contoh biodata penulis untuk novel dan karya ilmiah populer

HP: 082331103554

E-mail: aini_unmuhjember@yahoo.com

Website:http//aimarusciencemania.wordpress.com

Facebook: Aini Maskuro Cymbopogon Nardus

Twitter: @AiniMaskuro

Aini Maskuro, S.Pd dilahirkan di Probolinggo Jawa Timur, pada tanggal 1 Januari 1990. Anak ke dua dari tiga bersaudara pasangan Bapak M. Rupi dan Ibu Asma’ani. Ia memulai pendidikan sekolah dasar dengan dua jenis sekolah dasar, pertama ia menempuh pendidikan dasar yang memiliki dasar agama islam yaitu di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raden Fatah Tarokan Banyuanyar Probolinggo tamat tahun 2002. Kedua, ia menempuh pendidikan dasar satu tahun setelah kelas 1 MI ditempuhnya di Sekolah Dasar Negeri Klenang Kidul 02 tamat tahun 2003, kemudian melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 01 Banyuanyar tamat tahun 2006. Pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri 01 Gending tamat tahun 2009. Pendidikan berikutnya ditempuh di Universitas Muhammadiyah Jember, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Biologi. Ia sangat menyukai hal- hal nyata dan konkret dengan SAINS, sehingga ia memilih program studi pendidikan Biologi dan bercita-cita menjadi seorang guru biologi seperti apa yang diharapkan oleh kedua orang tuanya.

Selama menjadi mahasiswa di program studi pendidikan biologi, ia aktif di organisasi mahasiswa jurusan biologi yang tertampung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manihot glaziovii sebagai sie bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan pada tahun 2010-2011. Selain itu ia juga aktif di kepengurusan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) komisariat Thariq Bin Ziad sebagai anggota 2009-2011. Ia juga pernah mendapatkan hibah proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang didanai DIKTI dengan judul “Serai Herbal Drink Menjadi Menu Utama Warung Science Education Sebagai Prospeks Usaha Mahasiswa” pada tahun 2011 dan “Penyuluhan Pembuatan Kapsul Herbal untuk Penurun Demam Typoid Di Kelurahan Kebonsari Sebagai Alternatif Penggunaan Pengobatan Secara Kimiawi” pada tahun 2012.Selain itu ia pernah mengikuti Road To Campus Beswan Djarum 2011 dan sebagai 10 besar candidat beswan Djarum 27 contingen UNMUH Jember di kawasan beswan Jember pada Open Recruitment Beswan Djarum 2011. Pada April 2012 ia terpilih sebagai Runner Up I Mahasiswa Berprestasi tingkat seleksi interen kampus Universitas Muhammadiyah Jember yang dikukuhkan pada tanggal 1 September 2012 bertepatan dengan Milad ke 31 tahun Universitas Muhammadiyah Jember. Selama dua tahun berturut-turut yaitu pada tahun 2010 dan 2011, ia dipercaya untuk menjadi anggota duta promosi UNMUH Jember di unit pelaksana teknik penerimaaan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Jember. Disamping itu, ia juga berperan aktif dalam kuliah akademik di Program Studi Pendidikan Biologi sebagai assiten dosen di beberapa mata kuliah di FKIP Biologi dan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember. Berkat tekad, semangat, usaha, doa dan dukungan orangtua berssama kakandanya, maka ia berhasil semasa kuliahnya hal ini terbukti dengan dinobatkannya sebagai wisudawan teladan 2013 saat wisuda 15 September 2013.

Keinginannya untuk menulis sudah ada sejak SMP – SMA, namun karena belum mendapat arahan dan support serta motivasi yang belum kuat maka keinginan itu terpendam. Akan tetapi tekad untuk menulis bertambah menggebu gebu setelah ia menempuh semester akhir di bangku kuliah, hal ini karena ia termotivasi salah satu dosennya yang menjadi penulis. Alhamdulillah sang dosen sangat mendukung kepercayaan dirinya untuk mulai menulis. Dan akhirnya usai wisuda ia mulai merintis ide dan imajinasi fiktif untuk mulai menulis. Buku yang dibaca pembaca ini adalah salah satu latihan pengembangan ide dan imajinasinya. Selanjutnya ia mulai merintis buku-buku mengenai kependidikan khususnya mengenai strategi pembelajaran. Meski masih bergelar S-1 yang tulisannya masih unyu-unyu dan masih harus banyak belajar kepada yang lebih berpengalaman dan yang lebih tinggi gelarnya dalam dunia pendidikan. Namun ia berharap karyanya dapat menjadi bahan referensi berbaginya dari pengalaman yang ia dapat karena masih kurang detail yang membahas mengenai strategi pembelajaran khususnya mengenai media pembelajaran biologi. Semoga karya-karyanya dapat bermanfaat amin…….

 

aima book ovrjaima book sovrm aima book sovrjjpdf aima book sovrbwi aima book sovrbal aima book sovr

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By aimarusciencemania

ALQUR’AN DAN SHOLAT ADALAH OBAT GALAU PALING MUJARAB

cerita ini adalah kisah dari penulis yang direfleksikan dengan novel karangannya,,,,sebagai wujud nyata ingin menjadi penulis semoga ada penerbit tertarik amin

Halaman Depan Cinta Aqsho Obat Tolak Galau_Page_01

Cinta Aqsho (Alqur’an- Sholat) Obat Tolak Galau

Cinderamata untuk Penyemangat Para Pejuang Cinta

Bagian 1: Ta’arufan dulu yah……

 

Setiap insan pasti pernah mengalami yang namanya gelisah antara lanjut atau udahan (Galau)……hal ni terbukti dengan maraknya lagu-lagu yang banyak mengisahkan kisah galau seseorang baik itu musik yang bergenre rock, pop, maupun dangdut. Terutama musik yang bergenre dangdut ini yang sangat menyentuh kata-katanya. Liriknyapun bervariasi mulai dari yang mengisahkan kisah galau varian kerinduan pada sang kekeasih yang telah meninggalkan pasangannya, kisah kekasih yang memberikan iming-iming alias harapan palsu dan masih banyak lirik lagu dangdut yang melukiskan kisah galau. Tak kalah dengan musik dangdut…..musik yang bergenre musik pop ini juga tak kalah juga melukiskan kisah galau…..salah satu lirik lagu yang dipopulerkan oleh Judika yang bejudul Aku yang tersakiti, ini dia cuplikan sebagian lirik galaunya” Engkau pergi dengan janji yang telah kau ingkari, oh Tuhan tolonglah aku hapuskan rasa cintaku aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia” nah….cuplikan lirik tersebut mengisahkan seorang yang kecewa dengan janji manis kekasihnya dan meminta pertolongan Tuhan untuk meminta pengganti yang tentunya jauh lebih baik….

“Betapa hati rindu pada dirimu duhai kekasihku

Segeralah kembali pada diriku duhai kekasihku

Aku sudah rindu…lincah manca…sikapmu

Aku sangat rindu……kasih sayang dari mu…..

Semoga kita dapat bertemu lagi…seperi dahulu

Supaya kita dapat bercinta lagi seperti dahulu……….

Gelisah…..hati gelisah….sejak kepergian kamu….

Tak sabar hati tak sabar menanti kedatanganmu….

Ku coba menanti mu walau gelisah

Ku kan salu menanti

Dengarkanlah kasihku dengarlah sayang ku ingin kau kembali

Semoga kita dapat kita bertemu lagi seperti dahulu..

Lirik lagu di atas berjuduk Kerinduaan karya H. Rhoma Irama…dan di arrasement ulang dengan versi pop dut oleh Ridho Rhoma dan Sonet 2 Band. Lagu kerinduan ini sangat melankolis sekali dengan versi pop dut liriknya sangat menyentuh hati seseorang yang sedang galau merindukan kasihnya agar segera kembali.

Ehm….panjang lebar menguraikan lirik lagu bukan berarti saya ini komposes loh….sob…….para pembaca sahabatku yang di rahmati Allah dimanapun kalian berada……perkenalkan dulu yah…Assalamu’alaikum……nama saya Najwa usia 24 tahun saya baru genap lulus satu tahun yang lalu dari bangku kuliah…saai ini masih menjadi pencari kerja namun bukan berarti saya pengangguran banyak acara loh yah…atau bahasa kerennya “pengacara” yang bukan arti profesi sebenarnya. Maaf bukan menyinggung pengacara loh yah…..itu cuma akronim gokil-gokilan. Kesibukan saya sehari-hari adalah membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah mulai dari nyapu….nyuci…..memasak sampai mengantar adikku Habi yang sekarang sudah mau lulus dari taman kanak-kanak. Dia berusia 6 tahun 7 bulan dia sangat lucu, bawel, cerdas dan kadang-kadang nyebelin banget sob…..tapi meskipun begitu saya sangat sayang sekali pada adik saya ini. saya anak kedua dari 3 bersaudara. Kakak pertama saya laki-laki berusia 37 tahun dan dia sudah berkeluarga dengan dikaruniahi 2 anak. Ayah saya bekerja sebagai wiraswasta pedagang ayam kampung. Dengan penghaslan yang pas-pas-an tapi Alhamdulillah 2 anaknya sudah sukses dari bangku kuliah. Sungguh pencapaian yang patut disyukuri karena jika kita tidak bersyukur maka Allah akan memberikan laknat namun jika kita bersyukur maka Allah akan menambah Nikmat-Nya. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Meskipun saya belum memperoleh pekerjaan yang tetap namun saya bersyukur….dengan nganggurnya saya ini saya bisa mengabdikan sedikit tenaga dan waktu saya untuk membantu orang tua. Walaupun sejujurnya udah ngebet pengen segera dapat pekerjaan. Itu juga jadi masa galau tapi saya yakin Allah pasti sudah merencanakan yang terbaik untuk saya. Amin ya Robb…..

Perkenalannnya sudah dulu yah……wassalamu’alaikum…………..

 

 

 

 

 

 

 

Bagian 2: Dilanda Dilema oleh Sandiwara Cintamu

Masa Lalu Memang Pantasnya Dijadikan Refleksi Agar Jauh Lebih Baik

Aku mau menerima kamu karena ku pikir kamu beda dengan pencuri hati lainnya. Ku pikir kamu special tapi kenapa kau tinggalkan aku disaat cinta dan sayang ini sudah tumbuh bersemi di sanubariku. Kenapa kau biarkan benih cintamu tumbuh menjadi bibit? Kau pupuk bibit cinta itu dengan perhatian yang kau beri dan aku terlena dengan perhatian, kasih sayang, dan janji manis yang sekarang kau ingkari. Kalau tau begini kenapa kau tidak hentikan dari awal saja….? Lalu kenapa kau tetap biarkan bibit cinta itu makin tumbuh subur menjadi tanaman dewasa yang susah untuk mencabutnya. Kenapa kau tinggalkan aku dan komitmen yang telah kita bina setelah aku terlanjur mencintaimu dan kenapa tidak kau perjuangkan cinta dan komitmen itu malah kau menuruti titah ibumu yang meminta untuk meninggalkanku. Sulitkah kau berkorban dan berjuang demi aku setelah waktu dan perhatianku telah ku berikan padamu……?sulitkah untuk mempertahankan hubungan kita? Aku tau banyak mimpi dan harapan yang ingin kita gapai…..namun saat aku meminta semua itu…..malah dengn simplenya kamu beralasan bahwa kamu tidak bisa melupakan masa lalumu? Lalu selama ini kau anggap aku apa?….pelarian cinta mu…? pelampiasan kegalauanmu? Atau malah boneka cintamu?

Jahat sekali kau………………….dengan mudah kau campakkan aku…..setalah hati ini kau miliki. Lihai sekali kau mempermainkan hati dan perasaanku. Hebat sekali kau melakonkan sandiwara cinta denganku…… Kupikir beda…..eh ternyata kau sama saja dengan pria lain yang hanya mempermainkan hati seorang wanita.

Kisah galau ku ini…aku alami dengan seorang pria yang merupakan teman facebook ku. Dia bernama Edo seorang mahasiswa di kampusku. Kebetulan dia belum menyelsaikan kuliahnya. Saat itu dia masih semester 8 …semester dimana para mahasiswadilanda virus-virus galau untuk menyelesaikan tugas akhir alias skirpsi. Pertemuan kami sangat singkat di dunia maya. Setelah saling mengenali secara global dia memutuskan untuk bertemu denganku. Aku terima ajakan dia. Kami bertemu di kosanku dan kami sudah sepakat untuk jalan bersama ke alun-alaun kota Jember. Di sana kami mengobrol segala macam dari mulai masalah kuliah dia hingga ke kehidupan keluarga masing-masing yang ada di rumah. Maksudnya bapak ibu dan sodara kami masing-masing.

Malam pertemuan itu belum berani mengutarakan cintanya padaku. Tapi….entah mengapa hati in sangat yakin dia akan menngutarakan kepadaku….hingga saat malam sudah agak larut dia masih belum mengutarakan isi hatinya. Karena sudah kemalaman akhirnya dia mengantarkanku pulang.

Obrolan kami berlanjut di telepon malam itu…hingga akhirnya dia mengutarakan maksud hatinya. Kami menjadi pasangan kekasih….namun tidak berlangsung lama. Kami putus setelah menjalani hubungan kekasih hanya 2 bulan saja. Penyebab kami putus bukan dari adanya pihak orang ketiga namun terhalang restu orang tua masing-masing. Aku yakin orang tuaku memliki alasan yang tepat mengapa beliau tidak menyetujui hubungan kami. Aku sangat sakit hati…ketika mendengarr alasan dia memutuskanku karena ibunya menyuruh mengakhiri hubungan kami. Orang tuakau memiliki feeling kenapa orang tua dia meminta begitu…karena aku bukan anak orang berada…yapz…….aku akui sikap dia berubah setelah mengetahui keadaan rumahku. Tapi tidak masalah…….Allah memang memiliki rencana yang jauh lebih baik untukku.

 

Jeritan Hati….: “di dalam hati aku mengadu kepada Mu Ya Robb?”

“ Tepislah pesonanya dari pandangan mata ini……Ya Robb……hapuslah memori manis dan pahit bersama nya dari ingatanku ini…agar aku tidak tambah sakit ketika terberst mengingatnya secara tidak sengaja… buanglah jauh-jauh memori tentang dia yang pernah ada di benakku ini Ya Robb…..Jadikan perasaan ini biasa saja ketika mendengar kabar tentang dia…apaun itu kabarnya…..jadikan pula perasaan ini menjadi biasa saja ketika melihat gambar dia denga siapaun itu…..jangan biarkan hati ini merana dengan kesendirian ini….jangan biarkan isak tangis menyertaiku ketika mengenangnya…..datangkanlah imam terbaik untukku segera, agar hamba dapat menyempurnakan separuh imanku kepad Mu…..Jadika “dia” siapun dia yang terbaik menurut Mu pemimpin ku dan keluargaku kelak untuk menuju Syur ga Mu….AMIN………….”

 

Ya Allah Ya Robbi…….jangan biakan air mata ini terus berderai dengan deras…tanpa Kau datangkan kebahagian kelak yang jauh lebih baik ……bukankah sudah jelas di Al qur an kitab Mu Ar Rum 21 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berpasang pasangan dari jenisnya sendiri agar merasa tentram? Lalu kenapa aku meragukan itu…Astaughfirullah……………..??kini aku hanya bisa bersabar menunggu imam yang sholeh dan yang terbaik yang kelak kau kirim untukku untuk bisa membimbingku menuju Ridho-Mu.

By aimarusciencemania

belajar membuat sinopsis

SINOPSIS

Cinta AqSho (Al Qur’an-Sholat) Obat Tolak Galau

Cinderamata untuk Penyemangat Para Pejuang Cinta

Cinta Aq Sho (Al Qur’an -Sholat) adalah obat tolak galau yang memuat kisah tentang perjuangan Najwa Salsabilah gadis muda yang sering dilanda galau karena kegagalan demi kegagalan kisah cinta yang ia alami. Namun dengan tetap berpegangan teguh pada ritual membaca Alqur’an dan mendirikan sholat selain sholat wajib….juga sholat sunnah qiyamatul lail dan istikhoroh untuk bermunajat agar mendapat petunjuk dalam melangkahkan kakinya dan Alhamdulillah kedua ritual itu dapat menjadi obat tolak galau bagi dia. Sehingga ia tidak terjerumus dalam lembah nista naudzubillah summa naudzubillah…..Dengan yakin akan firman Allah…..dalam surat At-Taubah “jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita” dan berusaha Najwa gadis muda ini selalu berserah diri agar memperoleh cinta yang dapat membimbingnya menuju Ridho-Nya.

Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya galau namun jika tetap berkutak pada suasana hati yang galau itu akankah hidup kita lebih ceria dan bermakna? Jawabannya tidak. Najwa memiliki segelintir kisah galau dalam memperjuangkan cintanya. Berkali-kali ia sering gagal menjalin hubungan dengan laki-laki lawan jenisnya. Nico adalah sosok laki-laki yang memberikan warna dikanvas kehidupan Najwa. Kenapa begitu? Karena si Nico berhasil menaklukan hati Najwa semasa SMA. Namun dia tidak berstatus pacaran dengan Najwa karena Najwa belum menerima pernyataan cintanya meskipun si Nico telah menyatakan berkali-kali. Pengumuman kelulusan SMA merupakan moment perpisahan bagi keduanya kisah cinta monyet semu Najwa dan Nico tidak terealisasi karena mereka tidak kuliah di kota yang sama. Selama kuliah Najwa mengenang kisah cinta semunya berharap dapat terealisasi hingga si Nico lulus jadi dokter dan Najwa jadi seorang guru cinta mereka tidak bersatu. Mungkin kata yang tepat” belum jodoh” untuk kisah mereka. Prinsip Najwa “ life must go on” lulus kuliah dia telah mendapatkan ijin dari orang tuanya untuk merajut kasih dengan pria idaman dia. Maskipun Najwa pernah galau dengan kisah cinta dan luka lama karena penolakan masuk universitas negeri tidak menyurutkan dia untuk selalu menenangkan jiwanya dengan membaca kalam Allah dan bermunajat dengan mendirikan sholat untuk bersujut memohon segala sesuatu yang terbaik untuk hidupnya. Karena menurut Najwa galau yang berkepanjangan dapat jadi bumerang bagi dirinya. Pemikiran Najwa ini hampir nyaris terjadi pada rekan kuliahnya Mega yang hampir mengakhiri hidupnya karena kejahatan cinta yang dilakukan oleh pasangannya. Beruntung Mega dapat terselamatkan dan kembali kejalan Allah. Kejahatan cinta yang dilakukan oleh pasangan juga dialami Najwa namun berbeda alur ceritanya. Edo adalah mantan kekasihnya yang memutuskan hubungan dengan Najwa karena terhalang oleh restu orang tua. Benar kata kebanyakan orang “namanya cinta tai kucing rasa coklak” ungkapan itu kadang ada benarnya. Selama pacaran denga Edo, Najwa menyanyangi ddia meskipun si Edo ini super banget pelitnya. Tapi untungnya hanya 2 bulan saja berkisah dengannya sehingga Najwa tidak diporotin terlalu lama.

Obat tolak yang paling mujarab adalah cinta Aq-Sho bagi Najwa. Berharap agar tidak galau lagi…Najwa mulai membuka diri dengan menerima cinta brondong muda….sebut saja nama lelaki itu Ubed namanya. Ubed terpaut 2 tahun lebih muda usianya dibanding Najwa. “ love is blind”, cinta itu buta….ini dialami oleh Najwa selama merajut kasih dengan Ubed. Kenal di kantor pencari kerja jadian lewat telepon, ketemuan di taman, dan putus di hari itu juga saat pertama kali bertemu. Aneh tapi nyata….kenapa si Najwa mau diboongi si Ubed?. Alasan Ubed adalah belum siap ketemu dengan kedua orang tua Najwa saat Najwa minta dianter pulang dia tidak mau mengantarkan Najwa malah Najwa d turunin di gang jalan yang jauhnya 1 km menuju rumahnya. Karena terlanjur marah maka Najwa langsung menghapus kontak Ubed di ponselnya. Namun Najwa berharap Ubed segera menghubunginya. 2-3 jam belum juga dihubungi….Najwa tetap sabar dengan kegelisahan hati menunggu Ubed menghubunginya. Hingga sampai 2 bulan si Ubed belum menghubunginya. Najwa tak mau fase galaunya menjurus ke hal yang negative dia bermunajat dengan istihoroh cintanya memohon petujuk kepada Allah dan menenangkan jiwanya dengan membasahi lisannya dengan bacaan Al qu’an. Alhamdulillah dia tidak galau karena ada Allah tempat ia bersandarkan dirinya.

Edisi galau Najwa berakhir dengan datangnya nakhkoda cintanya sang dokter gigi ganteng nan sholeh. Mas Rama nama nahkoda cinta Najwa. Pertemuan mereka cukup singkat untuk merubah status dokter dan pasien menjadi sepasang kekasih lewat pertunangan. Berawal dari telepon masuk di ponsel Najwa dari Mas Rama hubungan mereka semakin lengket seperti perangko dengan amplop. Namun mas Rama selalu berusaha menjaga hati, perasaan, dan kualitas hubungan kami agar selalu di ridhoi oleh Allah. Statement   Wii Be Married Me? Yang diucapkan Mas Rama pada Najwa membuat Najwa yakin bahwa lelaki yang sedang di hadapannya memiliki niat baik untuk menuju syurga Allah. Karena grogi dan malu yang sangat hebat Najwa hanya bereaksi diam saja. Namun mas Rama sudah meyakini reaski Najwa itu sebagai penerimaan akan statement itu. Mas Rama tambah serius menjalin hubungan dengan Najwa, hal ini ia tunjukkan dengan mengenalkan Najwa kepada kedua orang tua dan keluarganya dan berlanjut meminang Najwa ke orang tua Najwa. Tak hanya itu dia telah menghadiahkan sebuah istana cinta untuk Najwa di kota suwar suwir Jember kota dimana cinta mereka bertemu dan bersemi. Masa lalu Najwa nongol lagi dengan datangnya Edo yang notabene adalah mantan kekasih Najwa, kebetulan Edo adalah teman akrab Mas Rama selama nge gym. Najwa jadi kaget bagai kesambet petir di siang bolong saat tunagannya kala itu memperkenalkan sahabat dan sekaligus mantan kekasihnya. Susah payah Najwa melupakannya tak disangka sang masa lalu nongol di hadapannya. Tak hanya itu Edo sering bermain ke istana cinta hadiah dari mas Rama. Karena tidak ingin menyakiti perasaan tunangannya, maka Najwa menceritakan masa lalu yang tidak mengenakkan bersama mantannya itu. Alhamdulillah mas Rama sangat bijak dan sangat pengertian dalam menyikapi nya dengan bersikap wajar dengan sahabat dan sekaligus masa lalu tunangannya.

Aku + kau = KUA (Kantor Urusan Agama) adalah 3 huruf yang terdiri dari A, U, dan K. Terkesan simple namun sangat sakral dalam penerapannya. Hal itu jga terjadi antara Najwa dan Mas Rama, senggang 2 bulan tunangan langsung mengubah status dari haram menjadi halal dan maksiat menjadi ibadah, nikah nama status suci itu. Tepat tanggal 17 Dzul hijjah 1435 H mereka resmi menjadi pasangan suami istri dengan komitmen untuk menggapai syurga Allah. Jadi bagi Najwa stop edisi galau ganti edisi memperbaiki kualitas iman dengan bermakmum pada imam yang telah dikirimkan Allah padanya.

Halaman Depan Cinta Aqsho Obat Tolak Galau_Page_01

By aimarusciencemania

PENGARUH PROBLEM BASED INSTRUCTION DAN PENDEKATAN INQUIRY DENGAN MEDIA DIORAMA TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI DI SMA

PENGARUH PROBLEM BASED INSTRUCTION DAN PENDEKATAN INQUIRY DENGAN MEDIA DIORAMA TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI DI SMA

 

 

 

 

 

SKRIPSI

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

 

Aini Maskuro

0910211107

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

Juli, 2013

PENGARUH PROBLEM BASED INSTRUCTION DAN PENDEKATAN INQUIRY DENGAN MEDIA DIORAMA TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI DI SMA

 

 

 

 

 

 

SKRIPSI

 

 

Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Jember

untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam

Menyelesaikan Program Sarjana (S-1) Pendidikan Biologi

 

 

Oleh :

 

 

Aini Maskuro

0910211107

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

Juli, 2013

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan. Upaya tersebut terbukti dengan penetapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan ditindak lanjuti dengan Kurikulum Berkarakter Bangsa. Hal ini dilakukan oleh pemerintah guna untuk memberikan inovasi, reformasi dan perkembangan dari dunia pendidikan itu sendiri. Karena tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari sistem nilai pancasila dirumuskan dalam Undang- Undang No. 20 tahun 2003, pasal 3 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggng jawab.

Peraturan Undang- Undang No. 20 tahun 2003, pasal 3 di atas, maka dapat disimpulkan salah satu upaya inovasi, reformasi, dan perkembangan yang dilakukan oleh pemerintah dalam bidang pendidikan yaitu dengan menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing- masing satuan pendidika (Sanjaya, 200:128). Alasan lahirnya KTSP didorong oleh adanya keinginan untuk memberi kebebasan kepada masing-masing wilayah bahkan sekolah untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri yang relevan (sesuai) dengan potensi, perkembangan dan kebutuhan siswa dengan lingkungannya (Ahmadi, 2012:117).

Pengertian KTSP di atas, ada beberapa hal yang berhubungan dengan makna operasional, maka dalam pengembangannya, KTSP tidak akan lepas dari ketepatan-ketepatan yang telah disusun pemerintah secara nasional. Kedua, sebagai kurikulum operasional, para pengembang KTSP dituntut harus memperhatikan ciri khas kedaerahan, sesuai dengan bunyi Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 ayat 2, yakni bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Ketiga, sebagai kurikulum operasional, para pengembang kurikulum di daerah memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum menjadi unit-unit pelajaran (Sanjaya, 2008:128-129). Sehingga dari ketiga makna operasional KTSP tersebut diharapkan agar dapat mewujudkan program pemerintah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.

Kurikulum Berkarakter Bangsa merupakan tindak lanjut dari KTSP, dimana pada Kurikulum Berkarakter Bangsa menyisipkan nilai karakter baik dalam kegiatan pembelajaran maupun dalam sistem penilaian. Hal ini bertujuan agar peserta didik memiliki karakter sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Karakter yang dimaksud adalah gambaran tingkah laku yang dimiliki oleh seseorang yang mencerminkan nilai- nilai kehidupan dan melekat pada diri seseorang. Terdapat 5 parameter orang yang memiliki karakter yaitu: (1) orang disebut berkarakter apabila memegang teguh nilai-nilai kehidupan yang berlaku universal (misalnya: cinta kasih, memiliki komitmen yang kuat, kesetiaan, solidaritas, disiplin, tanggung jawab, demokratis, adil, dan jujur), (2) memiliki komitmen kuat dengan memegang prinsip kebenaran hakiki, (3) harus mandiri, meski menerima masukan dari luar, (4) teguh akan pendirian pendirian yang benar, (5) memiliki kesetiaan yang solid. Karena itu sudah seharusnya kurikulum yang berlaku saat ini memberikan perhatian tang lebih besar pada pendidikan budaya dan karakter bangsa dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya (Rohman, 2012: 232-234). Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki, mengkaji, menginternalisasi, serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari (Amri, 2011: 31).

Tindak lanjut KTSP dengan Kurikulum Berkarakter Bangsa diharapkan dapat memunculkan karakter peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, termasuk salah satu diantaranya yaitu pembelajaran biologi yang berwawasan pemanfaatan lingkungan sekitar dan permasalahan biologi yang nyata sebagai objek belajar Biologi.

Metode memiliki andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Akan tetapi metode dan materi juga disesuaikan dengan perkembangan anak, sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik, akan ditentukan oleh kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan. Untuk mencapai tujuan dan mendapatkan hasil yang maksimal harus ditunjang dengan perangkat yang bagus juga (Budayasa, 1998: 11).

Cara atau metode dalam proses belajar mengajar hendaknya mengacu pada konsep pembelajaran. Menurut Mulyasa (2002: 100), pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Proses interaksi tersebut menuntut guru untuk memilih kerangka konseptual yang dijadikan pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran (Winataputra, 2000: 3). Beberapa model pembelajaran yang berkembang sekarang sebaiknya dikuasai oleh guru dengan baik agar tidak terpaku pada satu model pembelajaran.

Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Menurut Nur (dalam Pathuddin, 2005: 28) cooperative learning didasari oleh teori konstruktivisme sosial yang mengasumsikan bahwa siswa lebih mudah mengkonstruksi pengetahuannya dan memahami pemecahan konsep-konsep yang sulit jika siswa saling mendiskusikan masalah yang dihadapi temannya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk membuat siswa aktif dalam mengikuti proses pembelajaran karena siswa dituntut tidak hanya memahami materi yang akan dipelajari namun lebih ditekankan pada melatih siswa untuk mempunyai kemampuan sosial, yaitu kemampuan untuk saling bekerjasama, saling memahami, saling berbagi informasi, saling membantu antar teman kelompok dan bertanggung jawab terhadap sesama teman kelompok. Keberhasilan individu dalam pembelajaran kooperatif tetap diakui namun diharapan siswa yang pandai dapat membantu teman yang lainnya.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, antara lain dengan perbaikan mutu belajar mengajar. Belajar mengajar di sekolah merupakan serangkaian kegiatan yang secara sadar telah terencana. Dengan adanya perencaan pengajaran diupayakan agar peserta didik memiliki kemampuan maksimal dan meningkatkan motivasi, tantangan dan kepuasan sehingga mampu memenuhi harapan baik oleh guru sebagai pembawa materi maupun peserta didik sebagai penggarap ilmu pengetahuan.

Upaya peningkatan sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajara di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan. Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam belajar mengajar, perlu pemahaman ulang. Mengajar tidak sekedar mengkomunikasikan pengetahuan agar dapat belajar, tetapi mengajar juga berarti usaha menolong siswa agar mampu memahami konsep-konsep dan dapat menerapkan konsep yang dipahami.

Biologi merupakan salah satu pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) atau sains yang berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami alam semesta secara sistematis, sehingga biologi bukan hanya merupakan penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses menemukan. Pendidikan biologi diharapkan dapat menjadikan wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitarnya, yang didalamnya terdapat berbagai pokok bahasan yang memiliki kekhususan karakter masing-masing serta konsep-konsep yang harus dipahami. Biologi merupakan bagian dari sains yang merekonstruksi (pikiran) manusia berdasarkan pengalaman, pemikiran, dan penyesuaian dengan lingkungan. Tujauan dari mata pelajaran biologi adalah mengenal berbagai macam gejala alam, konsep dan keterkaitannya satu sama lain dan menerapkan konsep-konsep biologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Mulyasa, 2004).

Yusuf (2003: 17), menyatakan bahwa pembelajaran biologi selama ini lebih banyak menghafal fakta, prinsip, dan teori saja. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu dikembangkan strategi pembelajaran biologi yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menentukan dan menerapkan ide-ide mereka. Hal ini didasari dengan teori konstruktivisme yang lebih menekankan pada pemberian kebebasan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan dan mengkonstruksi konsep sesuai dengan pengalaman sendiri.

Selama ini pembelajaran yang pada umumnya dilaksanakan oleh para guru lebih banyak menekankan pada aspek pengetahuan dan pemahaman, sedangakan aspek aplikasi, analisis, evaluasi dan bahkan kreasi hanya sebagian kecil dari pembelajaran yang dilakukan. Guru selama ini lebih banyak memberikan ceramah dan latihan mengerjakan soal-soal dengan cepat tanpa memahami konsep secara mendalam. Selain itu, penggunaan media pembelajaran juga kurang dioptimalkan dalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa kurang terlatih untuk mengembangkan daya nalarnya dalam memecahkan permasalahan, menganalisis masalah dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata sehingga keterampilan proses sains siswa belum dikembangkan secara optimal.

Pengkontruksian pengetahuan akan terjadi secara bermakna, apabila guru lebih memperhatikan interaksi antara siswa dengan objek belajar. Interaksi tersebut dapat dihadirkan oleh guru, baik dengan pengalaman langsung dengan melihat objek nyata maupun dengan media tiruan sehingga proses yang terjadi secara abstrak dapat dilihat secara konkrit oleh siswa. Selain itu, siswa juga dapat mengembangkan keterampilan proses sains dengan mengadakan observasi dan menganalisis permasalahan yang terjadi.

Peningkatan hasil belajar biologi sebaiknya diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa belajar aktif baik secara fisik, sosial maupun psikis dalam memenuhi dan menemukan konsep. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran biologi, guru hendaknya menggunakan strategi pembelajaran yang membuat siswa banyak beraktifitas untuk mengembangkan keterampilan proses sains yaitu dengan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry dimana pada pembelajaran ini siswa diharapkan dapat melalukan langkah proses sains mulai merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mendesain percobaan, sampai mengkomunikasikan hasil. Sehingga melalui kombinasi strategi pembelajaran di atas, siswa dapat menemukan konsep sendiri melalui masalah yang terjadi pada materi pelajaran yang menjadi pokok bahasan dan proses ilmiah. Dengan demikian banyak aktifitas yang dilakukan dapat menimbulkan antusias siswa dalam melatih keterampilan proses sains sehingga pemahaman konsep biologi dan hasil belajar dapat meningkat. Penerapan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI), strategi pembelajaran inquiry, dan media pembelajaran diorama sebagai alat pelajaran ini akan mempengaruhi cara belajar siswa yang semula cenderung pasif ke arah yang lebih aktif. Karena guru cenderung menggunakan media LCP, laptop dan alat peraga seperti torso yang masih kurang memicu siswa untuk mengamati objek biologi yang berhubungan dengan konsep abstrak.

SMA Muhammadiyah 3 Jember salah satu sekolah yang sejak tahun pelajaran 2009/2010 telah menerapkan Kurikulum Berkarakter, namun menurut hasil wawancara dengan guru bidang studi biologi diketahui bahwa terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan Kurikulum Berkarakter. Salah satu kendala utama adalah SMA Muhammadiyah 3 Jember merupakan salah satu sekolah yang memiliki masukan siswa yang memiliki prestasi belajar yang bervariasi, karena prestasi belajar yang bervariasi inilah maka peran serta dan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) beraneka ragam, kurangnya antusias siswa untuk belajar siswa lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan guru, diam dan enggan dalam mengemukakan pendapat, dan cenderung malas sehingga mengindikasikan bahwa keterampilan proses sains siswa masih tergolong rendah. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, penyampaian materi pelajaran dilakukan dengan metode konvensional yaitu ceramah, penuturan secara lisan atau tulisan tentang materi yang akan diajarkan sedangkan siswa tinggal menerima begitu saja sebagaimana yang dijelaskan oleh guru dan untuk mengetahui sejauh mana daya serap siswa, biasanya guru melakukan tanya jawab serta memberikan tugas dalam mencapai tujuan kompetensi. Jadi, komunikasi antara guru dan siswa terkesan searah, misalnya guru menerangkan, siswa mendengarkan, guru mendikte dan siswa mencatat.

Siswa dalam belajar juga kurang aktif ketika proses belajar mengajar berlangsung. Hal itu tampak pada siswa yang kurang semangat, jarang bertanya dan enggan terlibat aktif serta tidak perhatian dengan materi yang disampaikan oleh guru. Keadaan tersebut sesuai dengan pengamatan awal yang dilakukan peneliti bahwa kegiatan belajar dilakukan dengan ceramah, sehingga berdampak pada nilai rata-rata pelajaran biologi yaitu untuk kelas XI IPA 1 sebesar 77, kelas XI IPA 2 sebesar 79, kelas XI IPA 3 sebesar 79 , kelas XI IPA 4 sebesar 78, dan kelas XI IPA 5 sebesar 79. Adapun kriteria ketuntasan hasil belajar di SMA Muhammadiyah 3 Jember adalah sebagai berikut:

  1. daya serap perorangan, siswa dinyatakan telah tuntas belajar bila mencapai skor ≥ 76;
  2. daya serap klasikal, kelas tersebut dapat dinyatakan tuntas belajar jika mencapai ≥ 85% dari jumlah siswa yang telah mencapai nilai ≥ 76.

(Standar Mata Pelajaran Biologi SMA Muhammadiyah 3 Jember)

Hasil ketuntasan belajar siswa tersebut, guru dan peneliti mengaharapkan adaya proses pembelajaran yang bervariasi dalam meningkatkan hasil belajar siswa, artinya proses pembelajaran yang lama tidak boleh begitu saja ditinggalkan, karena model tersebut terkadang masih dirasa efektif, tetapi agar proses pemebelajaran tersebut tidak monoton maka diperlukan model pembelajaran yang lain seperti model pembelajaran kooperatif dan media pembelajaran sebagai alat pelajaran. Oleh karena itu, guru harus dapat memilih model pembelajaran yang tepat dan menghadirkan media pembelajaran sehingga siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya, dan merasa mudah dan senang mempelajari biologi.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu dikembangkan suatu strategi pembelajaran yang salah satunya dikenal dengan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry. Melalui pemilihan strategi pembelajaran tersebut diharapkan sumber informasi yang diterima siswa dapat meningkatkan peran serta dan keaktifan siswa dalam mempelajari dan menelaah ilmu khususnya mata pelajaran biologi. Penerapan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry untuk mata pelajaran biologi di SMA Muhammadiyah 3 Jember diharapkan lebih efektif, karena siswa akan belajar lebih aktif dalam memahami materi secara kelompok. Selain itu, siswa dapat lebih mudah menyerap materi pelajaran, serta kematangan pemahaman terhadap materi pelajaran.

Alasan digunakannya materi dengan konsep reproduksi manusia, karena adanya permasalahan yang kompleks pada konsep tersebut yang perlu dipecahkan bersama-sama. Artinya, siswa harus dapat saling berinteriaksi satu sama lain untuk memecahkan masalah dengan cara memikirkan bersama-sama pemecahan masalah. Diharapkan dengan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry ini siswa dapat lebih tertarik dan berperan aktif dalam pembelajaran keterampilan proses sains siswa akan muncul dan dapat dikembangkan.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ditemukan di SMA Muhammadiyah 3 Jember peneliti mencoba mengadakan suatu penelitian dalam bentuk eksperimen dengan judul “Pengaruh Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media diorama terhadap Keterampilan Proses Sains dan hasil belajar Biologi di SMA”.

 

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana pengaruh Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media pembelajaran diorama terhadap Keterampilan Proses Sains di SMA?;
  2. Bagaimana pengaruh model pembelajaran Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media pembelajaran diorama terhadap hasil belajar Biologi di SMA ?;
  3. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap penggunaan Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media diorama di SMA?.
    • Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

  1. mengetahui pengaruh Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry terbimbing dengan media pembelajaran diorama terhadap Keterampilan Proses Sains (KPS) di SMA;
  2. mengetahui pengaruh Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media diorama terhadap hasil belajar Biologi di SMA;
  3. mengetahui tanggapan siswa terhadap penggunaan Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media diorama di SM

 

  • Definisi Istilah

Sesuai dengan judul “Pengaruh Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media diorama terhadap Keterampilan Proses Sains dan hasil belajar Biologi di SMA”, maka diadakan pembatasan istilah sebagai berikut:

  • Problem Based Instruction

Menurut Ibrahim dkk (2000 dalam Trianto 2009:98) menjelaskan, Problem Based Instruction (PBI) merupakan model pembelajaran berbasis masalah yang memiliki lima tahapan utama, yang dimulai dengan tahap mengorientasikan siswa pada masalah dan diakhiri dengan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inquiri dan dialog untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.

  • Pendekatan Inquiry

Pendekatan pembelajaran yang dimaksud adalah pendekatan inquiry terbimbing dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dengan mengarahkan pada suatu diskusi (Rustaman, 2003: 111).

  • Media Pembelajaran

Media pembelajaran segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, mina, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar (Daryanto, 2010: 6).

  • Diorama

Hamalik (1986: 158) menjelaskan, diorama ialah suatu penyajian tiga dimensi yang menggabungkan bermacam-macam bahan, baik simbolis maupun yang riil seperti gambar- gambar specimen; dan pada umumnya menggunakan cahaya pantulan sehingga menunjukkan pengaruh pemandangan yang naturalis.

Jenis media pembelajaran diorama yang dimaksud adalah diorama siklus menstruasi yang berupa benda tiruan berbentuk tiga dimensi yang menggambarkan peristiwa siklus menstruasi dan dilengkapi dengan media bentuk 2 dimensi untuk mennjelaskan proses peluruhan pada menstruasi.

  • Keterampilan Proses Sains

Keterampilan proses sains adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi (Wahyana, 1997 dalam Trianto 2010: 144).

 

 

  • Hasil Belajar Biologi

Hasil belajar yang dimaksud adalah suatu proses yang sistematis yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efisiensi dari program pembelajaran yang mengacu pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor   (Subali, 2002: 1).

  • SMA

Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menjadi objek penelitian adalah SMA Muhammadiyah 3 Jember tahun pelajaran 2012/2013.

1.5 Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

  1. siswa, sebagai sarana untuk mengembangkan keterampilan proses sains dan melatih diri untuk dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat memecahkan masalah-masalah tersebut dengan menggunakan konsep-konsep dalam biologi;
  2. guru, sebagai sarana untuk meningkatkan keaktifan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung;
  3. sekolah, dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka mencari alternatif metode pengajaran biologi yang efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan;
  4. peneliti lain, bisa menjadi bahan pengembangan untuk penelitian lebih lanjut;
  5. Program Studi Pendidikan Biologi, penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dalam meningkatkan kualitas lulusan S1 Pendidikan Biologi;
  6. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dalam meningkatkan kualitas lulusan S1 FKIP.

 

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Dari beberapa pertanyaan yang muncul pada rumusan masalah, peneliti memberikan batasan masalah pada:

  1. sasaran penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA-4 dan XI IPA-5 SMA Muhammadiyah 3 Jember, karena kelas tersebut terpilih dalam undian setelah diadakan uji homogenitas ;
  2. materi yang diajarkan adalah terbatas pada konsep reproduksi manusia;
  3. keterampilan proses sains meliputi observasi, merumuskan hipotesis, mendesain dan melakukan percobaan dengan studi literatur, mengumpulkan data, menganalisis data , menyusun kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil yang diperoleh melalui penggunaan media pembelajaran diorama siklus menstruasi dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry terbimbing ;
  4. hasil belajar yang diukur dalam penelitian ini adalah ranah kognitif pada hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA SMA Muhammadiyah 3 Jember pada konsep reproduksi manusia saja, namun untuk melengkapi deskripsi pembelajaran pada saat KBM berlangsung digunakan rubrik penilaian pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk melihat aspek afektif dan psikomotorik siswa dan lembar angket yang diberikan kepada siswa untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap penerapan strategi pembelajaran tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

 

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)

Ibrahim dkk (2000 dalam Trianto 2009: 98) menjelaskan, pembelajaran berbasis masalah memiliki lima tahapan utama, yang dimulai dengan tahap mengorientasikan siswa pada masalah dan diakhiri dengan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah kompleks. Sehingga memperbanyak peluang untuk berbagi inquiri dan dialog untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.

Pembelajaran masalah memiliki tujuan (Trianto 2009: 95) yaitu:

  1. Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah;
  2. Belajar peranan orang dewasa yang autentik;
  3. Menjadi pembelajaran yang mandiri.

Ibrahim (2003: 15 dalam Trianto 2009: 97) menyatakan, di dalam kelas PBI, peran guru berbeda dengan kelas tradisional. Peran guru di dalam kelas PBI antara lain sebagai berikut:

  1. Mengajukan masalah atau mengorientasikan siswa kepada masalah autentik, yaitu masalah kehidupan nyata sehari-hari;
  2. Memfasilitasi/ membimbing penyelidikan misalnya melakukan pengamatan atau melakukan eksperimen/ percobaan;
  3. Memfasilitasi dialog siswa;
  4. Mendukung belajar siswa.

Komarayanti, (2007: 47) menjelaskan, sintaks pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) adalah sebagai berikut:

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa agar terlibat dalam aktvitas pemecahan masalah yang dipilih;
  2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut;
  3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.;
  4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya;
  5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Berikut adalah kelebihan Problem Based Introduction :

  1. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami materi pelajaran;
  2. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi siswa;
  3. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa;
  4. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidpan nyata;
  5. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan;
  6. Melalui pemecahan masalah dianggap menyenangkan dan disukai siswa;
  7. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru;
  8. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.

Berikut adalah kelemahan Problem Based Introduction

  1. Saat siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan maka mereka akan merasa enggan mencoba;
  2. Membutuhkan waktu untuk persiapan;
  3. Perlu pemahaman siswa untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari;
  4. Perlu ditunjang buku yang relevan untuk dijadikan pemahaman dalam kegiatan pembelajaran (Akhyar 2012: 14 dalam Priyono 2012: 16).

 

2.1.2 Pendekatan Inquiry Terbimbing

Peran aktif siswa menjadi ciri khas dalam pembelajaran inkuiri. Siswa berperan sebagai subject center dalam berbagai kegiatan pembelajaran tanpa terlepas dari bimbingan guru. National Science Foundation (NSF), (2004 dalam Tursinawati, 2012) menyatakan bahwa inquiry adalah pusat pembelajaran sains. Ketika terlibat dalam penyelidikan, siswa mendeskripsikan objek dan peristiwa, mengajukan pertanyaan, membangun penjelasan, mereka mencoba memberi penjelasan terhadap pengetahuan ilmiah saat ini, dan mengkomunikasikan ide-ide mereka kepada orang lain. Mereka mengidentifikasi asumsi mereka, menggunakan cara berpikir kritis dan logis, dan mempertimbangkan alternatif penjelasan. Melalui inkuiri terbimbing guru memberi bimbingan dan arahan kepada siswa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan penyelidikan, misalnya guru harus memberi permasalahan dan membimbing siswa untuk menemukan pertanyaan yang akan diteliti, membimbing dalam pelaksanaan penyelidikan, atau bahkan juga membimbing dalam pencatatan hasil.

Inquiry terbimbing merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola pembelajaran kelas. Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain. Pembelajaran inkuiri terbimbing membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab individu dan tanggung jawab dalam kelompok atau pasangannya (Ambarsari, 2012 : 4) Secara umum proses inquiry menurut Sanjaya (2008: 119 dalam Ambarsari, 2012 : 4) dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: 1. Merumuskan masalah; 2. Mengajukan hipotesis; 3. Mengumpulkan data; 4. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan; dan 5. Membuat kesimpulan.

 

 

 

 

 

Tabel 2.1 Tahapan Pendektan Inquiry (Trianto, 2009: 172)

Fase Perilaku Guru
1.      Menyajikan pertanyaan atau masalah Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa dalam kelompok.
2.    Membuat hipotesis Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan  dengan permasalahan  dan memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.
3.    Merancang percobaan Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan.Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan
4.    Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan
5.    Megumpulkan dan menganilisis data Guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.
6.    Membuat kesimpulan Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.

 

Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam inkuiri terbimbing yaitu : (1) siswa mengembangkan kemampuan berpikir melalaui observasi, (2) sasarannya adalah mempelajari proses mengamati kejadian atau obyek kemudian menyusun kesimpulan yang sesuai, (3) guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran dan berperan sebagai pemimpin kelas, (4) tiap-tiap siswa berusaha untuk membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalam kelas, (5) kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran, (6) sejumlah kesimpulan tertentu akan diperoleh dari siswa, dan (7) guru memotivasi semua siswa untuk mengkomunikasikan hasil pengamatannya (Orlic dalam Jasri, 2007).

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan pendekatan inquiry terbimbing. Sanjaya (2008: 206 dalam Rati: 2012: 24).

  1. Menekankan pada perkembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga strategi ini lebih dianggap bermakna;
  2. Dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar bermakna;
  3. Dianggap sesuai dengan perkembangan psikologis belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman;
  4. Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, artinya siswa yang memiliki kemampuan bagus tidak akan terhambat dengan siswa yang memiliki kemampuan lemah dalam belajar.

Disamping memiliki keunggulan strategi ini, juga memiliki kelemahan diantaranya:

  1. Strategi belajar inquiry sulit digunakan dalam hal mengontrol keberhasilan siswa;
  2. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar;
  3. Kadang- kadang dalam pengimplementasiannya memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sulit menyesuaikan dengan waktu yang disesuaikan;
  4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pembelajaran, maka strategi ini sulit dalam pengimplementasiannya oleh setiap guru.

Pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inquiry (Trianto,2009: 91). Adapun kombinasi PBI dan Inquiry terbimbing (IT) sebagai berikut:

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran , menjelaskan logistik yang dibutuhkan dengan menyajikan pertanyaan dan masalah agar siswa termotivasi dalam pemecahan masalah yang dipilih (PBI dan IT);
  2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut ( PBI);
  3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimmen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan menganalisis data yang diperoleh (PBI dan IT);
  4. Guru membantu siswa dalam menyusun kesimpulan dan merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya (PBI dan IT );
  5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan (PBI).

 

2.1.3 Media Pembelajaran

Depdiknas (2003 dalam Muhson 2010: 3) istilah media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Proses belajar mengajar pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan bagian dari sumber belajar yang merupakan kombinasi antara perangkat lunak (bahan belajar) dan perangkat keras (alat belajar). Sementara menurut Djamarah (2010: 123) media pembelajaran sebagai sumber belajar diakui sebagai alat bantu auditif, visual, dan audiovisual.

Critricus, (1996 dalam Daryanto, 2010: 4-6) menyatakan salah satu komponen komunikasi , yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. Secara umum kegunaan media adalah sebagai berikut :

  1. Memperjelas peran agar tidak terlalu verbalistis;
  2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra;
  3. Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar;
  4. Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori, dan kinestiknya;
  5. Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama;
  6. Proses pembelajaran mengandung lima komponen pembelajaran yaitu: guru (komunikator), bahan pelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan) dan tujuan pembelajaran.

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, kita dapat mempergunakan bermacam-macam bentuk media pembelajaran, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Macam-macam media pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar, dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Bahan publikasi : Koran, majalah, buku;
  2. Bahan bergambar : gambar, bagan (chart), peta, poster, foto, lukisan, grafik, diagram;
  3. Bahan pameran : bulletin board, papan flannel, papan magnet, papan demontrasi;
  4. Bahan proyeksi : film, film strip, slide, transparansi, OHP;
  5. Bahan rekaman audio : tape cassette, piringan hitam, kaset video;
  6. Bahan produksi : kamera, tape recorder;
  7. Bahan siaran : program radio, program televisi;
  8. Bahan pandang dengar (audio visual) : TV, film suara, slide suara;
  9. Bahan model/benda tiruan : model irisan penampang batang, model torso tubuh manusia, dan diorama. (Rustaman, 2003: 143 ).

 

2.1.4 Media Diorama Siklus Menstruasi

Diorama adalah sebuah pemandangan tiga dimensi mini yang bertujuan untuk menggambarkan pemandangan sebenarnya. Diorama, biasanya terdiri atas bentuk-bentuk sosok atau objek-objek ditempatkan di pentas yang berlatar belakang lukisan yang disesuaikan dengan penyajinya. Diorama sebagai media pembelajaran terutama berguna untuk mata pelajaran ilmu bumi, ilmu hayat, sejarah, dan bahkan dapat diusahakan untuk berbagai macam mata pelajaran. Diorama merupakan suatu skene dalam tiga dimensi untuk memperagakan suatu keadaan dalam ukuran kecil. Dalam skene itu, terdapat benda-benda tiga dimensi dalam ukuran kecil pula. Benda-benda kecil itu berupa orang-orangan, pohon-pohonan, rumah-rumahan, dan lain-lain sebagainya, sehingga tampaknya seperti dunia sebenarnya dalam ukuran mini (Ainurrofiq, 2012).

Hamalik (1986: 158) menjelaskan, diorama ialah suatu penyajian tiga dimensi yang menggabungkan bermacam-macam bahan, baik simbolis maupun yang riil seperti gambar- gambar specimen; dan pada umumnya menggunakan cahaya pantulan sehingga menunjukkan pengaruh pemandangan yang naturalis. Selanjutnya Suleiman (1985: 145) menjelaskan bahwa diorama adalah suatu skene dalam tiga dimensi untuk memperagakan suatu keadaan dalam ukuran kecil. Dalam skene itu terdapat benda-benda tiga dimensi dalam ukuran kecil pula.

Diorama diberi pengertian sebagai sajian pemandangan dalam ukuran kecil yang dilengkapi dengan patung-patung dan perincian seperti aslinya serta dipadukan dengan lingkungan alam asli dan latar yang berwarna (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998 dalam Yunus, 2012: 8).

Konsep pembuatan diorama tidak sukar, karena bahan-bahan yang diperlukan tidak mahal, ukuran diorama tidak terbatas, dan diorama tidak boleh dipadatkan dengan segala macam benda karena dapat membingungkan. (Hamzah, 1985:145-146). Pembuatan diorama juga tidak terpusat pada peristiwa sejarah dan miniatur bagunan pada umumnya. Namun, proses- proses biologis yang terjadi dalam manusia juga dapat dijadikan diorama. Seperti proses fisiologis siklus menstruasi yang berhubungan dengan konsep reproduksi manusia.

Media pembelajaran yang di sajikan dalam bentuk diorama dengan topik siklus menstruasi juga memerlukan kaidah dalam pembuatan media diorama. Dalam pembuatan media diorama siklus menstruasi perlu memperhatikan aspek tiga dimensi yang berlatarkan pemandangan kondisi endometrium dibagian sisi kiri, latar pemandangan yang melukiskan kondisi hormon yang berperan pada folikel pada sisi depan, dan aspek pengadaan pelaku dihadirkan dengan kondisi perubahan folikel pada setiap fase menstruasi. Kondisi ini juga didukung dengan pemberian lampu led yang terletak pada sisi kiri dan sisi depan yang berfungsi sebagai penanda siklus berjalan.

Gambar 2.1 Desain media pembelajaran dirama siklus menstruasi

(sumber: dokumentasi pribadi)

 

Media pembelajaran diorama dengan topik siklus menstruasi pada manusia adalah bentuk media 3 dimensi yang melukiskan peristiwa fisiologis yang terjadi dalam siklus menstruasi. Adapun proses peluruhan dilengkapi dengan media bentuk 2 dimensi siklus menstruasi.

Gambar 2.2 Media bentuk 2 dimensi proses peluruhan pada menstruasi

(sumber: dokumentasi pribadi)

 

 

2.1.5 Keterampilan Proses Sains (KPS)

Keterampilan proses sains terintegrasi sudah merupakan aplikasi keterampilan proses sains yang digunakan untuk pemecahan masalah (Rezba et. al. 1995: vii). Keterampilan proses sains dasar dapat dipecah menjadi dua, yakni: (a) keterampilan dasar (basic skill) dan (b) keterampilan mengolah/memproses (process skill). Keterampilan proses sains terintegrasi berupa keterampilan melakukan investigasi (investigative skill) sebagai keterampilan proses sains lanjut (Bryce et. al., 1990: 1-4). Collette maupun Gega (Djohar, 2000: 10) membagi keterampilan melakukan proses sains menjadi dua macam, yakni keterampilan dasar dan keterampilan terintegrasi. Keterampilan dasar meliputi kegiatan observasi, klasifikasi, pengukuran, komunikasi, inferensi, dan prediksi; sedangkan keterampilan terpadu meliputi kegiatan merumuskan hipotesis, mengontrol variabel, merumuskan masalah, dan menginterpretasi data. (Subali 2010). Keterampilan Proses Ilmiah. Tema persoalan tersebut dipelajari memalui ketrampilan proses ilmiah (Scientific process skill). Biologi sebagai proses sains diperoleh melalui kegiatan ilmiah yang disebut metode ilmiah sebagaimana tercantum pada tabel 2.2

Tabel 2.2 Keterampilan Proses Ilmiah

Keterampilan Proses Ilmiah
1.      Observasi

2.      Klasifikasi, prediksi, inferensi

3.      Membuat hipotesis

4.      Mendesain dan melakukan percobaan

5.      Menggunakan alat ukur

6.      Identifikasi variabel

7.      Mengontrol variabel

8.      Mengumpulkan data

9.      Mengoranisasi data (tabel,grafik,dll)

10.  Memaknakan data, tabel , grafik

11.  Menyusun kesimpulan

12.  Mengkomunikasikan hasil/ide/secara tertulis maupun lisan

 

Mata pelajaran biologi harus mengembangkan keterampilan proses ilmiah tersebut diatas. Berbagai keterampilan proses mengembangkan kecakapan hidup (life skills), bahkan kecakapan yang dipakai seumur hidup (longlife skills). Misalnya kecakapan observasi, kecakapan memecahkan masalah secara ilmiah, kecakapan berpikir logis, deduktif, induktif, dan sebagainya. Oleh karena itu sistem penilaian biologi menurut Bryce, et al (1990) juga harus mengukur kemampuan siswa dalam melaksanakan ketrampilan proses ilmiah dan menggunakan metode ilmiah (Komarayanti, 2007:27).

Tujuan melatih keterampilan proses sains diharapkan (Muhammad, 2003: 40 dalam Trianto, 2010: 150) adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, karena dalam melatihkan ini siswa dipicu untuk berpartisipasi secara aktif dan efisien dalam belajar;
  2. Menuntaskan hasil belajar siswa secara serentak, baik keterampilan produk, proses, maupun keterampilan kinerjanya;
  3. Menemukan dan membangun sendiri konsepsi serta dapat mendefinisikan secara benar untuk mencegah terjadinya miskonsepsi;
  4. Untuk lebih memperdalam konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajarinya karena dengan latihan keterampilan proses, siswa sendiri yang berusaha mencari dan menemukan konsep tersebut;
  5. Mengembangkan pengetahuan teori atau konsep dengan kenyataan dalam kehidupan bermayarakat;
  6. Sebagai persiapan dan latihan dalam menghadapi kenyataan hidup di dalam masyarakat, karena siswa telah dilatih keterampilan dan berpikir logis dalam memecahkan masalah dalam kehidupan.

2.1.6 Metode Pembelajaran Konvensional

Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, konvensional berarti konvesi, kesepakatan, serta tradisional. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode konvensional yaitu sebagai metode yang umum digunakan, misalnya ceramah dan tanya jawab. Metode ceramah merupakan metode yang paling banyak dikenal dan dipakai oleh guru dalam proses belajar mengajar. Karena dalam pelaksanaanya sangat mudah, tidak membutuhkan banyak tenaga dan biaya (Soetomo, 1993:146). Menurut Suharto (1997:24) metode ini tidak berdaya hasil untuk meningkatkan kemampuan berpikir (promotion of thought) dan kurang memadai untuk pencapaian tujuan yang bersifat pengubahan sikap siswa (changing student attitudies), serta komunikasinya hanya satu arah. Kelebihan ini adalah guru mudah menguasai kelas, mudah mempersiapkan dan melaksanakannya. Kelemahan dari metode ini biasanya sering membosankan dan siswa menjadi pasif karena hanya mendengarkan dan mencatat informasi dari guru (Soetomo, 1993:145).

Model pembelajaran konvensional menekankan guru sebagai pusat informasi. Pola ini mengakibatkan tahapan-tahapn yang terdapat dalam pembelajaran konvensional berlawanan dengan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI). Model pembelajaran konvensional cenderung membuat siswa pasif dan guru dituntut untuk selalu aktif dalam pembelajaran. Sehingga dapat terlihat jelas bahwa dalam pembelajaran model konvensional guru berusaha memindahkan pengetahuan yang ia miliki kepada peserta didik.

Pembelajaran yang sifatnya konvensional meliputi tahapan-tahapan pembukaan, penyajian, dan penutup, dimana tahapan-tahapan tersebut guru cenderung menggunakan metode ceramah disertai dengan sedikit tanya jawab. Kebanyakan kegiatan dalam kelas hanya mengerjakan latihan yang disebut buku kerja atau lembar kerja siswa (LKS) dengan mengikuti semua petunjuk yang ada, dan mencocokkan kebenaran informasi dengan apa yang tercantum dalam buku panduan guru atau apa yang dikatakan guru (Abraham dalam Renher dalam Abbas, 2004:836).

 

2.1.7 Hasil Belajar Biologi

2.1.7.1 Hasil Belajar Kognitif

Sudjana (1995:22) menyatakan bahwa, hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar adalah pemahaman dan penjelasan hubungan antara bagian-bagian informasi yang telah diperoleh sehingga orang tersebut dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang dipelajari (Hodoyo, 1990:134).

Tujuan pembelajaran di sekolah pada umumnya adalah peningkatan kemampuan siswa dalam aspek kognitif. Aspek kognitif dibedakan atas 6 tingkatan menurut revisi taksonomi Bloom, yang terdiri dari kategori hubungan dan dimensi proses kognitif (Kuswana, 2012: 117-118). Adapun keenam kategori tersebut meliputi:

  • mengingat (remember) : mendapatkan pengetahuan yang relevan dari memeori yang panjang, dengan kata operasional mengenal dan mengingat;
  • memahami (understand) : membengun pengertian dari pesan pembelajaran, di antaranya oral, tulisanm komunikasi grafik. Adapun kata operasional yang biasa digunakan: mengartikan, memberikan contoh, mengklasifikasi, menyimpulkan, menduga, membandingkan, dan menjelaskan;
  • menerapkan (apply) : menggunakan prosedur dalam situasi yang diberikan. Adapun kata operasional yang biasa digunakan: menjalankan dan melaksanakan;
  • menganalisis (analyze) : memecah materi menjadi bagian-bagian pokok dan mendeskripsikan bagaimana bagian- bagian tersebut dihubungkan satu sama lain maupun menjadi sebuah struktur keseluruhan atas tujuan. Adapun kata operasional yang biasa digunakan: membedakan, mengorganisasi, dan mendekonstruksi;
  • mengevaluasi (evaluate) : membuat penilaian yang didasarkan pada kriteria standar. Adapun kata operasional yang biasa digunakan: memeriksa dan menilai;
  • berkreasi (create) : menempatkan bagia-bagian secara bersama-sama ke dalam suatu ide, semuanya saling berhubungan untuk membuat hasil yang baik. Adapun kata operasional yang biasa digunakan: menghasilkan hipotesis, merencanakan, dan membangun.

Penilaian kognitif siswa dengan menggunakan kombinasi Problem Based Instruction (PBI) dan inquiry terbimbing terdiri dari tingkat kognitif ingatan (C1) sampai tingkat kognitif kreasi (C6) dengan perbandingan komposisi C1= 7,5 % ; C2= 15 %; C3= 12,5 % ; C4= 20% C5=20 % dan C6= 25 % dari total soal 40 item yang memuat pokok bahasan sistem reproduksi manusia. Perbandingan komposisi tersebut didasarkan pada kombinasi strategi pembelajaran yang digunakan. Item soal C1 dengan komposisi 7,5 % berfungsi sebagai pengukur tingkat ingatan siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia, C2 berfungsi sebagai pengukur pemahaman siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia, C3 berfungsi sebagai pengukur penerapan kognitif siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia, C4 berfungsi sebagai analisis dalam kognitif siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia, C5 berfungsi sebagai penilaian kognitif siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia, dan C6 berfungsi sebagai kreasi atau penciptaan ide dari kognitif siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia. Adapun indikator dalam penyusunan item soal pokok bahasan sistem reproduksi manusia sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi permasalahan reproduksi manusia yang berhubungan dengan struktur, fungsi, proses pada sistem reproduksi manusia (pria dan wanita), proses fertilisasi dan kehamilan, alat kontrasepsi dan proses pencegahan kehamilan pada keluarga berencana, dan kelainan yang terjadi pada sistem reproduksi manusia (C1);
  2. Mengkategorikan permasalahan reproduksi manusia terkait struktur, fungsi, proses pada sistem reproduksi manusia (pria dan wanita), proses fertilisasi dan kehamilan, alat kontrasepsi dan proses pencegahan kehamilan pada keluarga berencana, dan kelainan yang terjadi pada sistem reproduksi manusia (C2);
  3. Menggunakan hasil informasi yang diperoleh dalam diskusi kelompok untuk diterapkan dalam memecahkan permasalahan reproduksi manusia (C3);
  4. Membedakan informasi yang diperoleh untuk dikategorikan struktur, fungsi, proses pada sistem reproduksi manusia (pria dan wanita), proses fertilisasi dan kehamilan, alat kontrasepsi dan proses pencegahan kehamilan pada keluarga berencana, dan kelainan yang terjadi pada sistem reproduksi manusia (C4);
  5. Menghubungkan konsep reproduksi manusia terkait dengan struktur, fungsi, proses pada sistem reproduksi manusia (pria dan wanita), proses fertilisasi dan kehamilan, alat kontrasepsi dan proses pencegahan kehamilan pada keluarga berencana, dan kelainan yang terjadi pada sistem reproduksi manusia (C4);
  6. Mendeteksi kemungkinan yang terjadi apabila terjadi kelainan pada reproduksi manusia (C5);
  7. Merencanakan hipotesis penyebab permasalahan tentang reproduksi manusia (C6).

Penyusunan item soal sebagai alat evaluasi yang mengukur kognitif siswa mulai C1 sampai C6 dipertimbangkan sesuai dengan starategi pembelajaran yang digunakan. C1, C2, dan C3 berjumlah 35%, hal ini bertujuan untuk membantu siswa dalam mencapai ketuntasan minimal karena item soal tersebut tergolong kemampuan berpikir tingkat rendah. Sedangkan C4 sampai C6 tergolong kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam PBI dan inquiry terbimbing siswa lebih ditekankan untuk memecahkan dan menemukan solusi pemecahan masalah melalui perumusan masalah sampai mengkomunikasikan hasil. Dalam hal ini C4 sampai C6 mulai meningkat komposisi jumlahnya dalam item soal yang berfungsi sebagai alat evaluasi berpikir tingkat tinggi. Pada pemecahan masalah melalui inquiry yang dibimbing oleh guru, siswa diharapkan dapat menyusun hipotesis yang sesuai dengan rumusan masalah dan dibuktikan melalui tingkat kognitif analisis dan menilai informasi yang sesuai dengan masalah yang dikaji.

2.1.7.2 Hasil Belajar Afektif

Ranah afektif menurut Krathwohl (1964) meliputi jenjang sebagai berikut.

  1. Kemampuan menerima (receiving)
  2. Kesadaran (awareness), misal membedakan suara, memilah kejadian, memilih rencana, menunjukkan kesadaran tentang pentingnya belajar, menunjukkan sensivitas terhadap problem-problem sosial.
  3. Kemauan untuk menerima (willingness to receive), misal memilih contoh, mengkombinasi bentuk, mengumpulkan model, mendengarkan dengan perhatian penuh, menerima perbedaan suku serta budaya, melibatkan diri secara penuh terhadap aktivitas kelas.
  4. Perhatian yang terkontrol atau terseleksi (controlled or selected attention), misal memilih alternatif, mengontrol jawaban.
  5. Kemampuan merespon (responding)
  6. Persetujuan pada dirinya untuk sepenuhnya merespon (acquiescence inresponding) dan kemauan untuk merespon (willingness to respond), misalnya mengikuti/menyetujui aturan yang berlaku, menghargai pendapat atau kebijaksanaan, menyelesaikan tugas rumah ataupun tugas laboratorium, ikut dalam suatu kegiatan secara sukarela (sebagai volunteer), aktif dalam diskusi kelas.
  7. Kepuasan dalam respon (satisfaction in response), misai menyambut dengan gembira keputusan yang diambil bersama, dengan tulus memuji karya/penampilan orang lain
  8. Kemampuan menilai atau memaknakan (valuing)
  9. Kernarnpuan menerima secara baik suatu nilai (acceptance of a value), misalnya meningkatkan kecakapannya dalam hubungan personal ataupun dalam klubnya, mengkhususkan diri menetapkan pilihan pada suatu hal, menghargai peran serta ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, menghargai literature yang baik.
  10. Menentukan pilihan terhadap suatu nilai (preference for a value), missalnya memberikan bantuan terhadap suatu proyek/tencana, medukung argumen orang lain.
  11. Tanggung jawab, misal mendebat hal-hal yang tak relevan, mengajukan argumentasi atas jawaban yang diberikan, memprotes hal-hal yang tidak benar, menunjukkan tanggung jawabnya terhadap pembaharuan sosial/masyarakal, menunjukkan sikap mau memecahkan masalah, menunjukkan perhatian yang besar terhadap kesejahteraan sesamanya,
  12. Kemampuan mengorganisasi (organizing)
  13. Konsepsualisasi nilai (conceptualization of a value), misal membandingkan dengan suatu standar, mendiskusikan parameter-parameter, menghargai kebutuhan yang seimbang antara kebebasan dan tanggung jawab, menghargai peran perencanaan yang sistematik dalam pemecahan masalah, mengakui kelebihan dan kelemahan diri.
  14. Organisasi sistem nilai (organization of a value system), misalnya menyusun kriteria, mengorganisasi sistem, menyusun rencana sesuai dengan minat, tanggung jawab, serta keyakinannya.
  15. Kemampuan yang dikarakterisasi oleh suatu nilai atau gabungan nilai (value

complex) yang akan terbentuk suatu life stile. Generalized set, misalnya menyusun rencana, mengubah perilaku, melengkapi cara, memilih prosedur. Karakterisasi (characterizing), misalnya dinilai baik oleh teman-teman, oleh guru ataupun oleh anggota kelompoknya, menghindari konflik, menentang tindakan yang boros, mengatasi akibat yang tak dikehendaki, menunjukkan kepercayaandiri dalam kerja individual, menggunakan pendekatan objektif dalam memecahkan masalah, menunjukkan disiplin dan produktivitas yang tinggi, mampu bekerjasama dalam kerja kelompok, memelihara cara hidup yang sehat, menunjukkan kesadaran yang tinggi (Subali 2010:29-36).

Pengembangan penilaian aspek afektif disisipin nilai pendidikan karakter. Pendidikan karakter itu sendiri adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam pendidikan karakter disekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen pendirian itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian. Penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kurikuler, pemberdayaan sarana dan prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/ lingkungan (Rohman, 2012: 65-66). Selanjutnya langkah- langkah pembentukan karakter menurut Najib Sulhan (2012: 20 dalam Amri, 2012:43-44) sebagai berikut:

  1. Memasukkan konsep karakter pada setiap pembelajaran dengan cara:
  2. Memasukkan nilai kebaikan pada anak (knowing the good). Menanamkan konsep diri pada anak setiap memasuki pelajaran.
  3. Menggunakan cara yang membuat anak memiliki alasan atau keinginan untuk berbuat baik. (desiring the good)
  4. Memberikan beberapa contoh kepada anak mengenai karakter yang sedang dibangun.
  5. Memberikan sikap mencintai perbuatan baik (loving the good).
  6. Melaksanakan perbuatan baik (acting the good).
  7. Membuat slogan yang mampu menumbuhkan kebiasaan baik dalam segala tingkah laku masyarakat sekolah.
  8. Pemantauan secara kontinyu merupakan wujud dari pelaksanaan pembangunan karakter.
  9. Penilaian orang tua memiliki peranan yang besar dalam membangun karakter anak.

Pendidikan karakter di atas dapat disimpulkan untuk diterapkan ke semua mata pelajaran termasuk pada pelajaran biologi. Melalui keterampilan proses sains dalam pelajaran biologi dapat membentuk karakter siswa seperti jujur, teliti, peduli lingkungan dan kerja keras dalam berproses di pelajaran biologi melalui keterampilan proses sains.

Indikator penilaian afektif siswa yang berkaitan dengan penggunaan strategi pembelajaran PBI dan inquiry terbimbing dengan pokok bahasan sistem reproduksi manusia, sebagai berikut:

  1. Mengikuti intruksi dari guru untuk langkah identifikasi sampai mengkomunikasikan permasalahan reproduksi manusia dengan penuh tanggung jawab, kerja keras, dan disiplin (A1)
  2. Mendengarkan pendapat teman saat kegiatan diskusi kelompok dengan rasa ingin tahu, toleransi dan komunikatif (A1)
  3. Mempertahankan pendapat terkait reproduksi manusia dari kelompoknya saat disanggah oleh anggota kelompok lain dengan rasa tanggung jawab dan toleransi (A2)
  4. Mengatakan pendapat saat kegatan diskusi untuk memecahkan permasalahan reproduksi manusia di kelompok belajar dengan rasa ingin percaya diri, tahu, komunikatif dan toleransi (A3)
  5. Mengusulkan saran alternatif pemecahan masalah reproduksi manusia saat diskusi kelompok dengan mandiri, penuh tanggung jawab dan komunikatif
  6. Menghubungkan teori yang terkait dengan konsep yang terdapat pada reproduksi yang dialami siswa dengan percaya diri, teliti dan komunikatif (A4)
  7. Menyatakan pendapat dengan kalimatnya sendiri saat diskusi kelompok dengan mandiri, percaya diri, rasa tanggung jawab dan komunikatif (A5).

2.1.7.3 Hasil Belajar Psikomotorik

Pembagian ranah psikomotor menurut Simpson mencakup jenjang sebagai berikut :

  1. Persepsi, yakni kemampuan menangkap stimulus, menyeleksi isyarat, dan kemampuan mentranslasinya ke dalam aksi yang ditampiikan, misal dapat menunjukkan adanya gangguan mesin berdasarkan suara yang didengarnya, dapat menghubungkan irama musik dengan langkah-langkah gerakan saat menari;
  2. Kesiapan untuk berperan aktif (set) dalam suatu bagian dan kegiatan, baik secara menial, fisik maupun emosional, misal mengetahui urut-urutan langkah suatu kegiatan, mendemonstrasikan cara berposisi yartg benar pada saat akan memulai suatu kegiatan;
  3. Respons terpandu (Guided response), merupakan kemampuan awal dalam belajar suatu keterampilan yang bersifat kompleks, termasuk kemampuan menirukan ataupun kemampuan-mencoba berdasarkan kriteria atau instruksi, misalnya mendemonstrasikan cara memukul bola, mendemonstrasikan cara menggosok gigi geraham, mendeterminasi langkah-langkah pokok dalam rnelakukan peiawatan untuk mebuang karang gigi;
  4. Mekanisme, yaitu rnenampilkan suatu kegiatan yang sifatnya habitual sehingga menghasilkan suatu keterampilan (skills), misal merangkai alat laboratorium, menlgunakan mikroskop sehingga sampai dapat menemukan bayangan benda yang ingin dilihatnya, menggunakan slide projector;
  5. Respons yang benar-benar kompleks (complex overt response), yaitu menunjukkan keterampilan secara utuh, misalnya memperagakan cara menggergaji, memperagakan cara berenang menggunakan suatu gaya atau berganti gaya, memperagakan cara mengemudikan kendaraan, memperagakan cara membersihkan karang gigi, atau mendemontrasikan cara menambal gigi;
  6. Adaptasi, yakni kemampuan mengubah-ubah pola gerakan karena adanya masalah yang dihadapi, misal membelokkan mobil saat menghindari kubangan, mengubah gerakan tangan saat berenang dalam menghadapi arus yang berputar;
  7. Originasi, yaitu berkreasi menirukan suatu gerakan baru yang benar-benar orisinal, misalnya menciptakan tari-tarian atau menciptakan mode baru dalam disain pakaian (Subali, 2010: 37).

Penilaian psikomotor sesuai dengan strategi Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry terbimbing yaitu dengan menggunakan keterampilan proses sains meliputi observasi, merumuskan hipotesis, mendesain dan melakukan percobaan dengan studi literatur, mengumpulkan data, menganalisis data, menyusun kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil yang diperoleh melalui penggunaan media pembelajaran diorama siklus menstruasi. Adapun rubrik penilaian psikomotor tertera dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lampiran 4.

 

2.1.8 Metode Penilaian Hasil Belajar Biologi

Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun non tes (Aunurrahman, 2009: 206). Teknik penilaian adalah metode atau cara penilaian yang dapat digunakan pendidik untuk mendapatkan informasi. Teknik penilaian yang memungkinkan dan dapat dengan mudah digunakan oleh pendidik, seperti: (1) tes (tertulis, lisan, perbuatan), (2) observasi atau pengamatan, (3) wawancara (Wahidmurni, 2010: 78).

Thoha (dalam Sutantri, 2010: 32), mengartikan tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah ynag harus dijalankan, yang mendasarkan harus bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah itu, penyelidik mengambil kesimpulan dengan cara membandingkan dengan standar atau test lainnya.

Pengertian diatas dapat diambil intisari dari pengertian tes adalah alat pengukuran berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang ditujukan kepada peserta tes baik kepada seorang anak atau sekelompok anak untuk mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu. Atas dasar respon tersebut ditentukan tinggi rendahnya skor dalam bentuk kuantitatif selanjutnya dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan untuk ditarik kesimpulan yang bersifat kualitatif.

 

 

  • Tingkatan Tes

Thoha (dalam Sutantri, 2012: 33) menjelaskan, kegunaan tes standar adalah:

  1. membandingkan prestasi belajar dengan pembawaan individual atau kelompok,
  2. membandingkan tingkat prestasi siswa dalam keterampilan di berbagai bidang studi untuk individu atau kelompok,
  3. membandingkan prestasi siswa berbagai sekolah atau kelas, dan
  4. mempelajari perkembangan siswa dalam suatu periode atau waktu tertentu.

Segi penyusunan tes dimaksudkan dengan menstandarisasikan tes buatan sendiri, memerlukan perencanaan yang baik, dan dilakukan uji coba di lapangan. Ada beberapa hal yang perlu distandarisasikan yaitu: 1) materi yang akan diujikan, 2) sistem evaluasi yang digunakan, 3) waktu penyelesaian soal tes, dan 4) cara pengolahan hasil, termasuk skoring yang digunakan (Thoha, dalam Sutantri, 2010: 33).

  • Bentuk Tes

Pada penelitian ini, tes yang digunakan berupa tes tulis. Dimana pada tes tulis soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan memberikan jawaban secara tertulis (Wahidmurni, 2010: 78).

2.1.10.1   Jenis Tes

Tes tulis yang digunakan berupa tes obyektif (pilihan ganda), yaitu tes yang memuat serangkaian informasi yang belum lengkap, dan untuk melengkapinya adalah dengan jalan memilih dari berbagai alternatif pilihan yang sudah disediakan (B. Uno, 2012: 113)

Penggunaan tes obyektif juga terdapat kebaikan dan kelemahannya. Menurut Nurkancana dan Sunartana (1986:28-29) dalam (Wahyudi, 2011: 25), kebaikan dan kelemahan tes ini adalah:

  1. Kebaikan tes obyektif

1)    Oleh karena tes obyektif terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan memilih alternatif-alternatif yang telah tersedia atau mengisi dengan beberapa perkataan atau simbol, maka tes ini dapat dijawab dengan cepat.

2)    Relabilitas skor yang diberikan terhadap pekerjaan anak-anak dapat dijamin sepenuhnya dan itemnya mengandung satu jawaban yang bisa diterima.

3)    Jawaban tes obyektif dapat dikorelasi dengan mudah dan cepat, dengan mempergunakan kunci jawaban.

4) Dapat merangkum keseluruhan bahan, sehingga kesahihan atas dasar kesahihan isi (content validity) lebih dapat dipertanggung jawabkan.

5)   Kerahasiaan butir soal relatif lebih terjamin dan beberapa model butir soal bentuk objektif dapat digunakanberulang hanya dengan mengubah sebagian alternatif jawaban (Subali, 2002: 42).

  1. Kelemahan tes obyektif

1)    Dalam tes obyektif siswa memberikan jawaban dengan jalan memilih salah satu dari alternatif yang disediakan. Dalam hal ini memungkinkan bahwa siswa yang tidak mengetahui pilihan yang tepat, akan mengadakan pilihan secara menerka-nerka saja.

2)    Oleh karena tes obyektif terdiri dari sejumlah item yang cukup banyak, maka dibutuhkan biaya administrasi yang cukup besar untuk mencetak atau menstensil tes tersebut.

3) Sukar dalam menyusunnya, kecuali untuk bentuk melengkapi yang tidak memerlukan alternatif/ pilihan jawaban.

4) Kurang dapat digunakan untuk mengukur proses mental yang tinggi.

 

2.1.10.2 Tipe Tes

Tipe test yang digunakan dalam penelitian ini adalah multiple choice. Multiple choise test atau tes pilihan ganda merupakan tes obyektif dimana masing-masing item disediakan lebih dari dua kemungkinan jawaban, dan hanya satu dari pilihan-pilihan tersebut yang benar (Thoha, dalam Sutantri, 2010: 35). Selanjutnya menurut Nurkancana dan Sunartana (1986: 32 dalam Wahyudi 2011 : 25) item multiple choice ini dapat berupa suatu pertanyaan yang telah disediakan beberapa buah jawaban dimana hanya satu dari jawaban yang disediakan itu merupakan jawaban yang benar. Pertanyaan atau statemen yang belum lengkap dalam item multiple choice disebut stem, alternatif pilihan yang disediakan disebut option, jawaban atau statement sambungan yang tidak benar disebut pengecoh (distraktor). Untuk soal dalam multiple choice ini menggunakan jenis jawaban benar, yaitu adanya batang tubuh soal yang disertai dengan sejumlah alternatif jawaban yang salah satu dari alternatif tersebut merupakan jawaban yang benar. Selanjutnya menurut Sukardi (2008: 125) item pilihan ganda memiliki semua persyaratan sebagai tes yang baik, yakni dilihat dari segi objektivitas, reliabilitas, dan daya pembeda antara siswa yang berhasil dengan siswa yang gagal atau bodoh.

Thoha (dalam Sutantri, 2010: 36-37) menyatakan bahwa, petunjuk umum untuk menyusun tes yang berbentuk multiple choice ini adalah sebagai berikut:

  • Hendaknya antara pernyataan dalam soal dengan alternatif jawaban terdapat kesesuaian.
  • Kalimat pada tiap-tiap butir soal hendaknya dapat disusun dengan singkat dan jelas.
  • Sebaiknya tidak menggunakan bentuk kalimat negatif, dan jika terpaksa digunakan harap diberi tanda khusus, misalnya dengan garis bawah atau cetak miring.
  • Pernyataan pada setiap butir hendaknya tidak saling tergantung antara item yang satu dengan lainnya, melainkan masing-masing berdiri sendiri.
  • Gunakan perintah “manakah alternatif jawaban yang paling baik” atau ”pilihlah jawaban yang lebih baik dari yang lain”, apabila terdapat lebih satu jawaban yang benar.
  • Jangan sekali-kali membuang kata depan dari suatu pernyataan, sehingga menyulitkan pemahaman terhadap isi soal
  • Soal hendaknya disusun menggunakan bahasa yang mudah difahami.
  • Setiap butir pertanyaan hendaknya hanya mengandung satu maslah, meskipun masalah itu agak komplek.
  • Jika perlu urutan jawaban yang benar dalam pertanyaan dapat disusun berdasarkan atas pola susunan alfabet, atau tahun dan tanggal kelahiran, atau tanggal dan tahun pelaksanaan ujian.
  • Kunci jawaban dan distraktornya harus memiliki kesesuaian dengan pernyataan yang disusun.
  • Alternatif jawaban hendaknya disusun dalam kalimat yang panjang pendeknya relatif sama, sehingga tidak menimbulkan dugaan bahwa kalimat yang panjang adalah jawaban yang benar.
  • Alternatif jawaban yang ditawarkan hendaknya bersifat homogen, terutama dalam isi dan bentuknya, maupun struktur kalimatnya.
  • Hindarkan pengulangan kalimat antara yang terdapat dalam pernyataan dengan yang ada pada alternatif jawaban.
  • Jangan menggunakan alternatif jawaban yang tumpang tindih, maupun menggunakan kata-kata sinonim.
  • Jangan menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepastian seperti, “selalu”, “kadang-kadang”, dan seterusnya.
  • Dalam menyusun pernyataan-pernyataan hendaknya dihindari penyusunan yang persis sesuai dengan buku teks.
  • Hendaknya dapat dihindari penggunaan perintah yang berakhir dengan kalimat, jika semuanya benar, …; atau jika semuanya salah …
  • Jika alternatif jawaban itu berupa angka, maka susunlah berdasarkan urutan terbesar kepada yang terkecil atau sebaliknya.

 

 

 

 

 

  • Kedudukan Konsep Reproduksi Manusia di dalam Kurikulum Berkarakter Bangsa

 

Di dalam Kurikulum Berkarakter Bangsa konsep Reproduksi Manusia ini merupakan materi pelajaran Biologi untuk SMA kelas XI IPA semester 2 dengan standar komptensi dan kompetensi dasar adalah sebagai berikut :

Standar Kompetensi : 3. Menjelaskan Struktur Dan Fungsi Organ Manusia Dan Hewan Tertentu , Kelainan/Penyakit Yang Mungkin Terjadi Serta Implikasinya Pada Salingtemas
Kompetensi Dasar : 3.5 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, kehamilan, dan pemberian ASI serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem reproduksi manusia
Indikator : 1.      Mengidentifikasi struktur, fungsi, dan proses pada sistem reproduksi manusia (pria dan wanita)

2.      Mendeskripsikan proses fertilisasi dan kehamilan

3.      Menghubungkan alat kontrasepsi dan proses pencegahan kehamilan pada keluarga berencana

4.      Mengidentifikasi kelainan yang terjadi pada sistem reproduksi manusia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.3 Peta Konsep Sistem Reproduksi Manusia

 

  • Hipotesis

Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut “Ada pengaruh Problem Based Introduction dan pendekatan inquiry dengan media diorama terhadap Keterampilan Proses Sains dan hasil belajar Biologi di SMA“.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu atau Quasi Eksperiment. Rancangan eksperimen semu merupakan rancangan yang tidak disertai dengan pengontrolan variabel suppressor secara ketat (Subali, 2010:33). Penelitian ini menggunakan pola Two Group Pre test-post tes Design, karena dalam penelitian ini ada dua kelompok yang ditetapkan sebagai sampel yaitu kelompok pertama adalah kelompok eksperimen yang dikenai perlakuan eksperimen belajar dengan penggunaan Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry dengan menggunakan diorama siklus menstruasi terhadap kelompok kedua yaitu kelompok kontrol yang dikenai perlakuan pembanding (Margono, 2010:11). Perlakuan pembanding pada kelompok kontrol berupa belajar dengan model pembelajaran konvensional. Rancangan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian

Kelompok Pretest Perlakuan Postest
KE

KK

O1

O1

X1

X2

O2

O2

 

 

 

Keterangan :

KE                                          : kelompok eksperimen dengan teknik penggunaan Problem Based Instruction dan pendekatan  inquiry dengan media diorama siklus menstruasi

KK                          : kelompok kontrol dengan teknik konvensional

X1                          : perlakuan dengan teknik penggunaan model pembelajaran   Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media diorama siklus menstruasi

X2                    : perlakuan dengan teknik konvensional

O1                    : pemberian pretest

O2                    : pemberian postest

 

Dalam rancangan ini observasi dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah eksperimen. Observasi yang dilakukan sebelum eksperimen (O1) disebut pretest dan observasi setelah eksperimen (O2) disebut posttest. Pebedaan antara O1 dengan O2 atau O1 – O2 diasumsikan merupakan efek dari perlakuan atau eksperimen.

 

3.2 Desain Penelitian

3.2.1 Penentuan Responden Penelitian

Populasi yang diambil dalam penelitan ini adalah semua siswa kelas XI IPA di SMA Muhammadiyah 3 Jember yaitu kelas XI IPA-1, XI IPA-2, XI IPA-3, XI IPA-4, dan XI IPA-5. Sebelum subyek penelitian ditetapkan sebagai responden, terlebih dahulu dilakukan uji homogenitas terhadap populasi dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan awal siswa yang sama terhadap mata pelajaran Biologi. Untuk mengetahui kesamaan kemampuan awal siswa digunakan uji homogenitas dengan menggunakan nilai Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil tahun pelajaran 2012/2013. Adapun rumus uji homogenitas yaitu:

 

Keterangan :

Fo        = F observasi

MKk    = mean kuadrat antar kelompok

MKd   = mean kuadrat dalam (Sudjana, 2002:303)

Berdasarkan Fo yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan Ftabel menggunakan taraf signifikansi 5% dengan ketentuan sebagai berikut:

– Jika Fo ≥ Ftabel dengan p = 5% maka Ha diterima dan Ho ditolak

– Jika Fo ≤ Ftabel dengan p = 5% maka Ha ditolak dan Ho diterima

Dimana :

Ha = ada perpedaan kemampuan pada siswa (tidak homogen)

Ho = tidak ada perpedaan kemampuan pada siswa (homogen)

(Arikunto, 2006: 324)

Apabila diketahui hasil uji homogenitasnya adalah homogen, maka selanjutnya ditetapkan dua kelas sebagai sampel penelitian dan ditentukan secara acak. Namun apabila hasilya tidak homogen, maka dikelompokkan dari rerata yang relatif sama kemudian diuji homogenitas ulang, setelah homogen kemudian diambil secara acak. Dari kedua kelas tersebut dilakukan pengundian untuk menentukan satu kelas yang diajar dengan penggunaan Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media diorama siklus menstruasi sedangkan untuk kelas yang lain dengan menggunakan metode konvensional.

 

Adapun diagram alur dari uji homogenitas adalah sebagai berikut:

Sampel penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.1 Diagram alur uji homogenitas

 

Keterangan :

Kelompok X1 dan X2 : dirandom atau berdasarkan cluster untuk menentukan kelas X1 dan X2 untuk dilakukan uji homogenitas ulang.

 

3.3 Prosedur Penelitian

Penelitian ini mencakup dua tahapan utama yaitu tahapan persiapan dan tahapan pelaksanaan penelitian.

  1. Tahapan Persiapan

Langkah awal dari tahapan ini yaitu menentukan daerah penelitian, melakukan survei lapangan, dan melakukan pengurusan surat izin penelitian pada instansi terkait. Selain itu, peneliti juga menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyusun alat evaluasi, membuat pedoman obsevasi, wawancara dan mengumpulkan data-data dokumentasi lainnya.

  1. Tahapan Pelaksanaan

Langkah-langkah dalam pelaksanaan penelitian meliputi:

  • Menentukan populasi siswa kelas XI IPA SMA Muhammadiyah 3 Jember;
  • Melakukan uji homogenitas pada siswa kelas XI IPA SMA Muhammadiyah 3 Jember berdasakan nilai Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil tahun pelajaran 2012/2013; menentukan responden dengan teknik undian untuk menentukan kelas eksperimen dalam penggunaan model pembelajaran Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media diorama siklus menstruasi dan kelas kontrol dengan strategi pembelajaran konvensional dan media belajar gambar ;
  • Mengadakan wawancara (interiew) dan dokumentasi untuk memperoleh data berupa keterangan guru tentang metode yang biasa digunakan, serta dokumentasi berupa nama siswa, sarana prasarana sekolah, jadwal pelajaran serta nilai Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil tahun pelajaran 2012/2013; memberikan pretes pada kedua kelas perlakuan baik penggunaan Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media diorama siklus menstruasi maupun dengan pembelajaran konvensional untuk mengetahui kemampuan awal siswa; melaksanakan proses pembelajaran pada kedua kelas perlakuan baik yang diajar dengan penggunaan Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry dengan media diorama siklus menstruasi maupun dengan pembelajaran konvensional;
  • Memberikan pretest sebagai uji pengetahuan awal dan post-test pada kedua kelas baik yang diajar dengan penggunaan model pembelajaran Problem Based Instruction dan pendekatan inquiry dengan media diorama siklus menstruasi maupun dengan pembelajaran konvensional untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah dilakukan perlakuan eksperimen;
  • Melakukan analisis data, meliputi analisis post-test, observasi dan wawancara yang dilanjutkan dengan pembahasan dan menarik kesimpulan.

 

 

 

 

 

 

 

Adapun diagram alur dari pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.2 Diagram alur pelaksanaan penelitian

 

 

3.4 Populasi dan sampel

3.4.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Muhammadiyah 3 Jember .

 

3.4.2 Sampel

Teknik pengambilan sampel yaitu dengan random sampling, yaitu teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Adapun cara pengambilan sampel ini terdiri dari 3 cara yaitu: cara undian seperti kocokan undian, menggunakan tabel random, dan menggunakan komputer (Fauzi, 2009: 187-188). Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan cara undian. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA-4 SMA Muhammadiyah 3 Jember yang menjadi kelas kontrol dan siswa kelas XI IPA-5 SMA Muhammadiyah 3 Jember yang menjadi kelas eksperimen. Data kedua sampel berdistribusi normal. Jika ukuran sampel (> 30), maka tidak perlu dilakukan pengujian normalitas data sampel (Arifin, 2011: 281). Dalam penelitian ini jumlah sampel sebanyak 61 orang.

 

3.5 Lokasi Penelitian

Daerah penelitian merupakan daerah yang menjadi tempat penelitian untuk mengumpulkan data-data dalam penelitian. Metode penentuan tempat pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling area, yaitu tempat penelitian ditentukan dengan sengaja dan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu (Arikunto, 2006: 117). Dengan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian (Fauzi, 2009: 192 ). Pertimbangan yang mendasari peneliti memilih tempat penelitian adalah adanya permasalahan yaitu model pembelajaran yang digunakan tidak bervariasi, Penggunaan media belajar juga kurang optimal, keaktifan belajar sisiwa kurang, keberhasilan belajar siswa yang rendah dan peneliti lebih mudah mencari data karena tempat penelitian mudah dijangkau serta adanya perizinan penelitian dari pihak sekolah. Adapun yang menjadi tempat penelitian adalah SMA Muhammadiyah 3 Jember, penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013 mulai bulan Maret 2013.

 

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data. Dalam hal ini peneliti menggunakan beberapa metode atau teknik pengumpulan data yaitu: observasi, wawancara/interview, tes dan angket.

3.6.1 Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian. Observasi adalah pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan alat indera yaitu, pengamatan secara langsung (Arikunto, 2006: 156).

Data yang didapatkan adalah lokasi, sarana dan pra sarana sekolah. Penelitian ini menggunakan obsevasi langsung dengan mengamati keaktifan siswa selama proses pembelajran berlangsung meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Observasi dilakukan juga kepada guru atau peneliti dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan guru atau peneliti dalam penggunaan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry dengan menggunakan media pembelajaran diorama siklus menstruasi, sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa baik ranah kognitif, psikomotor (keterampilan proses sains) maupun ranah afektif (instrumen observasi terlampir dalam rencana pelaksaaan pembelajaran)

3.6.2 Wawancara/interview

Wawancara/interview adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara dalam hal ini adalah peneliti untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto, 2006: 155). Penelitian ini menggunakan wawancara terpimpin dalam pelaksanaanya peneliti sudah mempersiapkan terlebih dahulu pertanyaan yang akan diajukan pada responden, yaitu guru biologi kelas XI IPA SMA Muhammadiyah 3 Jember (instrumen interview terlampir). Data yang ingin diperoleh adalah model pembelajaran yang biasa diterapkan pada pelajaran biologi, media pembelajaran, dan kondisi siswa pada saat proses pembelajaran. Informasi tersebut digunakan sebagai data pendukung penelitian ini.

3.6.3 Tes

Tes adalah sederetan pertanyaan, latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan, akal yang dimiliki individu atau kelompok (Arikunto, 2006: 150). Tes umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa terutama hasil belajar kognitif yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran. Menurut Arikunto (1999: 162), bentuk dari tes tulis ada dua macam yaitu tes subjektif (uraian) dan tes objektif (pilihan ganda). Pada penelitian ini menggunakan tes pilihan ganda (Instrumen tes terlampir).

3.6.4 Angket

Angket merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan daftar pertanyaan secara tertulis yang diberikan kepada responden yang diteliti untuk mendapatkan jawaban (Arikunto, 2006: 151). Jenis angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup. Metode angket tertutup ini digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa setelah mengikuti pembelajaran serta pendapat siswa terhadap metode pembelajaran yang telah dilaksanakan. Data yang diperoleh melalui angket ini dipergunakan sebagai data pendukung dan umpan balik dari hasil obsevasi (angket terlampir).

 

3.7 Intrumen Pengumpulan Data

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Pemilihan metode dan instrumen penelitian sangat ditentukan oleh beberapa hal, yaitu: objek penelitian, sumber data, waktu, dan dana yang tersedia, jumlah tenaga peneliti, dan teknik yang akan digunakan untuk mengolah data bila sudah terkumpul (Arikunto, 1997: 136-137).

Ali (1993: 63 dalam Wahyudi 2011: 64) menjelaskan bahwa langkah yang ditempuh dalam menyusun instrument berpedoman pada:

  1. Pendekatan penelitian yang digunakan,
  2. Jenis data yang diperlukan untuk menguji hipotesis,
  3. Instrument yang dianggap cocok untuk mengumpulkan data yang diperlukan,
  4. Perlu tidaknya memodifikasi berbagai jenis instrument pengumpul data yang telah ada untuk kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan.

Prosedur yang ditempuh dalam pengadaan instrumen yang baik adalah (Arikunto, 1997: 142-143):

  1. perencanaan, meliputi perumusan tujuan dan pembuatan tabel spesifikasi,
  2. penulisan butir soal,
  3. penyutingan, yaitu melengkapi instrumen dengan pedoman mengerjakan, surat pengantar, kunci jawaban, dan lain-lain yang perlu,
  4. uji coba,
  5. penganalisaan hasil, dan
  6. mengadakan revisi terhadap item-item yang dirasa kurang baik, dengan mendasarkan diri pada data yang diperoleh sewaktu uji coba.

Pada penelitian data mempunyai kedudukan yang paling tinggi, karena data merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Oleh karena itu benar tidaknya data, sangat menentukan bermutu tidaknya hasil penelitian. Sedangkan benar tidaknya data, tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpul data (Arikunto, 1997: 144).

Dalam penelitian ini menggunakan uji coba untuk tujuan kehandalan instrumen. Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel.

 

3.7.1 Validitas

Validitas berkenaan dengan ketetapan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai (Sudjana, 1989: 12 dalam Wahyudi, 2011: 65). Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud (Arikunto, 1997: 145 dalam Wahyudi, 2011: 65) .

Untuk menguji tingkat validitas empiris suatu instrumen, peneliti mencobakan instumen tersebut pada sasaran dalam penelitian. Langkah ini disebut kegiatan uji coba (try out) instrumen. Apabila data yang di dapat dari uji coba ini sudah sesuai dengan yang seharusnya, maka berarti instrumennya sudah baik atau valid.

Jenis validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Menurut Nurkancana dan Sunartana (1986: 129 dalam Wahyudi, 2011: 65), validitas isi atau content validity adalah kejituan daripada suatu tes ditinjau dari isi tes tersebut. Suatu tes hasil belajar dapat dikatakan valid, apabila materi tes tersebut benar-benar merupakan bahan yang representatif terhadap bahan-bahan pelajaran yang diberikan. Dari validitas isi ini tujuan pengukurannya adalah untuk mengetahui kemampuan tertentu pada diri subjek, sehingga butir pertanyaannya diharapkan mampu mencerminkan kemampuan subjek setelah dikenai tes. Untuk menilai apakah suatu tes memiliki validitas isi atau tidak dapat dilakukan dengan membandingkan materi tersebut dengan analisa rasional yang dilakukan terhadap bahan-bahan yang seharusnya digunakan dalam menyusun tes tersebut, yaitu dengan membandingkan antara kisi-kisi soal dengan butir soalnya.

Rumus korelasi yang dapat digunakan adalah yang dikemukakan pearson, yang dikenal dengan rumus korelasi Product Moment sebagai berikut:

Keterangan :

N             : Jumlah Sampel

x              : Skor rata-rata dari x (Nilai Ulangan Harian Siswa)

y              : Skor rata-rata dari y (Nilai Try Out)

  • Reliabilitas

Reliabilitas adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya (Sudjana, 1989: 16 dalam Wahyudi, 2011: 67). Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengunpul data, karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang sudah dapat dipercaya dan reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kali pun diambil tetap akan sama. Reliabilitas menunjuk pada tingkatan keterandalan sesuatu. Reliabel artinya dapat dipercaya jadi dapat diandalkan. Menurut Arikunto (1997: 154), pengertian umum menyatakan bahwa instrumen penelitian harus reliabel. Dengan pengertian ini sebenarnya kita dapat salah arah, yang diusahakan dapat dipercaya adalah datanya, bukan semata-mata instrumennya.

Dalam penelitian ini, menggunakan reliabilitas internal. Reliabilitas internal diperolah dengan cara menganalisis data dari satu kali pengetesan. Teknik yang digunakan untuk mencari reliabilitas tes pada penelitian ini adalah dengan menggunakan rumus Alfa Chonbach ‘s. Berikut rumus mencari reliabilitas:

Keterangan:

α          = Koefisien reliabilitas Alpha Cronbach

K         = Jumlah item pertanyaan yang diuji

= Jumlah varians skor item

SX2      = Varians skor-skor tes (seluruh item K) (Arikunto, 2010: 239)

 

Arikunto (2009:75) mengatakan Besarnya koefisien korelasi adalah sebagai berikut:

– Antara 0,800 sampai dengan 1,00   : sangat tinggi

– Antara 0,600 sampai dengan 0,800        : tinggi

– Antara 0,400 sampai dengan 0,600 : cukup

– Antara 0,200 sampai dengan 0,400  : rendah

– Antara 0,000 sampai dengan 0,200  : sangat rendah

Penghitungan validitas dan reliabilitas menggunakan bantuan aplikasi analisis data berupa Statistical Package for the Social Scienses (SPSS) versi 20.Uji coba instrumen penelitian diterapkan pada SMA Unggulan Darus Sholah Jember kelas XII IPA A (siswi) dan XII IPA C (siswa) dengan responden sebanyak 44 orang yang tersebar dalam 2 kelas tersebut dan siswa tersebut telah menerima materi sitem reproduksi manusia. Pemilihan tempat pelaksanaana uji coba instrumen penelitian di sekolah tersebut, adalah karena sekolah tersebut memiliki status swasta dan akreditasi A (unggulan) seperti sekolah yang akan dijadikan tempat penelitian. Dari hasil pengujian validitas diperoleh 40 item soal yang diujikan valid dengan koefisien alfa 0,01 atau tingkat kepercayaan 90%. Sedangkan untuk reliablitas 40 soal ujicoba tergolong sangat tinggi karena diperoleh koefisien reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,998.Adapun hasil analisa uji validitas dan reliabilitas disajikan dalam lampiran 14.

 

  • Tingkat Kesukaran Item

Tingkat kesukaran adalah angka yang menunjukan proporsi siswa yang menjawab betul suatu soal (Slameto, 2001: 25 dalam Wahyudi 2011: 68). Menurut Purwanto (2012: 119) dalam untuk menghitung taraf kesukaran tiap soal dari suatu tes, kita perlu terlebih dahulu mengelompokkan hasil tes tersebut menjadi tiga kelompok berdasarkan peringkat dari keseluruhan skor yang diperoleh. Ketiga kelompok yang dimaksud ialah:

  1. kelompok pandai atau upper group (25% dari ranking bagian atas)
  1. kelompok kurang atau lower group (25% dari rangking bagian bawah)
  2. kelompok sedang atau middle group (50% dari ranking bagian tengah)

Selanjutnya yang kita perlukan dalam analisis soal ialah kelompok pandai dan kelompok kurang, sedangkan kelompok sedang dibiarkan.

Untuk menghitung taraf kesukaran soal dari suatu tes dipergunakan rumus sebagai berikut (Arifin, 2009: 266-272) :

 

(WL +WH)

TK =                            x 100 %

(nL + NH)

Keterangan :

TK       = indeks tingkat kesulitan yang dicari

WL      = jumlah peserta didik yang menjawab salah dari kelas bawah

WH   = jumlah peserta didik yang menjawab salah dari kelas atas

nL       = jumlah kelompok bawah

nH     = jumlah kelompok atas

 

Sebelum menyusun rumus di atas harus ditempuh terlebih dahulu menyusun langkah-langkah sebagai berikut:

  1. menyusun lembar jawaban peserta didik dari skor tertinggi sampai dengan skor terendah
  2. mengambil 27 % lembar jawaban dari atas yang selanjutnya disebut kelompok atas (higher group), dan 27 % lembar jawaban dari bawah yang selanjutnya disebut kelompok bawah (lower group). Sisa sebanyak 46% disishkan.
  3. Membuat tabel untuk mengetahui jawaban (benar atau salah) dari setiap peserta didik.

 

 

Tingkat kesukaran item yang baik adalah indeks kesukaran yang bergerak antara 0,25 – 0,75. Sedangkan item yang mempunyai derajat kesukaran dibawah 0,25 berarti item tersebut terlalu mudah. Sebaliknya item yang mempunyai indeks kesukaran diatas 0,75, berarti bahwa item tersebut terlalu sukar (Nurkancana dan Sunartana, 1986: 140 dalam Wahyudi 2011: 69). Selanjutnya Uno (2012:175) mengklasifikasikan tingkat kesukaran soal dengan interval 0,00-0,30 tergolong sukar, interval 0,31-0,70 tergolong sedang, dan interval 0,71- 1,00 tergolong mudah. Adapun kriteria tingkat kesukaran item dapat disajikan tingk pada Tabel 3.2

 

Tabel 3.2 Kriteria kesukaran item

Analisis Item Soal Kriteria Kesukaran Keterangan
Tingkat Kesukaran Item < 0,30 Terlalu sukar (soal ditolak)
0,30 – 0,70 Sedang (soal diterima)
> 0,70 Terlalu mudah (soal ditolak)

(Arifin, 2009: 272)

3.7.4    Daya Pembeda Soal

Oleh karena suatu tes dimaksudkan untuk memisahkan antara siswa yang betul-betul mempelajari suatu pelajaran dengan siswa yang tidak mempelajari pelajaran itu, maka tes atau item yang baik adalah tes atau item yang betul-betul dapat memisahkan kedua golongan tersebut. Jadi, setiap item disamping harus mempunyai derajat kesukaran tertentu, juga harus mampu membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang bodoh (Nurkancana dan Sunartana, 1986: 134 dalam Wahyudi 2011: 69).

Daya pembeda suatu soal tes adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) dengan siswa yang termasuk kelompok rendah (lower group). Item yang baik adalah item yang mampu membedakan antara kemampuan siswa yang pandai dengan siswa yang rendah. Daya beda yang ideal adalah daya beda 0,40 ke atas. Hal tersebut berlaku untuk ulangan-ulangan harian, di mana untuk ulangan harian/ formatif masih dapat ditolerir daya beda sebesar 0,20 (Nurkancana dan Sunartana, 1986: 140 dalam Wahyudi, 2011: 70).

Untuk menentukan daya pembeda suatu soal dapat digunakan kriteria sebagai berikut: daya pembeda yang baik adalah item mampu membedakan antara siswa yang pandai dan bodoh dengan indeks daya beda yang bergerak antara 0,25–0,75. Sedangkan item yang mempunyai indeks daya beda dibawah 0,25 berarti item tersebut tidak mampu membedakan siswa yang pandai dan bodoh secara efektif. Sebaliknya item yang mempunyai indeks kesukaran diatas 0,75 berarti bahwa item tersebut juga tidak mampu membedakan antara siswa pandai dan bodoh.

Arifin (2009: 273) menyatakan bahwa, untuk menghitung daya pembeda soal tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

WL-WH

DP =

n

Keterangan:

DP       = Daya pembeda

WL      = jumlah peserta didik yang gagal dari kelompok bawah

WH    = jumlah peserta didik yang gagal dari kelompok atas

n          = 27% x N

 

Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut, maka dapat diseleksi item-item mana yang memenuhi syarat dan item mana yang tidak memenuhi syarat. Item yang memenuhi syarat dapat disimpan dan digunakan untuk keperluan evaluasi yang akan datang. Untuk item-item yang tidak memenuhi syarat harus dibuang.

Untuk memberi penafsiran angka indeks diskriminasi (DP) klasifikasinya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.3 Angka Indeks Diskriminasi Daya Beda

Besarnya Angka Indeks Diskriminasi Item (D) Interpretasi
0,40 dan ke atas item sangat baik
0,30-0,39 item dikategorikan layak, tapi kemungkinan item perlu perbaikan
0,20-0,29 item memiliki sedikit daya beda/ antara baik dan jelek biasanya memerlukan perbaikan
dibawah 0 sampai 0,19 item jelek, ditolak atau perlu diperbaiki

(Arifin, 2009:274)

Dari uji coba yang telah dilakukan pada 40 soal pilihan ganda dapat disimpulkan berdasarkan tingkat kesukaran dan indeks daya beda soal, terdapat 16 soal yang tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan pada tabel 3.2 dan 3.3 yaitu soal nomor 5, 7, 10, 15, 19, 20, 22, 24, 27, 29, 31, 32, 33, 34, 39, dan 40 mendapatkan kesimpulan antara TK dan DP sama- sama di tolak, maka dinyatakan tidak dapat digunakan sehingga soal tersebut harus dibuang/direvisi. Sedangkan yang salah satu uji TK maupun DP ada yang di tolak maka di adakan revisi kalimat pada soal. Setelah di adakan revisi soal maka soal yang akan digunakan pada penelitian sebagai soal pretest dan post test sebanyak 30 soal, dengan presentase penyebaran tingkat kognitif (C) sebagai berikut: C1 = 10%; C2= 10%; C3= 13,3 %; C4 = 16,7%; C5= 20% dan C6= 30%. Adapun hasil analisis untuk tingkat kesukaran dan daya beda tersebut tersaji pada lampiran 13 .

 

3.8 Teknik Analisis Data

Analisis data adalah cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

 

3.8.1 Analisis Deskriptif Aktivitas Inquiry terbimbing sebagai indikasi Keterampilan Proses Sains (KPS)

Analisis deskriptif dari hasil observasi dilakukan dengan menghitung persentase keaktifan siswa dalam hal inquiry terbimbing .Hasil penilaian dari total skor keaktifan siswa dari observasi digunakan untuk memberikan gambaran dari aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Indikator utama yang diamati dalam hal inquiry terbimbing yaitu Keterampilan Proses Sains (KPS) yang meliputi keterampilan observasi, merumuskan hipotesis, mendesain dan melakukan percobaan dengan studi literatur, mengumpulkan data, menganalisi data, menyusun kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil.

 

3.8.2 Analisis Uji Perbedaan Hasil Belajar

Untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar biologi siswa antara yang diajar dengan penggunaan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry terbimbing dengan menggunakan media pembelajaran diorama siklus menstruasi dan pembelajaran konvensional maka hasil rerata/meansnya kemudian diolah dengan membandingkan kedua means. Pengujian perbedaan means dengan menggunakan analisis ANAVA yaitu independen sample test atau “uji t” karena kedua sifat tidak saling tergantung, dengan rumus sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                (Arikunto, 2010: 354)

Keterangan:

t            = angka atau koefisien perbedaan mean kedua kelompok

Mx         = mean kelompok perlakuan pembelajaran penggunaan Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry dengan media pembelajaran diorama siklus menstruasi

My        = mean kelompok perlakuan pembelajaran konvensional

∑ x2       = standart deviasi kelompok penggunaan Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry dengan media diorama siklus menstruasi

∑ y2      = standart deviasi keompok konvensional

nx         = jumlah siswa kelompok penggunaan Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry dengan media diorama siklus menstruasi

ny        = jumlah siswa kelompok konvensional

 

Berdasarkan thit yang dipeoleh kemudian dibandingkan dengan ttabel menggunakan taraf signifikansi 5% dengan ketentuan sebagai berikut:

– Jika thit ≥ ttabel dengan p = 5% maka Ha diterima dan Ho ditolak

– Jika thit ≤ ttabel dengan p = 5% maka Ha ditolak dan Ho diterima

Dimana :

Ha = terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan penggunaan Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry dengan media pembelajaran diorama mekanisme siklus menstruasi

Ho = tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry dengan media pembelajaran diorama siklus menstruasi

(Arikunto, 2006: 311-313)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Abbas, N. 2004. Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Intuction) dalam Pembelajaran Matematika di SMU. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 051 (2004) hal 831 844.

Ambarsari, Wiwin. 2012. Jurnal Pendidikan Biologi Penerapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Keterampilan Proses Sains Dasar Pada Pelajaran Biologi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 7 Surakarta (on line) www. biologi.fkip.uns.ac.id/wp…/journal-by-wiwin.pdf. diacces tanggal 24 Desember 2012.

 

Amri, Sofan ; Jauhari, Ahmad ; dan Elisah, Tatik. 2011. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Arikunto, Suharsimi. 1999. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

­­­________. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

­­­­________. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta.

________. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi 2010. Jakarta: Rineka Cipta.

Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran (prinsip, teknik, dan prosedur). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Arifin, Zainal. 2011.Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Aunurrahman. 2009.Belajar Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

 

  1. Uno, Hamzah dan Koni, Satria. 2012.Assesment Pembelajaran. Jakarta: Bumi     Aksara.

 

Budayasa. 1998. Teori Pembelajaran Perilaku. Surabaya: University Press IKIP Surabaya.

 

Dharma, Surya. 2008. Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.

Daryanto. 1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Daryanto. 2010 Media Pembelajaran: Perannya Sangat Penting Dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran.Yogjakarta: Gava Media.

 

Devi, Poppy Kamalia. 2010. Keterampilan Proses dalam Pembelajaran IPA. Pusat Penegembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) untuk Program Bermutu.

Djamarah, S.B dan Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Depdiknas. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta: Pusat Kurikulum Depdiknas.

 

Fauzi, Muhammad. 2009. Metode penelitian kuantitatif sebuah pengantar. Semarang: walisongo press.

 

Hamalik. Oemar. 1986. Media Pendidikan. Bandung: PT. Alumni.

 

Haryono. 2006. Model Pembelajaran Berbasis Peningkatan Keterampilan Proses Sains. Jurnal Pendidikan Dasar Vol.7, No.1, 2006: 1-13 (on line)

fip.unesa.ac.id/…/jurnal/Model_Pembelajaran_Ber…  diacces tanggal 20 Mei 2013.

Hermawati, Niwayan Manik. 2012. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Penguasaan Konsep Biologi Dan Sikap Ilmiah Siswa Sma Ditinjau Dari Minat Belajar Siswa Artikel Universitas Pendidikan Ganesa. (on line) pasca.undiksha.ac.id/e-journal/index.php/jurnal…/280 di akses tanggal 20 Juni 2013.

Mardia Witleni1), Renny Risdawati2), dan RRP Megahati. 2011. Jurnal Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat Pengaruh Faktor Internal Dan Eksternal Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa IPA Di SMA N 1 Linggo Sari Baganti Kabupaten Pesisir Selatan (on line) jurnal.stkip-pgri-sumbar.ac.id/MHSBIO/index…/101‎ diakses tanggal 20 Juni 2013.

Irianto, Agus. 2003. Statistik Konsep Dasar, Aplikasi, dan Pengembangannya. Jakarta : Prenada Media Group.

Jasri, 2011. Pembelajaran Inkuiri (Skripsi). (on line) http://biologijasri.blogspot.com/2011/10/pembelajaran-inkuiriskripsi.html diakses tanggal 27 Desember 2012.

Kesuma, Dharma ; Triatna,Cepi; dan Permana, Johar. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Komarayanti, Sawitri. 2007. Hibah Pembelajaran Bersasis Lingkungan Mata Kuliah Strategi Belajar Mengajar Biologi dengan Pendekatan Konstruksivisme Model Kooperatif Problem Based Learning dan Model Group Investigation. Jember: FKIP MIPA UNMUH Jember.

 

Komarayanti, Sawitri. 2007. Hibah Pembelajaran Berbasis Multimedia Mata Kuliah Pendidikan Biologi dengan Berbagai Model Pembelajaran. Jember: FKIP MIPA UNMUH Jember.

 

Kuswana, Wowo Sunaryo. 2012. Taksonomi Kognitif Perkembangan Ragam Berpikir. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Margono, S.2010. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Muhson, Ali. 2010. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi InformasiJurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol. VIII. No. 2 – Tahun 2010, Hlm. 1 – 10 (on line) www. journal.uny.ac.id/index.php/jpakun/article/…/759 diacces tanggal 24 Desember 2012.

 

Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Musfiqon, Muhammad. 2012. Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karkater Menjawab Tantangan Krisis Multidimendional. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Ngalim, Purwanto. 2012 Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 

Pathuddin. 2005. Model Cooperative Learning, Kompetitif dan Individualistik dalam Pembelajaran Matematika Perspektif Konstruktivis. JurnalSainsdanEdukasi.Volume 3 No. 1 (Maret 2005).Jember: LembagaPenelitian IKIP Jember.

 

Priyono, Gufron. 2012. Penerapan Model PBI (Problem Based Intruction)dengan Tugas Analisis Kejadian Biologi Sehari- hari untuk Meningkatkan hasil belajar biologi di Kelas VII A SMPN 2 Tempurejo Jember Tahun Pelajaran 2011/2012. Skripsi tidak diterbitkan, Jember : FKIP MIPA UNMUH Jember.

 

Rati, Novi Enggar. 2010. Strategi Pembelajaran Inquiry (SPI) untuk Mencapai Ketuntasan Hasil Belajar Biologi Dan Meningkatkan Aktivitas Siswa Kelas VII B Semester Genap di SMP Daerah Wuluhan Jember Tahun Pelajaran 2009/2010.(Pokok Bahasan Ciri-Ciri Makhluk Hidup). Skripsi tidak diterbitkan, Jember : FKIP MIPA UNMUH Jember.

 

Rohman, Muhammad. 2012. Kurikulum Berkarakter. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

 

Rustaman, Nuryani, dkk. 2003. JICA Common Text Book Edisi Revisi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

 

Rustaman, Nuryani Y. 2005. Perkembangan penelitian pembelajaran berbasis  inquiry dalam pendidikan sains. (online)

http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/195012311979032-NURYANI_RUSTAMAN/PenPemInkuiri.pdf diacces tanggal 20 Mei 2013.

Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran (Teknik dan Praktik Pengembangan KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

Semian, Conny dkk. 1987. Pendekatan Keterampilan Proses Sains Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta: PT. Gramedia.

 

Subali, Bambang dan Paidi. 2002. Individual Text Book Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Biologi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogjakarta.

 

Subali, Bambang. 2010. Metodelogi Penelitian Pendidikan Biologi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

 

Sudjana, N. 1995. Penelitian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito

 

Suetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional

Suharto, B. 1997. Pendekatan dan Teknik dalam Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito.

Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Suleiman, Amir Hamzah. 1985. Media Audio Visual untuk Pengajaran dan Penyuluhan. Jakarta: PT. Gramedia Subali, Bambang. 2010. Penilaian, Evaluasi Dan Remediasi Pembelajaran Biologi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogjakarta.

 

Sutantri, Dwi. 2010. Pembelajaran Kooperatif dengan Teknik Two Stay Two Stray untuk Meningkatkan Ketuntasan Hasil Belajar Biologi Pokok Bahasan Ekosistem Siswa Kelas VII.B Semester Genap SMPN I Ledokombo Tahun Pelajaran 2009/2010. Jember: Universitas Muhammadiyah Jember.

 

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif : Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Stuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Konsep, strategi, dan implementasinya dalam KTSP. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Tursinawati. 2012. Penerapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Pemahaman Hakikat Sains Siswa (on line)

http:// fkip.serambimekah.ac.id/jurnal/jurnal-maret-2012 pdf. diakses tanggal 27 Desember 2012

 

Wahidmurni, dkk. 2010. Evaluasi Pembelajaran Kompetisi dan Praktik.Yogyakarta: Nuha Litera.

 

Wahyudi, Yudis Citra. 2011.Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Menggunakan Metode SQ3R Untuk Menuntaskan Hasil Belajar Biologi (Di Kelas XI IPA SMA Muhammadiyah I Rambipuji Pada Sub Pokok Bahasan Organ Pencernaan Pada Manusia Semester Genap Tahun Pelajaran 2010-2011). Skripsi tidak diterbitkan, Jember : FKIP MIPA UNMUH Jember.

 

Winataputra, U. S. 2000. Model-model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Yunus, Amy Aminuddin. 2012. Pemanasan Global dalam Diorama sebagai Media Pembelajaran. (on line) http://repository.upi.edu/operator/upload/s_sdt_057049_chapter2.pdf Diacces tanggal 20 Februari 2013.

Yusuf. 2003. Proses dan Hasil Belajar Biologi Melalui Pendekatan Kooperatif (Jigsaw).[serial on line]. http://www.damandiri.or.id/detail.php?id=238. [2 Desember 2012]

 

 

 

Foto12253

 

 

 

 

 

 

By aimarusciencemania

undangan walimatul ursy atau syukuran pernikahan

file-page1

Undangan

Walimatul Ursy

28 September 2015

Kepada Yth :

Bapak/Ibu/Saudara/i

Menikah

Didik Darmadi

Putra ke-2 Bapak Ruman- Ibu Nurhayati

Karangharjo – Glenmor -Banyuwangi

Dengan

Aini Maskuro, S.Pd

Putri ke-2 Bapak M. Rupi- Ibu Asma Ani

Tarokan – Banyuanyar – Probolinggo

fgdg

 Assalamualaikum Wr. Wb

Dengan mengharap Rahmat

dan Ridho Allah SWT, kami sekeluarga

akan menyelenggarakan Walimatul Ursy

Putra-Putri Kami yang Insya Allah

Akan kami selenggarakan pada :

Hari          : Senin

Tanggal    : 28 September 2015

Waktu      : 13.00 WIB (Siang)

Tempat     : Kediaman Kami Bapak M. Rupi

Dusun Kramat,Ds Tarokan RT 08 RW 03, Kec Banyuanyar-Kab Probolinggo

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagaiaan

bagi kami sekeluarga apabila Bapak/Ibu/Saudara/i

berkenan hadir memberikan do’a restu

kepada Putra/Putri Kami.

Atas kehadirannya kami ucapkan terimakasih

Wassalamualaikum Wr. Wb

Hormat Kami

Bapak M. Rupi

Sekeluarga

By aimarusciencemania

undangan walimatul ursy format word

IMG_0056
Menikah

Didik Darmadi
Putra ke-2 Bapak Ruman
Karangharjo – Glenmor -Banyuwangi
Dengan

Aini Maskuro, S.Pd
Putri ke-2 Bapak M. Rupi
Tarokan – Banyuanyar – Probolinggo

Assalamualaikum Wr. Wb

Dengan mengharap Rahmat

dan Ridho Allah SWT, kami sekeluarga

akan menyelenggarakan Walimatul Ursy

Putra-Putri Kami yang Insya Allah

Akan kami selenggarakan pada :

Hari         : Senin

Tanggal   : 28 September 2015

Waktu     : 13.00 WIB (Siang)

Tempat    : Kediaman Kami Bapak M. Rupi

Dusun Kramat,Ds Tarokan RT 08 RW 03, Kec Banyuanyar-Kab Probolinggo

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagaiaan

bagi kami sekeluarga apabila Bapak/Ibu/Saudara/i

berkenan hadir memberikan do’a restu

kepada Putra/Putri Kami.

Atas kehadirannya kami ucapkan terimakasih

Wassalamualaikum Wr. Wb

Hormat Kami

Bapak M. Rupi

Sekeluarga

By aimarusciencemania

cover impian jadi penulis handal

assalamualaikum……para pembaca budiman….saya akan mengirimkan cover dan gambar amazing saya….jujur saya sudah lama bercita- cita ingin jadi penulis terkenal….padahal saya ada karya udah saya bagikan ke penerbit ol tapi nihil….mau cetak sendiri belum ada modal…mungkin dengan adanya kiriman ini Allah menemukan jalan yang terbaik buat karya saya amin

aima book ov2r aima book ovr aima book ovrj all tutorial aimaru komplit_Page_001 BAGIAN AWAL BUKU Catatan Kuliah Strategi Belajar Mengajar_Page_01 cover aqsho HALAMAN AWAL BUKU PBI_Page_01 Halaman Depan Cinta Aqsho Obat Tolak Galau_Page_01 ngajala ool UKURAN FTO AI[MA_Page_1 UKURAN FTO AI[MA_Page_3 UKURAN FTO AI[MA_Page_4 UKURAN FTO AI[MA_Page_5HAL AWAL NOVEL SIPRESTA_Page_01

By aimarusciencemania

menuju janji suci aini maskuro dan didik darmadi

11705676_952714421436984_7990594288390039630_o 11755213_952720161436410_1625001136935272522_n

 

 

 

 

 

 

 

 

janji suci memang sangat diperlukan untuk mengikat janji antara 2 insan yang akan menjalankan hidup bersama dalam ikatan suci dan mengatas namakan Allah sebagai saksinya…..bismillah semoga Allah mengijikan janji kita dan menjadikan kita jodoh di dunia dan Akhirat amin ya ROBBAL ALAMIN

berikut kutipan website tentang pernikahan

A. MAKNA PERKAWINAN

Pengertian Secara Bahasa

Az-zawaaj adalah kata dalam bahasa arab yang menunjukan arti: bersatunya dua perkara, atau bersatunya ruh dan badan untuk kebangkitan. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya):

Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)” (Q.S At-Takwir : 7)

dan firman-Nya tentang nikmat bagi kaum mukminin di surga, yang artinya mereka disatukan dengan bidadari :

Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik lagi bermata jeli (Q.SAth-Thuur : 20)

Karena perkawinan menunjukkan makna bergandengan, maka disebut juga “Al¬-Aqd, yakni bergandengan (bersatu)nya antara laki-laki dengan perempuan, yang selanjutnya diistilahkan dengan “zawaaja�?.

Pengertian Secara Syar’i

Adapun secara syar’i perkawinan itu ialah ikatan yang menjadikan halalnya bersenang-senang antara laki-laki dengan perempuan, dan tidak berlaku, dengan adanya ikatan tersebut, larangan-larangan syari’at.

Lafadz yang semakna dengan “AzZuwaaj” adalah “An-Nikaah“; sebab nikah itu artinya saling bersatu dan saling masuk. Ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang maksud dari lafadz “An-Nikaah” yang sebenarnya. Apakah berarti “perkawinan” atau “jima’”.

Selanjutnya, ikatan pernikahan merupakan ikatan yang paling utama karena berkaitan dengan dzat manusia dan mengikat antara dua jiwa dengan ikatan cinta dan kasih sayang, dan karena ikatan tersebut merupakan sebab adanya keturunan dan terpeliharanya kemaluan dari perbuatan keji.

B. HUKUM PERKAWINAN

An-Nikaah hukumnya dianjurkan, karena nikah itu termasuk sunnah Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwasanya telah berkata Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu:
Telah datang tiga orang ke rumah istri-istri nabi Shalallahu’alaihi Wassallam. Mereka bertanya tentang ibadahnya, maka tatkala telah diberitahu maka seakan-akan merasa amalnya sangat sedikit, lalu mereka berkata: “Dimana kita dibanding Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, sungguh Allah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang”. Maka berkata seseorang di antara mereka, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selamanya”, dan berkata seorang lagi, “Aku akan berpuasa sepanjang masa,�? dan yang lainnya,”Aku akan meninggalkan wanita, tidak akan menikah�?. Lalu datang Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam, kemudian beliau Shalallahu’alaihi Wassallam berkata:
‘Kaliankah yang telah berkata begini dan begitu ? Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut dan paling taqwa dari kalian, akan tetapi aku shalat dan aku tidur, aku puasa dan aku berbuka, dan aku menikahi wanita. Maka barang siapa yang membenci pada sunnahku, maka dia tidak termasuk golnganku�?.

Makna dari “barang siapa yang membenci sunnahku” adalah berpaling dari jalanku dan menyelisihi apa yang aku kerjakan, sedang makna “bukan dari golonganku” yakni bukan dari golongan yang lurus dan yang mudah, sebab dia memaksakan dirinya dengan apa yang tidak diperintahkan dan membebani dirinya dengan sesuatu yang berat. Jadi, maksudnya adalah barang siapa yang menyelisihi petunjuk dan jalannya Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, dan berpendapat apa yang dia kerjakan dari ibadah itu lebih baik dari apa yang dikerjakan oleh Rasulullah . Sehingga makna dari ucapan bukan dari golonganku” adalah bukan termasuk orang Islam, karena keyakinannya tersebut menyebabkan kekufuran.

Hukum nikah ini sunnah untuk orang yang bisa menanahan biologis dan tidak khawatir terjerumus ke dalam zina jika dia tidak menikah, dan dia telah mampu untuk memenuhi nafkah dan tanggung keluarga.

Adapun orang yang takut akan dirinya terjerumus ke dalam zina, jika dia tidak nikah, atau orang yang tidak mampu meninggalkan zina kecuali dengan nikah, maka nikah itu wajib atasnya. Dan untuk masalah nikah secara panjang lebar terdapat dalam kitab-kitab Fiqh.

C. TUJUAN PERNIKAHAN

Sesungguhnya perintah itu ikatan yang mulia dan penuh barakah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mensyari’atkan untuk kemaslahatan hamba-Nya dan kemanfaatan bagi manusia, agar tercapai maksud-maksud yang baik dan tujuan-tujuan yang mulia. Dan yang terpenting dari tujuan pernikahan ada dua, yaitu:

1. Mendapatkan keturunan atau anak
2. Menjaga diri dari yang haram

Maksud PertamaMendapatkan Keturunan atau Anak

Dianjurkan dalam pernikahan tujuan pertamanya adalah untuk mendapatkan keturunan yang shaleh, yang menyembah pada Allah dan mendo’akan pada orangtuanya sepeninggalnya, dan menyebut-sebut kebaikannya di kalangan manusia serta menjaga nama baiknya. Sungguh ada dalam hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu
berkata : Adalah Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami menikah dan melarang membujang dengan larangan yang keras dan belia bersabda :

Nikahkah oleh kalian perempuan-perempuan yang pecinta dan peranak, maka sungguh aku berbangga dengan banyaknya kalian dari para Nabi di hari kiamat.�?

Al Walud (banyak anak), Al Wadud (pecinta), di mana dia mempunyai unsur-unsur kebaikan dan baik perangainya dan mencintai suaminya, Al-Makaatsarat ialah bangga dengan banyaknya umat shallallahu alaihi wa alaihi wa sallam di hari kiamat, maka Nabi,
Berbangga dengan banyaknya umatnya dari semua para Nabi. Karena siapa yang umatnya lebih banyak maka pahalanya lebih banyak dan bagi beliau mendapat seperti pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Inilah tujuan yang besar dari pernikahan. Berfirman Allah Sub,hanahu wa Ta’ala (yang artinya) :

Dan Dia (Allah) telah menjadikan bagimu dari istri-istrimu itu, anak-anak dan cucu-cucu�?. (Q.S An-Nahl-72)

Al-Hafadah (jama’ dari hafid artinya cucu; yang dimaksud dalam ayat ini adalah anaknya anak dan anak-anak keturunan mereka.

Maka manusia dengan fitrah yang Allah berikan padanya dijadikan rnencintai anak-anak karena Allah menghiasi manusia dengan cinta pada anak-anak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (yang artinya) :

Dijadikan indah pada (pandangan ) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu ; wanita-wanita, anak-anak,…�?(Q.S Ali-Imran -14)

Manusia memiliki naluri cinta pada anak-anak, karenanya Allah Subhanahu waTa’ala jadikan anak-anak sebagai perhiasan kehidupan dunia. Berfirman Allah (yang artinya):

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.�?

Namun karena terlalu cintanya pada anak-anaknya, kadang-kadang bisa menjerumuskan ke dalam fitnah, sehingga dia bermaksiat pada Allah dengan sebab anak-anaknya. Allah berfirman (yang artinya):

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (Q.S At-Taghabun : 15)

Dan bila telah keterlaluan fitnah anak pada manusia, maka bisa mendorong pada perbuatan haram, seperti usaha yang haram untuk menafkahi mereka, atau meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan jihad di jalan Allah, karena takut kalau meninggalkan anak. Maka anak dalam hal ini sama kedudukannya dengan musuh, sehingga wajib berhati-hati dari keterikatan pada mereka. Dan ini adalah makna dari firman Allah Ta’ala (yang artinya) :

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isteri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.�? (Q.S At-Taghabun:14)

Telah ada dalam sebab Nuzul ayat ini apa yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Hakim dan lainnya dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata :

“Telah turun ayat ini (At-Taghabun-14) tentang suatu kaum dari ahli Makkah, mereka telah masuk Islam, lalu istri-istri mereka dan anak-anak mereka menolak ajakan mereka.
Maka ketika mereka datang pada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam di Madinah, mereka melihat orang-orang yang mendahului mereka dengan hijrah. Sungguh mereka telah pandai-pandai dalam urusan agama, maka mereka ingin menghukum istri-istri dan anak-anak mereka, lalu Allah turunkan pada mereka ayat :

Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang�? (Q.S At-Taghabun : 14)

Maksud Kedua : “Menjaga Diri dari yang Haram

Tidak diragukan lagi bahwa yang terpenting dari tujuan nikah ialah memelihara dari perbuatan zina dan semua perbuatan-perbuatan keji, serta tidak semata-mata memenuhi syahwat saja. Memang bahwa memenuhi syahwat itu merupakan sebab untuk bisa menjaga diri, akan tetapi tidaklah akan terwujud iffah (penjagaan) itu kecuali dengan tujuan dan niat. Maka tidak benar memisahkan dua perkara yang satu dengan lainnya, karena manusia bila mengarahkan semua keinginannya untuk memenuhi syahwatnya dengan menyandarkan pada pemuasan nafsu atau jima’ yang berulang-ulang dan tidak ada niat memelihara diri dari zina, maka dimanakah perbedaannya antara manusia dengan binatang ?

Oleh karena itu, maka harus ada bagi laki-laki dan perempuan tujuan mulia dari perbuatan bersenang-senang yang mereka lakukan itu, yaitu tujuannya memenuhi syahwat dengan cara yang halal agar hajat mereka terpenuhi, dapat memelihara diri, dan berpaling dari yang haram. Inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam . Sungguh diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata : telah berkata Rasulullah .:

Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang mampu maka nikahlah, karena sesungguhnya itu dapat menundukan pandangan dan memelihara kemaluan, maka barang siapa yang tidak mampu hendaknya dia berpuasa, karena sesungguhnya itu benteng
baginya.
�?

Al- Wijaa’, adalah satu jenis pengebirian, yaitu dengan mengosongkan saluran mani yang menghubungkan antara testis_dan dzakar. Dan makna hadits ini adalah : Barang siapa yang mampu di antara kamu wahai pemuda untuk berjima’ dan telah mampu untuk memikul beban-beban pernikahan dan amanahnya, maka nikahlah. Karena nikah itu akan menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Jika tidak mampu hendaknya dia berpuasa, karena puasa itu akan menghancurkan kekuatan gejolak syahwat, bagai pengebirian pada binatang buas untuk menghilangkan syahwatnya.

Maka jelaslah dari hadits ini bahwa Nabi salallahu ‘alaihi wasallam memberikan pada pernikahan itu dua perkara yang membantu pada kedua mempelai, yaitu pertama menundukan pandangan dari pandangan-pandangan yang diharamkan Allah Ta’ala dari para wanita, kedua memelihara kemaluan dari “zina” dan semua perbuatan-perbuatan keji. Sehubungan dengan makna ini telah ada hadits yang mulia yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhuma berkata :”Aku mendengar Rasulullah bersabda :

Apabila seseorang diantara kamu terkagum-kagum pada wanita lalu terkesan atau terjatuh dalam hati; maka hendaklah segera menemui isterinya lalu penuhilah hasratnya dengan isterinya, karena sesungguhnya itu akan menolak apa yang ada dihatinya atau jiwanya.�?

Adapun orang-orang yang telah menikah dan semua keinginannya dari pernikahan adalah syahwat dan jima’ semata, maka mereka tidak bertambah dengan jima’ tersebut kecuali tambah syahwat, dan dia tidak cukup dengan isterinya yang halal. Bahkan dia akan berpaling pada yang haram.

(Dikutip darikitab Ushulul Mu’asyarotil Zaujiyah, Penulis: Al-Qodhi Asy-Syaikh Muhammad Ahmad Kan’an, Edisi Indonesia “Tata Pergaulan Suami Istri Jilid I�? Penerbit Maktabah Al-Jihad, Jogjakarta)

 https://menikahsunnah.wordpress.com/2007/06/20/makna-hukum-dan-tujuan-perkawinan/

Bahron Ansori

Siapa sih yang tak ingin menikah? Mengingat pahalanya yang berjuta, kebaikan demi kebaikan datang silih berganti, tentu akan menjadi motivasi tersendiri bagi ikhwan-akhwat yang merindukan pernikahan. Bayangkan, ketika sudah menikah, senantiasa ada yang mengingatkan ketika lupa, menasihati ketika lalai, memotivasi agar tekun dan istikomah beribadah serta meraih mimpi-mimpi besar.

Bukan hanya itu, bahkan menikah mampu memotivasi seorang mahasiswa untuk segera menyelesaikan skripsinya. Ia berani ijabsah sebelum mendapatkan ijasah demi menjaga kemuliaan dirinya. Intinya, menikah di jalan Allah SWT itu full pahala, full barokah, full keindahan dan kebaikan. Menikah itu benar-benar terasa indah dan indahnya benar-benar terasa.

Bila ikhwan-akhwat tahu betapa besar pahala yang dijanjikan Allah SWT kepada mereka yang menikah, tentu tak bijak rasanya bila menikah itu harus ditunda-tunda apalagi menunggu harus lulus kuliah dulu atau punya apa-apa dulu. Berikut adalah aliran deras pahala bagi ikhwan-akhwat yang menikah karena ingin menjaga kehormatannya.

Pertama, menikah itu melengkapi agamanya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (HR. Thabrani dan Hakim).

Hadis di atas mestinya menjadi motivasi bagi ikhwan-akhwat untuk segera mengakhiri masa lajangnya. Bayangkan, dalam Islam, tak ada yang mampu melengkapi separuh agama kecuali Allah SWT dengan menyegerakan menikah. Dengan menikah, Allah SWT melengkapi separuh agama hamba-Nya. Ini artinya, betapa besar perhatian Allah dan Rasul-Nya bagi setiap Muslim yang menikah karena ingin menjaga kehormatannya. Jadi, jangan ragu dan segeralah menikah karena menikah itu melengkapi agama.

Kedua, menikah berarti menjaga kehormatan diri. Dalam sebuah hadis dijelaskan Rasulullah SAW bersabda, Wahai para pemuda! Siapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi faraj (kemaluan). Dan siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

Itulah janji Allah SWT bagi ikhwan akhwat yang menikah. Orang yang menikah berarti ia faham dan berusaha menjaga kehormatan dirinya. Dia begitu khawatir dengan pergaulan diluar sana yang jauh dari nilai-nilai islami. Karena kekhawatirannya itulah ia memutuskan untuk segera menikah. Ia yakin dengan menikahlah kehormatan dirinya akan terjaga dari lawan jenis yang harap ditatapnya dan lain sebagainya. Dengan menikah itu pula hatinya akan terjaga dari gangguan lawan jenis yang bukan mahramnya. Jadi, segeralah menikah sebab menikah berarti menjaga kehormatan diri dari kenistaan.

Ketiga, senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Segala sesuatu yang di dalamnya yang tidak mengandung Dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau dan permainan kecuali empat perkara yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah dan mengajarkan renang.” (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245, Silsilah Al Hadits Ash Shohih no. 309).

Itulah di antara janji Allah SWT bagi mereka yang menikah. Ketika suami istri saling memandang, maka Allah SWT pun ridha melihat keduanya. Ketika keduanya saling berpegangan tangan, maka Allah SWT pun tersenyum dan menurunkan rahmat bagi keduanya. Singkatnya, apa pun yang dilakukan suami istri selama ini adalah kebaikan, pasti akan mengundang pahala dan ridha dari Allah SWT.

Keindahan-keindahan itu tentu tak berlaku bagi mereka yang memuaskan syahwatnya dengan pacaran tanpa ikatan yang sah, sebab pacaran adalah prilaku iblis yang bisa menjerumuskan pelakunya kepada neraka Jahannam. Pacaran hanya pelampisan nafsu untuk menuruti kehendak setan dan binatang. Jadi, menikahlah, karena menikah itu senda guraunya saja berbuah pahala.

Keempat, menggauli istri termasuk sedekah. Suatu hari, pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW bertanya, ”Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka?”

Nabi SAW bersabda, ”Bukankah Allah SWT telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian menggauli istri pun sedekah?” Mereka bertanya, ”Wahai Rasulullah, mengapa bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?”

Nabi SAW menjawab, ”Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwat itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?” Mereka menjawab, ”Ya, tentu?”

Beliau bersabda, ”Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala?” (Nabi SAW kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu bersabda, ”Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua rakaat Dhuha?”) (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

Kelima, dengan menikah, adanya saling nasehat-menasehati. Menikah, membuka kesempatan ladang pahala yang luas untuk saling tawa shaubil haq wa tawa shaubis shabr ’nasihat-menasihati untuk menetapi kebenaran dan nasihat-menasihati untuk menetapi kesabaran’. Sungguh indah bukan? Saat pertama kali ijabsah diucapkan, maka setelah itu pahala akan terus mengalir ketika suami istri saling memberi nasihat dan motivasi agar lebih tekun dalam ibadah dan meraih kesuksesan. Yes…

Keenam, bisa mendakwahi orang yang dicintai. Dengan menikah, justeru peluang untuk mendakwahi orang yang dicintai (suami atau istri) semakin besar. Jika sebelum menikah hanya mampu memberi saran dan nasihat ala kadarnya, namun setelah menikah bisa saling mendakwahi dengan leluasa dan sepuas hati. Lebih dari itu, keduanya bisa saling melengkapi untuk program dakwah kepada keluarga keduanya dan orang lain.

Ketujuh, pahala memberi contoh yang baik. Dalam pernikahan, ada perlombaan dalam kebaikan di sana. Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Nabi SAW bersabda, ”Siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun?” (HR. Muslim).

Bila seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya tentu pahala akan diberikan Allah SWT kepadanya. Sebaliknya, ketika seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya, tentu dosa akan ditanggungnya kelak di akhirat karena ia memberi teladan keburukan.

Kedelapan, seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama, dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.

Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah SAW, bersabda, ”Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu?” (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami yang menafkahkan hartanya untuk keluarganya dari pada orang lain  tentu lebih utama karena beberapa alasan, di antaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajibannya, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah ra., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?” Nabi SAW menjawab, ”Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Jangan kamu menjelekkan wajahnya, jangan kamu memukulnya, dan jangan kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka?” (Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya, bila seorang suami tidak mau memberi nafkah kepada keluarganya, maka ia termasuk pelaku dosa. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Seseorang cukup dianggap berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang harus diberi belanja (dalam tanggungannya)?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, masih adakah yang meragukan janji Allah SWT yang akan diberikannya kepada orang yang menikah? Berjuta pahala itu akan Anda dapatkan setiap saat ketika Anda menikah semata-mata untuk meraih kesempurnaan dalam  beragama. Teruslah  berdoa kepada Allah SWT untuk meminta pendamping hidup yang shalih / shalihah agar kelak bisa tetap bersama di surga-Nya. Wallahua’lam.

http://mirajnews.com/id/artikel/tausiyah/berjuta-pahala-menikah/

By aimarusciencemania