DEFINISI, RUANG LINGKUP,OBJEK, DAN PERSOALAN EVALUASI DAN REMIDIASI HASIL PEMBELAJARAN BIOLOGI

DEFINISI, RUANG LINGKUP,OBJEK, DAN PERSOALAN EVALUASI DAN REMIDIASI HASIL PEMBELAJARAN BIOLOGI

Disusun untuk melengkapi tugas Mata Kuliah Evaluasi Remidiasi Pembelajaran Biologi

Dosen Pembina:Dra.Sawitri Komarayanti M.S

 

Oleh:

Aini Maskuro (0910211107)

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2011

 

PEMBAHASAN

1.DEFINISI DAN RUANG LINGKUP EVALUASI DAN REMIDIASI HASIL BELAJAR BIOLOGI

Pengertian Evaluasi Belajar

Kita sering ka1i melihat, ada seorang pembeli yang membanding-bandingkan untuk memilih suatu barang di supermarket, atau di pasar. Kalau akan membeli ikan maka pasti akan dilihat dengan seksama, apakah ikan tersebut masih segar dan layak untuk dikonsumsi. Ikan yang segar adalah jika ditekan akan kembalo seperti sedia kala, tapi kalau yang ditekan itu jadi legok atau tidak kembali ke posisi semula maka menunjukkan bahwa ikan tersebut sudah tidak segar lagi. Disini ibu tersebut sedang menilai suatu barang yaitu ikan, dia menilai kelayakan ikan yang masih segar yaitu dengan cara melihat dan menekan ikan tersebut apakah masih kenyal, kalau dipijat akan kembali ke posisi semula. Selain itu juga akan dilihat dari bau ikan tersebut sudah basi ataukan masih segar.  Kalau masih kenyal dan bau atau aromanya masih segar maka ikan tersebut masih segar dan layak untuk dikonsumsi. Kegiatan ibu yang berbelanja tersebut adalah kegiatan pelilaian terhadap suatu barang yang dia inginkan. Ibu tersebut sudah mempunyai kriteria-kriteria yang dia tentukan sendiri. Kalau ternyata barang tersebut sesuai dengan apa yang dia inginkan dan cocok dengan kriteria yang dia tentukan maka ibu tersebut akan membelinya, tetapi apabila tidak sesuai dengan kriteria yang dia tentukan maka ibu tersebut tidak jadi membelinya. Hal tersebut adalah contoh tentang penilaian seorang ibu terhadap suatu barang.  Dia melakukan dua kali penilaian yaitu menilai terhadap kekenyalan ikan dan yang kedua menilai dari bau atau aroma ikan tersebut. Kalau kedua penilaian tersebut sudah masuk kategori, maka ibu tersebut baru dapat memutuskan untuk membelinya ataukah tidak.

Dilingkungan sekolah, kita melihat pula bahwa pada waktu-waktu  tertentu guru selalu mengadakan evaluasi. Kenyataan yang biasa dilakukan di sekolah-sekolah Indonesia sampai dewasa ini ialah bahwa pada akhir semester guru mengadakan ulangan-ulangan, pada akhir tahun mengadakan ujian-ujian kenaikan kelas, dan pada akhir kelas tertinggi pada setiap taraf atau level pendidikan, sekolah mengadakan ujian akhir (Evaluasi Belajar Tahap Akhir). Ulangan, ujian kenaikan kelas, dan evaluasi belajar tahap akhir tadi, merupakan contoh tentang evaluasi yang lazim dilaksanakan di setiap institusi pendidikan.

Kita sebagai guru umumnya memahami bahwa pendidikan adalah merupakan proses melakukan perubahan pada diri siswa. Atau secara definitif dirumuskan, bahwa pendidikan adalah “usaha sadar yang dilakukan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan siswa di dalam dan di luar sekolah, dan berlangsung seumur hidup”.

Bertitik tolak dari pandangan tersebut, kita sebagai guru berharap agar setiap program pengajaran, setiap mata pelajaran, dan bahkan setiap unit pelajaran yang kita sajikan dapat membawa perubahan yang berarti bagi diri anak didik. Siswa seharusnya mengalami perubahan perilaku setelah mengikuti pelajaran. Dan seharusnya ada perbedaan perilaku antara mereka yang mengikuti pelajaran suatu unit pelajaran atau suatu program pengajaran dengan yang tidak semestinya. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa suatu program pengajaran akan menghasilkan perubahan yang sama pada setiap siswa yang mengikutinya. Usaha untuk mengetahui ada dan tidaknya perubahan, atau tingkat perubahan yang terjadi pada diri siswa inilah yang termasuk dalam kawasan evaluasi.

Dalam hubungan ini, kita sekarang ingin menyoroti hal-hal yang berkenaan dengan evaluasi, khususnya dalam kontek dengan proses belajar mengajar, yang dilaksanakan di sekolah. Karena evaluasi merupakan salah satu proses dalam pengajaran, yang dalam batas-batas tertentu dapat merupakan indikator yang mempengaruhi perubahan perilaku siswa.

Istilah evaluasi atau penilaian adalah sebagai terjemaban dari istilah asing “evaluation”. Dan sebagai panduan, menurat Benyamin S. Bloom (Handbook on Formative and Sumative Evaluation of Student Learning) dikemukakan, bahwa:

“Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik”

Apabila alur fikiran yang terkandung dalam definisi itu kita ambil sebagai pegangan, maka logis apabila kita bersikap, bahwa dalam melakukan evaluasi kita sebagai guru harus yakin bahwa pendidikan dapat membawa perubahan pada diri siswa. Oleh karena itu dalam kegiatan evaluasi kita harus melakukan setidak-tidaknya dua hal yaitu:

1)      Mengumpulkan bukti-bukti yang cukup;

2)      Menetapkan ada tidaknya perubahan, dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa.

Bukti-bukti yang dikumpulkan dapat bersifat kuantitatif (dalam bentuk angka-angka), dan dapat pula bersifat kualitatif, yaitu menunjukkan kualifikasi seperti: baik sekali, baik, sedang atau cukup, rajin, cermat dan lain-lainnya. Bukti-bukti kuantitatif atau kualitatif yang dikumpulkan harus memenuhi persyaratan tertentu agar dapat dijadikan dasar pengambilan keputusah ada tidaknya perubahan perilaku serta derajat perubahan yang ada secara adil dan obyektif.

Disamping itu, masih ada beberapa point yang perlu diketahui, yaitu batasan antara evaluasi dan pengukuran. Pengertian evaluasi dan pengukuran sangat erat hubungannya, sehingga sulit untuk diterangkan perbedaan secara khas. Ada sementara orang memakai kedua istilah itu silih berganti, karena menganggap identik. Ada lagi sementara orang yang memakai kedua istilah itu sebagai yang bersifat kesinambungan. Dalam arti bahwa kegiatan pengukuran pendidikan akan dilanjutkan dengan evaluasi. Atau sebalikhya, untuk dapat melakukan penilaian  sesuatu diperlukan data/bahan dari  hasil pengukuran.

Oleh karenanya, pengukuran dapat dirumuskan sebagai kegiatan untuk menetapkan dengan pasti tentang luas, dimensi, atau kualitas sesuatu, dengan membandingkan dengan ukuran tertentu. Sedangkan evaluasi sebagai usaha untuk memberikan nilai terhadap hasil pengukuran tersebut.

Jika diterapkan dalam pengukuran hasil belajar, maka mengukur akan diperoleh skore tertentu, dan dengan mengevaluasi akan diintepretasikan apakah seseorang siswa yang memperoleh skore tertentu tersebut tergolong anak yang pandai atau bodoh menurut norma tertentu. Jadi misalnya si Arief memperoleh nilai 9, berarti ia telah wenguasai 90% dari keseluruhan yang dipersyarat untuk mancapai tingkat atau perilaku tertentu.

  1. Tujuan Evaluasi Belajar

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa tujuan evaluasi secara umum adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya perubahan pada diri anak didik serta tingkat perubahan yang dialaminya setelah ia mengikuti PBM. Tetapi sebenarnya hal tersebut baru merupakan sebagian dari tujuan evaluasi dalam arti yang sebenarnya. Kita harus masih mengenal dimensi tujuan lain. Misalnya sebagaimana dirumuskan di dalam Kurikulum 1975 (Buku III B – tentang Pedoman Penilaian), dapat kita baca bahwa tujuan atau fungsi evaluasi belajar siswa di sekolah pada dasarnya dapat digolongkan kedalam 4 (empat) kategori yaitu:

  1. Untuk memberi umpan balik (feedback) kepada guru, sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan revisi program dan remidial program bagi siswa.
  2. Untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar masing-masing siswa, yang antara lain diperlukan untuk memberikan laporan kepada para orang tua siswa, penetapan kenaikkan kelas, dan penentuan lulus tidaknya siswa.
  3. Untuk menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat (misalnya dalam penentuan jurusan) sesuai dengan tingkat kemampuan dan atau karakteristik lain yang dimiliki siswa.
  4. Untuk mengenal latar belakang (psikologi, pisik, dan lingkungan) siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar. Yang hasilnya dapat dipakai sebagai dasar untuk memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.
  1. Asas-asas Evaluasi Belajar

Agar supaya evaluasi berlajar benar mencapai sasaran, yaitu untuk mengetahui tingkat perubahan tingkah laku atau keberhasilan siswa, maka harus dilaksanakan dengan berdasarkan pada suatu asas atau prinsip mapan.

Adapun asas atau prinsip-prinsip yang dimaksudkan adalah:

  1. Evaluasi harus dilaksanakan secara terus menerus

Maksud evaluasi yang dilaksanakan secara terus-menerus atau continue ialah agar kita (guru) memperoleh kepastian atau kemantapan dalam mengevaluasi. Dan dapat mengetahui tahap-tahap perkembangan yang dialami oleh siswa.

  1. Evaluasi harus menyeluruh (Conprehensive)

Evaluasi yang menyeluruh ialah yang mampu memproyeksikan seluruh aspek pola tingkah laku yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan. Untuk dapat melaksanakan evaluasi yang memenuhi asas ini, maka setiap tujuan instruksional harus telah dijabarkan sejelas-jelasnya, sehingga dapat dijadikan pedoman untuk melakukan pengukuran. Alat atau instrument evaluasi harus mengandung atau mencerminkan itemitem yang representatif, yang dijabarkan dari tujuan-tujuan instruksional yang telah disusun. Untuk keperluan pembuatan soal tes yang demikian guru dapat membuat “Tabel spesifikasi tujuan”, sebagai alat bantu guna menjaring item-item yang mewakili perilaku yang diharapkan. Disamping itu tabel speasifikasi tersebut juga dapat membantu guru dalam usaha memenuhi validitas alat pengukur.

  1. Evaluasi harus obyektif (Obyective)

Asas ini dimaksudkan, bahwa didalam proses evaluasi hanya menunjukkan aspek yang dievaluasi dengan keadaan yang sebenarnya. Jadi didalam mengevaluasi hasil pendidikan dan pengajaran guru tidak boleh memasukkan faktor-faktor subyektif dalam memberikan nilai kepada siswa.

  1. Evaluasi harus dilaksanakan dengan alat pengukur yang baik

Asas ini diperlukan, sebab untuk dapat memberikan penilaian secara obyektif diperlukan informasi atau bukti -bukti yang relevant dan untuk itu dibutuhkan alat yang tepat guna. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk alat pengukur yang baik, yaitu:

  1. Validitas

Validitas alat pengukur berhubungan dengan ketepatan dan kesesuaian alat untuk menggambarkan keadaan yang diukur sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ketepatan berhubungan dengan pemberian informasi persis (akurat) seperti keadaannya. Atau dengan perkataan lain disebut sahih. Sedang kesesuaian berhubungan dengan efektivitas alat untuk memerankan fungsinya sesuai dengan yang dimaksud dari alat pengukur tersebut.

  1. Reliabilitas

Realiabilitas alat pengukur berhubungan dengan kestabilan, kekostanan, atau ketepatan test. Suatu test akan dinyatakan reliabel apabila test tersebut dikenakan kepada sekelompok subyek yang sama, tetap memberikan hasil yang sama pula, walaupun saat pemberian testnya berbeda. Tinggi rendahnya reliabilitas alat pengukur alat pengukur dapat diketahui dengan menggunakan teknik statistik. Yaitu dengan mengklasifikasikan antara hasil pengukuran pertama dan hasil pengukuran kedua dari bahan test yang sama, atau test yang lain yang dianggap sama (ekuivalen).

  1. Evaluasi harus deskriminatif

Kegiatan evaluasi yang dapat memenuhi asas ini akan mampu membedakan tentang keadaan yang diukur apabila keadaannya memang berbeda. Jadi test hasil belajar dapat dikatakan deskriminatif apabila test tersebut dapat membedakan antara 2 (dua) orang atau lebih, yang memang mempunyai kemampuan yang tidak sama. Apabila UnyiI keadaanya memang lebih pandai dari si Badu maka test itu harus dapat mengetahui atau mengungkapkan perbedaan yang dimiliki oleh kedua anak tersebut

  1. Jenis-jenis Evaluasi Belajar

Sehubungan dengan 4 (empat) tujuan sebagaimana dituangkan di dalam sub bab yang terdahulu, selanjutnya kurikulum 1975 membedakan evaluasi prestasi belajar siswa di sekolah  menjadi 4 (empat) jenis yaitu:

  1. Evaluasi Formatif

Adalah evaluasi yang ditujukan untuk memperbaiki proses belajar mengajar. Jenis evaluasi wajib dilaksanakan oleh guru bidang studi setelah selesai mengajarkan satu unit pengajaran tertentu.

  1. Evaluasi Sumatif

Adalah evaluasi yang ditujukan untuk keperluan penentuan angka kemajuan atau hasil belajar siswa. Jenis evaluasi ini dilaksanakan setelah guru menyelesaikan pengajaran yang diprogramkan untuk satu semester. Dan kawasan bahasanya sama dengan kawasan bahan yang terkandung di dalam satuan program semester.

  1. Evaluasi Penempatan

Adalah evaluasi yang ditujukan untuk menempatkan siswa dalam situasi belajar atau program pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya.

  1. Evaluasi Diagnostik

Adalah evaluasi yang ditujukan guna membantu memecahkan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa tertentu.

Jenis evaluasi formatif dan sumatif terutama menjadi tanggungjawab guru (guru bidang studi), evaluasi penempatan dan diagmostik lebih merupakan tanggungjawab petugas bimbingan penyuluhan. Oleh karena itu wajar apabila dalam tulisan ini hanya mengaksentuasi pada jenis penilaian yang pertama dan jenis yang kedua.

Evaluasi Formatif dan Evaluasi Sumatif

Sebagai salah satu perwujudan dari usaha pembaharuan bidang pendidikan di Indonesia, ialah dibakukannya Kurikulum 1975, yang di dalamnya tersurat juga suatu pedoman guru dalam melaksanakan penilaian atau evaluasi hasil belajar siswa. Karena di atas telah disinggung bahwa evaluasi yang menjadi tanggungjawab guru bidang studi adalah evaluasi formatif dan evaluasi sumatif, maka untuk memberikan gambaran yang jelas dan tegas, berikut akan diuraikan batasan pengertian dan teknik pelaksanaannya.

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan oleh guru selama dalam perkembangan atau dalam kurun waktu proses pelaksanaan suatu Program Pengajaran Semester. Dengan maksud agar segera dapat mengetahui kemungkinan adanya penyimpang-penyimpangan, ketidak sesuaian pelaksanaan dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Karena dilaksanakan setelah selesai mengajarkan satu unit pengajaran (mungkin sesuatu topik atau pokok bahasan), maka ternyata apabila ada ketidaksesuaian dengan tujuan segera dapat dibetulkan. Oleh karena itu, fungsi dari pada evaluasi ini terutama ditujukan untuk memperbaiki  proses bolajar mengajar. Dan karena scope bahannya hanya satu unit pengajaran, dan dalam satu semester terdiri dari beberapa unit, maka pelaksanaan evaluasi ini frekuensinya akan lebih banyak dibanding evaluasi sumatif. Umumnya frekuensi tes formatif ini berkisar antara 2 – 4 kali dalam satu semester.

Sedangkan yang dimaksud dengan evalusi sumatif adalah evaluasi yang dilaksanakan oleh guru pada akhir semester. Jadi guru baru dapat melakukan evaluasi sumatif apabila guru yang bersangkutan selesai mengajarkan seluruh pokok bahasan atau unit pengajaran yang merupakan forsi dari semester yang bersangkutan. Oleh karena itu evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai siswa selama satu semester. Jadi fungsinya untuk mengetahui kemajuan anak didik.

Akhirnya, untuk menambah kejelasan didalam pelaksanaannya, berikut penulis rumuskan perbedaan dari kedua jenis evaluasi tersebut.

Evaluasi Formatif Evaluasi Sumatif
Tujuannya untuk memperbaiki PBM.

  1. Dilaksanakan setelah selesai mengajarkan suatu unit pengajaran tertentu.
  1. Frekuensi 2 – 4 kali dalam satu semester.
  2. Lingkup atau scope bahannya sempit.
  3. Obyeknya hanya terdapat suatu aspek perilaku.
  4. Bobot atau kadar nilainya rendah.
Tujuannya untuk mengetahui hasil atau tingkat kemajuan belajar siswa.

  1. Dilaksanakan setelah mengajarkan seluruh unit pengajaran, yang menjadi forsi sesuatu semester.
  2. Frekuensinya 1 x dalam satu semester.
  3. Lingkup atau scope bahannya luas.
  4. Obyeknya meliputi berbagai aspek perilaku.
  5. Bobot atau kadar nilainya tinggi.

Mengingat karakteristik dari masing-masing jenis evaluasi itu, maka guna penentuan nilai akhir (misalkan nilai raport), diberikan pedoman sebagai berikut :

Jika seorang siswa misalnya si Arief dalam suatu semester mengikuti evaluasi formatif 4 (empat) kali dan hasilnya: 6, 8, 8, 10. Kemudian sewaktu mengikuti evaluasi sumatif mendapat nilai 9, maka nilai akhir Arief untuk mata pelajaran itu menjadi: dibulatkan menjadi 9,00

Jadi bukannya:

dibulatkan menjadi 8,00

Yang terakhir panduan untuk menentukan nilai akhir itu menurut Kurikulum 1984 disempurnakan menjadi:

Rumus menentukan nilai raport:

Keterangan

N  = nilai raport

p  = nilai rata-rata evaluasi formatif

q   = nilai rata-rata kegiatan kokurikuler

r   = nilai evaluasi sumatif

Nilai pada p, q, dan r belum ada pembulatan, pembulatan baru dilakukan pada N (nilai raport).

 

 

Kriteria evaluasi dapat dibedakan menjadi

Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Criterion Referenced.

Nurkancana dan Sumartana, 1986 dalam Aunurrahman(2009:223-224) PAP adalah penilaian dengan norma absolut atau norma aktual merupakan norma penilaian yang ditetapkan secara absolut (mutlak) oleh guru atau pembuat tes,berdasarkan atas jumlah soal, bobot masing-masing soal serta prosentase penguasaan yang dipersyaratkan.Tujuan PAP yaitu berfokus pada kelompok prilaku siswa yang khusus.

Penilaian Acuan Norma (PAN) atau Norm Referenced.

Nurkancana dan Sumartana, 1986 dalam Aunurrahman(2009:225) PAN adalah suatu norma yang disusun secara relatif berdasarkan distribusi skor yang dicapai oleh peserta tes.santar performan yang digunakan  bersifat relatif,artinya tingkat performan seorang siswa ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya.

 

Davies mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses untuk memberikan atau menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, maupun objek (Davies, 1981:3). Menurut Wand dan Brown, evaluasi merupakan suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu (dalam Nurkancana, 1986:1).

 Pengertian evaluasi lebih dipertegas lagi dengan batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu ( Sudjana, 1990:3). Dengan berdasarkan batasan-batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa evaluasi secara umum dapat diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, maupun objek) berdasarkan kriteria tertentu.

Evaluasi mencakup sejumlah teknik yang tidak bisa diabaikan oleh seorang guru maupun dosen. Evaluasi bukanlah sekumpulan teknik semata-mata, tetapi evaluasi merupakan suatu proses yang berkelanjutan yang mendasari keseluruhan kegiatan pembelajaran yang baik. Evaluasi pembelajaran bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana efisiensi proses pembelajaran yang dilaksanakan dan efektifitas pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam rangka kegiatan pembelajaran, evaluasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Erman (2003:2) menyatakan bahwa evaluasi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai penentuan kesesuaian antara tampilan siswa dengan tujuan pembelajaran. Dalam hal ini yang dievaluasi adalah karakteristik siswa dengan menggunakan suatu tolak ukur tertentu. Karakteristik-karakteristik tersebut dalam ruang lingkup kegiatan belajar-mengajar adalah tampilan siswa dalam bidang kognitif (pengetahuan dan intelektual), afektif (sikap, minat, dan motivasi), dan psikomotor (ketrampilan, gerak, dan tindakan). Tampilan tersebut dapat dievaluasi secara lisan, tertulis, mapupun perbuatan. Dengan demikian mengevaluasi di sini adalah menentukan apakah tampilan siswa telah sesuai dengan tujuan instruksional yang telah dirumuskan atau belum.

Apabila lebih lanjut  kita kaji pengertian evaluasi dalam pembelajaran, maka akan diperoleh pengertian yang tidak jauh berbeda dengan pengertian evaluasi secara umum. Pengertian evaluasi pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan pengukuran dan penilaian pembelajaran. Pengukuran yang dimaksud di sini adalah proses membandingkan tingkat keberhasilan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif, sedangkan penilaian yang dimaksud di sini adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan pembelajaran secara kualitatif.

 

PENGERTIAN PENILAIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN

Dalam dunia pendidikan, penilaian atau asesmen (assessment) diartikan sebagai

prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi untuk mengukur taraf

pengetahuan dan keterampilan subjek didk yang hasilnya akan digunakan untuk keperluan

evaluasi. Informasi adalah data yang diperoleh melalui pengukuran dan nonpengukuran

termasuk di dalamnya dengan melakukan observasi kelas, menggunakan tes yang standar

atau tes buata guru, proyek, dan protofolio subjek belajar (Assessment is a process of

gathering information to measure a student’s level of knowledge and/or skill. Assessment

can incorporate many methods including classroom observation, standardized tests,

teacher-developed tests, classroom projects, and portofolios of student work).

Evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis yang dilaksanakan untuk

mengetahui tingkat keberhasilan dan efisiensi dari program yang bersangkutan. Dalam hal

ini termasuk di dalamnya untuk mengetahui keberhasilan seluruh subjek belajar yang

menempuh suatu program.

Untuk memperoleh informasi yang berupa data kuantitatif dilakukan melalui

pengukuran. Jadi, pengukuran (measurement) merupakan proses untuk memperoleh

deskripsi numerik atau kuantitatif tentang tingkatan karakteristik yang dimiliki seseorang

dengan aturan tertentu. Untuk memperoleh data kuantitatif dalam dilakukan melalui tes

dan nontes. Tes merupakan metode pengukuran yang menggunakan alat ukur berbentuk

satu set pertanyaan untuk mengukur sampel tingkah laku, dan jawabannya dapat

dikategorikan benar dan salah. Nontes merupakan metode pengukuran yang

menggunakan alat ukur untuk mengukur sampel tingkah laku, tetapi jawabannya tidak

dapat dikategorikan benar dan salah, misal positif dan negatif, setuju dan tidak setuju, suka

dan tidak suka.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang

Standar Penilaian Pendidikan dinyatakan bahwa ulangan adalah proses yang dilakukan

untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses

pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan

menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Ulangan harian adalah kegiatan yang

dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah

menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih. Ulangan tengah semester adalah

kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta

didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan

meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode

tersebut.Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk

mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan

meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.

Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester

genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada

satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan meliputi seluruh

indikator yang merepresentasikan KD pada semester tersebut. Ujian sekolah/madrasah

adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh

satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah

satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan.

B. MAKNA EVALUASI

Suatu program, termasuk di dalamnya program pendidikan, adalah suatu kegiatan

yang terencana yang lengkap dengan rincian tujuan beserta jenis-jenis kegiatannya. Oleh

karena itu, apakah suatu program yang diimplementasikan benar-benar berharga,

diperlukan adanya evaluasi. Evaluasi yang dimaksud adalah suatu proses yang sistematis

yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efisiensi dari program yang

bersangkutan. Evaluasi terhadap tingkat efisiensi terutama ditujukan kepada program yang

dilaksanakan berulang-ulang. Karena keberhasilan suatu program tidak dapat terlepas dari

segi pelaksanaannya, maka evaluasi terhadap suatu program menyangkut berbagai hal

yang terkait, baik yang menyangkut kualitas masukan, kualitas proses maupun kualitas

hasil pelaksanaannya. Selain itu, evaluasi dapat dilaksanakan atas dasar sekuen

implementasi program, dapat pula dilakukan terhadap komponen program. Dalam

program pendidikan misalnya, evaluasi menjadi sangat kompleks karena dapat dilakukan

terhadap kurikulumnya, sarana dan prasarana, tenaga yang terlibat baik edukatif maupun

administratif, kelancaran pelaksanaan program, efisiensi waktu penyelenggaraan program,

dan tentunya seberapa jauh efektifnya program yang telah diselenggarakan.

Evaluasi sebagai suatu bentuk penetapan sangat tergantung kepada perspektif yang

digunakan. Perspektif tersebut dapat menyangkut hal-hal berikut.

1. Perspektif alat-tujuan, yang lebih menekankan kepada pengukuran, yang kadangkadang

hasilnya bias.

2. Perspektif situasional, yang menekankan kepada sosok dikaitkan dengan penghayatan

semiia pihak yang terkait.

3. Perpektif kritis, yang dikembalikan kepada asumsi dasar dan digunakan dalam

penyelenggaraan program.

Karena evaluasi program pendidikan merupakan suatu bentuk penetapan untuk

menyatakan berharga tidaknya suatu implementasi program, maka perlu adanya kriteria

yang dapat dipertanggungjawabkan. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kriteria internal, yang dijabarkan dari dalam rancangan program pendidikan itu sendiri,

yang dapat ditinjau dari sudut:

a. koherensi (konsistensi), baik koherensi antara:

1) tujuan dengan penilaian;

2) tujuan dengan pengalaman proses pembelajaran yang diselenggarakan;

3) pengalaman prosespembelajaran dengan penilaiannya;

4) tujuan dengan bahan ajarnya, dll.

b. pengetahuan penempatan resource yakni mencakup pemilihan staf;

c. reaksi pemakai program (kelompok sasaran) yang dapat ditinjau dari

1) kepuasan;

2) pencapaian tujuan pribadi;

3) minat;

4) wawasan, dll.

d. reaksi pelaksana program, dalam hal ini adalah tenaga pengajar, yang dapat ditinjau

dari sudut

1) sikapnya terhadap program;

2) cara penerimaan terhadap program;

3) kepuasan;

4) minat;

5) wawasan;

6) kepentingan/tujuan pribadi, dll.

7) efektivitas penggunaan dana;

8) kemampuan generatif atau pengembangan diri dari program (side effect).

2. Kriteria eksternal, yang mencakup

a. kemampuan pengarahan kebijakan, maksudnya adalah sejauh mana pelaksanaan atau

implementasi program sesuai dengan garis kebijakan yang telah ditetapkan;

b. analisis cost-benefid untuk membandingkan antara biaya dengan keuntungan secara

keseluruhan;

c. efek multiplier (melipat ganda), baik yang berupa imbasan langsung ataupun

imbasan yang tidak langsung.

C. MANFAAT EVALUASI

Suatu program ditujukan agar sasaran-sasaran yang telah ditetapkan dapat tercapai

sesuai harapan. Oleh karena itu, manfaat atau kegunaan evaluasi berupa pengambilan

keputusan atau untuk pertanggungjawaban terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.

Pertanggungjawaban ditujukan kepada pihak-pihak yang menghendaki atau pihak sponsor.

Dalam hal program pendidikan, maka pihak yang terkait adalah pemerintah dan

masyarakat, khususnya pihak orang tua subjek belajar.

Pengambilan keputusan didasarkan pada hasil penilaian/asesmen, dan dilakukan

dalam upaya untuk pengendalian kegiatan jika program masih berlangsung atau untuk

upaya penyempumaan untuk pelaksanaan selanjutnya. Dengan demikian, dengan adanya

hasil evaluasi akan dapat diambil kebijaksanaan apakah suatu program akan dilaksanakan

lagi pada periode berikutnya, ataukah perlu dirivisi terlebih dahulu, atau jika perlu

digantikan dengan program lain jika dari hasil penilaian sama sekali tidak berharga. Jadi,

setiap program yang diimplementasikan hendaknya dilengkapi dengan kegiatan

pengukuran, dan penilaian, dan dari hasil penilaian dilakukan evaluasi agar dapat diambil

suatu kebijaksanaan untuk menentukan apakah program yang dimaksud dilaksanakan

ulang, direvisi atau diubah.

Dalam dunia pendidikan, program yang ada dapat berbeda-beda tingkatannya,

yaitu mulai dari tingkat kementerian, wilayah, sekolah, dan kelas. Dilihat dari segi

penyelenggaraannya ada yang negeri dan ada pula yang swasta. Oleh karena ltu, pihak7

Dr. Bambang Subali, M.S.

pihak itulah yang memerlukan hasil penilaian. Sementara dari segi subjek belajar sendiri

juga ada pihak orang tua yang terlibat di belakangnya yang memerlukan hasil penulaian

untuk self-evaluation. Dari segi pelaksanaanya, penilai suatu program pendidikan dapat

dilakukan oleh perencana dan pelaksana program, dan dapat pula diserahkan kepada pihak

lain yang dianggap ahli dan tidak terlibat daiam pelaksanaan. Jika evaluasi dilakukan

terhadap setiap satuan kecil dari suatu program pendidikan yang lebih besar yang masih

berjalan dalam upaya untuk pengendalian pelaksanaan program , maka evaluasi dilakukan

oleh pihak pelaksana program. Dalam hal ini dikenal dengan evaluasi pada skala mikro.

Untuk menilai program pembelajaran di kelas secara periodik dalam waktu yang

relatif singkat, yang paling tepat adalah dilakukannya evaluasi formatif berdasarkan hasil

penilaian selama berlangsungnya proses pembelajaran oleh guru yang bersangkutan.

Penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran disebut penilaian formatif. Hasil

penilaian formatif itulah yang dipakai untuk mengevaluasi program yang sedang

dijalankan. Dengan demikian, selama proses pembelajaran berlangsung, guru dapat

menyempurnakan program pembelajarannya agar sasaran/target pembelajaran yang dapat

tercapai sesuai harapan. Dalam skala mikro, orientasi utama evaluasi program ditujukan

kepada masalah metode pembelajaran. Sebaliknya, evalauasi juga dilakukan pada skala

makro yang dititikberatkan pada masalah efisiensi pelaksanaan, yaitu berkenaan dengan

strategi dan pelaksanaan program. Oleh karena itu, evaluasi pada skala makro akan lebih

baik jika dilakukan oleh pihak luar/pihak independen.

Dari ragam evaluasi yang ada, maka tujuan evaluasi menjadi spesifik. Berikut ini adalah

tujuan masing-masing evaluasi.

1. Evaluasi sumatif didasarkan pada kumulatif hasil penilaian sumatif subjek belajar

dalam menempuh program. Dalam hal ini pengertian penilaian sumatif adalah hasil

final dari subjek belajar menempuh suatu program. Misalnya, nilai sumatif dalam suatu

program semester diperoleh melalui ulangan akhir suatu pokok bahasan (setelah

dilakukan proses remediasi bagi yang mengalami kegagalan dan dilakukan program

pengayaan bagi yang sudah menguasai target pembelajaran berdasarkan penilaian

formatif), ulangan tengah semester , dan ulangan akhir semester. Adapun tujuan

evaluasi sumatif adalah untuk

a. menentukan nilai akhir peserta program pembelajaran, agar dapat dinyakana berhasil

atau gagal. Bila berhasil maka akan dapat diberi sertifikat karena ia telah menguasai

kecakapan ataupun keterampilan tertentu yang ditargetkan dalam program

pembelajaran yang dirancang;

b. meramalkan kecakapan subjek belajar dalam menyelesaikan program/ semester

berikutnya;

 

c. menetapkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan suatu program pembelajaran;

d. dalam konteks untuk seleksi, seperti seleksi masuk berarti untuk menetapkan siap

yang layak lolos seleksi, bila untuk seleksi untuk menetapkan juara untuk mewakili

satuan pendidikan yang bersangkutan berarti untuk menetapkan siapa yang layak

lolos menjadi wakil satua pendidikan yang bersangkutan.

2. Evaluasi formatif didasarkan pada hasil penilaian formatif selama subjek belajar

mengikuti proses pembelajaran/penyelengaraan program, dan tujuannya untuk:

a. menetapkan langkah-langkah/urutan kegiatan belajar selanjutnya agar supaya lebih

efektif dan efisien;

b. pendalaman dan pernantapan penguasaan perilaku yang ditargetkan;

c. mendiagnosis kesulitan belajar, dalam arti bahwa subjek belajar yang mendapat nilai

jelek identik belum menguasai perilaku yang ditargetkan;

d. mencari cara mengatasi kesulitan belajar jika subjek belajar dinyatakan gagal,

berdasar kegiatan belajar yang telah dilakukan;

e. umpan balik bagi guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran sehingga

mengetahui seberapa jauh tujuan yang ditetapkan sudah dapat dicapai;

f. meramalkan seberapa jauh keberhasilan peserta program belajar dalam mengikuti

penilaian sumatif;

g. mengetahui seberapa jauh subjek belajar akan berhasil dalam mengikuti proses

pembelajaran selanjutnya, berdasar kecakapan dan keterampilan yang dikuasainya

sekarang, dalam konteks bahwa subjek belajar sebagai masukan.

h. mengetahui subjek belajar yang mana yang harus dibantu melalui program

remediasi agar ia dapat berhasil menempuh program yang ditempuh.

i. Mediagnosis penyebab kegagalan subjek belajar dalam dalam menguasai

kemampuan yang ditargetkan.

3. Evaluasi penempatan didasarkan pada hasil penilaian terhadap subjek sebelum

menempun program pembelajaran, dan bertujuan untuk:

a. mengetahui penguasaan kemampuan prasyarat yang diperlukan dalam KBM yang

akan diseienggarakan;

b. mmenjajagi penguasaan subjek belajar sebagai peserta program terhadap kemampuan

yang ditargetkan;

c. meneliti interes, langgam belajar, ataupun karakteristik personal subjek belajar

sebagai peserta program pembelajaran;

d. mediagnosis kemampuan subjek belajar yang mengalami kegagalan dalam

menguasai kemampuan prasyarat yang diperlukan.

2.Objek dan Persoalan Evaluasi dan hasil remidiasi

Dalam penilaian pencapaian hasil belajar, kedudukan subjek belajar merupakan

subjek yang dinilai. Adapun sebagai objek penilaian adalah apa-apa yang melekat pada

diri subjek belajar yang dijadikan sasaran penilaian. Adapun yang melekat pada diri subjek

belajar selain variabel-variabel yang berhubungan dengan fisik subjek belajar juga yang

berhubungan dengan nonfisik. Dalam hal ini berupa kemampuan (ability) dan personalitas

(aptitude). Menurut Gorman kemampuan seseorang meliputi kemampuan intelektual dan

kemampuan psikomotor. Kemampuan intelektual mencakup kemampuan penguasaan

produk dan proses. Adapun yang termasuk produk adalah fakta, konsep dan struktur ilmu

pengetahuan, sedangkan yang termasuk proses adalah kreativitas, pemecahan masalah,

dan komprehensif. Kemampuan psikomotor berupa keterampilan (skill), sementara

personalitas mencakup temperamen yang berupa tingkah laku (behavior), karakter, moral

dan sikap (attitude). Meneurut Ebel dan Fresbie, kemampuan kognitif terdiri atas

pengetahuan kognitif dan keterampilan kognitif. Ciri keterampilan kognitif adalah adanya

proses dan produk yang ditampilkan oleh peserta didik.

A. RANAH KOGNITIF

Menurut taksonomi Bloom, kemampuan intelektual atau kognitif meliputi jenjang

sebagai berikut:

1. Ingatan (knowledge):

a. Ingatan tetang hal yang spesifik, baik ingatan tentang peristilahan (terminologi)

maupun kejadian yang spesifik, misal menyebutkan bagian-bagian, menyebutkan

istilah, nama, sifat, contoh, dan sebagainya; mengingat definisi, bagian-bagian,

kejadian, tempat, dan sebagainya

b. Ingatan tentang jalur-jalur dan arti dari hubungan-hubungan yang spesifik, baik

ingatan tentang konvensi, kecenderungan (trend) dan urutan (sequence),

klasifikasi dan kategori, kriteria serta metodologi.

 

c. Ingatan tentang universalitas dan abstraksi di lapangan, misal

mengingat/menyebutkan tentang prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi,

maupun teori-teori dan struktur-skturktur.

2. Pemahaman (comprehension) merupakan kemampuan terendah dari mengerti

(understanding), meliputi:

a. Translasi (penerjemahan), yakni kemampuan menterjemahkan/menjelaskan suatu

maksud atau informasi, misal menyatakan kembali dengan kata-katanya sendiri

tentang suatu definisi, maksud, contoh dan sebagainya.

b. Interpretasi (penafsiran), yakni kemampuan menafsirkan atau mengartikan suatu

informasi, misal menjelaskan hal yang berhubungan atau yang ada relevansinya,

mengurutkan ataupun menyusun kembali sesuai dengan urutannya, dan sebagainya.

c. Ekstrapolasi atau estimasi, yakni kemampuan untuk meramalkan kemungkinankemungkinan

dari suatuinformasi,misalmendugaakibatlefek yang mungkin terjadi,

memperkirakan faktor-faktor yang berpengaruh, menarik kesimpulan, dan

sebagainya.

d. Jastifikasi, yakni kemampuan membenarkan, misal membenarkan suatu prosedur

atau metode. Semuanya tanpa dihubungkan dengan penerapannya ataupun

dihubungkan dengan hal-hal atau informasi yang lain.

3. Penerapan (aplication) meliputi kemampuan:

a. Menerapkan prinsip pada situasi yang baru.

b. Menerapkan teori ke dalam praktek.

c. Menerapkan rumus untuk pemecahan soal.

d. Menyrsun skema atau diagram dari datalinformasi yang tersedia.

e. Mendemonstrasikan suatu prosedur dengan benar.

4. Analisis (analysis) meliputi :

a. Analisis unsur-unsur, rnisal menemukan asumsi yang belum ada/belum dinyatakan

dalam suatu informasi, membedakan kesimpulan yang berdasarkan fakta dan yang

bukan, membedakan antara fakta dan pendapat.

b. Analisis hubungan-hubungan, misal dapat menemukan hubungan sebab-akibat,

dapat membedakan antara alasan yang relevan dan yang tak relevan.

c. Analisis prinsip-prinsip yang terorganisasi, misal menemukan bentuk-bentuk,

formula, pola atau struktur dalam suatu hal.

5. Sintesis (synthesis) meliputi:

a. Produksi/hasil suatu komunikasi yang unik/khas, misal membuat ringkasan,

menyusun suatu alat dan sebagainya.

b. Produksi/hasil suatu rencana atau seperangkat usulan kegiatan, misal menyusun suatu

rencan a kegiatan/rencana percobaan

c. Menurunkan/mencari derivat seperangkat hubungan abstrak, misal merumuskan

hipotesis berdasar kajian pustaka yang ada.

6. Evaluasi (evaluation) meliputi:

a. Evaluasi berupa pertimbangan internal dari suatu kejadian, missal evaluasi dari segi

ketepatan, kecermatan, konsistensi ataupun urutan logis.

b. Evaluasi berupa pertimbangan eksternal dari kejadian yang ada, missal evaluasi dari

segi efisiensi, efektifitas, nilai ekonomis, atau dari segi makna.

B. RANAH AFEKTIF

Ranah afektif menurut Krathwohl (1964) meliputi jenjang sebagai berikut.

1. Kemampuan menerima (receiving)

a. Kesadaran (awareness), misal membedakan suara, memilah kejadian, memilih

rencana, menunjukkan kesadaran tentang pentingnya belajar, menunjukkan

sensivitas terhadap problem-problem sosial.

b. Kemauan untuk menerima (willingness to receive), misal memilih contoh,

mengkombinasi bentuk, mengumpulkan model, mendengarkan dengan perhatian

penuh, menerima perbedaan suku serta budaya, melibatkan diri secara penuh

terhadap aktivitas kelas.

c. Perhatian yang terkontrol atau terseleksi (controlled or selected attention),

misal memilih alternatif, mengontrol jawaban.

29

Dr. Bambang Subali, M.S.

2. Kemampuan merespon (responding)

a. Persetujuan pada dirinya untuk sepenuhnya merespon (acquiescence in

responding) dan kemauan untuk merespon (willingness to respond), misalnya

mengikuti/menyetujui aturan yang berlaku, menghargai pendapat atau

kebijaksanaan, menyelesaikan tugas rumah ataupun tugas laboratorium, ikut

dalam suatu kegiatan secara sukarela (sebagai volunteer), aktif dalam diskusi

kelas.

b. Kepuasan dalam respon (satisfaction in response), misai menyambut dengan

gembira keputusan yang diambil bersama, dengan tulus memuji karya/penampilan

orang lain

3. Kemampuan menilai atau memaknakan (valuing)

a. Kernarnpuan menerima secara baik suatu nilai (acceptance of a value), misalnya

meningkatkan kecakapannya dalam hubungan personal ataupun dalam klubnya,

mengkhususkan diri menetapkan pilihan pada suatu hal, menghargai peran serta

ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, menghargai literature yang baik.

b. Menentukan pilihan terhadap suatu nilai (preference for a value), missalnya

memberikan bantuan terhadap suatu proyek/tencana, medukung argumen orang

lain.

c. Tanggung jawab, misal mendebat hal-hal yang tak relevan, mengajukan

argumentasi atas jawaban yang diberikan, memprotes hal-hal yang tidak benar,

menunjukkan tanggung jawabnya terhadap pembaharuan sosial/masyarakal,

menunjukkan sikap mau memecahkan masalah, menunjukkan perhatian yang

besar terhadap kesejahteraan sesamanya,

4. Kemampuan mengorganisasi (organizing)

a. Konsepsualisasi nilai (conceptualization of a value), misal membandingkan

dengan suatu standar, mendiskusikan parameter-parameter, menghargai

kebutuhan yang seimbang antara kebebasan dan tanggung jawab, menghargai

peran perencanaan yang sistematik dalam pemecahan masalah, mengakui

kelebihan dan kelemahan diri.

b. Organisasi sistem nilai (organization of a value system), misalnya menyusun

kriteria, mengorganisasi sistem, menyusun rencana sesuai dengan minat, tanggung

jawab, serta keyakinannya.

5. Kemampuan yang dikarakterisasi oleh suatu nilai atau gabungan nilai (value

complex) yang akan terbentuk suatu life stile.

a. Generalized set, misalnya menyusun rencana, mengubah perilaku, melengkapi

cara, memilih prosedur.

b. Karakterisasi (characterizing), misalnya dinilai baik oleh teman-teman, oleh guru

ataupun oleh anggota kelompoknya, menghindari konflik, menentang tindakan

yang boros, mengatasi akibat yang tak dikehendaki, menunjukkan kepercayaan

diri dalam kerja individual, menggunakan pendekatan objektif dalam

memecahkan masalah, menunjukkan disiplin dan produktivitas yang tinggi,

mampu bekerjasama dalam kerja kelompok, memelihara cara hidup yang sehat,

menunjukkan kesadaran yang tinggi.

Hubungan antara ranah kognitif dan afektif secara rasional dapat direlasikan sebagai

berikut.

Hubungan antara Jenjang Kognitif dan Afekktif

KOGNITIF  AFEKTIF
Kontinum kognitif dimulai dengan

kemampuan mengingat dan mengenal

kembali pengetahuan yang dimiliki

Kontinum afektif dimulai dengan

penerirnaan belaka stimuli dan secara pasif

mengikuti sesuatu hal dan dilanjutkan

dengan lebih aktifnya mengikuti hal

tersebut

Dilanjutkan dengan pemahaman

terhadap pengetahuan yang dimiliki

Dilanjutkan dengan respon terhadap suatu

stimulus atas dasar permintaan, kemudian

munculnya kemauan untuk merespons dan

timbulnya kepuasan dalam merespon

Keterampilan dalam menerapkan

pengetahuan dimiliki

Penilaian/penghargaanterhadap fenomenafenomena

atau aktivitas agar secara sukarela

merespons dan mencari jalan/cara untuk

merespon

Keterampilan dalam menganalisis

situasi dengan menggunakan

pengetahuan yang dimiliki dan

menyintesis pengetahuan ke dalam

organisasi nengetahuan yang baru

Konsepsualisasi tiap penilaian atau

penghargaan terhadap sesuatu yang

ditampilkan

Kemampuan menilai/mengevaluasi

dalam ruang lingkup pengetahuannya

untuk

mengritik/mengadili/menetapkan

nilai/bobot dari sesuatu hal dan

metode/cara untuk menyampaikan

keinginan

Kemampuan mengorganisasi atau menyusun

nilai yang kompleks ke dalam suatu nilai

yang utuh sebagai kar akter (life style)

seseorang

 

 

C. RANAH PSIKOMOTOR

Ranah psikomotor menurut Harrow mencakup:

1. Gerak refleks (reflex movements): merupakan gerak yang otomatis, yang tidak

dapat dilatih, terdiri atas

a. Refleks segmental (segmental reflexes) yang melibatkan segmen spinalis:

1) Refleks fleksi, berupa refleks yang melibatkan aiat gerak (kaki dan tangan).

2) Refleks miotatik, berupa refleks yang menyebabkan peregangan otot

extensor (otot antigravitasi) pada saat tubuh menjaga keseimbangan badan.

3) Refleks ekstensor, berupa reaksi anggota badan saat tubuh melawan gaya

berat ketika berjalan/berlari.

4) Reaksi ekstensi silang, berupa gerakan tangan yang berlawanan dengan

gerakan kaki pada saat berjalan.

b. ReIIeks intersegmental: yaitu gerak refleks yang melibatkan lebih dari sebuah

segmen spinalis:

1) Refleks kooperatif, jika dua atau lebih gerak refleks saling membantu

satu sama lain dalam pola lebih memperlancar.

2) Refleks kompetitif, jika satu gerak refleks menghambat gerak refleks

yang lain atau dua gerak refleks yang terjadi berlawanan.

3) Refleks induksi suksesif, jika dua gerak refleks yang berlawanan terjadi

saling menyusul/berebut, misal refleks fleksi berganti dengan refleks

ekstensi pada saat orang berlari.

4) Figur refleks (reflex figure) yaitu interaksi dari banyak refleks,

misalnya kombinasi refleks keempat angota badan pada saat orang

berlari.

c. Refleks suprasegmental (suprasegmental reflexes) yaitu reflex yang memerlukan

peran serta pusat-pusat di otak, sepanjang medula spinalis, dan otot-otot

anggota gerak maupun tubuh yang mendukung suatu gerakan:

1) Refleks ekstensor yang mengeras/tegar, yang ditunjukkan oleh seluruh

otot ekstensor/antigravitasi pada lengan dan kaki untuk menjaga tubuh

tetap tegak.

33

Dr. Bambang Subali, M.S.

2) Reaksi-reaksi melentur, yaitu refleks yang mengerut atau menjulur

sebagai kebalikan dari otot ekstensor.

3) Refleks postur, yaitu refleks yang mendukung kedudukan tubuh saat

tubuh/anggota badan bergerak.

2. Gerak dasar pokok (basic-foundamental movements):

a. Gerak-gerak lokomotor (locomotor movements) yaitu gerakan yang mengakibatkan

tubuh berpindah tempat seperti berjalan, berlari, merangkak dan sebagainya,

b. Gerak-gerak nonlokomotor (nonlocomotor movements) yaitu gerak-gerak yang

terjadi pada sebagian tubuh/anggota badan, seperti membungkuk, menengadah,

merentang tangan dan sebagainya.

c. Gerak-gerak manipulatif (manipulative movements) yaitu gerak-gerak kombinasi dari

bagian tubuh/anggota badan, seperti gerak orang mengetik, bermain biola dan

sebagainya.

3. Kemampuan perseptual (perceptual abilities) :

a. Pembedaan kinestetik (kinesthetic discrimination):

1) Kesadaran posisi tubuh (body awareness):

a) secara bilateral, yakni gerak yang menampilkan kedua sisi tubuh, misalnya

gerak menangkap bola berukuran besar.

b) secara lateral, yakni gerak yang menonjolkan satu sisi tubuh, misal mengoper

bola dari tangan kiri ke tangan kanan atau sebaliknya.

c) keunggulan (dominance), yakni gerak yang lebih dominan antar anggota gerak,

misal antara tangan kanan dan tangan kiri, antara tangan dan kaki.

d) Keseimbangan (balance), yakni kemampuan menjaga posisi tubuh agar tetap

seimbang pada saat melakukan berbagai gerakan bagian tubuh/anggota badan.

34

Dr. Bambang Subali, M.S.

2) Kesan posisi tubuh (body image), yakni kesadaran tentang tubuhnya saat seseorang

akan memulai gerakan, sehingga mampu mengira-ngira seberapa ia harus

melakukan gerakan, misal saat orang harus melangkahi parit.

3) Kesadaran posisi tubuh terhadap objek sekitar (body relationship to surrounding

objects in space).

b. Pembedaan menurut penglihatan/secara visual (visual discrimination) :

1) Kemampuan membedakan berdasarkan ketajaman penglihatan (visual acuity).

2) Kemampuan mengikuti arah gerak berdasar penglihatannya (visual tracking),

misal kemampuan mengikuti gerak pesawat di udara.

3) Kemampuan merekam apa yang dilihat sehingga mampu menirukan gerakan yang

baru saja dilihat (visual memory).

4) Kemampuan menyeleksi gambaran yang dominan dari sekitamya, misalnya

mampu menebak kearah mana bola akan jatuh, ia bergerak sehingga ia mampu

menangkapnya (figure-ground dffirentiation).

5) Kemampuan membedakan objek yang berbeda dan kemampuan mengelompokkan

objek yang sama (keajegan/consistency).

c. Pembedaan menurut pendengaran (auditory discrimination) :

1) Kemampuan membedakan berbagai suara berdasar nada maupun intensitasnya

(auditory acuity).

2) Kemampuan mengikuti/menentukan sumber suara (auditory tacking).

3) Kemampuan merekam suara yang baru didengar, sehingga mampu menirukannya

kembali, menirukan nyanyian burung (auditory memory).

d. Pembedaan berdasar rabaan (tactile discrimination)

Kemampuan-kemampuan terkoordinasi (coordinated abilities), yakni kemampuan/

aktivitas yang melibatkan dua atau lebih kemampuan persepsual:

1) Aktivitas yang memerlukan kemampuan tangan dan penglihatan, misalnya

kemampuan memukul bola, kemampuan mengukur menggunakan alat ukur (eyehand

coordination).

35

Dr. Bambang Subali, M.S.

2) Aktivitas yang memerlukan kemampuan kaki dan pengiihatan, misalnya

kemampuan menggirng bola dalam bola sepak (eye-foot coordination).

4. Kemampuan fisik (physical abilities):

a. Daya tahan (endurance), yakni kemampuan tubuh memasok oksigen pada diri

seseorang untuk dapat melakukan gerakan yang kontinyu.

1) Daya tahan otot (muscular endurance), yakni daya tahan untuk tetap bekerja

dalam waktu yang lama.

2) Daya tahan kardiovaskuler (cardio-vascular endurance), yakni daya tahan

bekerja berat secara terus menerus untuk periode beberapa lama yang

membutuhkan kerja interaksi jantung-pembuluh darah paru-paru, misalnya

berlari sambil mengumpulkan kartu sebanyak-banyaknya.

b. Kekuatan (strength), yakni kemampuan mengerahkan kekuatan, misal latihan angkat

beban, push-up dan sebagainya.

c. Fleksibilitas (flexibility), yakni kemampuan bergerak dengan tenaga yang efisien,

misal gerak gimnastik.

d. Ketangkasan (agility) yaitu kemampuan untuk bergerak cepat, baik dalam

menanggapi rangsang, memulai/mengakhiri sesuatu, kemampuan mengubah arah

gerakan ataupun kemampuan mengganti gerakan.

5. Gerak terlatih (skilled movements):

Merupakan gerakan hasil suatu efisiensi pada saat seseorang disuruh melakukan tugas,

termasuk di dalamnya adalah semua bentuk adaptasi pola gerak terpadu dari gerakgerak

dasar pokok (basic-foundamental movements) :

a. Keterampilan adaptif sederhana (simple adaptive skill) merupakan berbagai

penyesuaian gerak-gerak dasar pokok yang diubah atau disesuaikan dengan situasi

baru, misal gerakan menggergaji merupakan penyesuaian/perpaduan gerak menarik

dan mendorong; berdansa adaptasi gerak bejalan, keterampilan melakukan titrasi

36

Dr. Bambang Subali, M.S.

merupakan perpaduan menggoyang labu Erlenmeyer sambil mengawasi perubahan

warna untuk segera menghentikannya, dan sebagainya. Keterampilan ini dapat

dibedakan mulai dari tingkat pemula (beginner), menengah (intermidiate), lanjut

(advanted) dan tingkat tinggi/benar-benar terampil (highly skilled).

b. Keterampilan adaptif gabungan (compound adaptive skill) yang merupakan

perpaduan dua atau beberapa keterampilan adaptif sederhana, misalya keterampilan

bermain tenis merupakan perpaduan gerakan memukul dan kemampuan

menggunakan alat berupa raket.

c. Keterampilan adaptif kompleks (complex adaptive skill) merupakan perpaduan

banyak keterampilan adaptif sederhana yang memerlukan penguasaan lebih besar,

misal main selancar sambil bersalto, melakukan roll pada senam lantai sambil

menangkap bola.

6. Komunikasi berkesinambungan (non-discursive communication) yaitu gerak yang

dilakukan untuk komunikasi baik dalam bentuk ekspresi wajah ataupun gerak isyarat

lainnya:

a. Gerak ekspresif (expressive movement) yaitu gerak-gerak untuk menunjukkan suatu

ekspresi seperti dalam kehidupan sehari-hari, misal berekspresi sebagai orang yang

sedang marah, sedang bergembira dan sebagainya.

b. Gerak interpretatif (interpretative movement): gerak dengan maksud tertentu.

c. Gerak aestetik (aesthetic movement), yaitu gerakan-gerakan ditampilkan untuk

menciptakan gerak y ang indah/cantik.

d. Gerak kreatif (creative movement) yaitu gerakan-gerakan untuk mengkomunikasikan

suatu pesan atau sesuatu yang lebih baru yang didukung oleh kemampuan

fisik serta kemampuan persepsual.-

Pembagian ranah psikomotor menurut Simpson mencakup jenjang sebagai berikut.

37

Dr. Bambang Subali, M.S.

1. Persepsi, yakni kemampuan menangkap stimulus, menyeleksi isyarat, dan kemampuan

mentranslasinya ke dalam aksi yang ditampiikan, misal dapat menunjukkan adanya

gangguan mesin berdasarkan suara yang didengarnya, dapat menghubungkan irama

musik dengan langkah-langkah gerakan saat menari.

2. Kesiapan untuk berperan aktif (set) dalam suatu bagian dan kegiatan, baik secara

menial, fisik maupun emosional, misal mengetahui urut-urutan langkah suatu kegiatan,

menunjukkan langkah yang efisien untuk melaksanakan suatu kegiatan,

mendemonstrasikan cara berposisi yartg benar pada saat akan memulai suatu kegiatan.

3. Respons terpandu (Guided response), merupakan kemampuan awal dalam belajar suatu

keterampilan yang bersifat kompleks, termasuk kemampuan menirukan ataupun

kemampuan-mencoba berdasarkan kriteria atau instruksi, misalnya mendemonstrasikan

cara memukul bola, mendemonstrasikan cara menggosok gigi geraham,

mendeterminasi langkah-langkah pokok dalam rnelakukan peiawatan untuk mebuang

karang gigi.

4. Mekanisme, yaitu -rnutnpilkan suatu kegiatan yang sifatnya habitual sehingga

menghasilkan suatu keterampilan (skilt), misal merangkai alat laboratorium,

menlgunakan mikroskop sehingga sampai dapat menemukan bayangan benda yung

ingitt dilihatnya, menggunakan slide projector.

5. Respons yang benar-benar kompleks (complex overt response),yaitu menunjukkan

keterampilan secara utuh, misalnya memperagakan cara menggergaji, memperagakan

cara berenang menggunakan suatu gaya atau berganti gaya, memperagakan cara

mengemudikan kendaraan, memperagakan cara membersihkan karang gigi,atau

mendemontrasikan cara menambal gigi.

6. Adaptasi, yakni kemampuan mengubah-ubah pola gerakan karena adanya masalah yang

dihadapi, misal membelokkan mobil saat menghindari kubangan, mengubah gerakan

tangan saat berenang dalam menghadapi arus yang berputar.

7. Originasi, yaitu berkreasi menilorkan suatu gerakan baru yang benar-benar orisinal,

misalnya menciptakan tari-tarian atau menciptakan mode baru dalam disain pakaian.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa:

Evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai potensi dari peserta didik dengan menggunakan instrumen penilaian dalam hal ini soal,baik yang  berupa penilaian yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif dari semua ranah penilaian yang meliputi ranah kognitif,afektif dan psikomotor dengan tujuan untuk mengetahui ketercapaian atau tidaknya dari kompetensi dasar suatu pokok bahasan mata pelajaran tertentu dalam hal ini Biologi dan untuk mengetahui tindak lanjut dari evaluasi tersebut berupa remidiasi hasil pembelajaran Biologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

STUDI LITERATUR

 

Subali . Bambang. 2010. Penilaian, Evaluasi, dan Remidiasi Pembelajaran Biologi (online) http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/Artikel-PPM-IPTEKS-07.pdf diacces tanggal 2 Oktober 2011

Anonim. 2010 Pengertian tujuan asas dan jenis  evaluasi pembelajaran. (online.) http://zaifbio.wordpress.com/2010/04/29/pengertian-tujuan-asas-jenis-evaluasi-belajar/ diacces tanggal 2 Oktober  2010.

http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/26/evaluasi-pembelajaran.html01/26/2009

 

Nuryani, dkk. (2003).Common Textbook “Strategri Belajar Mengajar Biologi”. Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI

Aunurrahman.2009.Belajar dan Pembelajaran.Bandung:Alfabeta.

About these ads
By aimarusciencemania

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s