)

 

 

 

  1. Arus

Rumput laut merupakan tanaman yang memperoleh makanan (unsur hara) melalui aliran air yang melewatinya. Suhu air yang baik berkisar 20- 28o C dengan pH antara 7,3-8,2. Tejadinya arus merupakan arus merupakan akibat dari adanya pasang surut maupun angin dan ombak. Kecepatan arus yang baik untuk untuk budidaya adalah 20-40 cm/detik.

Rumput laut merupakan organisme yang memperoleh makanan melalui aliran air yang melewatinya. Gerakan air yang cukup akan menghindari terkumpulnya kotoran pada thallus, membatu pengundaraan, dan mencengah adanya fluktuasi yang besar terhadap salinitas maupun suhu air (Ditjenkanbud, 2004). dalam Alam (2011: 11)

  1. Dasar perairan

Dasar perairan berupa pecahan karang dan pasir kasar merupakan kondisi dasar perairan yang sesuai untuk budidaya rumput laut K. Alvarezii. Kondisi perairan tersebut juga merupakan indikator adanya gerakan air yang baik.

  1. Kedalaman

Menurut Sudrajat (2008: 145) kedalaman perairan sangat tergantung dari metode budi daya yang akan dipilih. Metode lepas dasar sebaiknya dilakukan pada kedalaman perrairan tidak kurang 30-60 cm   pada waktu surut terendah. Sehingga penyerapan makanan dapat berlangsung terus dan tanaman terhindar dari kerusakan akibat sinar matahari. (Poncomulyo, 2006: 9) Sementara itu, metode rakit, apung, rawai, dan jalur sebaiknya pada perairan dengan kedalaman 2-15 m. Pemiihan kedalaman perairan yang tepat dilakukan untuk menghidari kekeringan dan mengoptimalkan pencapaian sinar matahari ke rumput laut. Selanjutnya Anggadirejda (2006: 28) kedalaman air pada saat surut terendah minimal 0,40 m sampai kedalaman dimana sianar matahari masih dapat mencapai tanaman dan petani mampu melakukan kegiatan.

  1. Kecerahan

Sudrajat (2008: 145) menjelaskan lokasi budidaya rumput laut sebaiknya pada perairan yang jernih dengan tingkat kecerahan tinggi. Jarak pandang kedalaman dengan menggunakan alat sechidisk (alat pengukur kecerahan) dapat mencapai 2-5 m. Kondisi seperti ini dibutuhkan agar cahaya matahari dapat mencapai tanaman untuk fotosintesis. (Anggadiredja, 2006: 28)

  1. Ketersediaan bibit

Bibit rumput laut yang berkualitas sebaiknya tersedia di sekitar lokasi budi daya yang dipilih, baik yang bersumber dari alam maupun dari budi daya. Apabila di lokasi tersebut tidak tersedia bibit, sebaiknya didatangkan dengan memperhatikan kaidah-kaidah penanganan bibit dan pengangkutan yang baik. (Sudrajat 2008: 145)

  1. Pencemaran air dan bukan merupakan jalur pelayaran.

Menurut Anggadiredja (2006: 28- 29) menyatakan lokasi budidaya rumput laut hendaknya terhindar dari daerah yang berdekatan dengan sumber pencemaran air, seperti industri dan tempat bersandarnya kapal- kapal. Untuk keamanan dan keberlanjutan budidaya maka lokasi yang dipilih bukan merupakan tempat yang menjadi jalur pelayaran.

 

2.2.3.2 Faktor biotik

Yaitu berupa faktor- faktor non fisik dan non kimiawi dalam lingkungan yang meliputi:

  1. Binatang pengganggu

Lokasi budi daya diusahakan pada perairan yang tidak banyak terdapat organisme penggangu, misalnya ikan baronang, bintang laut, bulu babi, dan penyu. Organisme tersebut dapat bersifat hama dalam budi daya rumput laut karena akan memakan tanaman yang dibudidayakan.( Sudrajat 2008: 145) . Selanjutnya (Aslan, 1991: 43) menyatakan Binatang laut seperti molusca dan ikan dapat mempengaruhi persporaan algae. Hewan molusca dapat memakan spora dan menghambat pertumbuhan stadia muda algae, sedangkan ikan herbivora memakan algae sehingga merusak thallii dan akan mengurangi jumlah spora yang dihasilakan oleh algae.

  1. Tumbuhan Pengganggu

Lumut sering menyerang, menempel, dan menutupi seluruh tanaman. Keadaan ini terjadi terutama pada saat pergerakan air sangat kurang dan temperatur air tinggi. (Poncomulyo, 2006: 11)

  1. Kegiatan manusia

Faktor biotik yang lain adalah terkait dengan campur tangan manusia dalam penentuan lokasi budidaya yaitu: faktor kemudahan, resiko (masalah dan keamanan) serta konflik kepentingan (pariwisata, perhubungan, dan taman laut nasional). (Anggadiredja: 2006, 27)

 

  • Pertumbuhan dan Populasi Rumput Laut

2.2.4.1 Pertumbuhan Rumput laut

Pertumbuhan adalah perubahan ukuran suatu organisme yang dapat berupa beratatau panjang dalam waktu tertentu. Pertumbuhan rumput laut sangat dipengaruhi oleh duafaktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berpengaruh antaralain jenis, galur, thallus (bibit), dan umur. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruhantara lain lingkungan atau oseanografi, bibit, jarak tanam berat bibit awal,dan teknik penanaman (Kamlasi, 2008 dalam Hamid 2009: 9)

Menurut Anggadiredja (2006: 39) pertumbuhan rumput laut dapat dipantau dengan cara sampling untuk mengukur laju pertumbuhan sehingga produksi dapat diprediksi. Pemantauan laju pertumbuhan tanaman dengan cara sampling dilakukan satu kali dalam seminggu. Sampling dilakukan dengan cara: (1) menimbang berat tanaman pada pertama sampling (pada usia 7 hari), (2) menimbang kembali tanaman yang sama pada hari ke 14, kemudian dihitung laju pertumbuhannya. Penimbangan sample dan perhitungan laju pertumbuhan dilakukan berkali- kali setiap 7 hari. Pertumbuhan tanaman dikatakan baik bila laju pertumbuhan hariannya tidak kurang dari 3 %.

Perhitungan laju pertumbuhan Rumput Laut menggunakan rumus:

G=   (Wt/Wo)1/t – 1     x 100%

 

Keterangan:

G= Laju Pertumbuhan Harian (%)

Wo= Bobot Rata- rata awal (gram)

Wt= bobot rata- rata akhir (gram)

t = umur tanaman

Sedangkan menurut Poncomulyo (2006: 21-22) pertumbuhan tanaman dapat diukur dengan pertambahan beratnya setiap hari (persentase pertumbuhan harian, PPH) yang dapat dihitung dengan rumus berikut:

Keterangan: Untuk pemeliharaan minimun 1,5- 2 bulan.

Monitoring pertumbuhan dilakukan dengan penimbangan tanaman contoh yang diberi label setiap minggu sekali. Monitoring pertumbuhan berupa: monitoring hidrolisis dilakukan dengan cara mengawasi area budidaya laut secara terus menerus, baik pada saat ombak besar maupn tenang. Ketika ombak besar, banyak perangkat budidaya seperti: jaring, tiang pancang atau bambu yang rusak. Monitoring biologis dilakukan dengan melakukan pengawasan terus- menerus terhadap pertumbuhan rumput laut.

Adapun faktor keberhasilan yang perlu diperhatikan dalam pertumbuhan budidaya rumput laut adalah:

  1. Pemilihan lokasi yang memenuhi persyaratan bagi jenis rumput laut yang akan dibudidayakan.
  2. Pemilihan atau seleksi bibit yang baik, penyediaan bibit, dan cara pembibitan yang tepat.
  3. Metode budidaya yang tepat
  4. Pemeliharaan tanaman
  5. Metode panen dan perlakuan pasca panen yang benar
  6. Pembinaan dan pendampingan secara kontinu kepada petani. (Anggadiredja, 2006:27)

 

  • Populasi Rumput laut

Menurut Odum, 1971 dalam Darmawan (2007: 95) populasi didefinisikan sebagai kelompok organisme atau individu spesies yang sama (kelompok- kelompok dari individu yang dapat bertukar informasi genetik), yang menempati ruang dan waktu tertentu. Selanjutnya menurut Campbell, (2004: 333) populasi adalah individu- individu yang terdiri dari spesies tunggal yang secara bersama- sama menempati luas wilayah yang sama, individu- individu tersebut mengandalkan sumberdaya yang sama, dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang sama, dan memiliki kemungkinan yang tinggi untuk berinteraksi satu sama lain.Selanjutnya menurut Susanto (2000: 200) menjelaskan populasi adalah kumpulan individu dari suatu jenis organisme. Individu- individu yang hidup di suatu tempat tertentu dan antara sesamanya dapat melakukan perkawinan sehingga dapat mengadakaan pertukaran informasi genetik. Kemudian ditegaskan kembali oleh Setiadi, (1989: 42) populasi merupakan suatu kelompok individu dari spesies yang sama pada suatu tempat dan waktu.

Dari pengertian di atas, maka dapat disimpukan populasi rumput laut adalah kelompok organisme atau individu spesies ydari rumput laut (kelompok- kelompok dari rumput laut yang dapat bertukar informasi genetik), yang menempati ruang dan waktu tertentu, dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang sama, dan memiliki kemungkinan yang tinggi untuk berinteraksi satu sama lain.

 

  • Hubungan Faktor lingkungan dengan Pertumbuhan Rumput Laut.

Kadi dan Atmaja (1988) dalam Alam (2011: 7), menambahkan bahwa pemanenan rumput laut dapat dilakukan sekitar 1-3 bulan dari saat penanaman. Selanjutnya dikatakan bahwa persyaratan lingkungan yang harus dipenuhi bagi budidaya Eucheuma adalah:

  1. Substrat stabil, terlindung dari ombak yang kuat dan umumnya di daerah terumbu karang.
  2. Tempat dan lingkungan perairan tidak mengalami pencemaran.
  3. Kedalaman air pada waktu surut terendah 1- 30 cm.
  4. Perairan dilalui arus tetap dari laut lepas sepanjang tahun.
  5. Kecepatan arus antara 20 – 40 m/menit.
  6. Jauh dari muara sungai.
  7. Perairan tidak mengandung lumpur dan airnya jernih.
  8. Suhu air berkisar 27–28 oC dan salinitas berkisar 30 -37 ppt.

Dari berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut, faktor yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan rumput laut (Eucheuma cottonii) yaitu cukup arus dengan salinitas (kadar garam) yang stabil, yaitu berkisar 28-34 permil. Oleh karenanya, rumput laut (Eucheuma cottonii) akan hidup baik bila jauh dari muara sungai. (Anggadiredja, 2006: 9). Selanjutnya menurut (Poncomulyo, 2006: 9) hubungan kuat arus dengan angka pertumbuhan tanaman akan tinggi. Namun, jika pergerakan airnya terlalu kuat, tanaman akan rusak, patah, bahkan bangunan budidayanya bisa rusak. Budidaya rumput laut yang dilakukan di perairan yang dasarnya hanya terdiri pasir (mempunyai pergerakan air kurang) akan memberikan hasil yang kurang baik. Namun, jika Eucheuma ditanam dekat permukaan air (pergerakan airnya cukup), pertumbuhan tanamannya akan lebih baik.

Faktor lingkungan lain yaitu kedalaman. Kedalaman maksimal ditentukan berdasarkan pada metode penanaman yang akan dilakukan. Jika menggunakan metode lepas dasar, maksimal kedalaman pada saat surut terendah adalah satu meter. Pada kedalaman seperti ini, kegiatan penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan dapat dikerjakan dengan mudah. Jika menggunakan metode terapung, kedalamannya dapat lebih dalam karena pemeliharan dan pemanenan dapat dilakukan di atas perahu. Namun, perlu dipertimbangkan bahwa pemeliharaan dan pemanenan dari atas perahu lebih sulit dikerjakan daripada sambil berdiri di dasar perairan.

Hubungan salinitas dengan pertumbuhan rumput laut, rumput laut memerlukan kadar garam yang agak tinggi disekitar 30 per mil atau lebih. Lokasi yang dekat dengan muara sungai sebaiknya tidak dipilih karena suplai air tawar dapat merusak tanaman dan endapan lumpur dapat menutupi permukaan .

Hubungan suhu dengan pertumbuhan rumput laut dapat merugikan apabila temperatur cukup tinggi ( 35 oC) yang berlangsung lama (3 atau 4 jam). Hal ini terjadi ketika pasang surut dan tidak ada aliran air, kedalaman lokasi budi daya rumput laut pada siang hari yang cerah hanya beberapa centimeter saja. (Poncomulyo, 2006: 9-11)

  • Budidaya Rumput Laut

Budidaya Eucheuma cotonii yang dilakukan dengan metode jalur yang terbuat dari rakit (bambu) yang disusun sejajar. Kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali utama berdiameter 5 m x7 m per petak dengan 1 unit terdiri 7- 10 petak. Pada kedua ujung setiap unit diberi jangkar. Peneman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur. Tali tersebut telah dilengkapi dengan tali polietilen berdiameter 0,2 cm sebagai pengikat bibit. Adapun jaraknya sekitar 25 cm (Sudrajat, 2008: 148).

Adapun kriteria bibit yang baik adalah:

  1. Bibit yang digunakan merupakan thallus muda yang bercabang banyak, rimbun, dan berujung runcing.
  2. Bibit tanaman harus sehat dan tidak terdapat bercak, luka, atau terkelupas sebagai akibat terserang penyakit ice-ice atau terkena bahan cemaran, seperti minyak.
  3. Bibit rumput laut harus terlihat segar dan berwarna cerah, yaitu coklat dan hijau cerah.
  4. Bibit harus seragam dan tidak boleh bercampur dengan jenis lain.
  5. Berat bibit awal diupayakan seragam, sekitar 100 gram per ikatan/ rumpun. (Anggadiredja, 2009:30-31)

Pemilihan teknik yang dipakai untuk budidaya sangat tergantung pada morfologi pantai yang meliputi sifat pantai, arus, salinitas, amplitudo suhu dan ketinggian air sewaktu pasang dan surut, dan kejernihan (DKP, 2007). Teknik budidaya yang diterapkan pada lokasi penelitian, adalah teknik tali letak dasar (off bottom line). Teknik ini cocok untuk dipergunakan apabila wilayah pantai lokasi budidaya memiliki ciri (Anggadireja, et.al, 2005) :

  1. Aman terlindung dari arus dan hempasan ombak yang kuat.
  2. Air laut jernih, dan dasar pantai berpasir serta berbatu karang.
  3. Kedalaman air pada waktu pasang lebih dari 1,5 meter dan waktu surut minimal 50 cm sehingga rumput laut masih memperoleh air dan nutrisi. Teknik ini memiliki keuntungan mudah diterapkan dan biayanya paling murah. Kelemahan teknik ini adalah lokasi yang statis/tidak dapat dipindah sehingga kurang mampu menyesuaikan pada perubahan arus, dan kondisi pantai. Secara umum lokasi yang layak untuk dijadikan lahan budidaya rumput laut membutuhkan persyaratan minimum sebagai berikut (Anggadireja et.al 2006; Iskandar Ismanadji, 2006; Pancamulyo, 2006; Sunarpi, 2006) :
  4. Air laut jernih dengan jarak pandang horizontal 2-5 meter. Air laut

yang keruh akan menghambat fotosintesis. Juga air laut yang keruh

mengindikasikan adanya kotoran dan endapan yang mengganggu

pertumbuhan rumput laut.

  1. Rumput laut cocok di daerah yang kering / panas dengan amplitude suhu 27°C – 32°C. Hasil terbaik fotosintesis pada rumput laut terjadi pada suhu 30°C, dan suhu ini banyak terdapat pada pantai laut di Indonesia Bagian Timur.
  2. Dasar laut berpasir atau coral (berbatu karang) dan tidak berlumpur. Lumpur yang terbawa arus dan ombak akan mengotori batang rumput laut. Hal ini akan menghalangi penyerapan nutrient oleh rumput laut.
  • Jauh dari muara sungai yang dapat menyebabkan rendahnya salinitas (kadar garam). Salinitas berkisar 28 – 33 permil. Salinitas terbaik adalah pada 30 permil.
  • Jauh dari sumber pencemaran limbah rumah tangga dan pencemaran lain (limbah industri pengolahan/pabrik, limbah pengolahan ikan, dan atau sampah)
  • Lokasi budidaya harus terlindung dari ombak besar dan arus yang

destruktif. Kecepatan arus yang baik antara 20 – 40 m per menit. Arus yang terlalu cepat menyebabkan thallus patah dan rumput laut terlepas dari substatnya. Ombak yang besar juga menyebabkan gangguan pada fotosintesis karena air menjadi keruh.

  • Khusus untuk teknik tali lepas dasar, kedalaman air pada saat air laut pasang 1,50 meter atau lebih, dan pada saat air laut surut kedalaman minimum adalah 50 – 75 cm agar rumput laut masih mendapat air dan cukup nutrisi.
  • Rumput laut sebaiknya ditanam di wilayah yang kering dan mendapat sinar matahari pagi antara 08.00 – 10.00, saat itu merupakan saat yang terbaik berlangsungnya fotosintesa bagi rumput laut.
  1. Lokasi budidaya aman dari kompetitor dan predator. Beberapa jenis

ikan merupakan pemakan rumput laut demkian juga bulu babi. Beberapa jenis tumbuhan tidak memakan atau mematikan rumput laut namun menjadi pesaing untuk memakan nutrisi yang dibawa air laut.

  • HIPOTESIS

Terdapat perbedaan laju pertumbuhan populasi bibit rumput laut (Eucheuma cottonii) dengan metode jalur   di desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo kabupaaten Banyuwangi sebagai sumber belajar biologi SMA Kelas X Semester II pokok bahasan Ekosistem

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. 1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini dengan judul Pengaruh Berat Bibit Awal Dengan Metode Jalur Terhadap Persentase Pertumbuhan Harian Populasi Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Di Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaaten Banyuwangi Sebagai Sumber Belajar Biologi SMA Kelas XII Semester I Pokok Bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan adalah penelitian eksperimen.

 

3.2 Desain Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri

dari satu faktor dan enam kali ulangan.

Perlakuan terdiri dari 25 gram, 50 gram (kontrol), 75 gram, 100 gram.

Waktu Pengamatan:

7 hari, 14 hari, 21 hari, 28 hari, 35 hari, 45 hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut adalah skema desain penelitian :

 

Pengamatan laju pertumbuhan pada bibit rumput laut setiap minggu selama 45 hari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3 Prosedur Penelitian

Adapun tahap –tahap pelaksanaan penelitian sebagai berikut:

  1. Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan yang dimaksud adalah mengadakan survey lokasi penelitian dan mengadakan wawancara dengan narasumber dalam hal ini adalah pemilik usaha budidaya rumput laut di desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi untuk menemukan informasi dan permasalahan yang dihadapi.

  1. Menyiapkan persyaratan administrasi

Persyaratan administrasi yang dimaksud adalah surat izin penelitian dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UM Jember yang ditujukan kepada Kepala Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi dan surat kerja sama dengan pemilik usaha budidaya Rumput Laut

  1. Persiapan pelaksanaan penelitian

Adapun hal-hal yang perlu dipersiapkan meliputi:

  1. Menyiapkan alat-alat penelitian
  2. Pemetaan plot area penelitian

Lokasi penelitian dibagi menjadi 4 petak dalam 1 dusun di dusun Andelan Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsoserejo Kabupaten Banyuwangi.

  1. Mengambil sampel air laut di 4 petak untuk di uji dan di analisis di laboratorium biologi UM Jember.
  2. Mengadakan pengamatan selama seminggu sekali dalam 45 hari secara berkala.
  3. Mengadakan kontrol terhadap plot-plot yang telah ditentukan, agar tidak terjadi perubahan secara besar- besaran dalam plot tersebut akibat aktifitas binatang laut dan manusia.

 

 

 

 

 

 

3.4 Populasi dan sampel

3.4.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah populasi rumput laut yang dibudidayakan di dusun Andelan Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi.

3.4.2 Sampel

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 4 plot lahan budidaya rumput laut yang berukuran 7 x 5 meter dengan masing- masing jarak plot 6-10 meter.

3.5 Lokasi Penelitian

Pelaksanaan penelitian akan dilaksanakan pada bulan Desember 2012 – Januari 2013 di dusun Andelan Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi dan di Laboratorium Biologi UM Jember.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengetahui Pengaruh Berat Bibit Awal Dengan Metode Jalur Terhadap Persentase Pertumbuhan Harian Populasi Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Di Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaaten Banyuwangi, maka cara pengumpulan data adalah dengan mengukur panjang dan berat rumput laut secara berkala.

3.7 Instrumen Pengumpulan Data

            Instrumen penngumpulan data atau alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Pengggaris
  2. Neraca Triple balance
  3. pH meter
  4. Stopwatch
  5. Termometer
  6. Meteran
  7. Alat tulis

3.8 Teknik Analisis Data

Adapun analisa data yang digunakan dalam penelitian analisa deskriptif meliputi:

  1. Untuk mengetahui panjang sebagai parameter pertumbuhan Rumput Laut digunakan pengukuran panjang rumput laut dalam satuan (cm) secara berkala.
  2. Untuk mengetahui berat sebagai parameter pertumbuhan Rumput Laut digunakan penghitungan berat rumput laut dalam satuan (gram) secara berkala, dengan rumus:

G=   (Wt/Wo)1/t – 1     x 100%

Keterangan:

G= Laju Pertumbuhan Harian (%)

Wo= Bobot Rata- rata awal (gram)

Wt= bobot rata- rata akhir (gram)

t = umur tanaman (Anggadiredja, 2008:39)

Sedangkan menurut Poncomulyo (2006: 21-22) pertumbuhan tanaman dapat diukur dengan pertambahan beratnya setiap hari (persentase pertumbuhan harian, PPH) yang dapat dihitung dengan rumus berikut:

Keterangan: Untuk pemeliharaan minimun 1,5- 2 bulan.

 

 

 

  1. Untuk mengetahui syarat tumbuh aspek faktor lingkungan, seperti:

Kecepatan arus maka digunakan penghitungan dengan teknik pengukuran arus menggunakan layang-layang arus. Pengambilan data dilakukan pada tiap stasiun. Pengukuran dilakukan sebagai berikut:

 

  1. Layang-layang arus diletakkan pada lokasi perairan yang telah ditentukan

 

  1. Stop watch dinyalakan untuk menentukan lamanya waktu hingga tali pada layang-layang arus menegang

 

  1. Penentuan arah arus menggunakan kompas

 

  1. Hasil yang didapatkan dari pengukuran kemudian dicatat.

 

Selain itu pengukuran kecepatan arus dapat dilakukan secara manual yaitu dengan menghanyutkan bola pimpong di permukaan air kemudian menghitung jarak yang ditempuh dalam satuan waktu.

 

Hasil pengukuran di atas dengan menggunakan rumus (Triatmodjo, 1999 dalam Alam, 2011) :

V = S(tali) / t

Keterangan :

V = kecepatan arus (m/s)

S(tali) = panjang tali

t = waktu yang diperlukan untuk tali menegang. (Alam, 2011)

  1. Untuk mengetahui perbedaan faktor lingkungan abiotik sebagai faktor yang eksternal pertumbuhan dan perkembangan pada tiap petak maka menggunakan analisis varian dilanjut uji DMRT.
  2. Untuk mengetahui pengaruh masing-masing faktor lingkungan abiotik terhadap pertumbuhan rumput laut digunakan Analisis Regresi Linear.
  3. Untuk mengetahui perbedaan laju pertumbuhan pada bibit rumput laut di gunakan tabel persentase laju pertumbuhan harian. Data yang diperoleh, dianalisis menggunakan ANAVA satu jalur. Jika F hitung ≥F tabel 5 %, maka terdapat pengaruh yang signifikan, dan dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) untuk mengetahui beda antar perlakuan dengan bantuan program aplikasi SPSS

 

3.9 Pemanfaatan Penelitian Sebagai Sumber Belajar Biologi SMA Kelas XII

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber belajar biologi kelas XII dalam proses dan produk penelitian, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Bentuk Proses

Dari segi proses yang diperoleh dari penelitian ini, maka hal- hal yang ditekankan adalah:

  1. Identifikasi dan perumusan masalah
  2. Perumusan prosedur kerja
  3. Pelaksanaan kegiatan
  4. Pengumpulan dan analisis data
  5. Pembahasan hasil penelitian
  6. Penarikan kesimpulan
  7. Komunikasi hasil
  8. Bentuk produk

Dari segi produk penelitian dapat diperoleh antara lain:

  1. Fakta merupakan semua pengetahuan yang telah diketahui oleh manusia tetapi belum terorganisasikan secara sistematis. Fakta yang dapat diungkap dalam penelitian ini yaitu:

Fakta-fakta yang dapat diungkap dalam penelitian ini adalah:

  1. Suhu air laut di setiap plot
  2. Salinitas di setiap plot
  3. Kecepatan arus air laut di setiap plot
  4. Derajat keasaman (pH) air laut di setiap plot
  5. Perbedaan persentase pertumbuhan populasi bibit rumput laut (Eucheuma cottonii) dengan parameter panjang dan berat di setiap plot.
  6. Organisme pengganggu di setiap plot
  7. Dokumentasi keberadaan rumput laut (Eucheuma cottonii) di setiap plot
  8. Konsep merupakan suatu ide atau gagasan yang digeneralisasikan dari pengalaman- pengalaman tertentu yang relevan atau definisi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala. Konsep yang dapat diungkap dalam penelitian ini adalah persentase laju pertumbuhan rumput laut (Eucheuma cottonii) dengan metode jalur dipengaruhi oleh berat awal bibit di desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi.

3.10 Prosedur Analisis Materi

Sesuai judul penelitian Pengaruh Berat Bibit Awal Dengan Metode Jalur Terhadap Persentase Pertumbuhan Harian Populasi Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Di Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaaten Banyuwangi Sebagai Sumber Belajar Biologi dapat dianalisis dalam materi pelajaran yang ada di SMA terutama tentang Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan Tingkat Rendah . Dimana dalam penelitian ini melakukan perhitungan terhadap pertumbuhan populasi rumput laut (Eucheuma cottonii) dengan parameter panjang dan berat yang ada di desa Sumber Kencono Wongsorejo Banyuwangi dimana hal tersebut berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan. Adapun prosedur kerja analisis materi meliputi:

  1. Identifikasi proses dan produk yang di dapat dari penelitian
  2. Menganalisis proses dan produk yang telah teridentifikasi untuk digunakan sebagai pendukung materi-materi yang ada dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berkarakter Bangsa.
  3. Implentasi proses dan produk dalam kegiatan belajar mengajar yang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaraan (RPP)

3.11 Prosedur Analisis Kurikulum

Sesuai dengan judul penelitian” Pengaruh Berat Bibit Awal Dengan Metode Jalur Terhadap Persentase Pertumbuhan Harian Populasi Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Di Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi Sebagai Sumber Belajar Biologi SMA kelas XII semester 1” dimana hasil penelitian ini dijadikan sebagai sumber belajar Biologi SMA kelas XII semester 1 dapat kita lihat pada silabus dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berkarakter Bangsa.

 DAFTAR PUSTAKA

Mardin 2012 (on line ) Implementasi Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa Dalam KTSP

http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=173:implementasi-pendidikan-budaya-dan-karakter-bangsa-dalam-ktsp&catid=42:widyaiswara&Itemid=206 DIACCES tanggal 14 Oktober 2012

 

 

Novrianti 2008 pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar (online)

http://sweetyhome.wordpress.com/2008/06/20/pemanfaatan-lingkungan-sebagai-sumber-belajar/ diacces tanggal 14 Oktober 2012

 

 

  1. Laode M. Aslan 1991. BUDIDAYA RUMPUT LAUT: YOGYAKARTA: KANISIUS hal 20-24

Sudradjat, achmad . 2008. Budidaya 23 Komuditas Laut Menguntungkan. Jakarta: Penebar Swadaya.

 

Alam, Alfiahningsi.A. 2011.Kualitas Karaginan Rumput Laut Jenis Eucheuma Spinosum Di Perairan Desa Punaga Kabupaten Takalar.Skripsi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Makasar.(Online) http://Repository.unhas.ac.id/bitsteam-handle/123456789/123/thesis.pdf?secquence= diacces tanggal 29 Oktober 2012

LAMPIRAN

SILABUS PEMBELAJARAN

 

Satuan Pendidikan    : SMA/ MA

Mata Pelajaran          : Biologi

Kelas/Program           : XII/IPA

Semester                     : 1

Alokasi waktu            : 10 × 45 menit

Standar Kompetensi: 1. Melakukan percobaan pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan.

Kompetensi Dasar

Kompetensi Sebagai Hasil Belajar

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa Kewirausahaan/

Ekonomi Kreatif

Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar
 

1.1  Merencanakan percobaan pengaruh luar terhadap pertumbuhan tumbuhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2  Melaksanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.3  Mengkomunikasikan hasil percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan

 

 

 

·      Melengkapi peta konsep

·      Merumuskan pengertian pertumbuhan dan perkembangan

·      Mengumpulkan informasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

·      Menemukan adanya gejala pertumbuhan

·      Merumuskan masalah

·      Merumuskan hipotesis

·      Menyusun variabel penelitian

·      Membuat rencana penelitian tertulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·      Membuat unit-unit penelitian

·      Memberi perlakuan

·      Mengukur kecepatan pertumbuhan

·      Mencatat hasil pengukuran dalam tabel pengamatan

·      Mengolah data hasil pengamatan

·      Menarik kesimpulan berdasarkan data yang diolah

·      Melaporkan hasil penelitian

 

 

·      Menyusun hasil penelitian dalam bentuk laporan tertulis

·      Menyusun laporan penelitian untuk presentasi

·      Mempresentasikan hasil penelitian

 

 

Jujur

Kerja keras

Toleransi

Rasa ingin tahu

Komunikatif

Menghargai prestasi

Tanggung Jawab

Peduli lingkungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jujur

Kerja keras

Toleransi

Rasa ingin tahu

Komunikatif

Menghargai prestasi

Tanggung Jawab

Peduli lingkungan

 

 

 

 

 

 

 

Jujur

Kerja keras

Toleransi

Rasa ingin tahu

Komunikatif

Menghargai prestasi

Tanggung Jawab

Peduli lingkungan

 

 

Percaya diri

Berorientasi tugas dan hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Percaya diri

Berorientasi tugas dan hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Percaya diri

Berorientasi tugas dan hasil

 

 

·  Pengertian pertumbuhan dan perkembangan

 

·  Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada tumbuhan

1.Faktor internal

2.Faktor eksternal

 

·  Menyusun rencana penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·     Melaksanakan penelitian

·     Tehnik menyusun laporan hasil penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·     Tehnik presentasi

 

 

 

 

 

·  Studi membaca dan diskusi untuk memahami konsep pertumbuhan dan perkembangan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada tumbuhan

·  Tugas kegiatan 1.1 Pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan

·  Diskusi menyusun rencana penelitian

·  Presentasi rencana penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·  Pelaksanaan penelitian kelompok di luar jam pelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·  Presentasi laporan hasil penelitian oleh masing-masing kelompok

 

 

 

 

 

·     Menemukan adanya gejala pertumbuhan dan perkembangan

·     Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada tumbuhan

·     Merumuskan masalah berdasarkan gejala pertumbuhan yang ditemukan

·     Merumuskan hipotesis dari rumusan masalah yang sudah dirumuskan

·     Merumuskan variabel penelitian untuk menguji hipotesis

·     Menyusun unit-unit penelitian

·     Membuat tabel pengamatan

·     Menyususun rencana penelitian tertulis

 

 

·     Menyiapkan alat dan bahan

·     Memberikan perlakuan

·     Mengukur hasil dan mencatat dalam tabel pengamatan

·     Menganalisis data hasil pengamatan

·     Menyimpulkan hasil penelitian

·     Menyusun laporan tertulis hasil penelitian

 

 

 

·     Mempresentasikan hasil penelitian secara lesan

 

 

 

 

·   Jenis tagihan:

1.Tugas kelompok penyusunan proposal

2.Presentasi

3.Uji kompetensi tertulis

 

·   Bentuk instrumen:

1.Lembar penilaian proposal

2.Lembar penilaian presentasi

3.Soal uji kompetensi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·   Jenis tagihan:

1.Tugas kelompok laporan hasil penelitian

 

·   Bentuk instrumen:

1.Lembar penilaian hasil penelitian

 

 

 

 

 

 

·    Jenis tagihan:

1.Presentasi

 

·   Bentuk instrumen

1.Lembar penilaian presentasi

 

 

 

 

 

6 X 45 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 X 45 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 X 45 menit

 

 

·   Buku Biologi kelas XII, Dyah aryulina, Esis

·   Buku kerja siswa IIIA, Ign. Khristiyono, Esis

·   Alat bantu presentasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·   Buku Biologi kelas XII, Dyah aryulina, Esis

·   Buku kerja siswa IIIA. Ign. Khristiyono. Esis

 

 

 

 

 

 

 

·   Buku Bologi kelas XII, Dyah aryulina. Esis

·   Buku kerja siswa IIIA, Ign. Khristiyono

·   Alat-alat presentasi

 

 

SILABUS PEMBELAJARAN

 

Satuan Pendidikan    : SMA/ MA

Mata Pelajaran          : Biologi

Kelas/Program           : XII/IPA

Semester                     : 1

Alokasi waktu            : 10 × 45 menit

Standar Kompetensi: 1. Melakukan percobaan pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan.

Kompetensi Dasar

Kompetensi Sebagai Hasil Belajar

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa Kewirausahaan/

Ekonomi Kreatif

Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian Alokasi Waktu Sumber Belajar
 

1.1  Merencanakan percobaan pengaruh luar terhadap pertumbuhan tumbuhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2  Melaksanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.3  Mengkomunikasikan hasil percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan

 

 

 

·      Melengkapi peta konsep

·      Merumuskan pengertian pertumbuhan dan perkembangan

·      Mengumpulkan informasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

·      Menemukan adanya gejala pertumbuhan

·      Merumuskan masalah

·      Merumuskan hipotesis

·      Menyusun variabel penelitian

·      Membuat rencana penelitian tertulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·      Membuat unit-unit penelitian

·      Memberi perlakuan

·      Mengukur kecepatan pertumbuhan

·      Mencatat hasil pengukuran dalam tabel pengamatan

·      Mengolah data hasil pengamatan

·      Menarik kesimpulan berdasarkan data yang diolah

·      Melaporkan hasil penelitian

 

 

 

 

 

 

 

·      Menyusun hasil penelitian dalam bentuk laporan tertulis

·      Menyusun laporan penelitian untuk presentasi

·      Mempresentasikan hasil penelitian

 

 

Jujur

Kerja keras

Toleransi

Rasa ingin tahu

Komunikatif

Menghargai prestasi

Tanggung Jawab

Peduli lingkungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jujur

Kerja keras

Toleransi

Rasa ingin tahu

Komunikatif

Menghargai prestasi

Tanggung Jawab

Peduli lingkungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jujur

Kerja keras

Toleransi

Rasa ingin tahu

Komunikatif

Menghargai prestasi

Tanggung Jawab

Peduli lingkungan

 

 

Percaya diri

Berorientasi tugas dan hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Percaya diri

Berorientasi tugas dan hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Percaya diri

Berorientasi tugas dan hasil

 

 

·  Pengertian pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan tingkat rendah (Rumput laut)

 

·  Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada tumbuhan

1.Faktor internal kondisi bibit

2.Faktor eksternal (faktor lingkungan yang menjadi syarat tumbuh rumput laut)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·  Menyusun rencana penelitian terkait dengan pengaruh berat awal bibit dengan metode jalur terhadap   persentase pertumbuhan harian populasi rumput laut

 

·     Melaksanakan penelitian

 

 

 

 

 

 

 

·     Tehnik menyusun laporan hasil penelitian

 

 

·     Tehnik presentasi hasil penelitian

 

 

 

 

 

·  Melakukan studi literatur dan diskusi untuk memahami konsep pertumbuhan dan perkembangan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada tumbuhan tingkat rendah (Rumput Laut)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·  Melakukan diskusi menyusun rencana penelitian terkait perbedaan berat awal bibit terhadap pertumbuhan harian populasi rumput laut (Eucheuma cottonii) dengan metode jalur*

 

·  Pelaksanaan penelitian kelompok di luar jam pelajaran dengan mendatangi areal budidaya rumput laut

 

·  Presentasi rencana penelitian dan pengumpulan hasil pelaporan penelitian

 

 

·  Presentasi laporan hasil penelitian oleh masing-masing kelompok

 

 

* dapat dikenalkan kekhasan potensi daerah/ wilayahnya masing-masing.

 

 

 

 

 

 

·     Menemukan adanya gejala pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan tingkat rendah

·     Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada tumbuhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·     Merumuskan masalah berdasarkan gejala pertumbuhan yang ditemukan

·     Merumuskan hipotesis dari rumusan masalah yang sudah dirumuskan

·     Merumuskan variabel penelitian untuk menguji hipotesis

·     Menyusun unit-unit penelitian

·     Membuat tabel pengamatan

·     Menyususun rencana penelitian tertulis

 

 

·     Menyiapkan alat dan bahan

·     Memberikan perlakuan

·     Mengukur hasil dan mencatat dalam tabel pengamatan

·     Menganalisis data hasil pengamatan

·     Menyimpulkan hasil penelitian

·     Menyusun laporan tertulis hasil penelitian

 

·     Mempresentasikan hasil penelitian secara lesan

 

 

 

 

·   Jenis tagihan:

1.Tugas kelompok penyusunan proposal

2.Presentasi

3.Uji kompetensi tertulis

 

·   Bentuk instrumen:

1.Lembar penilaian proposal

2.Lembar penilaian presentasi

3.Soal uji kompetensi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·   Jenis tagihan:

1.Tugas kelompok laporan hasil penelitian

 

·   Bentuk instrumen:

1.Lembar penilaian hasil penelitian

 

 

 

 

 

 

·    Jenis tagihan:

1.Presentasi

 

·   Bentuk instrumen

1.Lembar penilaian presentasi

 

 

 

 

 

2 X 45 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 X 45 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 X 45 menit

 

 

·   Buku Biologi kelas XII, Dyah aryulina, Esis

·   Buku kerja siswa IIIA, Ign. Khristiyono, Esis

·   Alat bantu presentasi (LCD, Laptop)

·  Areal budidaya rumput laut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

·   Buku Biologi kelas XII, Dyah aryulina, Esis

·   Buku kerja siswa IIIA. Ign. Khristiyono. Esis

 

 

 

 

 

 

 

·   Buku Bologi kelas XII, Dyah aryulina. Esis

·   Buku kerja siswa IIIA, Ign. Khristiyono

·   Alat-alat presentasi

 

 

Tabel Pengamatan Berat Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) (Gr) dengan Lama

Penanaman 7 Hari, 14 Hari, 21 Hari, 28 , 35 Hari, Dan 45 Hari.

7 Hari

Berat Bibit

(Gram)

ULANGAN I
Tali Ris 1 Tali ris 2 Tali ris 3 Tali ris 4 Tali ris 5 Tali ris 6
25
50
75
100

 

14 Hari

Berat Bibit

(Gram)

ULANGAN II
Tali Ris 1 Tali ris 2 Tali ris 3 Tali ris 4 Tali ris 5 Tali ris 6
25
50
75
100

 

21 Hari

Berat Bibit

(Gram)

ULANGAN III
Tali Ris 1 Tali ris 2 Tali ris 3 Tali ris 4 Tali ris 5 Tali ris 6
25
50
75
100

 

21 Hari

Berat Bibit

(Gram)

ULANGAN III
Tali Ris 1 Tali ris 2 Tali ris 3 Tali ris 4 Tali ris 5 Tali ris 6
25
50
75
100

 

28 Hari

Berat Bibit

(Gram)

ULANGAN IV
Tali Ris 1 Tali ris 2 Tali ris 3 Tali ris 4 Tali ris 5 Tali ris 6
25
50
75
100

 

35 Hari

Berat Bibit

(Gram)

ULANGAN V
Tali Ris 1 Tali ris 2 Tali ris 3 Tali ris 4 Tali ris 5 Tali ris 6
25
50
75
100

 

 

45 Hari

Berat Bibit

(Gram)

ULANGAN VI
Tali Ris 1 Tali ris 2 Tali ris 3 Tali ris 4 Tali ris 5 Tali ris 6
25
50
75
100

 

JANGAN LUPA DI SERTAKAN SUMBERNYA….SEMOGA BERMANFAAT YA…..

Photo9255


 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By aimarusciencemania

kisahku di pulau dewata ” meraih cinta di langit dewata”

 

Waiting for the best something and the best some one

 

Menunggu…sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku

saat ku harus bersabar dan tuk bertahan

menantikan kehadiran mu……….

 

Entah sampai kapan ku harus menunggu

Sesuatu yang sulit tuk ku jalani

Hidup dalam kesendirianku

 

Rangkaian kata dari lirik sebuah lagu Aishiteru I yang dipopulerkan oleh Zivilia itu sangat benar adanya……….karena menungggu memang sangat menyebalkan……. Menunggu apapun itu…..baik menunggu datangnnya some one maupun menunggu sesuatu alias something yang sangat berharga dan menentukan dalam hidup ini. Pokoknya yang namanya menunggu is very boring…..as we know??

Ada satu pertanyaan yang sangat menggelitik hati ini kala aku dalam penantian menunggu pekerjaan yang lebih baik dari tempat kerja sebelumnya yang bergerak dibidang distributor roti….eitz……sorry gak boleh nyebutin merk ntar saya di kenakan penyalahgunaan UU ITE wah….bisa gawat dan jadi tranding topic ntar di dumay……..tapi saya bukan public figure yang mencari sensasional. Tapi saya tidak mau dah berurusan sama hokum males poll neh….

Nah pertanyaan yang sangat menggelitik itu adalah:

Penanya     :” Ai……kamu sekarang kerja di mana? Enak ya…kerja di Bali???”

Saya           : sambil tersenyum nan gengsi sedkiti neh,” ya…..masih nyari-nyari…..”

Karena belum puas dengan jawaban saya….si penanya tersebut yang juga teman akrab saya itu mengajukan pertanyaan lagi.

Penanya     :”loh kamu kenapa berhenti di tempatmu yang dulu….”

Saya           :”ya….kok kamu kemal banget sih…alias kepo maksimal…..”

Penanya    :”ya gak gitu Ai….ku pengen tau aja”

Saya           :” ya…..karena aku mau dipindah tugaskan di Klungkung yang jauh dengan mas saya dan keluarganya makanya saya berhenti”

Penanya     :”Lah…sekarang kamu ngapain nganggur dong….hehehe jadi pengacara alias pengangguran gak ada acara….padahal IP mu spectakuler lah kok jadi pengacara”

 

Mendengar pertanyaan itu saya sangat terpukul…namun saya tidak menampakkan kekesalan saya pada teman saya itu………..dengan menarik napas dan mengeluarkannya sambil mengucapkan basmalah saya jawab pertanyaan yang kualitas Cognitif nya sudah di atas taxonomi Blom bukan C6 lagi tapi bias-BISA C10 ITU KALI YAH……..

Saya           : sob….dunia kerja itu beda dengan dunia akademik di kampus…..jika di kampus, sukses kita dilihat dari prestasi akademik atau IP lain halnya dengan dunia kerja yang dilihat adalah prestasi kerja….loyalitas kita kepada perusahaan. Apalagi saya lulusan FKIP terjun ke dunia perusahaan yang udah beda jurusan yah harus belajar dari nol. Namun saya yakin dengan kemauan dan niat untuk beribadah mencari rejeki Allah…..maka saya pasti bias melaluinya dengan baik” kata ku kepada sahabatku itu.

Penanya     :”iya Ai…betul2 jawabanmu aku aja masih pusing nyari kerja sukses ya Ai”

Saya           :”ok kamu juga”

 

Dengan penuh kegigihan, keyakinan, dan doa serta dukungan dari cacakku yang selalu mencarikan informasi lowongan kerja di segala media. Kadang saya ditanya sama cacak saya

 

Cacak         :”dhek…..minat gak…ngelamar di sekolah-sekolah daerah sini?”

Saya           :”waduh cak….adik udah gak minat dan sudah males jadi guru…gak tau kenapa ya cak….mending di kantor-kantor perusahaan saja”

Cacak         :”ya udah…..ntar cari-cari lagi…dan cari info lowker di internet juga ya?
saya            :”ok bro?”

Kegiatan saya selama 25 hari di bulan September 2014 adalah belajar jadi ibu rumah tangga dengan membantu pekerjaan mbak ipar saya di kos. Hingga pada akhirnya ditengah kegelisahan menunggu panggilan kerja 2 lamaran yang sudah diantarkan bersama cacakku. Lagi2 aku di uji kesabarannya. Aku tunggu2 eh…..ternyata…alhamdulillah saya diberitahukan cacakku ada lowongan admin di salah satu distributor ternama dan infonya itu kakakku dapat dari media cetak Koran. Wah dengan penuh perjuangan dan semangat 45 saya bergegas menyiapkan diri untuk mengantar lamaran. Dianter cacak mencari tempat itu dengan nyelip2 di gang biyuh….untung gak nyasar…..akhirnya sampai juga. Saya setor tuh lamaran ke salah satu karyawan di situ….katanya akan dihubungin lagi. Nah tepat jam 1 siang saya di telp katanya jam 2.30 sore ada interview. Jam 2.00 sore saya dianter mbak ipar dan 2 keponakan. Menuju tempat interview…….dan sesampainya di sana eh…..saya harus menunggu lagi….ada yang masih di interview di dalam. Dan tak lama kemudian saya dipanggil oleh salah satu karyawan di sana. Saypun menuju ruangan tersebut. Ada bapak2 yang berkacamata menayakan kala itu

Bapak2      : “ maaf mbak…..bisa saya bantu?”sambil tersenyum ramah

Saya           :”iya pak…..saya mau interview kira2 menemui siapa ya?”

Bapak2      :”oh…..sebentar lagi ya mbak…”

Kala itu sedang mati lampu jadi kegiatan break sejenak di kantor itu…. Setelah lampu menyala. Saya diperialahkan masuk oleh bapak2tadi.

Bapak2      :”nah sudah hidup listriknya…mari mbak…”

Saya           :”waduh……aku mau diwawancari bapak init oh?”sahutku dalam hati

 

Sesampainya di ruang interview…..saya dipersialahkan duduk…deg2an dan nervous jadi satu. Eh…ternyata disdalam ruang itu bapak itu menanyai hal2 tentang kisahku lepas aku lulus hingga tiba dipulau dewata ini…ya udah alhasil saya bercerita apa adanya. Dan singkat cerita…..bapak itu eh,,,,mengagumi IPK saya yang spektakuler saya jadi malu dipujina. Usai bersecengkrama dengan curhat ku…bapak itu memberikan saya tawaran tentang 2 hal yaitu terkait fee dan peraturan kerja. 1 kaaliamat yang saya ingat dari beliau”jika mbak Aini deal jabat tangan dengan saya”sambil menjabatkan tangannya terlebih dahulu. Saya jawab” saya coba dulu ya pak” sambil berjabat tangan dengan beliau. Lalu bapak itu berkata:” ok besok saya tunggu jam 8 disini ok”sambil tersenyum. Sambil membalas senyum ramahnya beliau saya menjawab:” baik pak….terimakasih…selamat sore……”

Selepas keluar dari ruangan itu hatiku dipenuhi rasa bangga dan tenang karena saya sudah menjadi karyawan bukan pengangguran, dengan sumringah saya datangi mbak dan 2 ponakannku yang telah lama menunggu di luar kontor itu. Lalau si ndut Ninda bersyukur dengan mengucap,” Alhamdulillah The End sebutan akrab untukkku udah diterima kerja mulai besok.

Dengan mengucap BISMILLAHIRROHMANIRROHIM………..SEEMOGA SUKSES DAN LANCAR…BERIKAN PRESTASI KERJA YANG TERBAIK UNTUK PERUSAHAAN INI…..AMIN……YA ROBBAL ALAMIN

 

Edisi Penantian: Menungggu Sang Pemilik Hati Datang Menjemputku Menuju “Perfect ½ Dien To Syurga Allah

 

Hal yang paling membosankan di dunia ini adalah menunggu. Kenapa menunggu merupakan hal yang paling membosankan? Karena dalam menunggu itu terdapat rasa kegelisahan, kegundahan, dan kegalauan yang berkecamuk di dalam hati. Tapi di tengah penantian itu….Entah berapa lama lagi akan berakhir? Aku hanya bias bertawakkal dan memperbaiki kualitas diri ini. Karena aku yakin dengan janji Allah yang tertulis nyata dalam Kalam-Nya Q.S AR-RUM 21. Yang menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari jenisnya sendiri agar manusia itu merasa tentram. Aku juga termotivasi dengan salah satu hadist “Perempuan yang baik akan dipertemukan dengan laki-laki baik dan begitupula sebaliknya” Bukannya aku merasa sok baik.tapi aku berusaha untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi.

 

½ Dien akan sempurna alias perfect jika telah melaksanakan sunnah rosul yang sangat dianti semua insane normal yaitu “ menikah”. Menikah bukan hanya 3 huruf yang dibolak balik loh letaknya…….A,U,K yang jika disusun :

Menikah mempunyai 3 kompunen utama selain ada komponen lain sebagai syarat syah nya nikah. 3 komponen utama itu:

+                  =

 

 

3 Komponen itu sudah tidak asing lagi di telinga kita bahkan ada film yang mengisahkan 3 komponen itu yang diadaptasi dari buku best seller dengan judul yang sama. Terkesan simple 3 huruf itu yang jika diformulasikan menjadi rumus di atas. Namun pada pelaksananaannya……..menikah itu tidak se simple yang kita bayangkan. Maklum……2 insan dengan jenis kelamin dan karakter yang berbeda hidup dalam satu atap setiap hatri…..tentu lama kelamaan toeng yang dipakai selama tahap perkenalan akan terkuak aslinya. Selain itu menikah bukan hanya bersatunya 2 insan yang mengikrarkan janji suci dalam ijab qobul yang sakral. Tapi….menikah juga bersatunya 2 keluarga besar. Mau tidak mau kita harus menerima keluarga dari pasangan kita masing-masing.

± 5 menit status 2 insan sudah bias berubah seketika. Sang perempuan akan berstatus istri dan sang lelaki akan berstatus suami. Hukum yang dulunya haram seketika akan berubah menjadi halal. Pebuatan yang dulunya “maksiat” seketika berubah menjadi “ibadah…” saya pernah mendengarkan penjelasan slah satu ustadzah …”perbuatan positif yang sekedar ringan di kala menikah akan mendapatkan pahala….for example nih……..menyiapkan makanan untuk suami dan anak (jika sudah punya) pahalanya setara dengan melaksanakan haji….Subhanallah…….jika tiap hari sang istri dengan penuh keikhlasan hati menyiapkan makanan untuk sang suami wah…….sungguh dahsyat tiap hari sudah mendapatkan pahala berhaji…..siapa orang yang sanggup secara fisik, waktu, dan finansial berhaji tiap hari?? Tentu tidak ada kan? Cukup dengan mengabdikan diri….sang istri kepada suami sudah bisa berhaji…..tentu masih banyak amalan saat menikah yang pahalanya super dahsyat…..

Sekarang saatnya aku membuat proposal hidup kepada Allah……tentang permohonan kandidat pemimpinku kelak…

“ya Allah…..datangkalah sosok imam yang dapat membimbingku…..menuju syurgaMu dengan kriteria:

  1. Kualitas islam dan imannya lebih baik dibanding aku”
  2. Tidak merokok dan peminum
  3. Perjaka semoga dapat….amin

 

Jika aku boleh minta bonus Ya Allah….

  1. Sifatnya imamku kelak lebih sabar dibanding aku
  2. Ganteng luar dalam
  3. Pendidikan lebih tinggi dibanding aku atau gak setaralah
  4. Punya usaha yang pasti untuk masa depan kelak
  5. Pekerja keras dan tanggung jawab

 

 

Please ya Allah……datangkalah kriteria diatas untukku secepatnya amin…..

 

Semoga Engkau mengabulkan proposalku amin ya Robbal Alamin…..

 

Hijrah mandiri menuju Ridho-Nya

Hidup bergantung de\ngan siapapun memang tidak mengenakkan….kecuali bergantung pada orang tua . orang tua tidak akan merasa dibebani dengan hadirnya anak. Namun jika bergantung denga sodara sedarah…..sedikit sekali orang itu akan merasa ikhlas dengan hadirnya kita…..orang yang mulia itu adalah cacakku. Cacak dengan penuh suka cita menerima kehadiranku ditengah- tengah kelarga kecilnya. Dia sangat tegas bak sang ayah menggantikan peran mulia itu…..dengan penuh sabar dan tiada henti manasihatiku agar menjadi manusia yang selalau bersyukur dengan segala karunia yang telah Allah berikan padaku. Ada kalimat yang sangat super bagiku bahkan lebih super daripada kata bijaknya Mario Teguh. Kalimat petuah itu ialah: “ kita pasti kuat jika diuji dengan uang yang sedikit,namun kita tidak akan kuat jika diuji dengan uang yang melimpah” Kata-kata bijak dari kakakku itu terlihat simple dan realistis. Banyak kokmcontoh di lapangan, banyak pejabat yang diberikan amanah dari rakyat dengan gaji yang sampai puluhan juta itu….eh… kagak kuat dia makanya dia pengen balik modal waktu kampanye dulu dengan cara mengubah nominal laporan proyek Negara…alias korupsi.   Ada ustadz dan keluarga kaya mentereng gak kuat juga diuji dengan kekayaan yang melimpah……tapi bukan lari ke korupsi…tapi petaka harta yang melimpah itu jadi sengketa diantara anak cucunya. “ mending kita pas-pas-an aja hidupnya……missal pas pengen haji dan umroh ada uang, pas pengen mobil ada uang, pas pengen apa aja kita ada uang, syuku2 kita mau mendermakan harta dijalan Allah….” Tambah kakakku, ketika menasihatiku>

Malampun semakin larut…tapi kuliah malam dari sang kakak kepadaku masih belum berakhir. Kakak terus memberikan petuahnya kepasaku sambil makan mie instan buatanku.

Cacak :” en…. Sekarang eni lagi ditraining tentang arti hidup yang sebenarnya….4 tahun kuliah di Jember itu training arti hidup yang mini., yah…anggap saja eni kuliah lagi di bali sekarang…..belajar mandiri en….bukannya cacak gak bias Menuhin semua kebutuhan hidup eni di sini.. tapi cacak ingin mengajarkan hidup mandiri., ngerti gak en?”

Saya    :” iya….” Sambil termenung memikirkan semua perkataan kakakku

Cacak :” Nah sekarang eni pusing kan….gak punya kerja bingung punya kerja eh…tambah bingung kan…untuk mengatur uangnnya. Eni ada uang ditabung sisia dari beli kebutuhan dan ngirim untuk ibu bapak di kampong, makan dan tidur ikut cacak dah”

Saya    :” emang gpp cak….? Gimana menurut mbak?” akataku sambil bertanya kapada mbak iperku “

Iper      :” iya en bener kata cacak…”kata dia memperjelas

 

Petuah itu ternyata segera terealisasikan, tepat tanggal 28 oct 2014 aku memutuskan untuk hijrah kosan agar aku bias mandiri, ada hal yang membuatku segera hijrah,,,, meski aku sudah berencana dari awal aku ingin merantau ke pulau dewata ini. Ternyata omongan iperku itu Cuma sebagai pemanis aja…..3 hari sebelum aku pindah dia sudah menunjukkan sikap yang gak enak, bahkan aku gak di sapa. Aku ngerti dia sudah gak betah dengan keberadaanku. Yang berlagak marah sama keponakanku,,,,,, gak mau tidur siang dan stay di teras saat aku dating ke kos….parahnya lagi dia gak nyiapkan bahan untuk di masak sendiri olehku. Yah wal hasil aku gak bawa bekal. Untung cacakku belikan aku nasi…..puncak dia memperlihatkan kemarahannya padaku saat malam hari, lepas pulang dari tempat kerja kakakku dia nyalain TV dengan volume kenceng dan ditontonlah film horror Di salah satu channel. “ ciyeh…kayak yang ber nyali besar ae neh orang” pikirku dalam hati. Aku kala itu jadi terbangun dank e belakang untuk buang air. Tapi aku gak bias tidur karena perutku lapar…karena dia gak masak …masak she tapi di maem sendiri. Jadi tinggal nasi doing. Untung kakakku beli telor. Jadi aku masak. Aku makan malem kala itu dengan menelpon ibu dan bapakku aku ceritakan penderitaanku. Iibu dan bapak memintaku pulang ke jawa. Besok hari senin…tapi aku gak mau karena aku sudah berkomit men untuk kerja.al hasil bapak menelpon kakakku meminta agara aku dicarikan kos sendiri biar gak di sia siakan terus….sama ipar gak tau diri itu. Padahahal yang kerja itu kakakku 24 jam loh kerjanya di 2 tempat dia Cuma makan tidur ae ma brojolin anak. Kok bias yah….dia sok nguasain harta kakakku….kakakku bias sukses gitu berkat bapak emmak ku kali….

 

 

Karena aku tidak ingin melihat mukanya yang menyebalkan dan sok cuek itu dan hatinya licik….mending aku gak liat muka dia lagi…..dia udah gak ku anggap apa apa lagi….semoga kakakku dapat jodoh yang jauh lebih baik daripada dia….tapi yang paling utama adalah sekarang ubttukku adalah…KERJA, BERDOA DAN MEMPERBAIKI KUALITAS HIDUP AGAR SEGERA Allah kirimkan sosok imam yang terbaik untuk dunia akhiratku AMIN…YA Robbal alamin

 

 

Uji kesabarandengan datangnya PHP alias Si Pemberi Harapan Palsu

Mengejar cinta yang semu memang tidak pantas dipertahankan karena jika dipertahankan tentu akan menguras tenaga dan pikiran. Galau, gelisah, dan sedih yang berkepanjangan akibat 3 gejolak hati itu ketikan melanda sang empunya kisah…..perubahan sikap dan kondisi fisik tentu akan berdampak pula bagi yang mengalami gejolak hati tersebut…..Ya….bengong seperti orang bego’ misalnya. Itulah salah satu sikap akibat gejolak hati yang berkecamuk.

 

Hati wanita mana yang tak hancur bekkeping-keping setelah tahu seorang imam yang din anti-nantinya akan dating menjemputnya untuk menuju mendekatkan diri menuju Syurga Allah…….sosok calon imam itu ternayata mengecewakan dirinya karena Sang empunya kisah telah mengetahui kabar bahwa sosok yang diidamkan dan didambakan itu telah menanamkan b enih tak berdosa di rahim mantannya….Serasa disambar petir disiang bolong…diri ini…….

 

Pagi yang cerah itu …kala Aku terbangun dari lamunan indah di pulau impian…karena di malam harinya aku di telpon selama 3 jam lebih oleh sosok idaman itu…….dia memastikan besok minggu 28 September 2014 akan tiba di Bandara Ngurah Rai Bali. Getar telponku bordering……..membuat aku gembira kegirangan tak terkira kala saat itu aku lihat ada sms masuk dari Aldi Sang Calon Pemilik Hatiku….kemudian dengan segera aku buka sms itu….kemudian aku baca secara perlahan dan seksama…smsm tu bertuliskan

 

selamat pagi Ani ? Saya sama Aldi lagi berantem……..makanya saya lagi ambil ponselnya untuk sms kamu…saya dengar informasi dari teman-temannya Aldi bahwa Aldi hari   ini akan ke Bali mau nikahin kamu…gak apa-apa tapi hari ini juga saya mau laporin Aldi Ke polisi karena dia telah hamilin saya 3 bulan. Memang kami beda agama saya Kristen tapi saya mau Aldi buat surat pernyataan di polisi untuk bertanggung jawab atas anaknya baru saya bersedia Aldi nikahin kamu…….kasihan gara-gara saya hamil 3 bulan saya gak sekolah lagi, padahal saya masih SMA kelas 2 dan orangbtua saya udah ngusir saya keluar rumah. Tolong dimengerti . maaf Ai untuk sementara waktu saya pegang hpnya Aldi sampai urusan selesai ..tHnks”

 

 

Antara percaya dan gak percayasaat itu aku rasakan…….aku heran semalemdari jam 20.00- 23.00 WITA dia masih telponan ma aku. Lah..kok pagi-pagi udah ada smsm dari ponselnya dia tapi orang lain yang mengirimnya…GILa?…..nih bener apa gak sih,,,? Tapi entahlah kali ini aku sudah muak dengan PHP cowok dan kapok kenalan dengan cowok lewat dumay…..masalah jodoh hanya Allah yang Maha Tahu aku bersyukur karena aku ditunjuykkan kebejatan dia yang benar- benar nyata dan udah super brutal……sebelum dia jadi imamku. Aku yakin Allah masih menyimpan seorang sosok imam yang terbaik untuk membimbingku menuju Syurga Allah . saat ini aku harus memperbaiki mutu dan kualitas imanku dan menata hidup agar jauh lebih baik……

 

Semoga puing-puing kebahagiaan itu segera terkumpul dan menjadi bangunan kokoh indah dan tentram bagi penghuninya dengan didasari iman dan islam agar tercapai keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warohmah…Amin…YA ROBBAL’ALAMIN…..

 

TANAH LOT IN LOVE: ANTARA MITOS DAN CINTA

 

Segala sesuatu yang masih perlu diuji kebenarannya bagiku adalah hipotesis. Hipotesis itu perlu diuji kebenarannya dengan penelitian dan observasi untuk memperoleh data yang lengkap. Setelah memperoleh data yang berupa fakta di lapangan barulah kita dapat menyimpulkan apakah hipotesis yang kita ajukan diterima atau ditolak. Kali ini aku ingin menguji kebenaran mitos yang beredar di khalaya ramai.banyak itos yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat awam. For example saja nih…..”jangan duduk di depan pintu, cewek2 gak baik loh?” ntar gak dapat jodoh,” kata orang dulu sih begitu. Pernyataan itu yang sudah mendarah daging dikhalayak ramai tidak perlu ditakutkan karena sesuai dengan QS ARRUM 21 yang menyatakan bahwa setiap insan sudah diciptakan berpasang pasangan dari jenisnya sendiri agar merasa tentram. Dari ayat inilah terbukti janji Allah tidak akan pernah teringkari. So gak usah khawatir buat para gadis yang diberi ultimatum semacam itu. Pada dasarnya ultimatum dari orang tua itu aksudnya baik, “kan tidak etis cewek duduk dipintu ntar kalau ada yang mau lewat kan repot…”

Mitos yang tak kalah gencarnya beredar di kalangan masyarakat adalah,” apabila ada pasangan kekasih yang mendatangi suatu tempat maka tidak akan berjodoh…alias putus….for example nih…” kemarin aku dapat ibnfo dari temanku jika sepasang kekasih pergi ke Tanah Lot maka mereka akan putus” aku sih ketawa aja dalam hati apa hubungannya jika pergi ke tanah Lot bias sampe putus….putus atau nyambung bahkan sampai kepelaminan siatu hubungan 2 insan itu sudah Allah yang mengaturnya,…….

Meskipun mendapat info mitos itu akau dan teman dekatku memutuskan pergi ke tanah lot….aku sangat mngotot untuk biasa tau tempatb yang penuh exotic itu di pulau dewata ini. Dengan mengucap bismillah kami berangkat. Sesampai di sana kami sangat takjub dengan ciptaan Allah yang berupa kenampakan alam yang sangat mempesona itu. Kami juga mengambil beberapa gambar pemandangan dan berpose sekedarnya saja. Jujur aku merasa agak sungkan untuk berpose dan berbanyak gaya dalam hal berpoto jika bareng Dia. Padahal aku ini miss Narsisss abizzzzzzzz.tapi tak apalah yang penting udah dapat gambarnya.

Keesokan hari aku merasa tidak nyaman dengan sikap dia yang harus diingat terus untuk sholat, gak mau berhenti merokok……yah….masih gak ikhlas dalam mensuplai aku….padahal aku pengen banget punya souvenir dari tempat itu tapi gak dibelikan sama dia. Yah,,,,alas an dia sih gak punya uang….uh kok pelit sih…….selai itu aku juga gak bias hidup dengan orang yang selalu diingatkan untuk sholat dan perokok berat jika punya suami kelak. Akhirnya aku putuskan saja untuk menolak ajakan menikah dengan dia. Selain itu ada sikap yang tidak ku suka dari dia terhadapku.

Sekarang akau fokuskan menata karir……dan memperbaiki kualitas imanku yang sempat surut dan ngedrop semenjak kenal dengan dia. Semoga Allah mengampuni dosaku AMIN DAN SEGERA DIPERTEMUKAN JODOH YANG SESUAI DENGAN HARAPAN DAN DOAKU AMIN YA ALLAH…………..

 

 

 

New love revolution in new year 2015

Tahun baru……semua insan bersemarak dengan penuh gempita menyambutnya…

Yang punya pacar jarak jauh dicontak dah biar datang untuk merayakan tahun baru bersama…

Yang belum punya pacar…tetap merayakan pergantiann tahun dengan cara mereka masing-masing….ada yang diam menyendiri di kosan sambil tidur dan terbangun mendadak karena mendengar bunyi kembang api yang cetar membahana….ada yang merayakan tahun baru bersama rekan nya sambil pesta makan-makan…bahkan ada pula yang merayakan malam pergantian tahun dengan bermabok mabok ria dan lain sebagainya…yah…iyulah nano nano peraan tahun baru dengan versi yang beraneka ragam dari insane manusia.

 

Di tahun baru pula banyak teman , rekan sejawat, sahabat dan teman dekat yang mengucapkan selamat kepada kita…..

“selamat tahun baru ya….semoga ditahun baru ini…kita diberi bla…bala…dengan seabret harapan dan asa yang terucap.

Tak luput pula saya yang mendapat selamat….dari teman teman….yang paling berkesan adalah ucapan selamat dari superviserku…pak komang” selamat tahun baru ya mbak…..semoga di tahun baru ini tidak ada selisisih setoran….” Sambil tersenyum

Saya: “ yah si bapak…kok ngucapin gitu sih…..”

  1. komang:” ya betul kan mbak…”

saya     : iya ish pak…tapi kan saya kan udah benar…paling Cuma kurang teliti aja…uangnya pas kok bahkan pernah lebih 200 ribu”

yah…..seperti itulah obrolan rin agn saya dengan sang superviser.

Selain itu di tahun baru ini saya telah mendapatkan revolusi…sebuah revolusi cinta….insyaAllah tanggal 8 januari 2015 \saya sudah memiliki tunangan…yah,,,,meskipun dia tidak seperti yang ku idamkan tapi dia yang terbaik yang Allah kirimkan….manusia gak ada yang sempurna tapi kami berkomitmen untuk menjadim hamba Allah yang lebih baik lagi. Bismillah semoga diridhoi amin

semoga segera terlaksana ijab qobul dan resepsi amin

 

DIKA1DIKA2

 

 

 

 

 

 

 

By aimarusciencemania

tutorial hijab paris aimaru

HAI SISTA……berikut tutorial hijab paris simple aini

1. siapkan bahan dan alat seperti jilbab paris, ciput ninja, jarum pentul

2. pakai ciput ninja seperti berikut

3. pakai paris dengan ukuran panjang sebelah sematkan jarum pentul

4. tarik bagian panjang sebelah kebelakang

5. rapikan dan sematkan sisanya di atas kepala

 

 

cats

By aimarusciencemania

REFERENSI LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI

Lingkungan sebagai sumber belajar Biologi

Balajar mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang saling berintegrasi di dalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah sumber belajar. Sadiman (1989) dalam (Novrianti, 2008) menyatakan bahwa sumber belajar adalah segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan atau memudahkan terjadinya proses belajar. Selanjutnya (Amri, 2011: 122) menyatakan sumber belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat digunakan oleh siswa agar terjadi perilaku belajar. Adapun langkah analisis sumber belajar adalah:

  1. pilih klasifikasi sumber belajar
  2. gunakan klasifikasi ini untuk mengidentifikasi sumber- sumber belajar yang tersedia di lingkungan di mana pelajaran itu akan dilaksanakan
  3. analisis kualitas berdasarkan tujuan pembelajaran dan kuantitas sumber belajar untuk mengetahui kecermatan media dalam penyampaiannya.

Kemudian ditegaskan oleh Rohani, 1997: 102 dalam (Musfiqon, 2012: 129 ), sumber belajar adalah segala macam sumber yang ada di luar diri siswa yang keberadaannya memudahkankan proses pembelajaran. Adapun komponen sumber belajar meliputi: pesan, manusia, material (media-software), peralatan (hardware), teknik (metode), dan lingkungan yang dipergunakan secara sendiri- sendiri maupun dikombinasikan untuk memfasilitasi terjadinya pembelajaran. Selanjutnya menurut Udin Saripuddin dan Winataputra (1999: 65) dalam (Djamarah dan Zain, 2010: 122) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu: manusia, buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan.

Lingkungan (environment) sebagai dasar pengajaran adalah faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Lingkungan belajar pembelajaran/pendidikan terdiri dari berikut ini:

  1. Lingkungan sosial adalah lingkungan masyarakat baik kelompok besar atau

kelompok kecil.

  1. Lingkungan personal meliputi individu-individu sebagai suatu pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya.
  2. Lingkungan alam (fisik) meliputi semua sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber belajar.

Lingkungan kulturala mencakup hasil budaya dan tekhnologi yang dapat dijadikan sumber belajar dan yang dapat menjadi faktor pendukung pengajaran.

Lingkungan pendidikan atau pengajaran memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

  1. Fungsi Psikologis

Stimulus bersumber atau berasal dari lingkungan yang merupakan rangsangan

terhadap individu sehingga terjadi respons yang menunjukkan tingkah laku tertentu. Respons tadi pada gilirannya dapat menjadi suatu stimulus baru yang

menimbulkan respons baru, demikian seterusnya. Ini berarti, lingkungan memiliki makna dan melaksanakan fungsi psikologis tertentu.

  1. Fungsi Pedagogis

Lingkungan memberikan pengaruh-pengaruh yang bersifat mendidik, khususnya lingkungan yang sengaja disiapkan sebagai suatu lembaga pendidikan, misalnya keluarga, sekolah, lembaga pelatihan, lembaga sosial. Masing-masing lembaga tersebut memiliki program pendidikan, baik tertulis maupun yang tidak tertulis.

  1. Fungsi Instruksional

Program instruksional merupakan suatu lingkungan pegajaran atau pembelajaran yang dirancang secara khusus. Guru yang mengajar, materi pelajaran, sarana dan prasarana pengajaran, media pengajaran, dan kondisi lingkungan kelas (fisik) merupakan lingkungan yang sengaja dikembangkan untuk mengembangkan tingkah laku siswa (Hamalik, 2001:195-196).

Sumber belajar adalah salah satu komponen penting yang menentukan suksesnya proses pembelajaran. Sumber belajar yang dipakai dalam satu proses pembelajaran hendaknya beraneka ragam sebagai upaya memperkaya informasi yang didapat oleh siswa. Sumber belajar dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu

yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam proses

belajar mengajar (Mulyasa, 2011: 177). Sumber belajar yang ada, pada garis besarnya dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Manusia (people), yaitu orang menyampaikan pesan secara langsung, seperti guru, konselor, dan administrator, yang dirancang secara khusus dan disengaja untuk kepentingan belajar (by design). Disamping itu ada juga orang yang tidak diniati untuk kepentingan pembelajaran tetapi memiliki keahlian yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, misalnya penyuluhan kesehatan, polisi, pemimpin. Orang tersebut tidak diniati, tetapi sewaktu-waktu bias dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran;
  2. Bahan (material), yaitu sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang dirancang secara khusus seperti film pendidikan, peta, grafik, buku, dan lain-lain yang disebut media pengajaran (instructional media), maupun bahan yang bersifat umum yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan belajar;
  3. Lingkungan (setting), yaitu ruang dan tempat di mana sumber-sumber dapat berinteraksi dengan para pesrta didik. Ruang dan tempat yang dirancang secara sengaja untuk kepentingan belajar, misalnya perpustakaan, laboratorium, kebun, dan lain-lain;
  4. Alat dan peralatan (tool and equipment), yaitu sumber belajar untuk produksi dan atau memainkan sumber-sumber lain, misalnya: tape recorder, kamera, slide
  5. Aktivitas (activities), yaitu sumber belajar yang biasanya merupakan kombinasi antara teknik dengan sumber lain untuk memudahkan belajar, misalnya pembelajaran berprogram merupakan kombinasi anatara teknik penyajian bahan dengan buku, contoh lainnya seperti simulasi dan karyawisata (Mulyasa, 2011: 177-178).

2.1 Syarat- syarat dan manfaat Sumber belajar

Pada dasarnya sumber belajar yang di pakai dalam pendidikan  adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan di buat agar memungkinkan siswa belajar secara individual. Untuk menjamin bahwa sumber belajar tersebut adalah sumber belajar yang cocok, gambar tersebut harus memenuhi persyaratan, Fred Percipal (1998) dalam (Novrianti, 2008) ada tiga Persyaratan Sumber Belajar yaitu sebagai berikut:

  1. Harus tersedia dengan cepat
  2. Harus memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri
  3. Harus bersifat individual misalnya harus dapat memenuhi berbagai kebutuhan para siswa dalam belajar mandiri.

Berdasarkan pada persyaratan tersebut maka sebuah sumber belajar harus berorientasi pada siswa secara individu, berbeda dengan sumber belajar tradisional yang dibuat berdasarkan pada pendekatan yang berorientas pada guru atau lembaga pendidikan

Dalam kegiatan instruksional ada banyak sumber dan daya yang dapat  kita manfaatan baik yang tedapat di ruang maupun yang banyak tedapat di sekitar kita, dan semuanya bermanfaat untuk meningkatkan cakrawala berfikir siswa dalam rangka peningkatan hasil belajar. Berikut ini ada beberapa manfaat sumber belajar menurut P&K (1983:7) ( dalam Novrianti, 2008) yaitu :

  1. Sumber belajar dapat memberikan perjalanan belajar yang kongkrit dan langsung kepada pelajarnya. Seperti kegiatan darma wisata ke pabrik, pusat tenaga lstrik, pelabuhan dan sebagainya.
  2. Sumber belajar menyajikan sesuatu yang tidak mungkin di adakan atau di kunjungi dan di lihat secara langsung oleh siswa. Contohnya seperti penggunaan peta, denah, foto dan sebagainya.
  3. Sumber belajar dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian  yang ada di dalam kelas, misalnya buku, foto-foto dan nara sumber
  4. Sumber belajar dapat memberikan informasi yang akurat dan terbaru, misalnya penggunaan buku teks, majalah, dan orang sumber informasi
  5. Sumber belajar dapat memecahkan masalah pendidikan atau pengajaran baik dalam lingkup mikro maupun makro
  6. Sumber belajar dapat memberikan motivasi yang positif, lebih-lebih jika di atur dan direncanakan pemanfaatannya dengan tepat.
  7. Sumber belajar dapat merangsang untuk berfikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut.

Selanjutnya menurut (Sudrajat, 2008) fungsi sumber belajar adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
  2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
  3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
  4. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
  5. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.

Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.

By aimarusciencemania

BELAJAR NULIS NOVEL

Mengawali kisah cinta yang penuh harap agar jauh lebih indah untuk menuju pulau bahagia

 

Ada salah satu lagu dangdut karya H. Rhoma Irama yang sangat menginspirasi harapanku yang sempat sirna untuk membuka hati pada calon pemiliki tulang rusukku ini karena gagal menjalin cinta. Namun aku yakin kegagalan merupakan sukses yang tertunda. Meski masalah jodoh adalah misteri Ilahi, namun keyakinan untuk dapat segera dipertemukan dengan jodoh itu tetap ada di hati ini. Usaha dan doa tetap ku lakukan. Aku berusaha membuka hati namun jiga tidak terlalau ngoyo mengejarnya…toh jika jodoh pasti bertemu. Syair demi syair lagu H. Rhoma Irama itu sekaligus menjadi pengobat duka dan laraku dalam menanti jodohku sekaligus menjadi doa dan harapanku. Berikut ini syair lagu nya!

Bahtera – H. Rhoma Irama

Beredar sang bumi mengitari matahari…..

Merangkai sang waktu tahun-tahun berlalu….

Namun cintaku takkan pernah berubah masa demi masa

Kita berdua takkan pernah berpisah baur dalam jiwa

 

Berlayar bahtera mengarungi samudra

Menggapai tujuan tuk dipantai harapan

Badai dan gelombang yang datang melintang

 

 

Takkan merubah haluan cinta kita

Padamu nahkoda ku tampakkan cinta

Bawalah daku…ke pulau bahagia

Kembali ke awal…..lagi jika dinyanyikan…

 

Ya…..begitu mendayu-dayu dan romantis jika lagu di atas…dinyanyikan. sampai-sampai aku berkringinan untuk menyanyikan lagu Bahtera karya H. Rhoma Irama di pesta pernikahanku kelak. Selain itu aku ingin banget…..lagu dari Maher Zain juga berdering di pesta pernikahanku. Apalagi lagu yang berjudul Barakallah Lakuma itu loh…Subhanallah….liriknya meski versi bahasa Inggris, tapi sangat menyentuh kalbu ini.

Ketemu perawat sholeh di grup FB cari jodoh

Setiap jejaringan sosial jika dimanfaatkan dengan bijak semuanya pasti akan memperoleh manfaat positif. Salah satu media atau jejaringan sosial yang masih eksis dan banyak penggunanya adalah Face Book (FB). Di FB kita bisa bercuap-cuap ria dengan sesuka hati mulai dari meluapkan emosi melalui update status, upload foto, share informasi profil pribadi, dan share informasi di grup FB. Namun jika luapan emosi yang kita share bisa berupa suasana hati yang lagi senang, bahagia, sedih, kesal, marah dan macem-macem luapan emosi bisa di posting melalui update status bisa pula disertai icon-icon lucu yang tersedia di kolom update status. Namun meluapkan emosi jika berlebihan sampai mencaci maki seseorang bisa menjadikan itu bumerang untuk kita sendiri. Sebut saja salah satu pengacara kondang yang penuh kontrovesi Farhat Abbas yang berseteru dengan Ahmad Dhani gara-gara kicauan dia di media sosial yang berujung proses hukum di meja hijau dan masih banyak lagi kasus gara-gara mencaci maki seseorang di media sosial. Awalnya kita berpikir hal itu sah-sah saja toh itu media sosial account pribadi kita, suka-suka kita mau nulis apa aja kan…..? namun sekarang ini sudah ada perlindungan hukum seiring dengan kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), salah satunya dengan adanya Undang-Undang ITE (Informasi Teknologi dan Elektronik). Nah dengan adanya undang-undang ini seseorang dapat diperkarakan gara-gara status FB atau status di media sosial lainnya yang dapat mengganggu ketenangan orang lain. Wah….perlu berhati-hati kita neh…..dalam memposting status kita.

Selain kolom untuk update status yang banyak digandrungi, adapula kolom yang jadi favorit untuk dikunjungi di FB. Yupz….grup FB yang merupakan kumpulan anggota yang telah terhubung di facebook bergabung semuanya disini apabila sudah diijinkan gabung oleh empunya grup FB. Mereka membentuk komunitas di FB. Komunitas tersebut bermacam-macam mulai dari kumpulan jual beli barang bekas, komunitas kumpulan alumni dari lembaga pendidikan tertentu, kumpulan aabdi negara seperti POLRI dan TNI sampai kumpulan pencari jodoh dengan macam-macam pula nama grupnya di FB.

Aku akan menceritakan kisahku yang bertemu dengan seseorang di salah satu grup FB kumpulan pencari jodoh. Awalnya aku hanya iseng-iseng saja membuka grup tersebut. Eh….gak sengaja ada salah anggota digrup tersebut yang memposting status di grup tersebut yang isinya dia mencari cewek baik gadis, maupun janda gitu bagi yang berminat sms ke no yang telah tertera. Aku buka profilnya dia. Berdasarkan informasi dari profilnya, dia bernama Roy, dia bekerja di salah satu rumah sakit di kota Semarang, lulusan perawat, masih lajang gitu… sambilku buka album fotonya aku liat foto profilnya…eh ada foto dia yang cakep tapi sayang aku gak bisa mengirim pertemanan ke dia.karena FB ku diblokir dari pengiriman pertemanan saat itu.wah…aku kok penasaran. Langsung aja aku sms dia.

Ani       :” Assalamu’alaikum?”

Roy      :”walaikum salam, kamu namanya siapa, udah kerja apa masih kuliah?”

Ani       :”namaku Ani, aku baru wisuda 6 bulan lalau aku ngajar sokwanan”

Roy      :”usia kamu berapa?”

Ani       :”aku berusia 24 tahun di akte tapi sebenarnya 23 karena salah di akte akhirnya ijazah dan surat-surat lainnya harus ikut akte, mas sendiri usianya berapa?”jelasku meski gak ditanya.

Roy      :”aku 26 tahun. Aku udah kerja”

Ani       :”lho…..udah nikah belum?”

Roy      :”ya belum lah…”

Ani       :”gitu yah….mas tinggal di mana?”

Roy      :”aku tinggal di semarang kalau kamu?”

Ani       :”ku di desa seh…di kabupaten Probolinggo? Pernah ke Probolinggo belum?”

Roy      :”belum pernah mas aku….kenapa?”

Ani       :”gak apa-apa cuma nyanya…mas…kerja di rumah sakit ya….sebagai perawat kan…bisa akupuntur ya?”tanyaku untuk mengorek-ngorek informasi.

Roy      :”bisa memangnya kenapa?”jawabnya dengan singkat

Ani       :”ya gak…aku mau terapi jika bisa tapi aku malu dulu pernah liat dosen perawat dikampus yang lagi nerapi mahasiswa di rumahnya. Rencananya aku mau terapi juga tapi gak jadi karena malu”

Roy      :”kenapa malu toh? Gak usah malu”

Ani       :”ya malu aja gak tau aku….mas satu sodara ada berapa?”

Percakapan berhenti karena sms dariku gak di balas. Siang itu aku sangat senang dan bahagia. Entah mengapa aku gak tau. Jujur aku sangat bahagia dan aku merasa aku akan jadi sama dia. “Eith…gak boleh GR jangan mendahului rencana Allah….sok tau banget seh aku ini” ucapku dalam batin.

Sore harinya dia mengirim sms ke aku….

Roy      :” lagi apa kamu udah mandi belum kamu?”

Belum ku jawab aku berkata dalam batin,”ih…..cowok ini perhatian apa modus yah….hus….positif thinking aja…semoga dia perhatian tulus” lalu aku jawab sms dia

Ani       :”lagi di rumah aja,,,, udah donk, mas lagi apa?”

Roy      :”lagi nyantai aja di rumah”

Ani       :”mas smsku kok gak di bales tadi capek ya…”

Roy      :”oh….iya aku anak ke 3 dari 5 bersodara. Kalau kamu?”

Ani       :”aku anak ke 2 dari 3 bersodara, mas nama aslinya sapa seh…?”

Roy      :”namaku Roy Sarifuddin, kalau kamu nama lengkapnya sapa”

Ani       :”ya itu dah di FB ku nama asliku…mas…aku gak bisa nge add karena diblokir mas add aku ya?”

Roy      :”tapi itu FB ku yang dibajak orang FB baruku yang gak ada fotonya namanya juga sama aku juga gak bisa nge add”

Ani       :”gitu yah….”

Lama banget dia gak respon smsku tapi aku cuek aja dan tak begitu brharap sama dia. Aku trauma jika terlalau berharap. Dan malemnya dia sms aku. Tapi sayang aku sudah tidur. Dia mengirim sms yang isinya”sudah tidur kamu”.

Setiap hari dia mengirim sms saat pagi, siang dan malam sekedar menanyakan aku lagi apa? namun aku gak membalas selama 4 hari karena aku gak ada pulsa. Aku sangat prihatin dan hatiku udah berubah menjadi berharap sama dia karena perhatian dia. Meski cuma teks sms namun aku sanagat senang sekali karena dia sangat perhatian. Sayang sekali aku gak bisa menelpon dia karena beda operator.

 

Setelah pulasaku terisi, aku membalas sms dia dan meminta maaf karena aku udah lama gak membalas sms dia. Percakapan dengan dia berjalan lancar dari sekedar menayakan kabar smapai menanyakan kegiatan sehari-hari dia. Aku merasa sangat akrab dan dapat chemistry meski belum pernah ketemu.”duh Gusti…apakah ini tandanya aku jatuh cinta?”pikirku dalam batin. Aku gak mau patah hati lagi…aku harap dia bisa menjadi nahkodaku yang membawa aku ke pulau bahagia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By aimarusciencemania