BELAJAR NULIS NOVEL

Mengawali kisah cinta yang penuh harap agar jauh lebih indah untuk menuju pulau bahagia

 

Ada salah satu lagu dangdut karya H. Rhoma Irama yang sangat menginspirasi harapanku yang sempat sirna untuk membuka hati pada calon pemiliki tulang rusukku ini karena gagal menjalin cinta. Namun aku yakin kegagalan merupakan sukses yang tertunda. Meski masalah jodoh adalah misteri Ilahi, namun keyakinan untuk dapat segera dipertemukan dengan jodoh itu tetap ada di hati ini. Usaha dan doa tetap ku lakukan. Aku berusaha membuka hati namun jiga tidak terlalau ngoyo mengejarnya…toh jika jodoh pasti bertemu. Syair demi syair lagu H. Rhoma Irama itu sekaligus menjadi pengobat duka dan laraku dalam menanti jodohku sekaligus menjadi doa dan harapanku. Berikut ini syair lagu nya!

Bahtera – H. Rhoma Irama

Beredar sang bumi mengitari matahari…..

Merangkai sang waktu tahun-tahun berlalu….

Namun cintaku takkan pernah berubah masa demi masa

Kita berdua takkan pernah berpisah baur dalam jiwa

 

Berlayar bahtera mengarungi samudra

Menggapai tujuan tuk dipantai harapan

Badai dan gelombang yang datang melintang

 

 

Takkan merubah haluan cinta kita

Padamu nahkoda ku tampakkan cinta

Bawalah daku…ke pulau bahagia

Kembali ke awal…..lagi jika dinyanyikan…

 

Ya…..begitu mendayu-dayu dan romantis jika lagu di atas…dinyanyikan. sampai-sampai aku berkringinan untuk menyanyikan lagu Bahtera karya H. Rhoma Irama di pesta pernikahanku kelak. Selain itu aku ingin banget…..lagu dari Maher Zain juga berdering di pesta pernikahanku. Apalagi lagu yang berjudul Barakallah Lakuma itu loh…Subhanallah….liriknya meski versi bahasa Inggris, tapi sangat menyentuh kalbu ini.

Ketemu perawat sholeh di grup FB cari jodoh

Setiap jejaringan sosial jika dimanfaatkan dengan bijak semuanya pasti akan memperoleh manfaat positif. Salah satu media atau jejaringan sosial yang masih eksis dan banyak penggunanya adalah Face Book (FB). Di FB kita bisa bercuap-cuap ria dengan sesuka hati mulai dari meluapkan emosi melalui update status, upload foto, share informasi profil pribadi, dan share informasi di grup FB. Namun jika luapan emosi yang kita share bisa berupa suasana hati yang lagi senang, bahagia, sedih, kesal, marah dan macem-macem luapan emosi bisa di posting melalui update status bisa pula disertai icon-icon lucu yang tersedia di kolom update status. Namun meluapkan emosi jika berlebihan sampai mencaci maki seseorang bisa menjadikan itu bumerang untuk kita sendiri. Sebut saja salah satu pengacara kondang yang penuh kontrovesi Farhat Abbas yang berseteru dengan Ahmad Dhani gara-gara kicauan dia di media sosial yang berujung proses hukum di meja hijau dan masih banyak lagi kasus gara-gara mencaci maki seseorang di media sosial. Awalnya kita berpikir hal itu sah-sah saja toh itu media sosial account pribadi kita, suka-suka kita mau nulis apa aja kan…..? namun sekarang ini sudah ada perlindungan hukum seiring dengan kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), salah satunya dengan adanya Undang-Undang ITE (Informasi Teknologi dan Elektronik). Nah dengan adanya undang-undang ini seseorang dapat diperkarakan gara-gara status FB atau status di media sosial lainnya yang dapat mengganggu ketenangan orang lain. Wah….perlu berhati-hati kita neh…..dalam memposting status kita.

Selain kolom untuk update status yang banyak digandrungi, adapula kolom yang jadi favorit untuk dikunjungi di FB. Yupz….grup FB yang merupakan kumpulan anggota yang telah terhubung di facebook bergabung semuanya disini apabila sudah diijinkan gabung oleh empunya grup FB. Mereka membentuk komunitas di FB. Komunitas tersebut bermacam-macam mulai dari kumpulan jual beli barang bekas, komunitas kumpulan alumni dari lembaga pendidikan tertentu, kumpulan aabdi negara seperti POLRI dan TNI sampai kumpulan pencari jodoh dengan macam-macam pula nama grupnya di FB.

Aku akan menceritakan kisahku yang bertemu dengan seseorang di salah satu grup FB kumpulan pencari jodoh. Awalnya aku hanya iseng-iseng saja membuka grup tersebut. Eh….gak sengaja ada salah anggota digrup tersebut yang memposting status di grup tersebut yang isinya dia mencari cewek baik gadis, maupun janda gitu bagi yang berminat sms ke no yang telah tertera. Aku buka profilnya dia. Berdasarkan informasi dari profilnya, dia bernama Roy, dia bekerja di salah satu rumah sakit di kota Semarang, lulusan perawat, masih lajang gitu… sambilku buka album fotonya aku liat foto profilnya…eh ada foto dia yang cakep tapi sayang aku gak bisa mengirim pertemanan ke dia.karena FB ku diblokir dari pengiriman pertemanan saat itu.wah…aku kok penasaran. Langsung aja aku sms dia.

Ani       :” Assalamu’alaikum?”

Roy      :”walaikum salam, kamu namanya siapa, udah kerja apa masih kuliah?”

Ani       :”namaku Ani, aku baru wisuda 6 bulan lalau aku ngajar sokwanan”

Roy      :”usia kamu berapa?”

Ani       :”aku berusia 24 tahun di akte tapi sebenarnya 23 karena salah di akte akhirnya ijazah dan surat-surat lainnya harus ikut akte, mas sendiri usianya berapa?”jelasku meski gak ditanya.

Roy      :”aku 26 tahun. Aku udah kerja”

Ani       :”lho…..udah nikah belum?”

Roy      :”ya belum lah…”

Ani       :”gitu yah….mas tinggal di mana?”

Roy      :”aku tinggal di semarang kalau kamu?”

Ani       :”ku di desa seh…di kabupaten Probolinggo? Pernah ke Probolinggo belum?”

Roy      :”belum pernah mas aku….kenapa?”

Ani       :”gak apa-apa cuma nyanya…mas…kerja di rumah sakit ya….sebagai perawat kan…bisa akupuntur ya?”tanyaku untuk mengorek-ngorek informasi.

Roy      :”bisa memangnya kenapa?”jawabnya dengan singkat

Ani       :”ya gak…aku mau terapi jika bisa tapi aku malu dulu pernah liat dosen perawat dikampus yang lagi nerapi mahasiswa di rumahnya. Rencananya aku mau terapi juga tapi gak jadi karena malu”

Roy      :”kenapa malu toh? Gak usah malu”

Ani       :”ya malu aja gak tau aku….mas satu sodara ada berapa?”

Percakapan berhenti karena sms dariku gak di balas. Siang itu aku sangat senang dan bahagia. Entah mengapa aku gak tau. Jujur aku sangat bahagia dan aku merasa aku akan jadi sama dia. “Eith…gak boleh GR jangan mendahului rencana Allah….sok tau banget seh aku ini” ucapku dalam batin.

Sore harinya dia mengirim sms ke aku….

Roy      :” lagi apa kamu udah mandi belum kamu?”

Belum ku jawab aku berkata dalam batin,”ih…..cowok ini perhatian apa modus yah….hus….positif thinking aja…semoga dia perhatian tulus” lalu aku jawab sms dia

Ani       :”lagi di rumah aja,,,, udah donk, mas lagi apa?”

Roy      :”lagi nyantai aja di rumah”

Ani       :”mas smsku kok gak di bales tadi capek ya…”

Roy      :”oh….iya aku anak ke 3 dari 5 bersodara. Kalau kamu?”

Ani       :”aku anak ke 2 dari 3 bersodara, mas nama aslinya sapa seh…?”

Roy      :”namaku Roy Sarifuddin, kalau kamu nama lengkapnya sapa”

Ani       :”ya itu dah di FB ku nama asliku…mas…aku gak bisa nge add karena diblokir mas add aku ya?”

Roy      :”tapi itu FB ku yang dibajak orang FB baruku yang gak ada fotonya namanya juga sama aku juga gak bisa nge add”

Ani       :”gitu yah….”

Lama banget dia gak respon smsku tapi aku cuek aja dan tak begitu brharap sama dia. Aku trauma jika terlalau berharap. Dan malemnya dia sms aku. Tapi sayang aku sudah tidur. Dia mengirim sms yang isinya”sudah tidur kamu”.

Setiap hari dia mengirim sms saat pagi, siang dan malam sekedar menanyakan aku lagi apa? namun aku gak membalas selama 4 hari karena aku gak ada pulsa. Aku sangat prihatin dan hatiku udah berubah menjadi berharap sama dia karena perhatian dia. Meski cuma teks sms namun aku sanagat senang sekali karena dia sangat perhatian. Sayang sekali aku gak bisa menelpon dia karena beda operator.

 

Setelah pulasaku terisi, aku membalas sms dia dan meminta maaf karena aku udah lama gak membalas sms dia. Percakapan dengan dia berjalan lancar dari sekedar menayakan kabar smapai menanyakan kegiatan sehari-hari dia. Aku merasa sangat akrab dan dapat chemistry meski belum pernah ketemu.”duh Gusti…apakah ini tandanya aku jatuh cinta?”pikirku dalam batin. Aku gak mau patah hati lagi…aku harap dia bisa menjadi nahkodaku yang membawa aku ke pulau bahagia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By aimarusciencemania

curriculum vitae untuk perusahaan tertentu

Curricullum Vitae

  1. Nama Lengkap            : Aini Maskuro, S.Pd
  2. Jenis Kelamin              : Perempuan
  3. Tempat/Tanggal lahir  : Probolinggo, 1 Januari 1990
  4. Alamat Lengkap         : Desa Tarokan RT 08/RW 03 Blok Kramat Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo
  5. HP                                : 082331103554
  6. e-mail                           : aini_unmuhjember@yahoo.com
  7. Web site                      : http//aimarusciencemania.wordpress.com
  8. Riwayat Pendidikan         :
  1. a) MI             : MI. Raden Fatah Tarokan Banyuanyar,                Probolinggo, lulus tahun 2002
  2. b) SD             : SDN Klenang Kidul II Banyuanyar      Probolinggo, lulus tahun 2003
  3. c) SMP          : SMPN 1 Banyuanyar Probolinggo, lulus tahun 2006
  4. d) SMA         : SMAN 1Gending Probolinggo, lulus tahun 2009
  5. e) S1             : Universitas Muhammadiyah Jember, FKIP Biologi, lulus tahun 2013

Keterampilan

Komputer Ms. Office (Ms. Word, Ms. Exel, dan Power Poit)

Bahasa inggris( writting= baik, Listening= cukup, conversation= cukup)

pengalaman kerja

Sebagai guru pendamping pengganti di SD Muhammadiyah 1 Jember November- Desember 2013

Sebagai guru IPA Kelas V di MI Raudhatul Hasan Maron Kulon- Maron-Probolinggo Januari-Maret 2014

 

Sebagai staff administrasi di distributor sari roti CV Guna amerta Sari Kuta Bali Agusttus 2014-September 2014

Sebagai staff administrasi di distributor Unilever Pt Hananya Inter Niaga Supply Nusa Dua Bali Oktober 2014-Februari 2015

 

Demikain pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya, jika ternyata ada yang tidak benar atau tidak sesuai, saya bersedia dikenakan sanksi

Probolinggo, 10 April 2015

 

 

Aini Maskuro, S.Pd

 

By aimarusciencemania

doa khatam alqur an semua huruf hijaiyah ternyata banyak arti

Doa khatmil qur’an …”karunikanlah kami penjagaan dg setiap waqop dari Al qur’an.ya Allah anugerahilah kami rasa aman dan iman dg huruf ALIF, keelokan dan keberkahan dg huruf Ba’, taubat dan taufik dg huruf TA’,kelapangan rizki dan pahala dg huruf Tsa’,kedudukan dan kemuliaan dg huruf huruf Jim, kebijaksanaan dan rasa malu dg huruf Ha’, kekhusyu’an dan rasa takut dg huruf Kho’,kerajaan dan petunjuk dg huruf Dal, akal dan kecerdasan dg huruf Zal, kasih sayang dan harapan dg huruf Ro’, kezuhudan dan kesholehan dg huruf Za’, kebahagiaan dan keselamatan dg huruf Sin, rasa syukur dan kemulibn dg huruf Syin, kesabaran dan persahabatan dg huruf Sod, cahaya dan kekuatan dg huruf Dod, ketaatan dan kesucian dg huruf Tho’,kemenangan dan keelokan dg huruf Zho’, ampunan dan kesehatan dg huruf ‘AIN,kekayaan dan keuntungan dg huruf Ghoin, keberuntungan dan keberhasilan dg huruf Fa’, kedekatan dan qanaah /rasa cukup dg huruf Qaf,kesempurnaan dan kemulibn dg huruf Khaf,kelembutan dan pertemuan dg huruf Lam, ampunan dan kesenangan dg huruf Mim, cahaya dan keselamatan dg huruf Nun,kelapangan dan kekuasbn dg huruf Wawu, semangat dan petunjuk dg huruf Ha’, kemudahan dg huruf Ya’.sumber Alquran dan terjemahan,2010 dEP AGAMA KARYA putra utama semarang

hijaiyah-color huruf

By aimarusciencemania

contoh uraian buku media pembelajaran biologi

berharap ada penerbit yang menerbitkan buku buatan saya ini semoga ada yang berkrnan menerbitkan

KEUNGGULAN BUKU MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI DAN

IMPLEMENTASI PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI

Kegiatan Pembelajaran jika dilaksanakan tanpa menggunakan media pembelajaran akan sangat berbeda sekali hasilnya jika dengan menggunakan media pembelajaran. Karena dengan hadirnya media maka kegiatan pembelajaran akan berlangsung dengan efektif dan efisien dan daya tangkap peserta didik tidak abstrak. Sama halnya dengan kegiatan pembelajaran biologi sudah tentu membutuhkan media pembelajaran untuk setiap pokok bahasannya karena biologi bukan hanya teori yang perlu dihafal. Namun pembelajajaran biologi adalah pembelajaran yang memiliki objek belajar biologi berupaka makhluk hidup dan masalah biologi yang terdapat didalamnya. Oleh karena itu dengan hadirnya media pembelajaran ini diharapkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang bermakna agar dapat menemukan konsep bukan menghafal konsep biologi itu sendiri.

            Buku yang berjudul “Media Pembelajaran Biologi Dan Implementasi Pembuatan Media Pembelajaran Biologi” ini memiliki beberapa keunggulan diantara:

  1. Buku ini menguraikan hakekat belajar dan kegiatan pembelajaran biologi secara mendasar, tujuannya agar pembaca memahami hakekat belajar dan kegiatan pembelajaran biologi
  2. Buku ini disusun dari beberapa literatur mengenai lingkungan sebagai sumber belajar biologi agar dapat menambah khasanah pengetahuan pembaca khususnya pendidik mengenai pemanfaatan sumber daya alam yang ada di wilayah masing-masing untuk dijadikan sumber belajar biologi yang disesuaikan dengan pendekatan lingkungan hidup siswa, agar pembelajaran dengan pendekatan lingkungan ini berjalan optimal maka pendidik perlu merancang rencana pelaksanaan pembelajaran yang detail.
  3. Buku ini menjelaskan definisi media, macam-macam media pembelajaran secara umum dan macam-macam media pembelajaran biologi dilengkapi dengan pengaplikasiannya dalam pelaksanaan penggunaannya
  4. Buku ini dilengkapi dengan implementasi cara pembuatan media pembelajaran biologi yang merupakan kumpulan tugas pameran alat peraga sains dan biologi mahasiswa program studi pendidikan biologi yang sudah dipamerkan pada pameran alat peraga tahun 2012 di salah satu kampus di Jember yang dihadiri oleh guru sains dan biologi. Sehingga dapat dijadikan salah satu bahan acuan para pembaca khususnya guru biologi untuk merancang media pembelajaran biologi untuk dihadirkan saat pelaksanaan pembelajaran berlangsung tentunya dengan melakukan prinsip manipulasi, modifikasi dan simplifikasi pembuatan media pembelajaran biologi yang dikombinasikan dengan kreasi dan inovasi para pembaca/guru biologi sehingga pembelajarana biologi menjadi lebih bermakna.

 

 

 

 

 

By aimarusciencemania

bunda adalah muara kasih untuk semua buah hatinya

malaikat yang nyata diturunkan ke bumi adalah sesosok wanita tangguh yang mencintai anaknya apa adanya, dengan seluh jiwa raga apapun ia korbankan untuk kebahagiaan sang anak malaikat itu adalah bunda

foto19564_002

 

 

 

 

 

my photo with bunda

 

By aimarusciencemania

contoh halamanm depan buku

Media Pembelajaran Biologi dan

Implementasi Pembuatan Media Pembelajaran Biologi

Aini Maskuro, S.Pd

PERSEMBAHAN

Puji syukur selalu terpanjatkan ke hadirat Allah SWT beserta

Sholawat dan salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Rasullah SAW, ku persembahkan tulisan ini

untuk:

Ayahanda M. Rupi dan Ibunda Asma ‘ani terkasih

atas seluruh dukungan, semangat dan doa di setiap sujud mereka. You are my inspiration and my spirit

Disaat aku tertatih menghadapi ujian ini..Sosok yang ikhlas dan penuh kasih sayang itu selalu datang di hatiku….. Seraya aku memejamkan mata dan mengingat pesannya

aini……………..anakku………..kamu pasti bisa dan pasti jadi yang terbaik, maka yakinlah, doa kami selalu menyertaimu nak……………

Terima kasih yang sangat spesial untuk kakandaku tersayang M. Hosen , S.P You are my superhero……my lovely brother…

Thanks alot…..my lovely brother for all….i love you so much…..

You always support me……………

You always give me about life learning

I’m sorry…..your sister always distrub you…and always depend to your help………..

But….Don’t worry my lovely brother……………

If your sister be success….

InsyaAllah i will do and give the best for you……..

Para guru dari Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi,

terima kasih atas ilmu yang telah diberikan demi mewujudkan masa depan yang lebih cerah;

Rekan- rekan senasib seperjuangan Biologi b 2009 dan teman- teman Fakultas lain Universitas Muhammadiyah Jember,

atas segala lukisan berjuta warna di kanvas kehidupanku

UNGKAPAN TERIMA KASIH

Rasa syukur yang tak terhingga kepada Mu, selalu ku panjatkan tanpa kenal lelah. Karena Kau alirkan inspirasi dan motivasi untuk menyelesaikan tulisan ini dalam bentuk buku. Kau beri hamba kesulitan dan Kau datangkan pula kemudahan itu secara bergantian padaku dengan segala cara-Mu yang Maha Bijaksana.

Begitu panjang rasanya perjalanan ini, kadang semangatku untuk menyelesaikan buku ini begitu bergejolak dan menggempita di hati dengan penuh keyakianan,terkadang pula semangatku hilang dan nelangsa yang aku rasa.Karena aku termotivasi saat aku pergi ke toko buku, belum ada namaku dan novelku. Dengan adanya buku ini aku berharap semoga menjadi karya yang inspiratif untuk diri sendiri khususnya dan untuk para pembaca umumnya, Serta banyak karyaku kelak yang beredar di toko buku dan menjadi penulis handal. Amin…..

Tulisan ku ini kupersembahkan kepada orang-orang yang ku sayangi yaitu:

  • Ibu dan bapak tercinta, Terima kasih telah menampung aku dan menjadi orang tua terbaik dan terhebatku.Doa dan semangat dari kalian berdua menjadi penguat nanda selama ada di perantauan ilmu. Special thanks for my Father, terimakasih bapak telah mencarikan kampus terbaik buat nanda menimba ilmu di tengah kampus negeri menolak nanda. Special thanks for my Mother doa mu menjadi keramat terampuh di dunia ini. Berkat cinta kasih kalian berdua nanda mampu berdiri tegak di tengah ujian yang terjadi selama menimba ilmu.

  • Kakak ku tercinta M. Hosen, S.P yang selalu mendukung ku dan selalu memberikanku berbagai jalan dan cara untuk mencapai kesuksesanku.Terima kasih Cak? Berkat dukungan dan suplai darimu semuanya baik- baik saja. Dan maaf Cak? Adik selalu merepotkan mu. Semoga pengorbananmu di ganti dengan rejeki yang lebih barokah dari Allah S.W.T Amin?. Mbak Anisaroh, Huan Nanda Navisa NurSalwa dan Huan Nanda Vedro Alfaro (Selamat datang di keluargaku dan terimakasih atas do’a dan dukungannya).

  • Adikku tercinta M. Habibur Rahman Al Kahfi, terimakasih dengan doa tulus dari jagoan kecilku ini dan celotehanmu saat mbak garap tulisan ini memberikan motivasi indah tersendiri dalam penyelesaian tugas akhir ini.

  • Tanpa kalian aku bukan siapa-siapa. Bersama kalian di kos Jumiran Karimata V No. VB Jember. Terimakasih yang telah mengajariku arti kehidupan bermasyarakat sesungguhnya. Mbak Umi Hani S.Pd terimakasih sudah jadi pendengar terbaik semua kisahku baik senang maupun laraku doakan y mbak novelnya segera terbit amin?. Si kembar beda bapak dan ibu, Ika dan Ira yang selalu mengajariku cara jadi ibu rumah tangga yang baik dan semua penghuni kos yang tidak bisa ku sebut satu persatu. Masuk kos dengan tujuan yang sama yaitu sama-sama merantau keluar dengan tujuan yang berbeda.

  • Perjalanan hidup ku tak kan lengkap tanpa kehadiran teman seangkatan FKIP Biologi 2009. Bersama-sama melewati hari, menggapai cita untuk mengubahnya menjadi asa pasti dan menggantung harapan besar di kampus tercinta. Kuliah bersama, praktikum bersama, garap laporan, presentasi dan adu argumen saat tampil di depan kelas sungguh momentum yang takkan ku lupakan sampai kapanpun. Mengawali kisah di Zainuri dengan pakaian hitam putih muka polos akhirnya kita berpisah di Zainuri pula teman-teman dengan pakaian toga bahagia.Terimakasih atas kebersamaan selama 8 semesternya. Mewarnai hari menggapai mimpi bersama.

  • Almamater tercinta Universitas Muhammdiyah Jember

  • Yang akhir namun bukan yang terakhir, untuk semua pihak yang tidak dapat ku sebutkan satu-satu yang dengan setia menayakan sudah sampai mana dan Alhamdulillah selesai.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Atas nikmat dan karunia-Nya pula buku Media Pembelajaran Biologi dan Implementasi Pembuatan Media Pembelajaran Biologi ini dapat terselesaikan.

Buku Media Pembelajaran Biologi dan Implementasi Pembuatan Media Pembelajaran Biologi disusun dari berbagai literatur yang diperuntukkan sebagai salah satu bahan acuan bagi para peserta didik dan staf pengajar di kalangan universitas maupun staf pengajar di sekolah.

Ucapan terima kasih penyusun sampaikan kepada Dekan FKIP UM Jember Drs.H.Zaki Hasan, MSi. dan Ketua Prodi Pendidikan Biologi FKIP UM Jember Novy Eurika, S.Si, M.Pd yang telah memberi dorongan untuk selesainya buku ini. Dra. Sawitri Komarayanti M.S dan Drs Kukuh Munandar M.Kes yang telah memberikan inspirasi untuk penyusunan buku ini.

Akhirnya, buku Media Pembelajaran Biologi dan Implementasi Pembuatan Media Pembelajaran Biologi ini masih jauh dari sempurna, maka saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan.

Probolinggo, Awal Mei 2014

Punyusun

Aini Maskuro, S.Pd

DAFTAR ISI

Halaman Sampul i

Persembahan ii

Ungkapan Terima kasih iii

Kata Pengantar v

Daftar Isi vi

Media Pembelajaran Biologi dan Implementasi Pembuatan Media Pembelajaran Biologi

A.Pendahuluan 1

B.Tujuan 4

C. Manfaat 5

BAB 1: Hakekat Belajar Biologi dan Kegiatan Pembelajaran Biologi 6

1.1 Hakekat Belajar Biologi 6

1.2 Kegiatan Pembelajaran Biologi 7

BAB 2 : Lingkungan sebagai sumber belajar biologi 10

2.1 Syarat-syarat dan manfaat sumber belajar 14

2.2 Pengaplikasian lingkungan sebagai sumber belajar biologi 19

BAB 3: Teknik Budidaya Rumput Laut sebagai sumber belajar biologi 24

3.1 Klasifikasi Ilmiah Rumput Laut (Eucheuma cottonii) 24

3.2 Deskripsi dan Morfologi Rumput Laut (Eucheuma cottonii) 24

3.3 Faktor – Faktor Lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan Rumput Laut 28

3.3.1 Faktor Abiotik 28

3.3.2 Faktor Biotik 34

3.3. 3 Pertumbuhan dan Populasi Rumput Laut 35

3.3.3.1 Pertumbuhan Rumput Laut 35

3.3.3.2 Populasi Rumput Laut 37

3.3.3.3 Hubungan Faktor Lingkungan dengan Pertumbuhan Rumput Laut 38

3.3.3.4 Budidaya Rumput Laut 40

BAB 4: Media Pembelajaran Biologi 45

4.1 Definisi Media pembelajaran, sumber belajar, dan alat peraga 45

4.2 Dasar pertimbangan pemilihan dan penggunaan media 52

4.3 Kriteria Pemilihan Media Pengajaran 55

4.4 Fungsi dan manfaat media pembelajaran 57

4.5 Penggolongan Media Pembelajaran 62

4.5.1 Penggolongan Media Pembelajaran Biologi 65

4.5.1.1 Media Non-elektronik dalam Pembelajaran Biologi 65

4.5.1.1.1. Pengertian Media Non- Elektronik 65

4.5.1.1.2 Media Ali 66

4.5.1.1.2.1 Macam-macam Media Asli 69

4.5.1.1.3 Model 75

4.5.1.2 Media Elektronik dalam Pembelajaran Biologi 77

4.5.1.2.1 Pengertian media elektronik 77

4.5.1.2.2 Proyektor Slide 79

4.5.1.2.3 Komputer 80

BAB 5: Media Diorama sebagai salah satu jenis media pembelajaran biologi 82

5.1 Media diorama siklus menstruasi 82

5.2 Pembuatan miniatur rumah dari kardus dan pengaplikasian miniatur dalam media belajar biologi 87

5.2.1 Cara Pembuatan Miniatur rumah dari kardus 87

5.2.2 Pengaplikasian miniatur dalam media belajar biologi 92

BAB 6: Foto hasil pengamatan praktikum dan Audiovisual dapat menceritakan kejadian biologi 96

6.1 Foto hasil pengamatan praktikum dapat menceritakan kejadian biologi 96

6.2 Audiovisual dapat menceritakan kejadian biologi 103

BAB 7: Alat laboratorium sebagai media pembelajaran saat melakukan eksperimen 107

BAB 8: Implementasi Pembuatan Media Pembelajaran Biologi 141

8.1 Prinsip-prinsip dasar implementasi pembuatan media pembelajaran biologi 141

8.2 Implementasi pembuatan media pembelajaran sains dan biologi 144

8.2.1 Model siklus Air 144

8.2.2 Model Persilangan Monohibrid pada Marmut 149

8.2.3 Model Proses Masuknya Sperma kedalam Ovum 155

8.2.4 Diorama Gerak Hidrotropisme 162

8.2.5 Model Tahap Perkembangan Embrio Makhluk Hidup 166

8.2.6 Model Daur Hidup Fasciola hepatica 171

8.2.7 Diorama Daur Hidup Ubur-ubur 176

8.2.8 Replika Evolusi Kuda 180

8.2.9 Model Kloning Domba Dolly 185

8.2.10 Diorama Siklus Menstruasi 192

8.2.11 Model Gametogenesis pada Manusia 199

2.8.12 Model Perbandingan Hemofilia dan Pembekuan Darah Normal 211

2.8.13 Model Modifikasi Pembentukaan Keringat dan Bagiannya 218

2.8.14 Model Indra Telinga Manusia 223

2.8.15 Model Pendeteksi Denyut Jantung 228

2.8.16 Model Sirkulasi Katak 232

2.8.17 Model Manipulasi Pemasangan Alat Kontrasepsi IUD dan Cara Kerja IUD 235

2.8.18 Model Gerak Refleks 242

2.8.19 Model Modifikasi Auksaometer Sederhana 246

2.8.20 Miniatur Gerak Fototropisme 251

DAFTAR PUSTAKA 254

Biodata Penulis 257

By aimarusciencemania

kajian pustaka pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan media diorama

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)

Ibrahim dkk (2000 dalam Trianto 2009: 98) menjelaskan, pembelajaran berbasis masalah memiliki lima tahapan utama, yang dimulai dengan tahap mengorientasikan siswa pada masalah dan diakhiri dengan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah kompleks. Sehingga memperbanyak peluang untuk berbagi inquiri dan dialog untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.

Pembelajaran masalah memiliki tujuan (Trianto 2009: 95) yaitu:

  1. Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah;

  2. Belajar peranan orang dewasa yang autentik;

  3. Menjadi pembelajaran yang mandiri.

Ibrahim (2003: 15 dalam Trianto 2009: 97) menyatakan, di dalam kelas PBI, peran guru berbeda dengan kelas tradisional. Peran guru di dalam kelas PBI antara lain sebagai berikut:

  1. Mengajukan masalah atau mengorientasikan siswa kepada masalah autentik, yaitu masalah kehidupan nyata sehari-hari;

  2. Memfasilitasi/ membimbing penyelidikan misalnya melakukan pengamatan atau melakukan eksperimen/ percobaan;

  3. Memfasilitasi dialog siswa;

  4. Mendukung belajar siswa.

Komarayanti, (2007: 47) menjelaskan, sintaks pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) adalah sebagai berikut:

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa agar terlibat dalam aktvitas pemecahan masalah yang dipilih;

  2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut;

  3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.;

  4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya;

  5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Berikut adalah kelebihan Problem Based Introduction :

  1. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami materi pelajaran;

  2. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi siswa;

  3. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa;

  4. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidpan nyata;

  5. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan;

  6. Melalui pemecahan masalah dianggap menyenangkan dan disukai siswa;

  7. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru;

  8. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.

Berikut adalah kelemahan Problem Based Introduction

  1. Saat siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan maka mereka akan merasa enggan mencoba;

  2. Membutuhkan waktu untuk persiapan;

  3. Perlu pemahaman siswa untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari;

  4. Perlu ditunjang buku yang relevan untuk dijadikan pemahaman dalam kegiatan pembelajaran (Akhyar 2012: 14 dalam Priyono 2012: 16).

2.1.2 Pendekatan Inquiry Terbimbing

Peran aktif siswa menjadi ciri khas dalam pembelajaran inkuiri. Siswa berperan sebagai subject center dalam berbagai kegiatan pembelajaran tanpa terlepas dari bimbingan guru. National Science Foundation (NSF), (2004 dalam Tursinawati, 2012) menyatakan bahwa inquiry adalah pusat pembelajaran sains. Ketika terlibat dalam penyelidikan, siswa mendeskripsikan objek dan peristiwa, mengajukan pertanyaan, membangun penjelasan, mereka mencoba memberi penjelasan terhadap pengetahuan ilmiah saat ini, dan mengkomunikasikan ide-ide mereka kepada orang lain. Mereka mengidentifikasi asumsi mereka, menggunakan cara berpikir kritis dan logis, dan mempertimbangkan alternatif penjelasan. Melalui inkuiri terbimbing guru memberi bimbingan dan arahan kepada siswa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan penyelidikan, misalnya guru harus memberi permasalahan dan membimbing siswa untuk menemukan pertanyaan yang akan diteliti, membimbing dalam pelaksanaan penyelidikan, atau bahkan juga membimbing dalam pencatatan hasil.

Inquiry terbimbing merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola pembelajaran kelas. Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain. Pembelajaran inkuiri terbimbing membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab individu dan tanggung jawab dalam kelompok atau pasangannya (Ambarsari, 2012 : 4) Secara umum proses inquiry menurut Sanjaya (2008: 119 dalam Ambarsari, 2012 : 4) dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: 1. Merumuskan masalah; 2. Mengajukan hipotesis; 3. Mengumpulkan data; 4. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan; dan 5. Membuat kesimpulan.

Tabel 2.1 Tahapan Pendektan Inquiry (Trianto, 2009: 172)

Fase

Perilaku Guru

  1. Menyajikan pertanyaan atau masalah
Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa dalam kelompok.

2.    Membuat hipotesis

Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan  dengan permasalahan  dan memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.

3.    Merancang percobaan

Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan.Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan

4.    Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi

Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan

5.    Megumpulkan dan menganilisis data

Guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.

6.    Membuat kesimpulan

Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.

Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam inkuiri terbimbing yaitu : (1) siswa mengembangkan kemampuan berpikir melalaui observasi, (2) sasarannya adalah mempelajari proses mengamati kejadian atau obyek kemudian menyusun kesimpulan yang sesuai, (3) guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran dan berperan sebagai pemimpin kelas, (4) tiap-tiap siswa berusaha untuk membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalam kelas, (5) kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran, (6) sejumlah kesimpulan tertentu akan diperoleh dari siswa, dan (7) guru memotivasi semua siswa untuk mengkomunikasikan hasil pengamatannya (Orlic dalam Jasri, 2007).

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan pendekatan inquiry terbimbing. Sanjaya (2008: 206 dalam Rati: 2012: 24).

  1. Menekankan pada perkembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga strategi ini lebih dianggap bermakna;

  2. Dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar bermakna;

  3. Dianggap sesuai dengan perkembangan psikologis belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman;

  4. Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, artinya siswa yang memiliki kemampuan bagus tidak akan terhambat dengan siswa yang memiliki kemampuan lemah dalam belajar.

Disamping memiliki keunggulan strategi ini, juga memiliki kelemahan diantaranya:

  1. Strategi belajar inquiry sulit digunakan dalam hal mengontrol keberhasilan siswa;

  2. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar;

  3. Kadang- kadang dalam pengimplementasiannya memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sulit menyesuaikan dengan waktu yang disesuaikan;

  4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pembelajaran, maka strategi ini sulit dalam pengimplementasiannya oleh setiap guru.

Pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inquiry (Trianto,2009: 91). Adapun kombinasi PBI dan Inquiry terbimbing (IT) sebagai berikut:

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran , menjelaskan logistik yang dibutuhkan dengan menyajikan pertanyaan dan masalah agar siswa termotivasi dalam pemecahan masalah yang dipilih (PBI dan IT);

  2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut ( PBI);

  3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimmen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan menganalisis data yang diperoleh (PBI dan IT);

  4. Guru membantu siswa dalam menyusun kesimpulan dan merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya (PBI dan IT );

  5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan (PBI).

2.1.3 Media Pembelajaran

Depdiknas (2003 dalam Muhson 2010: 3) istilah media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Proses belajar mengajar pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan bagian dari sumber belajar yang merupakan kombinasi antara perangkat lunak (bahan belajar) dan perangkat keras (alat belajar). Sementara menurut Djamarah (2010: 123) media pembelajaran sebagai sumber belajar diakui sebagai alat bantu auditif, visual, dan audiovisual.

Critricus, (1996 dalam Daryanto, 2010: 4-6) menyatakan salah satu komponen komunikasi , yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. Secara umum kegunaan media adalah sebagai berikut :

  1. Memperjelas peran agar tidak terlalu verbalistis;

  2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra;

  3. Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar;

  4. Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori, dan kinestiknya;

  5. Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama;

  6. Proses pembelajaran mengandung lima komponen pembelajaran yaitu: guru (komunikator), bahan pelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan) dan tujuan pembelajaran.

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, kita dapat mempergunakan bermacam-macam bentuk media pembelajaran, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Macam-macam media pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar, dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Bahan publikasi : Koran, majalah, buku;

  2. Bahan bergambar : gambar, bagan (chart), peta, poster, foto, lukisan, grafik, diagram;

  3. Bahan pameran : bulletin board, papan flannel, papan magnet, papan demontrasi;

  4. Bahan proyeksi : film, film strip, slide, transparansi, OHP;

  5. Bahan rekaman audio : tape cassette, piringan hitam, kaset video;

  6. Bahan produksi : kamera, tape recorder;

  7. Bahan siaran : program radio, program televisi;

  8. Bahan pandang dengar (audio visual) : TV, film suara, slide suara;

  9. Bahan model/benda tiruan : model irisan penampang batang, model torso tubuh manusia, dan diorama. (Rustaman, 2003: 143 ).

2.1.4 Media Diorama Siklus Menstruasi

Diorama adalah sebuah pemandangan tiga dimensi mini yang bertujuan untuk menggambarkan pemandangan sebenarnya. Diorama, biasanya terdiri atas bentuk-bentuk sosok atau objek-objek ditempatkan di pentas yang berlatar belakang lukisan yang disesuaikan dengan penyajinya. Diorama sebagai media pembelajaran terutama berguna untuk mata pelajaran ilmu bumi, ilmu hayat, sejarah, dan bahkan dapat diusahakan untuk berbagai macam mata pelajaran. Diorama merupakan suatu skene dalam tiga dimensi untuk memperagakan suatu keadaan dalam ukuran kecil. Dalam skene itu, terdapat benda-benda tiga dimensi dalam ukuran kecil pula. Benda-benda kecil itu berupa orang-orangan, pohon-pohonan, rumah-rumahan, dan lain-lain sebagainya, sehingga tampaknya seperti dunia sebenarnya dalam ukuran mini (Ainurrofiq, 2012).

Hamalik (1986: 158) menjelaskan, diorama ialah suatu penyajian tiga dimensi yang menggabungkan bermacam-macam bahan, baik simbolis maupun yang riil seperti gambar- gambar specimen; dan pada umumnya menggunakan cahaya pantulan sehingga menunjukkan pengaruh pemandangan yang naturalis. Selanjutnya Suleiman (1985: 145) menjelaskan bahwa diorama adalah suatu skene dalam tiga dimensi untuk memperagakan suatu keadaan dalam ukuran kecil. Dalam skene itu terdapat benda-benda tiga dimensi dalam ukuran kecil pula.

Diorama diberi pengertian sebagai sajian pemandangan dalam ukuran kecil yang dilengkapi dengan patung-patung dan perincian seperti aslinya serta dipadukan dengan lingkungan alam asli dan latar yang berwarna (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998 dalam Yunus, 2012: 8).

Konsep pembuatan diorama tidak sukar, karena bahan-bahan yang diperlukan tidak mahal, ukuran diorama tidak terbatas, dan diorama tidak boleh dipadatkan dengan segala macam benda karena dapat membingungkan. (Hamzah, 1985:145-146). Pembuatan diorama juga tidak terpusat pada peristiwa sejarah dan miniatur bagunan pada umumnya. Namun, proses- proses biologis yang terjadi dalam manusia juga dapat dijadikan diorama. Seperti proses fisiologis siklus menstruasi yang berhubungan dengan konsep reproduksi manusia.

Media pembelajaran yang di sajikan dalam bentuk diorama dengan topik siklus menstruasi juga memerlukan kaidah dalam pembuatan media diorama. Dalam pembuatan media diorama siklus menstruasi perlu memperhatikan aspek tiga dimensi yang berlatarkan pemandangan kondisi endometrium dibagian sisi kiri, latar pemandangan yang melukiskan kondisi hormon yang berperan pada folikel pada sisi depan, dan aspek pengadaan pelaku dihadirkan dengan kondisi perubahan folikel pada setiap fase menstruasi. Kondisi ini juga didukung dengan pemberian lampu led yang terletak pada sisi kiri dan sisi depan yang berfungsi sebagai penanda siklus berjalan.

Gambar 2.1 Desain media pembelajaran dirama siklus menstruasi

(sumber: dokumentasi pribadi)

Media pembelajaran diorama dengan topik siklus menstruasi pada manusia adalah bentuk media 3 dimensi yang melukiskan peristiwa fisiologis yang terjadi dalam siklus menstruasi. Adapun proses peluruhan dilengkapi dengan media bentuk 2 dimensi siklus menstruasi.

Gambar 2.2 Media bentuk 2 dimensi proses peluruhan pada menstruasi

(sumber: dokumentasi pribadi)

2.1.5 Keterampilan Proses Sains (KPS)

Keterampilan proses sains terintegrasi sudah merupakan aplikasi keterampilan proses sains yang digunakan untuk pemecahan masalah (Rezba et. al. 1995: vii). Keterampilan proses sains dasar dapat dipecah menjadi dua, yakni: (a) keterampilan dasar (basic skill) dan (b) keterampilan mengolah/memproses (process skill). Keterampilan proses sains terintegrasi berupa keterampilan melakukan investigasi (investigative skill) sebagai keterampilan proses sains lanjut (Bryce et. al., 1990: 1-4). Collette maupun Gega (Djohar, 2000: 10) membagi keterampilan melakukan proses sains menjadi dua macam, yakni keterampilan dasar dan keterampilan terintegrasi. Keterampilan dasar meliputi kegiatan observasi, klasifikasi, pengukuran, komunikasi, inferensi, dan prediksi; sedangkan keterampilan terpadu meliputi kegiatan merumuskan hipotesis, mengontrol variabel, merumuskan masalah, dan menginterpretasi data. (Subali 2010). Keterampilan Proses Ilmiah. Tema persoalan tersebut dipelajari memalui ketrampilan proses ilmiah (Scientific process skill). Biologi sebagai proses sains diperoleh melalui kegiatan ilmiah yang disebut metode ilmiah sebagaimana tercantum pada tabel 2.2

Tabel 2.2 Keterampilan Proses Ilmiah

Keterampilan Proses Ilmiah

  1. Observasi

  2. Klasifikasi, prediksi, inferensi

  3. Membuat hipotesis

  4. Mendesain dan melakukan percobaan

  5. Menggunakan alat ukur

  6. Identifikasi variabel

  1. Mengontrol variabel

  2. Mengumpulkan data

  3. Mengoranisasi data (tabel,grafik,dll)
  4. Memaknakan data, tabel , grafik
  5. Menyusun kesimpulan
  6. Mengkomunikasikan hasil/ide/secara tertulis maupun lisan

Mata pelajaran biologi harus mengembangkan keterampilan proses ilmiah tersebut diatas. Berbagai keterampilan proses mengembangkan kecakapan hidup (life skills), bahkan kecakapan yang dipakai seumur hidup (longlife skills). Misalnya kecakapan observasi, kecakapan memecahkan masalah secara ilmiah, kecakapan berpikir logis, deduktif, induktif, dan sebagainya. Oleh karena itu sistem penilaian biologi menurut Bryce, et al (1990) juga harus mengukur kemampuan siswa dalam melaksanakan ketrampilan proses ilmiah dan menggunakan metode ilmiah (Komarayanti, 2007:27).

Tujuan melatih keterampilan proses sains diharapkan (Muhammad, 2003: 40 dalam Trianto, 2010: 150) adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, karena dalam melatihkan ini siswa dipicu untuk berpartisipasi secara aktif dan efisien dalam belajar;

  2. Menuntaskan hasil belajar siswa secara serentak, baik keterampilan produk, proses, maupun keterampilan kinerjanya;

  3. Menemukan dan membangun sendiri konsepsi serta dapat mendefinisikan secara benar untuk mencegah terjadinya miskonsepsi;

  4. Untuk lebih memperdalam konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajarinya karena dengan latihan keterampilan proses, siswa sendiri yang berusaha mencari dan menemukan konsep tersebut;

  5. Mengembangkan pengetahuan teori atau konsep dengan kenyataan dalam kehidupan bermayarakat;

  6. Sebagai persiapan dan latihan dalam menghadapi kenyataan hidup di dalam masyarakat, karena siswa telah dilatih keterampilan dan berpikir logis dalam memecahkan masalah dalam kehidupan.

2.1.6 Metode Pembelajaran Konvensional

Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, konvensional berarti konvesi, kesepakatan, serta tradisional. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode konvensional yaitu sebagai metode yang umum digunakan, misalnya ceramah dan tanya jawab. Metode ceramah merupakan metode yang paling banyak dikenal dan dipakai oleh guru dalam proses belajar mengajar. Karena dalam pelaksanaanya sangat mudah, tidak membutuhkan banyak tenaga dan biaya (Soetomo, 1993:146). Menurut Suharto (1997:24) metode ini tidak berdaya hasil untuk meningkatkan kemampuan berpikir (promotion of thought) dan kurang memadai untuk pencapaian tujuan yang bersifat pengubahan sikap siswa (changing student attitudies), serta komunikasinya hanya satu arah. Kelebihan ini adalah guru mudah menguasai kelas, mudah mempersiapkan dan melaksanakannya. Kelemahan dari metode ini biasanya sering membosankan dan siswa menjadi pasif karena hanya mendengarkan dan mencatat informasi dari guru (Soetomo, 1993:145).

Model pembelajaran konvensional menekankan guru sebagai pusat informasi. Pola ini mengakibatkan tahapan-tahapn yang terdapat dalam pembelajaran konvensional berlawanan dengan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI). Model pembelajaran konvensional cenderung membuat siswa pasif dan guru dituntut untuk selalu aktif dalam pembelajaran. Sehingga dapat terlihat jelas bahwa dalam pembelajaran model konvensional guru berusaha memindahkan pengetahuan yang ia miliki kepada peserta didik.

Pembelajaran yang sifatnya konvensional meliputi tahapan-tahapan pembukaan, penyajian, dan penutup, dimana tahapan-tahapan tersebut guru cenderung menggunakan metode ceramah disertai dengan sedikit tanya jawab. Kebanyakan kegiatan dalam kelas hanya mengerjakan latihan yang disebut buku kerja atau lembar kerja siswa (LKS) dengan mengikuti semua petunjuk yang ada, dan mencocokkan kebenaran informasi dengan apa yang tercantum dalam buku panduan guru atau apa yang dikatakan guru (Abraham dalam Renher dalam Abbas, 2004:836).

2.1.7 Hasil Belajar Biologi

2.1.7.1 Hasil Belajar Kognitif

Sudjana (1995:22) menyatakan bahwa, hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar adalah pemahaman dan penjelasan hubungan antara bagian-bagian informasi yang telah diperoleh sehingga orang tersebut dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang dipelajari (Hodoyo, 1990:134).

Tujuan pembelajaran di sekolah pada umumnya adalah peningkatan kemampuan siswa dalam aspek kognitif. Aspek kognitif dibedakan atas 6 tingkatan menurut revisi taksonomi Bloom, yang terdiri dari kategori hubungan dan dimensi proses kognitif (Kuswana, 2012: 117-118). Adapun keenam kategori tersebut meliputi:

    1. mengingat (remember) : mendapatkan pengetahuan yang relevan dari memeori yang panjang, dengan kata operasional mengenal dan mengingat;

    2. memahami (understand) : membengun pengertian dari pesan pembelajaran, di antaranya oral, tulisanm komunikasi grafik. Adapun kata operasional yang biasa digunakan: mengartikan, memberikan contoh, mengklasifikasi, menyimpulkan, menduga, membandingkan, dan menjelaskan;

    3. menerapkan (apply) : menggunakan prosedur dalam situasi yang diberikan. Adapun kata operasional yang biasa digunakan: menjalankan dan melaksanakan;

    4. menganalisis (analyze) : memecah materi menjadi bagian-bagian pokok dan mendeskripsikan bagaimana bagian- bagian tersebut dihubungkan satu sama lain maupun menjadi sebuah struktur keseluruhan atas tujuan. Adapun kata operasional yang biasa digunakan: membedakan, mengorganisasi, dan mendekonstruksi;

    5. mengevaluasi (evaluate) : membuat penilaian yang didasarkan pada kriteria standar. Adapun kata operasional yang biasa digunakan: memeriksa dan menilai;

    6. berkreasi (create) : menempatkan bagia-bagian secara bersama-sama ke dalam suatu ide, semuanya saling berhubungan untuk membuat hasil yang baik. Adapun kata operasional yang biasa digunakan: menghasilkan hipotesis, merencanakan, dan membangun.

Penilaian kognitif siswa dengan menggunakan kombinasi Problem Based Instruction (PBI) dan inquiry terbimbing terdiri dari tingkat kognitif ingatan (C1) sampai tingkat kognitif kreasi (C6) dengan perbandingan komposisi C1= 7,5 % ; C2= 15 %; C3= 12,5 % ; C4= 20% C5=20 % dan C6= 25 % dari total soal 40 item yang memuat pokok bahasan sistem reproduksi manusia. Perbandingan komposisi tersebut didasarkan pada kombinasi strategi pembelajaran yang digunakan. Item soal C1 dengan komposisi 7,5 % berfungsi sebagai pengukur tingkat ingatan siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia, C2 berfungsi sebagai pengukur pemahaman siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia, C3 berfungsi sebagai pengukur penerapan kognitif siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia, C4 berfungsi sebagai analisis dalam kognitif siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia, C5 berfungsi sebagai penilaian kognitif siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia, dan C6 berfungsi sebagai kreasi atau penciptaan ide dari kognitif siswa tentang pokok bahasan sistem reproduksi manusia. Adapun indikator dalam penyusunan item soal pokok bahasan sistem reproduksi manusia sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi permasalahan reproduksi manusia yang berhubungan dengan struktur, fungsi, proses pada sistem reproduksi manusia (pria dan wanita), proses fertilisasi dan kehamilan, alat kontrasepsi dan proses pencegahan kehamilan pada keluarga berencana, dan kelainan yang terjadi pada sistem reproduksi manusia (C1);

  2. Mengkategorikan permasalahan reproduksi manusia terkait struktur, fungsi, proses pada sistem reproduksi manusia (pria dan wanita), proses fertilisasi dan kehamilan, alat kontrasepsi dan proses pencegahan kehamilan pada keluarga berencana, dan kelainan yang terjadi pada sistem reproduksi manusia (C2);

  3. Menggunakan hasil informasi yang diperoleh dalam diskusi kelompok untuk diterapkan dalam memecahkan permasalahan reproduksi manusia (C3);

  4. Membedakan informasi yang diperoleh untuk dikategorikan struktur, fungsi, proses pada sistem reproduksi manusia (pria dan wanita), proses fertilisasi dan kehamilan, alat kontrasepsi dan proses pencegahan kehamilan pada keluarga berencana, dan kelainan yang terjadi pada sistem reproduksi manusia (C4);

  5. Menghubungkan konsep reproduksi manusia terkait dengan struktur, fungsi, proses pada sistem reproduksi manusia (pria dan wanita), proses fertilisasi dan kehamilan, alat kontrasepsi dan proses pencegahan kehamilan pada keluarga berencana, dan kelainan yang terjadi pada sistem reproduksi manusia (C4);

  6. Mendeteksi kemungkinan yang terjadi apabila terjadi kelainan pada reproduksi manusia (C5);

  7. Merencanakan hipotesis penyebab permasalahan tentang reproduksi manusia (C6).

Penyusunan item soal sebagai alat evaluasi yang mengukur kognitif siswa mulai C1 sampai C6 dipertimbangkan sesuai dengan starategi pembelajaran yang digunakan. C1, C2, dan C3 berjumlah 35%, hal ini bertujuan untuk membantu siswa dalam mencapai ketuntasan minimal karena item soal tersebut tergolong kemampuan berpikir tingkat rendah. Sedangkan C4 sampai C6 tergolong kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam PBI dan inquiry terbimbing siswa lebih ditekankan untuk memecahkan dan menemukan solusi pemecahan masalah melalui perumusan masalah sampai mengkomunikasikan hasil. Dalam hal ini C4 sampai C6 mulai meningkat komposisi jumlahnya dalam item soal yang berfungsi sebagai alat evaluasi berpikir tingkat tinggi. Pada pemecahan masalah melalui inquiry yang dibimbing oleh guru, siswa diharapkan dapat menyusun hipotesis yang sesuai dengan rumusan masalah dan dibuktikan melalui tingkat kognitif analisis dan menilai informasi yang sesuai dengan masalah yang dikaji.

2.1.7.2 Hasil Belajar Afektif

Ranah afektif menurut Krathwohl (1964) meliputi jenjang sebagai berikut.

1. Kemampuan menerima (receiving)

  1. Kesadaran (awareness), misal membedakan suara, memilah kejadian, memilih rencana, menunjukkan kesadaran tentang pentingnya belajar, menunjukkan sensivitas terhadap problem-problem sosial.

  2. Kemauan untuk menerima (willingness to receive), misal memilih contoh, mengkombinasi bentuk, mengumpulkan model, mendengarkan dengan perhatian penuh, menerima perbedaan suku serta budaya, melibatkan diri secara penuh terhadap aktivitas kelas.

  3. Perhatian yang terkontrol atau terseleksi (controlled or selected attention), misal memilih alternatif, mengontrol jawaban.

2. Kemampuan merespon (responding)

  1. Persetujuan pada dirinya untuk sepenuhnya merespon (acquiescence inresponding) dan kemauan untuk merespon (willingness to respond), misalnya mengikuti/menyetujui aturan yang berlaku, menghargai pendapat atau kebijaksanaan, menyelesaikan tugas rumah ataupun tugas laboratorium, ikut dalam suatu kegiatan secara sukarela (sebagai volunteer), aktif dalam diskusi kelas.

  2. Kepuasan dalam respon (satisfaction in response), misai menyambut dengan gembira keputusan yang diambil bersama, dengan tulus memuji karya/penampilan orang lain

3. Kemampuan menilai atau memaknakan (valuing)

  1. Kernarnpuan menerima secara baik suatu nilai (acceptance of a value), misalnya meningkatkan kecakapannya dalam hubungan personal ataupun dalam klubnya, mengkhususkan diri menetapkan pilihan pada suatu hal, menghargai peran serta ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, menghargai literature yang baik.

  2. Menentukan pilihan terhadap suatu nilai (preference for a value), missalnya memberikan bantuan terhadap suatu proyek/tencana, medukung argumen orang lain.

  3. Tanggung jawab, misal mendebat hal-hal yang tak relevan, mengajukan argumentasi atas jawaban yang diberikan, memprotes hal-hal yang tidak benar, menunjukkan tanggung jawabnya terhadap pembaharuan sosial/masyarakal, menunjukkan sikap mau memecahkan masalah, menunjukkan perhatian yang besar terhadap kesejahteraan sesamanya,

4. Kemampuan mengorganisasi (organizing)

  1. Konsepsualisasi nilai (conceptualization of a value), misal membandingkan dengan suatu standar, mendiskusikan parameter-parameter, menghargai kebutuhan yang seimbang antara kebebasan dan tanggung jawab, menghargai peran perencanaan yang sistematik dalam pemecahan masalah, mengakui kelebihan dan kelemahan diri.

  2. Organisasi sistem nilai (organization of a value system), misalnya menyusun kriteria, mengorganisasi sistem, menyusun rencana sesuai dengan minat, tanggung jawab, serta keyakinannya.

5. Kemampuan yang dikarakterisasi oleh suatu nilai atau gabungan nilai (value

complex) yang akan terbentuk suatu life stile. Generalized set, misalnya menyusun rencana, mengubah perilaku, melengkapi cara, memilih prosedur. Karakterisasi (characterizing), misalnya dinilai baik oleh teman-teman, oleh guru ataupun oleh anggota kelompoknya, menghindari konflik, menentang tindakan yang boros, mengatasi akibat yang tak dikehendaki, menunjukkan kepercayaandiri dalam kerja individual, menggunakan pendekatan objektif dalam memecahkan masalah, menunjukkan disiplin dan produktivitas yang tinggi, mampu bekerjasama dalam kerja kelompok, memelihara cara hidup yang sehat, menunjukkan kesadaran yang tinggi (Subali 2010:29-36).

Pengembangan penilaian aspek afektif disisipin nilai pendidikan karakter. Pendidikan karakter itu sendiri adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam pendidikan karakter disekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen pendirian itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian. Penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kurikuler, pemberdayaan sarana dan prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/ lingkungan (Rohman, 2012: 65-66). Selanjutnya langkah- langkah pembentukan karakter menurut Najib Sulhan (2012: 20 dalam Amri, 2012:43-44) sebagai berikut:

  1. Memasukkan konsep karakter pada setiap pembelajaran dengan cara:

  1. Memasukkan nilai kebaikan pada anak (knowing the good). Menanamkan konsep diri pada anak setiap memasuki pelajaran.

  2. Menggunakan cara yang membuat anak memiliki alasan atau keinginan untuk berbuat baik. (desiring the good)

  3. Memberikan beberapa contoh kepada anak mengenai karakter yang sedang dibangun.

  4. Memberikan sikap mencintai perbuatan baik (loving the good).

  5. Melaksanakan perbuatan baik (acting the good).

  1. Membuat slogan yang mampu menumbuhkan kebiasaan baik dalam segala tingkah laku masyarakat sekolah.

  2. Pemantauan secara kontinyu merupakan wujud dari pelaksanaan pembangunan karakter.

  3. Penilaian orang tua memiliki peranan yang besar dalam membangun karakter anak.

Pendidikan karakter di atas dapat disimpulkan untuk diterapkan ke semua mata pelajaran termasuk pada pelajaran biologi. Melalui keterampilan proses sains dalam pelajaran biologi dapat membentuk karakter siswa seperti jujur, teliti, peduli lingkungan dan kerja keras dalam berproses di pelajaran biologi melalui keterampilan proses sains.

Indikator penilaian afektif siswa yang berkaitan dengan penggunaan strategi pembelajaran PBI dan inquiry terbimbing dengan pokok bahasan sistem reproduksi manusia, sebagai berikut:

  1. Mengikuti intruksi dari guru untuk langkah identifikasi sampai mengkomunikasikan permasalahan reproduksi manusia dengan penuh tanggung jawab, kerja keras, dan disiplin (A1)

  2. Mendengarkan pendapat teman saat kegiatan diskusi kelompok dengan rasa ingin tahu, toleransi dan komunikatif (A1)

  3. Mempertahankan pendapat terkait reproduksi manusia dari kelompoknya saat disanggah oleh anggota kelompok lain dengan rasa tanggung jawab dan toleransi (A2)

  4. Mengatakan pendapat saat kegatan diskusi untuk memecahkan permasalahan reproduksi manusia di kelompok belajar dengan rasa ingin percaya diri, tahu, komunikatif dan toleransi (A3)

  5. Mengusulkan saran alternatif pemecahan masalah reproduksi manusia saat diskusi kelompok dengan mandiri, penuh tanggung jawab dan komunikatif

  6. Menghubungkan teori yang terkait dengan konsep yang terdapat pada reproduksi yang dialami siswa dengan percaya diri, teliti dan komunikatif (A4)

  7. Menyatakan pendapat dengan kalimatnya sendiri saat diskusi kelompok dengan mandiri, percaya diri, rasa tanggung jawab dan komunikatif (A5).

2.1.7.3 Hasil Belajar Psikomotorik

Pembagian ranah psikomotor menurut Simpson mencakup jenjang sebagai berikut :

  1. Persepsi, yakni kemampuan menangkap stimulus, menyeleksi isyarat, dan kemampuan mentranslasinya ke dalam aksi yang ditampiikan, misal dapat menunjukkan adanya gangguan mesin berdasarkan suara yang didengarnya, dapat menghubungkan irama musik dengan langkah-langkah gerakan saat menari;

  2. Kesiapan untuk berperan aktif (set) dalam suatu bagian dan kegiatan, baik secara menial, fisik maupun emosional, misal mengetahui urut-urutan langkah suatu kegiatan, mendemonstrasikan cara berposisi yartg benar pada saat akan memulai suatu kegiatan;

  3. Respons terpandu (Guided response), merupakan kemampuan awal dalam belajar suatu keterampilan yang bersifat kompleks, termasuk kemampuan menirukan ataupun kemampuan-mencoba berdasarkan kriteria atau instruksi, misalnya mendemonstrasikan cara memukul bola, mendemonstrasikan cara menggosok gigi geraham, mendeterminasi langkah-langkah pokok dalam rnelakukan peiawatan untuk mebuang karang gigi;

  4. Mekanisme, yaitu rnenampilkan suatu kegiatan yang sifatnya habitual sehingga menghasilkan suatu keterampilan (skills), misal merangkai alat laboratorium, menlgunakan mikroskop sehingga sampai dapat menemukan bayangan benda yang ingin dilihatnya, menggunakan slide projector;

  5. Respons yang benar-benar kompleks (complex overt response), yaitu menunjukkan keterampilan secara utuh, misalnya memperagakan cara menggergaji, memperagakan cara berenang menggunakan suatu gaya atau berganti gaya, memperagakan cara mengemudikan kendaraan, memperagakan cara membersihkan karang gigi, atau mendemontrasikan cara menambal gigi;

  6. Adaptasi, yakni kemampuan mengubah-ubah pola gerakan karena adanya masalah yang dihadapi, misal membelokkan mobil saat menghindari kubangan, mengubah gerakan tangan saat berenang dalam menghadapi arus yang berputar;

  7. Originasi, yaitu berkreasi menirukan suatu gerakan baru yang benar-benar orisinal, misalnya menciptakan tari-tarian atau menciptakan mode baru dalam disain pakaian (Subali, 2010: 37).

Penilaian psikomotor sesuai dengan strategi Problem Based Instruction (PBI) dan pendekatan inquiry terbimbing yaitu dengan menggunakan keterampilan proses sains meliputi observasi, merumuskan hipotesis, mendesain dan melakukan percobaan dengan studi literatur, mengumpulkan data, menganalisis data, menyusun kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil yang diperoleh melalui penggunaan media pembelajaran diorama siklus menstruasi. Adapun rubrik penilaian psikomotor tertera dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lampiran 4.

2.1.8 Metode Penilaian Hasil Belajar Biologi

Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun non tes (Aunurrahman, 2009: 206). Teknik penilaian adalah metode atau cara penilaian yang dapat digunakan pendidik untuk mendapatkan informasi. Teknik penilaian yang memungkinkan dan dapat dengan mudah digunakan oleh pendidik, seperti: (1) tes (tertulis, lisan, perbuatan), (2) observasi atau pengamatan, (3) wawancara (Wahidmurni, 2010: 78).

Thoha (dalam Sutantri, 2010: 32), mengartikan tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah ynag harus dijalankan, yang mendasarkan harus bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah itu, penyelidik mengambil kesimpulan dengan cara membandingkan dengan standar atau test lainnya.

Pengertian diatas dapat diambil intisari dari pengertian tes adalah alat pengukuran berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang ditujukan kepada peserta tes baik kepada seorang anak atau sekelompok anak untuk mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu. Atas dasar respon tersebut ditentukan tinggi rendahnya skor dalam bentuk kuantitatif selanjutnya dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan untuk ditarik kesimpulan yang bersifat kualitatif.

      1. Tingkatan Tes

Thoha (dalam Sutantri, 2012: 33) menjelaskan, kegunaan tes standar adalah:

  1. membandingkan prestasi belajar dengan pembawaan individual atau kelompok,

  2. membandingkan tingkat prestasi siswa dalam keterampilan di berbagai bidang studi untuk individu atau kelompok,

  3. membandingkan prestasi siswa berbagai sekolah atau kelas, dan

  4. mempelajari perkembangan siswa dalam suatu periode atau waktu tertentu.

Segi penyusunan tes dimaksudkan dengan menstandarisasikan tes buatan sendiri, memerlukan perencanaan yang baik, dan dilakukan uji coba di lapangan. Ada beberapa hal yang perlu distandarisasikan yaitu: 1) materi yang akan diujikan, 2) sistem evaluasi yang digunakan, 3) waktu penyelesaian soal tes, dan 4) cara pengolahan hasil, termasuk skoring yang digunakan (Thoha, dalam Sutantri, 2010: 33).

      1. Bentuk Tes

Pada penelitian ini, tes yang digunakan berupa tes tulis. Dimana pada tes tulis soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan memberikan jawaban secara tertulis (Wahidmurni, 2010: 78).

2.1.10.1 Jenis Tes

Tes tulis yang digunakan berupa tes obyektif (pilihan ganda), yaitu tes yang memuat serangkaian informasi yang belum lengkap, dan untuk melengkapinya adalah dengan jalan memilih dari berbagai alternatif pilihan yang sudah disediakan (B. Uno, 2012: 113)

Penggunaan tes obyektif juga terdapat kebaikan dan kelemahannya. Menurut Nurkancana dan Sunartana (1986:28-29) dalam (Wahyudi, 2011: 25), kebaikan dan kelemahan tes ini adalah:

  1. Kebaikan tes obyektif

1) Oleh karena tes obyektif terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan memilih alternatif-alternatif yang telah tersedia atau mengisi dengan beberapa perkataan atau simbol, maka tes ini dapat dijawab dengan cepat.

2) Relabilitas skor yang diberikan terhadap pekerjaan anak-anak dapat dijamin sepenuhnya dan itemnya mengandung satu jawaban yang bisa diterima.

3) Jawaban tes obyektif dapat dikorelasi dengan mudah dan cepat, dengan mempergunakan kunci jawaban.

4) Dapat merangkum keseluruhan bahan, sehingga kesahihan atas dasar kesahihan isi (content validity) lebih dapat dipertanggung jawabkan.

5) Kerahasiaan butir soal relatif lebih terjamin dan beberapa model butir soal bentuk objektif dapat digunakanberulang hanya dengan mengubah sebagian alternatif jawaban (Subali, 2002: 42).

  1. Kelemahan tes obyektif

1) Dalam tes obyektif siswa memberikan jawaban dengan jalan memilih salah satu dari alternatif yang disediakan. Dalam hal ini memungkinkan bahwa siswa yang tidak mengetahui pilihan yang tepat, akan mengadakan pilihan secara menerka-nerka saja.

2) Oleh karena tes obyektif terdiri dari sejumlah item yang cukup banyak, maka dibutuhkan biaya administrasi yang cukup besar untuk mencetak atau menstensil tes tersebut.

3) Sukar dalam menyusunnya, kecuali untuk bentuk melengkapi yang tidak memerlukan alternatif/ pilihan jawaban.

4) Kurang dapat digunakan untuk mengukur proses mental yang tinggi.

2.1.10.2 Tipe Tes

Tipe test yang digunakan dalam penelitian ini adalah multiple choice. Multiple choise test atau tes pilihan ganda merupakan tes obyektif dimana masing-masing item disediakan lebih dari dua kemungkinan jawaban, dan hanya satu dari pilihan-pilihan tersebut yang benar (Thoha, dalam Sutantri, 2010: 35). Selanjutnya menurut Nurkancana dan Sunartana (1986: 32 dalam Wahyudi 2011 : 25) item multiple choice ini dapat berupa suatu pertanyaan yang telah disediakan beberapa buah jawaban dimana hanya satu dari jawaban yang disediakan itu merupakan jawaban yang benar. Pertanyaan atau statemen yang belum lengkap dalam item multiple choice disebut stem, alternatif pilihan yang disediakan disebut option, jawaban atau statement sambungan yang tidak benar disebut pengecoh (distraktor). Untuk soal dalam multiple choice ini menggunakan jenis jawaban benar, yaitu adanya batang tubuh soal yang disertai dengan sejumlah alternatif jawaban yang salah satu dari alternatif tersebut merupakan jawaban yang benar. Selanjutnya menurut Sukardi (2008: 125) item pilihan ganda memiliki semua persyaratan sebagai tes yang baik, yakni dilihat dari segi objektivitas, reliabilitas, dan daya pembeda antara siswa yang berhasil dengan siswa yang gagal atau bodoh.

Thoha (dalam Sutantri, 2010: 36-37) menyatakan bahwa, petunjuk umum untuk menyusun tes yang berbentuk multiple choice ini adalah sebagai berikut:

      1. Hendaknya antara pernyataan dalam soal dengan alternatif jawaban terdapat kesesuaian.

      2. Kalimat pada tiap-tiap butir soal hendaknya dapat disusun dengan singkat dan jelas.

      3. Sebaiknya tidak menggunakan bentuk kalimat negatif, dan jika terpaksa digunakan harap diberi tanda khusus, misalnya dengan garis bawah atau cetak miring.

      4. Pernyataan pada setiap butir hendaknya tidak saling tergantung antara item yang satu dengan lainnya, melainkan masing-masing berdiri sendiri.

      5. Gunakan perintah “manakah alternatif jawaban yang paling baik” atau ”pilihlah jawaban yang lebih baik dari yang lain”, apabila terdapat lebih satu jawaban yang benar.

      6. Jangan sekali-kali membuang kata depan dari suatu pernyataan, sehingga menyulitkan pemahaman terhadap isi soal

      7. Soal hendaknya disusun menggunakan bahasa yang mudah difahami.

      8. Setiap butir pertanyaan hendaknya hanya mengandung satu maslah, meskipun masalah itu agak komplek.

      9. Jika perlu urutan jawaban yang benar dalam pertanyaan dapat disusun berdasarkan atas pola susunan alfabet, atau tahun dan tanggal kelahiran, atau tanggal dan tahun pelaksanaan ujian.

      10. Kunci jawaban dan distraktornya harus memiliki kesesuaian dengan pernyataan yang disusun.

      11. Alternatif jawaban hendaknya disusun dalam kalimat yang panjang pendeknya relatif sama, sehingga tidak menimbulkan dugaan bahwa kalimat yang panjang adalah jawaban yang benar.

      12. Alternatif jawaban yang ditawarkan hendaknya bersifat homogen, terutama dalam isi dan bentuknya, maupun struktur kalimatnya.

      13. Hindarkan pengulangan kalimat antara yang terdapat dalam pernyataan dengan yang ada pada alternatif jawaban.

      14. Jangan menggunakan alternatif jawaban yang tumpang tindih, maupun menggunakan kata-kata sinonim.

      15. Jangan menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepastian seperti, “selalu”, “kadang-kadang”, dan seterusnya.

      16. Dalam menyusun pernyataan-pernyataan hendaknya dihindari penyusunan yang persis sesuai dengan buku teks.

      17. Hendaknya dapat dihindari penggunaan perintah yang berakhir dengan kalimat, jika semuanya benar, …; atau jika semuanya salah …

      18. Jika alternatif jawaban itu berupa angka, maka susunlah berdasarkan urutan terbesar kepada yang terkecil atau sebaliknya.

      1. Kedudukan Konsep Reproduksi Manusia di dalam Kurikulum Berkarakter Bangsa

Di dalam Kurikulum Berkarakter Bangsa konsep Reproduksi Manusia ini merupakan materi pelajaran Biologi untuk SMA kelas XI IPA semester 2 dengan standar komptensi dan kompetensi dasar adalah sebagai berikut :

Standar Kompetensi

:

3. Menjelaskan Struktur Dan Fungsi Organ Manusia Dan Hewan Tertentu , Kelainan/Penyakit Yang Mungkin Terjadi Serta Implikasinya Pada Salingtemas

Kompetensi Dasar

:

3.5 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, kehamilan, dan pemberian ASI serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem reproduksi manusia

Indikator

:

  1. Mengidentifikasi struktur, fungsi, dan proses pada sistem reproduksi manusia (pria dan wanita)
  2. Mendeskripsikan proses fertilisasi dan kehamilan
  3. Menghubungkan alat kontrasepsi dan proses pencegahan kehamilan pada keluarga berencana
  4. Mengidentifikasi kelainan yang terjadi pada sistem reproduksi manusia

Gambar 2.3 Peta Konsep Sistem Reproduksi Manusia

    1. Hipotesis

Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut “Ada pengaruh Problem Based Introduction dan pendekatan inquiry dengan media diorama terhadap Keterampilan Proses Sains dan hasil belajar Biologi di SMA.

By aimarusciencemania

belajar membuat sinopsis: sinopsis aqsho obat tolak galau

SINOPSIS

Cinta AqSho (Al Qur’an-Sholat) Obat Tolak Galau

Cinderamata untuk Penyemangat Para Pejuang Cinta

Cinta Aq Sho (Al Qur’an -Sholat) adalah obat tolak galau yang memuat kisah tentang perjuangan Najwa Salsabilah gadis muda yang sering dilanda galau karena kegagalan demi kegagalan kisah cinta yang ia alami. Namun dengan tetap berpegangan teguh pada ritual membaca Alqur’an dan mendirikan sholat selain sholat wajib….juga sholat sunnah qiyamatul lail dan istikhoroh untuk bermunajat agar mendapat petunjuk dalam melangkahkan kakinya dan Alhamdulillah kedua ritual itu dapat menjadi obat tolak galau bagi dia. Sehingga ia tidak terjerumus dalam lembah nista naudzubillah summa naudzubillah…..Dengan yakin akan firman Allah…..dalam surat At-Taubah “jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita” dan berusaha Najwa gadis muda ini selalu berserah diri agar memperoleh cinta yang dapat membimbingnya menuju Ridho-Nya.

Setiap insan pasti pernah merasakan yang namanya galau namun jika tetap berkutak pada suasana hati yang galau itu akankah hidup kita lebih ceria dan bermakna? Jawabannya tidak. Najwa memiliki segelintir kisah galau dalam memperjuangkan cintanya. Berkali-kali ia sering gagal menjalin hubungan dengan laki-laki lawan jenisnya. Nico adalah sosok laki-laki yang memberikan warna dikanvas kehidupan Najwa. Kenapa begitu? Karena si Nico berhasil menaklukan hati Najwa semasa SMA. Namun dia tidak berstatus pacaran dengan Najwa karena Najwa belum menerima pernyataan cintanya meskipun si Nico telah menyatakan berkali-kali. Pengumuman kelulusan SMA merupakan moment perpisahan bagi keduanya kisah cinta monyet semu Najwa dan Nico tidak terealisasi karena mereka tidak kuliah di kota yang sama. Selama kuliah Najwa mengenang kisah cinta semunya berharap dapat terealisasi hingga si Nico lulus jadi dokter dan Najwa jadi seorang guru cinta mereka tidak bersatu. Mungkin kata yang tepat” belum jodoh” untuk kisah mereka. Prinsip Najwa “ life must go on” lulus kuliah dia telah mendapatkan ijin dari orang tuanya untuk merajut kasih dengan pria idaman dia. Maskipun Najwa pernah galau dengan kisah cinta dan luka lama karena penolakan masuk universitas negeri tidak menyurutkan dia untuk selalu menenangkan jiwanya dengan membaca kalam Allah dan bermunajat dengan mendirikan sholat untuk bersujut memohon segala sesuatu yang terbaik untuk hidupnya. Karena menurut Najwa galau yang berkepanjangan dapat jadi bumerang bagi dirinya. Pemikiran Najwa ini hampir nyaris terjadi pada rekan kuliahnya Mega yang hampir mengakhiri hidupnya karena kejahatan cinta yang dilakukan oleh pasangannya. Beruntung Mega dapat terselamatkan dan kembali kejalan Allah. Kejahatan cinta yang dilakukan oleh pasangan juga dialami Najwa namun berbeda alur ceritanya. Edo adalah mantan kekasihnya yang memutuskan hubungan dengan Najwa karena terhalang oleh restu orang tua. Benar kata kebanyakan orang “namanya cinta tai kucing rasa coklak” ungkapan itu kadang ada benarnya. Selama pacaran denga Edo, Najwa menyanyangi ddia meskipun si Edo ini super banget pelitnya. Tapi untungnya hanya 2 bulan saja berkisah dengannya sehingga Najwa tidak diporotin terlalu lama.

Obat tolak yang paling mujarab adalah cinta Aq-Sho bagi Najwa. Berharap agar tidak galau lagi…Najwa mulai membuka diri dengan menerima cinta brondong muda….sebut saja nama lelaki itu Ubed namanya. Ubed terpaut 2 tahun lebih muda usianya dibanding Najwa. “ love is blind”, cinta itu buta….ini dialami oleh Najwa selama merajut kasih dengan Ubed. Kenal di kantor pencari kerja jadian lewat telepon, ketemuan di taman, dan putus di hari itu juga saat pertama kali bertemu. Aneh tapi nyata….kenapa si Najwa mau diboongi si Ubed?. Alasan Ubed adalah belum siap ketemu dengan kedua orang tua Najwa saat Najwa minta dianter pulang dia tidak mau mengantarkan Najwa malah Najwa d turunin di gang jalan yang jauhnya 1 km menuju rumahnya. Karena terlanjur marah maka Najwa langsung menghapus kontak Ubed di ponselnya. Namun Najwa berharap Ubed segera menghubunginya. 2-3 jam belum juga dihubungi….Najwa tetap sabar dengan kegelisahan hati menunggu Ubed menghubunginya. Hingga sampai 2 bulan si Ubed belum menghubunginya. Najwa tak mau fase galaunya menjurus ke hal yang negative dia bermunajat dengan istihoroh cintanya memohon petujuk kepada Allah dan menenangkan jiwanya dengan membasahi lisannya dengan bacaan Al qu’an. Alhamdulillah dia tidak galau karena ada Allah tempat ia bersandarkan dirinya.

Edisi galau Najwa berakhir dengan datangnya nakhkoda cintanya sang dokter gigi ganteng nan sholeh. Mas Rama nama nahkoda cinta Najwa. Pertemuan mereka cukup singkat untuk merubah status dokter dan pasien menjadi sepasang kekasih lewat pertunangan. Berawal dari telepon masuk di ponsel Najwa dari Mas Rama hubungan mereka semakin lengket seperti perangko dengan amplop. Namun mas Rama selalu berusaha menjaga hati, perasaan, dan kualitas hubungan kami agar selalu di ridhoi oleh Allah. Statement Wii Be Married Me? Yang diucapkan Mas Rama pada Najwa membuat Najwa yakin bahwa lelaki yang sedang di hadapannya memiliki niat baik untuk menuju syurga Allah. Karena grogi dan malu yang sangat hebat Najwa hanya bereaksi diam saja. Namun mas Rama sudah meyakini reaski Najwa itu sebagai penerimaan akan statement itu. Mas Rama tambah serius menjalin hubungan dengan Najwa, hal ini ia tunjukkan dengan mengenalkan Najwa kepada kedua orang tua dan keluarganya dan berlanjut meminang Najwa ke orang tua Najwa. Tak hanya itu dia telah menghadiahkan sebuah istana cinta untuk Najwa di kota suwar suwir Jember kota dimana cinta mereka bertemu dan bersemi. Masa lalu Najwa nongol lagi dengan datangnya Edo yang notabene adalah mantan kekasih Najwa, kebetulan Edo adalah teman akrab Mas Rama selama nge gym. Najwa jadi kaget bagai kesambet petir di siang bolong saat tunagannya kala itu memperkenalkan sahabat dan sekaligus mantan kekasihnya. Susah payah Najwa melupakannya tak disangka sang masa lalu nongol di hadapannya. Tak hanya itu Edo sering bermain ke istana cinta hadiah dari mas Rama. Karena tidak ingin menyakiti perasaan tunangannya, maka Najwa menceritakan masa lalu yang tidak mengenakkan bersama mantannya itu. Alhamdulillah mas Rama sangat bijak dan sangat pengertian dalam menyikapi nya dengan bersikap wajar dengan sahabat dan sekaligus masa lalu tunangannya.

Aku + kau = KUA (Kantor Urusan Agama) adalah 3 huruf yang terdiri dari A, U, dan K. Terkesan simple namun sangat sakral dalam penerapannya. Hal itu jga terjadi antara Najwa dan Mas Rama, senggang 2 bulan tunangan langsung mengubah status dari haram menjadi halal dan maksiat menjadi ibadah, nikah nama status suci itu. Tepat tanggal 17 Dzul hijjah 1435 H mereka resmi menjadi pasangan suami istri dengan komitmen untuk menggapai syurga Allah. Jadi bagi Najwa stop edisi galau ganti edisi memperbaiki kualitas iman dengan bermakmum pada imam yang telah dikirimkan Allah padanya.

By aimarusciencemania