kumpulan makalah pengetahuan lingkungan fkip bio 5 b UNMUH JEMBER

EKOLOGI SEBAGAI DASAR ILMU

LINGKUNGAN

 

 

MAKALAH

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Pengetahuan Lingkungan

Yang Dibina Oleh Agus Prasetyo Utomo, S.Si

 

                                                                                                                              

Oleh

ABDULRAHMAD RALDIANO    (0910211095)

ENI IRMAWATI                             (0910211079)

FUAD FENDY P                              (0910211112)

IKA SAFITRI                                   (08121045)

KHOSNITA                                       (0910211074)

MEGA WAHYUNI                          (0910211101)

MUHAMMAD MAHFUD               (0910211063)

 

 

 

 

 

PROGRRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

OKTOBER, 2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tidak diragukan lagi bahwa awal ilmu yang mempelajari tentang lingkungan adalah ekologi. Jauh sebelum ada “Environmental Pollution Study” misalnya, ekologi telah muncul sejak lama. Tetapi apakah sebenarnya ilmu itu sendiri ? Menurut Whitehead, science is founded on the notion of law,………the law of nature. Ilmu didasarkan padá ide dari hukum,…hukum-hukum alam. Sains bukanlah panacea (pelipur lara), namun demikian manusia dapat mencari hikmah dari kemampuan maupun keterbatasan sains itu.

Pada mulanya ekologi mempelajari masalah yang berada di seputar manusia sebelum ada perkembangan lebih lanjut. Ini mengingat ide dasar kata itu sendiri yang berasal dari kata oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu. Ekologi bukannya berarti ilmu rumah atau ilmu yang mempelajari masalah rumah. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana hubungan antara organisma dengan komunitasnya, antara satu dengan lainnya, baik lingkungan hidup maupun tak hidup (Davis,1979).

Ekologi sebagai ilmu dasar mendasari ilmu-ilmu yang berkembang kemudian yang berhubungan dengan lingkungan, misalnya pencemaran lingkungan, analisa dampak lingkungan, tata guna tanah dan sebagainya. Pada abad 19, arti kata ekologi berdasar konsep modern adalah cara pendekatan terhadap alam. Kompleksitas aspek yang berkaitan erat dengan alam lingkungan memang pada dasarnya bisa berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Makin maju peradaban dan tingkat kehidupan manusia bukan makin sedikit masalah yang muncul yang berkaitan dengan prinsip-prinsip ekologi, tapi justru makin berkembang, makin beragam. Karena seringkali ilmu dan teknologi baru justru akan mengundang masalah baru, baik menyangkut kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung. Justru pendekatan-pendekatan alamiahlah yang bisa mengurangi masalah yang terlalu besar.

Konsep dasar ekologi secara tak sadar justru sudah diterapkan dalam masyarakat tradisional. Bagaimana konsep hidup bahwa hewan dan manusia, air dan udara serta tumbuhannya memenuhi kehidupan masyarakat pedesaan yang tidak begitu dekat dengan ilmu-ilmu baru. Konsep gunungan dalam pewayangan atau konsep hasta brata dalam kehidupan kejawen. Namun demikian konsep yang ada pada masyarakat tradisional tidak dipandang sebagai konsep ilmu ekologi, karena pada dasarnya tidak dicetuskan secara teoritis, tetapi melalui “tutur tinular”, pendekatan “ilmu titen”  dalam pendekatan-pendekatan empiris. Justru orang Baratlah yang pada akhirnya mengeluarkan konsep dan teori tentang ekologi secara tertulis. Memang dalam kehidupan masyarakat primitif, untuk dapat bertahan hidup dibutuhkan pengetahuan mengenai lingkungannya, tentang kekuatan alam dan tumbuh-tumbuhan, dan juga hewan sekitar. Tentang api yang bisa dipergunakan dan diperkenalkan sebagai kebudayaan dan melalui kebudayaan pada waktu manusia pertama kali mengenalnya sebagai bagian dari Dewa Api. Tetapi itu semua belum menyangkut konsep ilmu ekologi sebenarnya, tetapi sekedar untuk dapat mempertahankan hidup.

Konsep kata ekologi pertama kali dikemukakan oleh seorang Biolog dari Jerman Ernst

Haeckel pada tahun 1869, meskipun Anthoni van Leeuwenhoek pada tahun 1700 sudah mengenalkan lingkaran makanan (food chains) dan regulasi penduduk), tapi belum pernah sekalipun menyebutkan kata ekologi. Ekologi sering diungkapkan sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara organisma atau kelompok organisma dengan lingkungannya, atau ilmu tentang keterkaitan kehidupan organisma dengan lingkungannya.

Permasalahan lingkungan hidup mendapat perhatian yang besar dihampir semua negara di dunia dalam dasawarsa 1970 an. Ini terjadi setelah diadakan Konperensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Stockholm pada tahun 1972. Terdapat kesan bahwa masalah lingkungan hidup adalah suatu hal yang baru. Namun sebenarnya, permasalahan itu telah ada sejak manusia ada di bumi. Oleh sebab itu faktor yang sangat penting dalam permasalahan lingkungan hidup adalah besarnya populasi manusia. Pertumbuhan populasi manusia yang cepat, menyebabkan kebutuhan akan pangan, bahan bakar, tempat pemukiman, dan lain kebutuhan serta limbah domestik juga bertambah dengan cepat. Pertumbuhan populasi manusia telah mengakibatkan perubahan yang besar dalam lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan hidup menjadi besar karena kemajuan teknologi.

Akan tetapi yang harus diingat bahwa teknologi bukan saja dapat merusak lingkungan, melainkan diperlukan juga untuk mengatasi masalah lingkungan hidup. Contoh: Mesin mobil yang tidak menggunakan bahan bakar fosil (bensin), tetapi menggunakan gas – Ingat: Langit Biru. Pertumbuhan populasi manusia menyebabkan timbulnya permasalahan lingkungan, seperti: kerusakan hutan, pencemaran, erosi, dan lain-lain; karena manusia selalu berinteraksi (inter-related) dengan makhluk hidup lainnya dan benda mati dalam lingkungan. Ini dilakukan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, dalam upaya mempertahankan jenis dan keturunannya. Pemenuhan kebutuhan manusia dapat terpenuhi karena adany pemanfaatan lingkungan yang berbentuk pengelolaan lingkungan hidup. Melalui pengelolaan lingkungan hidup, terjadi hubungan timbal balik antara lingkungan biofisik dengan lingkungan sosial. Ini berarti sudah berkaitan dengan konsep ekologi, terutama tentang konsep hubungan timbal balik (inter-related) antara lingkungan biofisik dengan lingkungan sosial. Dengan demikian apabila membicarakan lingkungan hidup, maka konsep ekologi akan selalu terkait, sehingga permasalahan lingkungan hidup adalah permasalahan ekologi.

 

1.2   Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Konsep Dasar Ekologi?
  2. Mengapa Lingkungan sebagai kesatuan ekologi?

 

1.3  Tujuan

  1. Menjelaskan Konsep Dasar Ekologi
  2. Menjelaskan Lingkungan sebagai Kesatuan Ekologi

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Konsep-konsep Dasar Ekologi

Pengelolaan lingkungan hidup bersifat Antroposentris, artinya perhatian utama dihubungkan dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan, dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik material (bahan makanan) dan non-material (keindahan dan nilai ilmiah). Dengan demikian kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan oleh tumbuhan, hewan, dan unsur tak hidup. Menurut Odum (1979) dalam bukunya “Fundamentals of Ecology”, lingkungan hidup didasarkan beberapa konsep ekologi dasar, seperti konsep: biotik, abiotik, ekosistem, produktivitas, biomasa, hukum thermodinamika I dan II, siklus biogeokimiawi dan konsep faktor pembatas. Dalam komunitas ada konsep biodiversitas, pada populasi ada konsep “carrying capacity”, pada spesies ada konsep distribusi dan interaksi serta konsep suksesi dan klimaks.

Kata Ekologi berasal dari Oikos yang berarti rumah atau tempat tinggal dan Logos yang berati telaah atau studi. Jadi ekologi adalah ilmu tentang rumah atau tempat tinggal organisma atau rumah tangga mahluk hidup. Ekologi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisma dengansesamanya dan dengan benda-benda mati di sekitarnya (lingkungannya). Ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernest Haeckel, seorang ahli biologi Jerman pada tahun 1869. Dalam pengertian proses alamiah, ekologi telah diketahui dan diaplikasikan sejak dulu dan terus berkembang sejalan dengan perkembangan akal dan budaya manusia. Sebagai ilmu, ekologi telah berkembang pesat sejak tahun 1990. Berdasarkan perkembangannya, sekarang dikenal Ilmu lingkungan hidup (environmental science) dan Biologi lingkungan (environmental biology). Pada dasarnya yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, dan keadaan yang terdapat dala suatu ruang tempat organism itu berada dan dapat saling mempengaruhi. Ekologi adalah dasar pokok ilmu lingkungan (Soerjaatmadja, 1981). Ekologi kadangkala disebut juga ilmu lingkungan, hanya saja cakupan ilmu lingkungan lebih luas daripada ekologi. Sebagai bagian dari mahluk hidup, peranan dan prilaku manusia secara khusus dalam ekologi manusia (Soerjani, 1985).

 

2.1.1        PEMBAGIAN EKOLOGI

Autekologi, mempelajari satu jenis organisme dan interaksinya dengan lingkungan. Pembahasan pada aspek siklus hidup, adaptasi, sifat parasitik dll.

Sinekologi, mengkaji berbagai kelompok organisme sebagai kesatuan yang saling berinteraksi dalam satu daerah tertentu. Sering dikenal dengan ekologi komunitas Pembagian ekologi berdasarkan habitat, kajian ekologi menurut habitat di mana organisma hidup misalnya ekologi laut, ekologi padang rumput, ekologi hutan tropika dll.

Pembagian ekologi menurut taksonomi, kajian ekologi menurut tingkatan taksa organisme, misanya ekologi tumbuhan, ekologi hewan, ekologi mikroorganisma dll.

 

2.1.2        TINGKATAN ORGANISASI ORGANISMA

Organisma memiliki tingkat organisasi dari sederhana (protoplasma) sampai kompleks (sistem organ). Bila tingkatan tersebut dirunutkan akan membentuk spektrum biologi dari tingkat seluler sampai biosfer berdasarkan urutan: protoplasma, sel, jaringan, organ, sistem organ, organisma, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer.

1. Protoplasma, merupakan zat hidup dalam sel yang terdiri atas senyawa organic kompleks seperti lemak, protein, dll.

2. Sel, satuan dasar organisma yang terdiri atas protoplasma dan inti

3. Jaringan, kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama

4. Organ, bagian organisma yang mempunyai fungsi tertentu

5. Sistem organ, kerja sama antara struktur dan fungsional yang harmonis

6. Organisme, mahluk hidup

7. Populasi, kelompok organisme sejenis pada satu waktu dan tempat tertentu

8. Komunitas, seluruh populasi pada daerah tertentu

9. Ekosistem, satu kesatuan utuh antar organisme dan lingkungannya yang saling mempengaruhi

10. Biosfer, lapisan bumi di mana ekosistem ada

 

2.1.3        HUBUNGAN EKOLOGI DENGAN ILMU LAINNYA

Telah dikatakan bahwa ekologi merupakan bagian dari biologi. Namun demkian dalam penerapannya dibutuhkan berbagai disiplin ilmu lainnya.

1. ILMU ALAM LAIN

A. Fisika, berperan dalam hal faktor fisik, seperti sinar matahari, suhu, dll

B. Kimia, bereperan dalam proses sintesis dan analisis kimiawi dalam tubuh organism

C. Bumi antariksa, terutama berperan pada musim, perubahan siang malam, erosi, sedimentasi, gravitasi, dll

2. ILMU SOSIAL

Ilmu sosial menjadi penting bila komponen manusia dimasukkan ke dalam cakupan ekosistem.

 

2.1.4        PRINSIP-PRINSIP EKOLOGI

Di alam, suatu organisma tidak dapat hidup sendiri. Untuk kelangsungan hidupnya suatu organisma akan sangat bergantung pada kehadiran organisme lain dan berbagai komponen lingkungan yang ada disekitarnya. Kehadiran organisma lain dan berbagai komponen lingkungan sangat dibutuhkan untuk keperluan pangan, perlindungan, pertumbuhan, perkembangan, dll. Hubungan antar organisme atau dengan lingkungannya akan sangat rumit dan kompleks, mereka saling berinteraksi satu sama lain membentuk suatu sistem ekologi atau sering disebut ekosistem.

 

2.1.5        EKOSISTEM

Kawasan alam yang di dalamnya tercakup unsusr-unsur hayati dan unsur-unsur non-hayati yang saling mempengaruhi dan tidak terpisahkan yang membentuk suatu sistem ekologi. Jadi ekosistem merupakan tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar dalam ekologi karena di dalamnya tercakup komponen autotrofik dan heterotrofik.

Ekositem pertama kali dikemukakan oleh Tansley pada tahun 1935. Sistem ini mempunyai beberapa nama lain, Forbs tahun 1887 menyebut ekosistem sebagai mikrokosm; Friederich tahun 1930 menyebut holocoen, dan Thienemann tahun1939 menyebut biosistem.

 

PEMBAGIAN EKOSISTEM

Berdasarkan makanan

A. Komponen autotrofik, merupakan organisma yang mampu menyediakan makanannya sendiri (fotosintesis)

B. Komponen heterotrofik, merupakan organisme yang hanya memanfaatkan hanya bahan organic

Berdasarkan fungsional

A. Aliran energy

B. Rantai makanan

C. Pola keaneaka ragaman dalam waktu dan ruang

D. Daur makanan (biogeokimia)

E. Perkembangan dan evolusi

F. Pengendalian

Berdasarkan unsur penyusun

A. Senyawa anorganik (C, N, P, H2O dll yang terlibat dalam daur materi)

B. Senyawa organik (protein, karbohidrat, lemak, dll)

C. Resim iklim, berupa faktor fisik

D. Produsen (organisme autotrofik)

E. Konsumen (organisme heterotrofik)

F. Pengurai (saprotrof dan osmotrof)

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2 Lingkungan Sebagai Kesatuan Ekologi

EKOLOGI SEBAGAI DASAR ILMU LINGKUNGAN

Biosains (Ilmu Lingkungan Kehayatan / Live

 

Environmental Science): Anatomi, Taksonomi,

Morfologi, Embriologi, Fisiologi, Wvolusi, Genetika

 

 

 

 

 

 

 

Fisikosains (Ilmu Lingkungan Kebendaan /Physical

 

Environmental Science): Geografi, Geologi,

Meteorologi, Hidrologi, Limnologi, Oseanologi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1: Ekologi sebagai dasar Ilmu Lingkungan

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2.1 Ekologi dengan Lingkungan Hidup

Ekologi: Hubungan antara mahkluk hidup dengan mahkluk hidup dan mahkluk hidup dengan tempat tinggalnya

Ekosistem

(Natural / Alam)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ekosistem + Sosiosistem = Lingkungan Hidup

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2: Hubungan antara Ekologi dan Lingkungan Hidup

 

Lingkungan Hidup (UUPLH No.23 tahun 1997):

Kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahkluk, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahkluk hidup lainnya. Dengan demikian lingkungan hidup (live environment) disusun oleh tiga komponen atau abc environment yang meliputi:

  • A (Abiotic environment) atau lingkungan fisik yang terdiri dari unsur –unsur air, udara, lahan dan energi serta bahan mineral yang terkandung didalamnya
  • B (Biotic environment) atau lingkungan hayati yang terdiri dari unsur-unsur hewan, tumbuhan dan margasatwa lainnya serta bahan baku industri
  • C (Cultural environment) atau lingkungan cultural SOSEKBUD / Social Ekonomi BudaYa serta kesejahteraan

Jadi di dalam lingkungan hidup terjadi interaksi dan hubungan timbal balik yang dinamis antar ketiga komponen lingkungan tersebut, seperti berikut ini:

►   Udara yang sejuk, segar dan tidak tercemar tentu saja sangat menyokong kehidupan manusia (C)

►   Di negara yang penduduknya telah mempunyai kemampuan ekonomi yang kuat (C), pembangunan fisik (A) sangat menonjol

►   Komponen fisik dan biologi sangat erat hubungannya, dan fungsinya sebagai tempat tinggal bagi manusia dan sistem sistem sosekbudnya. Karena itu kedua komponen tersebut digabung menjadi satu komponen dengan nama biofisik, sebagai satu sistem penyokong kehidupan

PROPOSED ACTIONS

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar:Interaksi dan hubungan timbal balik yang dinamis antar 3 komponen lingkungan

2.2.2        ORGANISASI DAN RUANG LINGKUP KAJIAN EKOLOGI LINGKUNGAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4: Organisasi dan ruang lingkup Ekologi Lingkungan

 

►   Individu organisme yang sejenis akan berkelompok membentuk suatu kelompok dan menempati suatu tempat pada suatu waktu, kelompok ini yang disebut populasi.

►   Beberapa populasi akan mendiami suatu tempat secara bersama sama, kumpulan ini disebut komunitas.

►   Komunitas akan saling berinteraksi secara timbal balik dengan komponen abiotiknya membentuk suatu sistem yang dikenal dengan ekosistem.

 

Populasi

Di dalam populasi ada hal-hal yang sangat khas sekali, yaitu:

  1. Ciri khas yang dimiliki oleh tiap tiap individu anggota populasi, misalnya sejarah hidup, perkembangan dan lainnya.
  2. Ciri khas yang dimiliki oleh populasi, misalnya laju kematian, laju kelahiran dan perbandingan umur.
  3. Individu anggota populasi dilahirkan, mempunyai umur dan mati.

Tetapi individu ini tidak mempunyai laju kelahiran dan laju kematian, karena untuk mengetahui laju harus dalam kelompok individu atau populasi.

  1. Kepadatan suatu populasi dapat ditunjukkan dengan cacah individu per unit area atau unit volume. Angka ini yang menunjukkan besarnya populasi.

Misalnya: kepadatan penduduk di suatu kota sebesar 750/kilometer persegikepadatan phytoplankton 1 juta/liter

Kepadatan dapat dibedakan jadi 2:

Kepadatan kasar: kepadatan per unit area

Kepadatan ekologi spesifik: epadatan per unit habitat

Misalnya: pada musim kering di suatu kolam dengan berkurangnya air kolam secara keseluruhan menyebabkan kepadatan kasarnya menurun. Sedangkan kepadatan ekologi spesifiknya makin meningkat, karena ikan makin tampak padat pada penurunan volume air

  1. Dalam studi populasi penting diketahui pula adanya perubahan populasi, baik penambahan atau pengurangan
  2. Faktor faktor yang mempengaruhi populasi

1)      Faktor yang tergantung kepada kepdatan populasi, umumnya faktor biologik seperti kompetisi, parasit, patogen

2)      Faktor yang tidak tergantung kepada kepadatan populasi, merupakan faktor faktor fisik misalnya iklim

  1. Dispersal (pemencaran) pada populasi: gerakan individu masuk ataupun keluar dari populasi, yang dibedakan menjadi:

1)      Imigrasi: gerakan individu memasuki suatu populasi

2)      Emigrasi: gerakan individu keluar dari populasi

3)      Migrasi: gerakan individu keluar atau memasuki kembali suatu populasi secara periodik

 

 

 

 

 

Komunitas

 

  1. Apabila suatu komunitas disusun       oleh sekelompok populasi dengan  satu atau dua dianatarnya             mempunyai pengaruh yang nyata terhadap lingkungannya dan         dapat mengontrol aliran energi ke dalam komunitas tersebut, maka spesies ini disebut spesies dominan.
  2. Kedominannya spesies pada organisme yang besar dapat ditunjukksn dengan biomassanya (berat kering). Pada komunitas hutan ditunjukkan dengan basal area dari batang tumbuhan (penampang batang) atau persentase penutupan lahan oleh tajuk.
  3. Suatu komunitas dapat diklasifikasikan menurut beberapa hal:

1)            Kenampakan struktur yang menyolok, misalnya spesies yang dominan, bentuk pertumnuhan.

2)            Habitat fisik komunitas

3)            Ciri fungsional komunitas, misal tipe metabolisme komunitas

 

2.2.3 Sesuatu dalam lingkungan berhubungan erat dengan lainnya.

Seperti telah diungkapkan di muka bahwa dalam hukum Thermodinamika II menyatakan bahwa perubahan energi tidak pernah berjalan sempurna, dari E1 menjadi E2 akan dihasilkan bagian yang terbuang baik berupa panas, entropi ataupun limbah. Baik panas, entropi ataupun limbah ini akan mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung sistem yang lain, yang berada pada lingkungannya.

Tumbuhan di alam tidak bisa hidup mandiri. Untuk tumbuh ia membutuhkan tanah sebagai media tumbuh, air sebagai pensuplai unsur kimia dan media reaksi serta metabolisme tubuh, udara sebagai sumber karbon dioksida. Tumbuhan juga membutuhkan hewan (misal serangga) sebagai organisme yang membantu penyerbukan dan pemencaran tumbuhan, atau angin dengan fungsi yang sama untuk tumbuhan golongan graminales. Hewan juga demikian halnya, ia membutuhkan unsur atau komponen yang lain untuk bisa bertahan hidup. Artinya setiap organisme yang ada di biosfer ini saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain.

 

 

2.2.4 Keaneka ragaman penentu kestabilan ekologi.

Dalam hal ini dapat diambil sebagai contoh antara tanaman monokultur dan polikultur. Pada tanaman monokultur seperti padi, jika pada saat masa tanam tanpa ada serangan hama sama sekali maka hasil panenan yang berupa biomasa bisa melimpah, tetapi jika ada serangan hama maka kemungkinan gagal total ada. Sebaliknya yang terjadi pada jenis polikultur, baik mina padi maupun tumpangsari yang lain.

Dalam sebuah ekosistem, keaneka ragaman yang makin melimpah akan menyebabkan kondisinya lebih stabil dibanding dengan ekosistem yang seragam. Baik karena gangguan hewan maupun manusia atau akibat serangan hama dan penyakit tanaman, maka ekosistem dengan tanaman yang seragam akan lebih mudah musnah. Pada ekosistem dengan tanaman beragam maka kemungkinan musnah lebih kecil, kecuali karena adanya faktor-faktor tertentu misalnya kebakaran hutan yang hebat. Hutan yang sejenis, misal hutan jati, jika masa tebang tiba, maka semua jenis pohon jati akan ditebang, sebaliknya hutan yang komposisinya beragam akan meninggalkan jenis-jenis pohon yang tidak mempunyai nilai ekonomis untuk ditebang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Hubungan timbal balik antara manusia dengan makhluk hidup lainnya dan unsure tak hidup, telah menyebabkan manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun aktivitas yang dilakukan manusia dalam lingkungan hidup, telah menyebabkan timbulnya kerusakan lingkungan atau permasalahan lingkungan hidup.

Permasalahan lingkungan hidup pada hakikatnya merupakan permasalahan ekologi. Hal ini karena ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan. Unsur penting yang harus diperhatikan dalam lingkungan adalah materi, energi, dan informasi. Ketiga unsur itu dapat ikut mempengaruhi keanekaragaman dalam komunitas dan dapat menjadi faktor pembatas dalam populasi. Apabila ketiga unsur itu terganggu (berubah) maka lingkungan juga akan berubah, berarti siklus biogeokimiapun berubah.

Berdasarkan uraian di atas, walaupun pengelolaan lingkungan bersifat antroposentris, tetapi dalam pengelolaan lingkungan tetap harus memperhatikan komponen-komponen lingkungan hidup. Berbagai komponen itu dipelajari sebagai konsep-konsep dasar ekologi. Dengan demikian ekologi merupakan salah satu komponen dalam sistem pengelolaan lingkungan hidup yang harus ditinjau bersama komponen lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://unpurti2009.blogspot.com/2009/03/bab-1-ekologi-sebagai-dasar-ilmu.html

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/196202131990012-SRI_HAYATI/MKEKOLOGI_DAN_LINGKUNGAN/KONSEP_DASAR_EKOLOGI_DAN_LINGKUNGAN.pdf

202.91.15.14/upload/files/7477_DIKTAT.doc

http://library.um.ac.id/images/stories/pidatogurubesar/gurubesar/Ekologi%20Sebagai%20Dasar%20Untuk%20Memahami%20Tatanan%20Dalam%20Lingkungan%20Hidup%20-%20Prof.%20Ir.%20Radyastuti%20Winarno.pdf

http://isvasta-eka.net/kemahasiswaan/pendahuluan%20pend%20ling.pdf

http://www.bpkpenabur.or.id/files/Hal.125-132%20Pembelajaran%20Ekologi.pdf

http://ayekologi.blogspot.com/2008/03/materi-ke-2-ekologi-sebagai-dasar.html

 

 

MANUSIA DAN LINGKUNGAN

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah: Pengetahuan Lingkungan

Kelompok I

Nur Imamah                            (0910211088)

Sinta septiana sari                   (0910211064)

Hendri Kurniawan                  (0910211108)

Yuda Prasetiya W.S                (0910211069)

Atik rizki amalia                      (0910211087)

Nimas Roro S                          (0910211113)

 

 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PRODI BIOLOGI

Oktober, 2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyusun makalah ”Manusia dan Lingkungan”. Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengetahuan Lingkungan.

Sebagaimana diketahui bahwa manusia dan lingkungan itu merupakan hal yang saling berkaitan. Oleh karena itu, kami sedikit mengulas tentang keterkaitan antara lingkungan dan manusia sehingga dapat memberikan informasi bagi mahasiswa serta pendidik maupun masyarakat umum.

Semoga makalah kami dapat bermanfaat untuk para pembaca. Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan untuk sempurnanya makalah ini.

Jember, 2011

 

Penulis

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………………1

DAFTAR ISI  …………………………………………………………………………………………………….2

BAB I   ………………………………………………………………………………………………………………3

1. 1         Latar Belakang ……………………………………………………………………………………..3

1. 2         Rumusan Masalah  ………………………………………………………………………………..4

1. 3         Tujuan …………………………………………………………………………………………………4

BAB II ………………………………………………………………………………………………………………5

2. 1.       Pengaruh Lingkungan terhadap Individu …………………………………………………5

2. 2.       Perkembangan Peradaban Hubungan Dengan Sistem Lingkungan ………………7

2. 3.       Paradigma Baru Interaksi Manusia Dengan Alam  …………………………………..10

2. 4.       Pendekatan Altruistik Dan Antroposentrik ………………………………………………11

BAB III ……………………………………………………………………………………………………………..14

1. 1

2. 1

3. 1         Kesimpulan …………………………………………………………………………………………14

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………………….15

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1                LATAR BELAKANG

Manusia dan lingkungan hidupnya adalah dua hal yang saling bergantung satu sama lain. Ada kaitan erat di antara kedua sistem ini. Manusia adalah suatu sistem kompleks dari makhluk hidup yang terdiri dari sel-sel di dalam tubuhnya. Untuk bertahan hidup (survival), manusia berinteraksi dengan lingkungan dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhannya. Sedangkan lingkungan hidup merupakan suatu sistem akbar dari kehidupan makhluk hidup dan di dalamnya termasuk manusia itu sendiri. Dengan singkat dikatakan bahwa manusia termasuk dalam sistem lingkungan hidup itu sendiri.

Kedua komponen kehidupan ini telah mengalami proses saling mempengaruhi satu sama lain sejak dahulu kala. Sejak manusia pertama kali menginjakkan kakinya ke muka bumi, maka sejak itu pula proses itu dimulai. Proses saling mempengaruhi ini dapat kita lihat pada beberapa kasus dalam kehidupan sehari-hari. Manusia yang tinggal di daerah dingin (kutub utara misalnya) akan mencoba mengadaptasikan dirinya dengan memakai pakaian yang tebal sebagai penahan dingin. Contoh lainnya adalah ketika manusia ingin membuka lahan, maka dilakukanlah penebangan pohon sehingga terjadi perubahan lingkungan, misalnya lahan yang tadinya berupa hutan dapat berubah menjadi lahan persawahan atau suatu kota yang indah. Juga ketika manusia dalam kehidupannya meningkatkan pemakaian gas freon yang pada akhirnya menyebabkan rusaknya lapisan ozon, dan akibatnya selanjutnya adalah terjadinya perubahan intensitas sinar matahari yang sampai ke bumi. Contoh-contoh ini menunjukkan pada kita bahwa proses saling mempengaruhi adalah suatu hal yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia dengan lingkungannya.

Secara umum diketahui bahwa akibat kegiatan manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya sering terjadi degradasi lingkungan. Degradasi lingkungan adalah menurunnya peruntukan lahan akibat kegiatan manusia di dalamnya. Contoh yang paling sering kita temui mengenai degradasi lingkungan adalah longsor akibat penebangan pohon di daerah yang memiliki kemiringan cukup besar dan juga banjir yang sering melanda karena kurangnya daerah resapan air, yang merupakan akibat dari berkurangnya pepohonan sebagai komponen utama peresap air. Hal-hal seperti itu sangat jelas merupakan dampak negatif dari tindakan manusia dalam mempengaruhi lingkungannya yang nantinya juga akan berdampak negatif terhadap manusia itu sendiri. Akibat dampak-dampak negatif yang timbul itu, maka perhatian terhadap keadaan lingkungan hidup mulai bermunculan satu per satu dari tiap kalangan, yang pada intinya mereka menuntut adanya perlakuan khusus terhadap lingkungan hidup agar kelestariannya tetap terjaga.

1.2                RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap individu?
  2. Bagaimana perkembangan peradaban hubungan dengan sistem lingkungan?
  3. Bagaimana paradigma baru interaksi manusia dengan alam?
  4. Apa itu pendekatan Altruistik dan Antroposentrik?

1.3                TUJUAN

  1. Mengetahui pengaruh lingkungan terhadap individu.
  2. Mengetahui perkembangan peradaban hubungan dengan sistem lingkungan.
  3. Mengetahui paradigma baru interaksi manusia dengan alam.
  4. Dapat menjelaskan tentang pendekatan Altruistik dan Antroposentrik.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1                Pengaruh Lingkungan terhadap Individu

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis, termasuk didalamnya adalah belajar.
Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman, karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya.
Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu, dapat kita ikuti pada uraian berikut :

  1. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial

Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi, sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya.

Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya, akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya.

Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja, walaupun diberinya cukup makanan dan minuman, akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa, canggung pemalu dan lain-lain. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik, maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali.

  1. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu

Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang, karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya.
Lingkungan memiliki peranan bagi individu, sebagai :

  1. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah.
  2. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya.
  3. Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya, apabila dianggap sesuai dengan dirinya. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar, sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin.
  4. Obyek penyesuaian diri bagi individu, baik secara alloplastis maupun autoplastis. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga di kamarnya menjadi sejuk. Dalam hal ini, individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis, penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit, pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan, namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi, karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya.

2.2                PERKEMBANGAN PERADABAN HUBUNGAN DENGAN SISTEM LINGKUNGAN

Peradaban merupakan buah pikiran dari manusia yang mempunyai akal dan budi. Peradaban sifatnya tidak statis akan tetapi bersifat dinamis berubah tergantung apa yang dipikirkan oleh manusia. Ketika terjadi ledakan ilmu pengetahuan, banyak fakta-fakta yang ditemukan, arus informasi begitu banyak diterima kepala manusia, hal tersebut akan mengubah pandangan dan peradaban manusia.

Dari sejarah dapat dikelompokan hubungan peradaban dan dengan interaksi yang dilakukan oleh manusia dengan alam menjadi 3 periode yaitu: periode mistisme, rasionalisme dan fungsionalisme.

A. Periode mistisme

Pada periode belum perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat lambat atau ilmu pengetahuan dan teknologi belum banyak diketahui manusia. Oleh karena itu manusia belum mempunyai kemampuan untuk melakukan rekayasa terhadap alam. Manusia hidup dengan mempelajarai alam (fenomologis). Manusia mempelajari alam agar dapat bertahan hidup, manusia menyelaraskan hidupnya dengan alam. Manusia mempunyai anggapan bahwa bumi merupakan sistem hidup yang dapat melakukan self regulation. Ritual yang bersifat mistis selalu dilakukan apabila akan mengambil atau memanfaatkan sumber daya alam, dengan tujuan meminta restu. Banyak kearifan lokal yang ada dalam kegiatan ritual, seperti menggunakan sumber daya alam secukupnya tidak berlebih-lebihan, memperhatikan kemampuan regenasi dari alam dan lain-lain. Pada periode ini manusia menempatkan dirinya sebagai bagian dari alam dan manusia mengikuti hukum alam (biocentrism).

 

 

B. Periode Rasionalisme

Pada periode ini ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat cepat. Manusia mempunyai kemampuan melakukan rekayasa terhadap alam. Dilain sisi jumlah populasi manusia semakin bertambah sehingga kebutuhan akan sumber daya alam semakin tinggi. Pada periode ini manusia memperlakukan sumber daya alam dan lingkungan bagaikan materi atau modal. Manusia dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya melakukan rekayasa dan eksploitasi terhadap sumber daya alam dan lingkungan. Bumi bagaikan sebuah mesin sumber daya yang terus diekspoitasi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Eksistensi manusia telah bergeser dari bagian sistem bumi menjadi keluar dari sistem dan berkedudukan sebagai subjek dan objek. Tidak ada pertukaran informasi antara manusia dan lingkungan hidup. Sehingga apa yang terjadi pada periode ini adalah saling mendominasi antara manusia dengan lingkungan. Ketika manusia mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan ekploitasi dan rekayasa, maka terjadi leaching sumber daya manusia, akan tetapi disatu sisi ketika tekanan pada lingkungan sudah maksimal yang terjadi adalah bencana yang juga dapat merugikan manusia. Pada periode ini paradigma yang berkembang lebih cenderung bagaimana memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan untuk kemakmuran rakyat (antrophocentrism).

C. Periode fungsional

Pada periode ini manusia mulai menyadari adanya hukum sebab akibat dari sebuah hubungan atau interaksi anatara manusia dengan lingkungan hidup. Masing-masing mempunyai peranan dalam kehidupan dan saling bergantung satu sama lain, sehingga apabila terjadi ketidak seimbangan dalam interaksi antara manusia dan alam maka akan memberikan dampak negatif bagi manusia itu sendiri. Oleh karena sudah difahami adanya interaksi yang merupakan suatu hubungan timbal balik maka, informasi yang terjadi dalam dua arah. Manusia mulai mengamati perubahan yang terjadi, ada komunikasi antara manusia dengan alam. Dari segi pendekatan interaksi manusia dengan alam melakuan pendekatan integratif dan kompleksitas. Yang dimaksud dengan kompleksitas adalah, bahwa alam dipandang merupakan suatu sistem yang sangat komplek mempunyai sifat apoteisis (self regulation) dan alam merupakan jarring-jaring kehidupan yang sangat rumit yang saling terkait satu dengan yang lain.

D. Teori Gaia

Tahun 1969 Lovelock menyajikan hipotesisnya mengenai bumi sebagai sebuah sistem yang mengendalikan diri sendiri untuk pertama kalinya dalam pertemuan ilmiah di Princeton. Pada pertemuan tersebut Lovestock menjelaskan bagaimana bumi dapat mengendalikan temperatur dan komposisi atmosfirnya kecuali bawa ia mengetahui bahwa proses pengendalian diri mestinya melibatkan organisme yang berada pada biosfer. Keikutsertaan organisme dalam self regulationi temperatur dan komposisi atmosfir disempurnakan oleh Lynn Margulis, biolog Amerika. Dari hasil kolaborasi ini mampu mengidentifikasi jaringan putaran-putaran umpan balik yang menghasilkan pengaturan diri sistem planeter. Ciri khas utama putaran-putaran umpan balik ini adalah mereka menghubungkan sistem-sistem hidup dengan sistem tak hidup secara bersamasama.

Teori Gaia memperlihatkan adanya saling ketergantungan yang sangat erat antara bagian-bagian yang hidup seperti tumbuhan, mikroorganisme, hewan-hewan dengan bagian-bagian yang hidup bebatauan, lautan, atmosfer dll. Teori Gaia melihat kehidupan dalam prespektif sistem, mempertemukan geologi, mikrobiologi dalam suatu pandangan system disiplin lainnya yang biasanya dulu tidak berkomunikasi satu sama lainnya. Lovelock dan Margulis menentang pandangan konvensional bahwa disiplin-disiplin terpisah bahwa tumbuhan dan hewan hanyalah penumpang yang kebetulan menumpai kondisi yang cocok bagi evolusinya. Menurut Teori Gaia, Kehidupan menciptakan kondisi-kondisi untuk keberadaannya sendiri. Dalam kata-katanya Lynn Margulis: Menyatakan bahwa hipotesis Gaia itu mengatakan bahwa permukaan bumi, yang senantiasa kita anggap merupakan lingkungan kehidupan, memang betul-betul merupakan kehidupan. Lapisan udara-troposfer-harus dianggap sebagai suatu sistem siklus yang dihasilkan dan dipertahankan oleh kehidupan. Ketika para ilmuwan mengatakan pada kita bahwa kehidupan beradaptasi kepada suatu lingkungan kimia, fisika dan bebatuan yang pada dasarnya pasif, mereka menggunakan pandangan yang sangat terdistorsi. Kehidupan-benar-benar membuat dan membentuk serta mengubah lingkungan yang diadaptasinya. Kemudian umpan-umpan balik lingkungan tersebut pada kehidupan ialah mengubah dan bertindak, serta tumbuh didalammnya. Adanya interaksi interaksi siklis yang konstan.

2.3                PARADIGMA BARU INTERAKSI MANUSIA DENGAN ALAM

Permasalahan lingkungan yang terjadi pada saat sekarang merupakan ancaman yang sangat membahayakan biosfer dan kehidupan manusia dalam bentuk yang sangat mengejutkan yang dalam waktu dekat akan segera menjadi yang tidak dapat dikembalikan (irreversible). Bila kita cermati permasalahan lingkungan yang terjadi bila diamati lebih dalam lagi kita akan menyadari bahwa permasalahan tersebut akan sulit dipisahkan satu dengan yang lain. Permasalahan tersebut merupakan permasalahan sistemik. Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi perlu ada paradigma baru yang merupakan pandangan holistik, memandang dunia sebagai suatu keseluruhan yang terpadu ketimbang suatu kumpulan bagian-bagian yang terpisah-pisah. Pandangan tersebut dikenal dengan paradigma ekologis. Istilah ekologis juga dipakai dalam arti luas dan lebih dalam dari biasanya. Kesadaran ekologis yang mendalam mengakui saling ketergantungan fundamental semua fenomena dan fakta bahwa, sebagaimana individu dan masyakarat, kita sekalian terlekat dalam (dan bergantung secara mutlak pada) proses siklis alam.

Kedua istilah holistik dan ekologis agak berbeda dalam arti, dan tampaknya holistik merupakan istilah yang kurang tepat untuk melukiskan paradigma baru. Sebuah pandangan holistic, kataknalah, tentang sebuah sepeda, berarti melihat sepeda sebagai suatu keseluruhan fungsional dan karena itu mengerti saling ketergantungan bagian-bagiannya. Sebuah pandangan ekologis mengenai sepeda mencakup pandangan holistic, tetapi menambahkan presepsi tentang bagaimana sepeda tersebut terlekat dalam lingkungan alamiah dan social. Perbedaan antara holistic dengan ekologis, bahkan kian penting ketika kita berbicara tentang system-sistem hidup, yang baginya hubungan dengan lingkungan sangat penting. Ada dua aliran paradigma ekologis yaitu paradigm ekologis dangkal dan ekologis dalam. Paradigma ekologis dangkal bersifat antrophocentris atau berpusat pada manusia sedangkan ekologi dalam tidak memisahkan manusia atau apapun dari lingkungan almaiahnya. Dunia bukan merupakankumpulan objekobjek yang terpisah tetapi sebagai suatu jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental. Ekologi dalam mengakui nilai intrinsik semua mahluk hidup dan memandang manusia tak lebih dari satu untaian dalam jaringan kehidupan. Pada akhirnya kesadaran ekologis yang mendalam adalah kesadaran spiritual atau religious. Ketika konsep tentang jiwa manusia dimengerti sebagai pola kesadaran dimana individu merasakan suatu rasa memiliki, dari rasa berhubungan, kepada kosmos sebagai suatu keseluruhan, maka jelas bahwa kesadaran ekologis bersifat spiritual dalam esensinya yang terdalam. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa munculnya pandangan baru realitas yang didasarkan pada kesadaran ekologis yang mendalam dan konsisten dengan apa yang disebut filsafat parenial (filsafat abadi) yang berasal dari tradisi-tradisi spiritual.

2.4                PENDEKATAN ALTRUISTIK DAN ANTROPOSENTRIK

Lingkungan Hidup Manusia

Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Pasal 1 Angka 1 mengartikan Lingkungan Hidup sebagai “kesatuan ruang dengan kesemua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya”.

Manusia hidup, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan alam dan budayanya. Dalam lingkungan alamnya manusia hidup dalam sebuah ekosisten yakni, suatu unit atu satuan fungsional dari makhluk-makhluk hidup dengan lingkungannya. Dalam ekosisten terdapat komponen abiotik pada umumnya merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi makhluk-makhluk hidup diantaranya: tanah, udara atau gas-gas yang membentuk atmosfer, air, cahaya, suhu atau temperatur, Sedangkan komponen biotik diantaranya adalah: produsen, konsumen, pengurai.

Manusia sedikit demi sedikit mulai menyesuaikan diri pada alam lingkungan hidupnya maupun komunitas biologis di tempat mereka hidup. Perubahan alam lingkungan hidup manusia tampak jelas di kota-kota, dibanding dengan pelosok dimana penduduknya masih sedikit dan primitif.

Perubahan alam lingkungan hidup manusia akan berpengaruh baik secara positif ataupun negatif. Berpengaruh bagi manusia karena manusia mendapatkan keuntungan dari perubahan tersebut, dan berpengaruh tidak baik karena dapat dapat mengurangi kemampuan alam lingkungan hidupnya untuk menyokong kehidupannya.

Manusia merupakan komponen biotik lingkungan yang memiliki kemampuan berfikir dan penalaran yang tinggi. Disamping itu manusia memiliki budaya, pranata sosial dan pengetahuan serta teknologi yang makin berkembang. Peranan manusia dalam lingkungan ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif. Peranan manusia yang bersifat negatif adalah peranan yang merugikan lingkungan. Kerugian ini secara langsung atau pun tidak langsung timbul akibat kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, peranan manusia yang bersifat positif adalah peranan yang berakibat menguntungkan lingkungan karena dapat menjaga dan melestarikan daya dukung lingkungan.
Peranan Manusia yang bersifat negatif terhadap lingkungan antara lain sebagai berikut:

1.      Eksploitasi yang melampaui batas sehingga persediaan  Sumber Daya Alam makin menciut (depletion);

2.      Punah atau merosotnya jumlah keanekaan jenis biota;

3.      Berubahnya ekosistem alami yang mantap dan seimbang menjadi ekosistem binaan yang tidak mantap karena terus menerus memerlukan subsidi energi;

4.      Berubahnya profil permukaan bumi yang dapat mengganggu kestabilan tanah hingga menimbulkan longsor;

5.      Masuknya energi bahan atau senyawa tertentu ke dalam lingkungan yang menimbulkan pencemaran air, udara, dan tanah. hal ini berakibat menurunnya kualitas lingkungan hidup. Pencemaran dapat menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan terhadap manusia itu sendiri;

Peranan Manusia yang menguntungkan lingkungan antara lain:

  1. Melakukan eksploitasi Sumber Daya Alam secara tepat dan bijaksana terutama SDA yang tidak dapat diperbaharui;
  2. Mengadakan penghijauan dan reboisasi untuk menjaga kelestarian keaneka jenis flora serta untuk mencegah terjadinya erosi dan banjir;
  3. Melakukan proses daur ulang serta pengolahan limbah agar kadar bahan pencemar yang terbuang ke dalam lingkungan tidak melampaui nilai ambang batasnya;
  4. Melakukan sistem pertanian secara tumpang sari atau multi kultur untuk menjaga kesuburan tanah. Untuk tanah pertanian yang miring dibuat sengkedan guna mencegah derasnya erosi serta terhanyutnya lapisan tanah yang mengandung humus;
  5. Membuat peraturan, organisasi atau undang-undang untuk melindungi lingkungan dan keanekaan jenis makhluk hidup.

 

BAB III

3.1 KESIMPULAN

Manusia bertindak sosial dengan cara memanfaatkan alam dan lingkungan untuk menyempurnakan serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya demi kelangsungan hidup sejenisnya.

Manusia mempunyai pengaruh penting dalam kelangsungan ekosistem serta habitat manusia itu sendiri, tindakan-tindakan yang diambil atau kebijakan-kebijakan tentang hubungan dengan lingkungan akan berpengaruh bagi lingkungan dan manusia itu sendiri.

Kemampuan kita untuk menyadari hal tersebut akan menentukan bagaimana hubungan kita sebagai manusia dan lingkungan kita. Hal ini memerlukan pembiasaan diri yang dapat membuat kita menyadari hubungan manusia dengan lingkungan. Manusia memiliki tugas untuk menjaga lingkungan demi menjaga kelansungan hidup manusia itu sendiri dimasa akan datang.

Oleh sebab itu manusia perlu mengambil kebijakan-kebijakan terhadap lingkungan sebagai usaha untuk memperoleh efisiensi pemanfaatan sumber alam dan lingkungan. Kita sebagai manusia wajib menyadari bahwa kita saling terkait dengan lingkungan yang mengitari kita.

Kemampuan kita untuk menyadari hal tersebut akan menentukan bagaimana hubungan kita sebagai manusia dan lingkungan kita. Hal ini memerlukan pembiasaan diri yang dapat membuat kita menyadari hubungan manusia dengan lingkungan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Wahyu surahkusuma.2010.Perkembangan Sains, Peradaban dan Interaksi Manusia dengan Alam (online). (http: //file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197212031999031-WAHYU_SURAKUSUMAH/Perkembangan_sain,_peradaban_dan_interaksi_manusia_dengan_al.pdf) diakses: 17 oktober 2011.

 

 

PRINSIP-PRINSIP DAN MASALAH-MASALAH LINGKUNGAN HIDUP

Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Pengetahuan Lingkungan

Dosen Pembina:Agus Prasetyo Utomo,S.Si

KELOMPOK  7

  1. 1.      Efriyanti nilasari                   (0910211100)
  2. 2.      Kholifatun Nurjannah          (0910211110)
  3. 3.      Rizki ayu P                            (0910211080)
  4. 4.      Irdia Lutfi                              (0910211061)
  5. 5.      Dian Ulin                                (0910211081)
  6. 6.      Dimas perkasa                       (081021061)
  7. 7.      Agus Sugianto

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2011

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kepada Allah S.W.T yang telah memberikan karunia-Nya sehingga,penulis dapat menyusun makalah yang berjudul ”Prinsip prinsip dan masalah-masalah Lingkungan Hidup” dengan baik.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Pengetahuan Lingkungan telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.Sehingga, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.Makalah ini disusun sebagai tugas awal yang menjadi kesepakatan dalam kontrak perkuliahan dengan strategi students center. Dengan demikian penulis berharap agar makalah ini dapat menambah khasanah pengetahuan baik bagi kelompok kami maupun bagi para pembaca dalam memahami konsep pengetahuan lingkungan secara umum.

Dewasa ini lingkungan hidup organisme sangat memerlukan perhatian yang serius karena fakta-fakta dan fenomena-fenomena yang terjadi telah menunjukkan adanya ketidak seimbangan alam. Seperti gempa bumi,tanah longsor,banjir,dan lain sebagainya.Semua itu terjadi akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak menggunakan etika lingkungan dalam mengeksploitasi,mengeksplorasi dan mendaya gunakan sumber daya alam yang ada.Sehingga diperlukan pengetahuan akan prinsip-prinsip lingkungan hidup,masalah-masalah dan cara menanggulanginya untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun,untuk kesempurnaan makalah di masa yang akan datang.Semoga makalah ini dapat menambah khasanah pengetahuan bagi para pembaca.

 

 

Jember, Oktober 2011

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………………………i

Daftar isi……………………………………………………………………………………………………………..……..ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang…………………………………………………………………………………………………….1

1.2  Rumusan Masalah………………………………………………………………………………………….…….1

1.3  Tujuan …………………………………………………………………………………………………………..……1

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Prinsip – Prinsip Lingkungan Hidup…………………………………………………….2

2.2 Masalah – Masalah Lingkungan Hidup………………………………………………….7

2.3 Upaya Pelestarian Lingkungan………………………………………………………….10

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN…………………………………………………………………………………………………..16

3.2 KRITIK & SARAN……………………………………………………………………..16

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………….…17

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Di abad Milenium ini, kemajuan akan ilmu pengetahuan dan teknologi ( IPTEK) seakan menimbulkan  polemik terhadap lingkungan hidup manusia.Hal ini karena kebanyakan manusia hanya mementingkan kepentingan individu tanpa memikirkan dampak bagi lingkungan hidup dalam penggunaan sumber daya alam(SDA). Selain itu penyebab kerusakan lingkungan akibat ulah manusia juga disebabkan karena kurangnya kesadaran akan etika lingkungan.

Kerusakan lingkungan hidup dapat terjadi melalui pencemaran lingkungan,yang meliputi  udara, air, dan tanah.Contoh pencemaran udara meliputi:global warming,penipisan lapisan ozon, dan hujan asam.Pencemaran air:limbah sungai,eutrofikasi dll.Pencemaran tanah:tanah solid akibat penumpukan pupuk kimia dll.

Dengan adanya contoh kerusakan-kerusakan di atas,maka diharapkan manusia sebagai pengelola lingkungan hidup dapat mengetahui prinsip-prinsip,masalah-masalah dan cara menanggulanginya untuk meminimalisirkan kerusakan yang telah terjadi.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Jelaskan prinsip-prinsip lingkungan hidup ?
  2. Jelaskan masalah-masalah dalam lingkungan hidup ?
  3. Bagaimana upaya mengatasi permasalahan lingkungan hidup ?

 

1.3  Tujuan

  1. Mengetahui  prinsip-prinsip lingkungan hidup .
  2. Mengetahui  masalah-masalah dalam lingkungan hidup .
  3. Mengetahui upaya dalam mengatasi permasalahan lingkungan hidup .

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Prinsip-prinsip Lingkungan Hidup

Lingkungan merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia. Sehingga lingkungan harus dipandang sebagai salah satu komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihormati, dihargai, dan tidak disakiti, lingkungan memiliki nilai terhadap dirinya sendiri. Integritas ini menyebabkan setiap perilaku manusia dapat berpengaruh terhadap lingkungan disekitarnya. Perilaku positif dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari dan perilaku negatif dapat menyebabkan lingkungan menjadi rusak. Integritas ini pula yang menyebabkan manusia memiliki tanggung jawab untuk berperilaku baik dengan kehidupan di sekitarna. Kerusakan alam diakibatkan dari sudut pandang manusia yang anthroposentris, memandang bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta. Sehingga alam dipandang sebagai objek yang dapat dieksploitasi hanya untuk memuaskan keinginan manusia, hal ini telah disinggung oleh Allah SWT dalam Al Quran surah Ar Ruum ayat 41:

 

 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

 

Luas hutan di Indonesia adalah sebesar 120,35 juta hektar, terdiri dari hutan produksi 66,35 juta hektar, hutan lindung 33,50 juta hektar, hutan konservasi 20,50 juta hektar. Penutupan vegetasi di dalam kawasan hutan mencapai 88 juta hektar (Sinar Harapan, 2008). Tutupan hutan di Indonesia memiliki luas sebesar 130 juta hektar, menurut World Reseach Institute (sebuah lembaga think tank di Amerika Serikat), 72 persen hutan asli Indonesia telah hilang, berarti sisa luasan hutan Indonesia hanya sebesar 28 persen. Kemudian data Departemen Kehutanan sendiri mengungkapan bahwa 30 juta hektar hutan di Indonesia telah rusak parah, atau sebesar 25 persen(Khofid, 2004). Data-data ini menunjukan bahwa kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, telah mencapai tingkat yang parah. Sehingga berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan pendidikan lingkungan untuk mengubah sudut pandang dan perilaku manusia.

Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dipenuhi saat manusia berinteraksi dengan lingkungan hidup. Prinsip-prinsip ini terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut. Berikut adalah prinsip-prinsip yang dapat menjadi pegangan dan tuntunan bagi perilaku manusia dalam berhadapan dengan alam, baik perilaku terhadap alam secara langsung maupun perilaku terhadap sesama manusia yang berakibat tertentu terhadap alam:

 

1. Sikap Hormat terhadap Alam (Respect For Nature)

 

Di dalam AlQur’an surat Al-Anbiya 107, Allah SWT berfirman:

 

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

 

Rahmatan lil alamin bukanlah sekedar motto Islam, tapi merupakan tujuan dari Islam itu sendiri. Sesuai dengan tujuan tersebut, maka sudah sewajarnya apabila Islam menjadi pelopor bagi pengelolaan alam dan lingkungan sebagai manifestasi dari rasa kasih bagi alam semesta tersebut. Selain melarang membuat kerusakan di muka bumi, Islam juga mempunyai kewajiban untuk menjaga lingkungan dan menghormati alam semesta yang mencakup jagat raya yang didalamya termasuk manusia, tumbuhan, hewan, makhluk hidup lainnya, serta makhluk tidak hidup.

Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Seperti halnya, setiap anggota komunitas sosial mempunyai kewajiban untuk menghargai kehidupan bersama (kohesivitas sosial), demikian pula setiap anggota komunitas ekologis harus menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies dalam komunitas ekologis itu, serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga kohesivitas dan integritas komunitas ekologis, alam tempat hidup manusia ini. Sama halnya dengan setiap anggota keluarga mempunyai kewajiban untuk menjaga keberadaan, kesejahteraan, dan kebersihan keluarga, setiap anggota komunitas ekologis juga mempunyai kewajiban untuk menghargai dan menjaga alam ini sebagai sebuah rumah tangga.

 

2. Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility For Nature)

Terkait dengan prinsip hormat terhadap alam di atas adalah tanggung jawab moral terhadap alam, karena manusia diciptakan sebagai khalifah (penanggung jawab) di muka bumi dan secara ontologis manusia adalah bagian integral dari alam. Sesuai dengan firman Allah dalam surah al Baqarah : 30

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.

Kenyataan ini saja melahirkan sebuah prinsip moral bahwa manusia mempunyai tanggung jawab baik terhadap alam semesta seluruhnya dan integritasnya, maupun terhadap keberadaan dan kelestariannya Setiap bagian dan benda di alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam semesta, bertanggung jawab pula untuk menjaganya.

 

3.Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)

Terkait dengan kedua prinsip moral tersebut adalah prinsip solidaritas. Sama halnya dengan kedua prinsip itu, prinsip solidaritas muncul dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Lebih dari itu, dalam perspektif ekofeminisme, manusia mempunyai kedudukan sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk lain di alam ini. Kenyataan ini membangkitkan dalam diri manusia perasaan solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain.

 

  1. 4.      Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam (Caring For Nature)

Sebagai sesama anggota komunitas ekologis yang setara, manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi. Kasih sayang dan kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat. Sebagaimana dimuat dalam sebuah Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Shakhihain:

 

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak seorang pun muslim yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam, kemudian buahnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya.”

Dalam hadis lain dijelaskan

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah dua perbuatan yang mendatangkan laknat!” Sahabat-sahabat bertanya, ”Apakah dua perbuatan yang mendatangkan laknat itu?” Nabi menjawab, “Orang yang buang air besar di jalan umum atau di tempat berteduh manusia

 

 

 

 

Prinsip-prinsip Etika Lingkungan

Sebagai pegangan dan tuntunan bagi prilaku kita dalam berhadapan dengan alam , terdapat beberapa prinsip etika lingkungan yaitu :
1. Sikap Hormat terhadap Alam
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya
2. Prinsip Tanggung Jawab
Tanggung jawab ini bukan saja bersifat individu melainkan juga kolektif yang menuntut manusia untuk mengambil prakarsa, usaha, kebijakan dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta dengan isinya.
3. Prinsip Solidaritas
Yaitu prinsip yang membangkitkan rasa solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan makluk hidup lainnya sehigga mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan.
4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian
Prinsip satu arah , menuju yang lain tanpa mengaharapkan balasan, tidak didasarkan kepada kepentingan pribadi tapi semata-mata untuk alam.
5. Prinsip “No Harm”
Yaitu Tidak Merugikan atau merusak, karena manusia mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab terhadap alam, paling tidak manusia tidak akan mau merugikan alam secara tidak perlu
6. Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras dengan Alam
Ini berarti , pola konsumsi dan produksi manusia modern harus dibatasi. Prinsip ini muncul didasari karena selama ini alam hanya sebagai obyek eksploitasi dan pemuas kepentingan hidup manusia.
7. Prinsip Keadilan
Prinsip ini berbicara terhadap akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam, dan dalam ikut menikmati manfaat sumber daya alam secara lestari.
8. Prinsip Demokrasi
Prinsip ini didsari terhadap berbagai jenis perbeaan keanekaragaman sehingga prinsip ini terutama berkaitan dengan pengambilan kebijakan didalam menentukan baik-buruknya, tusak-tidaknya, suatu sumber daya alam.
9. Prinsip Integritas Moral
Prinsip ini menuntut pejabat publik agar mempunyai sikap dan prilaku moral yang terhormat serta memegang teguh untuk mengamankan kepentingan publik yang terkait dengan sumber daya alam.

2.2  Masalah-masalah lingkungan

Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

  1. A.    Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam

Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

  1. Letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang menimbulkan tekanan kuat keluar melalui puncak gunung berapi. Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antara lain berupa:

1) Hujan abu vulkanik, menyebabkan gangguan pernafasan.

2) Lava panas, merusak, dan mematikan apa pun yang dilalui.

3) Awan panas, dapat mematikan makhluk hidup yang dilalui.

4) Gas yang mengandung racun.

5) Material padat (batuan, kerikil, pasir), dapat menimpa perumahan, dan lain-lain.

 

 

b. Gempa bumi

Gempa bumi adalah getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapa hal, di antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya tanah turun, maupun karena gerakan lempeng di dasar samudra. Manusia dapat mengukur berapa intensitas gempa, namun manusia sama sekali tidak dapat memprediksikan kapan terjadinya gempa.

Oleh karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh gempa lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Pada saat gempa berlangsung terjadi beberapa peristiwa sebagai akibat langsung maupun tidak langsung, di antaranya:

1) Berbagai bangunan roboh.

2) Tanah di permukaan bumi merekah, jalan menjadi putus.

3) Tanah longsor akibat guncangan.

4) Terjadi banjir, akibat rusaknya tanggul.

5) Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan tsunami (gelombang pasang).

c. Angin topan

Angin topan terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi menuju ke kawasan bertekanan rendah.

Perbedaan tekanan udara ini terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok. Serangan angin topan bagi negara-negara di kawasan Samudra Pasifik dan Atlantik merupakan hal yang biasa terjadi. Bagi wilayah-wilayah di kawasan California, Texas, sampai di kawasan Asia seperti Korea dan Taiwan, bahaya angin topan merupakan bencana musiman. Tetapi bagi Indonesia baru dirasakan di pertengahan tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan iklim di Indonesia yang tak lain disebabkan oleh adanya gejala pemanasan global.

Bahaya angin topan bisa diprediksi melalui foto satelit yang menggambarkan keadaan atmosfer bumi, termasuk gambar terbentuknya angin topan, arah, dan kecepatannya. Serangan angin topan (puting beliung) dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup dalam bentuk:

1) Merobohkan bangunan.

2) Rusaknya areal pertanian dan perkebunan.

3) Membahayakan penerbangan.

4) Menimbulkan ombak besar yang dapat menenggelamkan kapal.

 

  1. B.     Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia

Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup.

Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara lain:

a. Terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri.

b. Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan.

c. Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.

Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

a. Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan).

b. Perburuan liar.

c. Merusak hutan bakau.

d. Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman.

e. Pembuangan sampah di sembarang tempat.

f. Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS).

g. Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas.

 

2.3  UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang harus melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sekecil apa pun usaha yang kita lakukan sangat besar manfaatnya bagi terwujudnya bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak.

Upaya pemerintah untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan ditindaklanjuti dengan menyusun program pembangunan berkelanjutan yang sering disebut sebagai pembangunan berwawasan lingkungan.

Pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara bertahap dengan memerhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan dikenal dengan nama Pembangunan Berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan merupakan kesepakatan hasil KTT Bumi di Rio de Jeniro tahun 1992. Di dalamnya terkandung 2 gagasan penting, yaitu:

a. Gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan pokok manusia untuk menopang hidup.

b. Gagasan keterbatasan, yaitu keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan baik masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Upaya- Upaya pelestarian lingkungan:

1. Upaya yang Dilakukan Pemerintah

Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain:

a. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna Tanah.

b. Menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.

c. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan).

d. Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan pokoknya:

1) Menanggulangi kasus pencemaran.

2) Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3).

3) Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

e. Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon.

 

 

2. Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup oleh Masyarakat Bersama Pemerintah

Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Beberapa upaya yang dapat dilakuklan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain:

a. Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan)

Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah menjadi padang tandus. Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.

b. Pelestarian udara

Udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. Kalian mengetahui bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya oksigen.

Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme. Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara lain:

1) Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita

Tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.

2) Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran, baik pembakaran hutan maupun pembakaran mesin Asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan cerobong asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan filter pada cerobong asap pabrik.

3) Mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfer Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa dengan gas ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu memantulkan kembali sinar ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan akan merusakkan jaringan kulit dan menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan global terjadi di antaranya karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer.

c. Pelestarian hutan

Eksploitasi hutan yang terus menerus berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi dengan penanaman kembali, menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan. Padahal hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air.

Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan:

1) Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.

2) Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.

3) Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.

4) Menerapkan sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan.

5) Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan.

d. Pelestarian laut dan pantai

Seperti halnya hutan, laut juga sebagai sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan pantai banyak disebabkan karena ulah manusia. Pengambilan pasir pantai, karang di laut, pengrusakan hutan bakau, merupakan kegatan-kegiatan manusia yang mengancam kelestarian laut dan pantai. Terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai disebabkan telah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami terhadap gempuran ombak.

Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara:

1) Melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai.

2) Melarang pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut.

3) Melarang pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan.

4) Melarang pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.

e. Pelestarian flora dan fauna

Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di antaranya adalah:

1) Mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa.

2) Melarang kegiatan perburuan liar.

3) Menggalakkan kegiatan penghijauan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

  • Prinsip-Prinsip Lingkungan Hidup meliputi :
  1. Sikap Hormat terhadap Alam
  2. 2.       Prinsip Tanggung Jawab
  3. 3.      Prinsip Solidaritas
  4. 4.      Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian
  5. 5.      Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras dengan Alam
  6. 6.      Prinsip Keadilan
  7. 7.      Prinsip Demokrasi
  8. 8.      Prinsip “No Harm”
  9. 9.      Prinsip Integritas Moral
  • Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

- Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam,dan

      - Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia

  • Pemerintah dan masyarakat bersama-sama melakukan upaya pelestarian lingkungan hidup guna mewujudkan kesehteraan lingkungan .

3.2 KRITIK & SARAN

Untuk para pembaca dan semua setelah membaca makalah ini semoga dapat mengerti prinsip lingkungan beserta masalah lingkungan dan diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan hidup untuk meminimalisirkan terjadinya bencana yang saat ini sudah semakin marak terjadi . Penulis mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan makalah ini,kami masih sama-sama belajar . Kritik & Saran yang membangun sangat kami harapkan .

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

MAKALAH SUMBER DAYA ALAM

Disusun untuk melengkapi tugas : Pengetahuan Lingkungan

Dosen pembimbing : Agus Prasetyo Utomo, S.Si.

Disusun oleh:

FEBRIYANTI DIAN KUSUMA (0910211068)

EKA FITRIA                                  (0910211091)

                                      YULI EKA P                                   (0910211076)

EDHISMA SHIEKTA Y                (0910211103)

RURY AYU LESTARI                  (0910211072)

 

PROGRAM STUDY PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2011

Daftar Isi

 

Kata pengantar………………………………………………………….……      3

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………    4

1.1 Latar belakang……………………………………………………………..     4

1.2 Rumusan masalah…………………………………………………………     5

1.3 Tujuan……………………………………………………………………..     5

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………..    6

BAB III PENUTUP…………………………………………………………..    16

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………    17

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan karunianya kepada kelompok kami, sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Sumber Daya Alam”.

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengampu yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada saya yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini tidak sempurna, oleh karena itu penyusun dalam hal ini mengharapkan kritik dan saran yang membangun, agar makalah ini dapat lebih baik sehingga dapat bermanfaat bagi penyusun maupun bagi pembaca.

 

 

 

 

Jember, 20 Oktober 2011

 

 

 

Penyusun

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Alam pada dasarnya mempunyai sifat yang beraneka ragam, namun serasi dan seimbang. Oleh karena itu, perlindungan dan pengawetan alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan keserasian dan keseimbangan itu.

Semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia merupakan sumber daya alam. Tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroba merupakan sumber daya alam hayati, sedangkan faktor abiotik lainnya merupakan sumber daya alam non hayati. Pemanfaatan sumber daya alam harus diikuti oleh pemeliharaan dan pelestarian karena sumber daya alam bersifat terbatas.

 

1.2  Rumusan Masalah

  1. Jelaskan deskripsi,dan macam-macam Sumber Daya Alam
  2. Jelaskan konsep Sumber Daya Alam
  3. Jelaskan masalah-masalah Sumber Daya Alam
  4. Jelaskan konservasi Sumber Daya Alam

 

1.3  Tujuan

  1. Untuk mengetahui deskripsi,dan macam-macam Sumber Daya Alam
  2. Untuk mengetahui konsep Sumber Daya Alam
  3. Untuk mengetahui masalah-masalah Sumber Daya Alam
  4. Untuk mengetahui konservasi Sumber Daya Alam

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Definisi, jenis dan macam-macam Sumber Daya Alam

2.1.1 Definisi  Sumber Daya Alam

                   Sumber daya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam lingkungan hidup kita. Sumber daya alam bisa terdapat di mana saja seperti di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya. Contoh dasar sumber daya alam seperti barang tambang, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya.

2.1.2 Macam-macam Sumber Daya Alam

               Sumber daya alam dapat dibedakan berdasarkan sifat, potensi, dan jenisnya.
a. Berdasarkan sifat
Menurut sifatnya, sumber daya alam dapat dibagi 3, yaitu sebagai berikut :
1. Sumber daya alam yang terbarukan (renewable), 

misalnya: hewan, tumbuhan, mikroba, air, dan tanah. Disebut ter barukan karena dapat melakukan reproduksi dan memiliki daya regenerasi (pulih kembali).
2. Sumber daya alam yang tidak terbarukan (nonrenewable),

 misalnya: minyak tanah, gas bumf, batu tiara, dan bahan tambang lainnya.
3. Sumber daya alam yang tidak habis,

misalnya, udara, matahari, energi pasang surut, dan energi laut.

b. Berdasarkan potensi
Menurut potensi penggunaannya, sumber daya alam dibagi beberapa macam, antara lain sebagai berikut.
1. Sumber daya alam materi; merupakan sumber daya alam yang dimanfaatkan dalam bentuk fisiknya. Misalnya, batu, besi, emas, kayu, serat kapas, rosela, dan sebagainya.
2. Sumber daya alam energi; merupakan sumber daya alam yang dimanfaatkan energinya.

Misalnya batu bara, minyak bumi, gas bumi, air terjun, sinar matahari, energi pasang surut laut, kincir angin, dan lain-lain.

3. Sumber daya alam ruang; merupakan sumber daya alam yang berupa ruang atau tempat hidup, misalnya area tanah (daratan) dan angkasa.

 

c. Berdasarkan jenis
Menurut jenisnya, sumber daya alam dibagi dua sebagai berikut :
1. Sumber daya alam nonhayati (abiotik); disebut juga sumber daya alam fisik, yaitu sumber daya alam yang berupa benda-benda mati. Misalnya : bahan tambang, tanah, air, dan kincir angin.
2. Sumber daya alam hayati (biotik); merupakan sumber daya alam yang berupa makhluk hidup. Misalnya: hewan, tumbuhan, mikroba, dan manusia.

2.2 Konsep Sumber Daya Alam

Sumber daya alam merupakan sesuatu yang berguna  dan mempunyai nilai di dalam kondisi di mana kita menemukannya. Sumber daya alam dan energi meliputi semua yang terdapat di bumi baik yang hidup maupun benda mati, berguna bagi manusia, terbatas jumlahnya dan pengusahaannya memenuhi kriteria-kriteria teknologi, ekonomi, sosial dan lingkungan.

Sumber daya adalah suatu konsep yang dinamis sehingga ada kemungkinan bahwa perubahan dalam informasi, teknologi dan relatif kelangkaannya dapat berakibat sesuatu yang semula di anggap tidak berguna menjadi berguna dan bernilai.

Secara umum sumberdaya alam dan energi diklasifikasikan :

1. Sumberdaya tanah dan air.

2. Sumberdaya tanaman dan pepohonan.

3. Sumberdaya “akuatik”.

4. Sumber energi dan bahan mineral.

Sumber Energi meliputi:

1] Energi: Fosi, yangterdiri dari Minyak Bumi, Gas Bumi, Batubara:hidro,uranium,

Geothermal dan solar.

2] Endapan Bijih Mineral, yang terdiri dari bauksit, timah, nikel, tembaga, emas, perak,

mangan, pasirbesi dan bahan galian lain yang termasuk Sumberdaya tak terbarukan;

3] Bahan Mineral untuk “bangunan” kaolin, limestone, dolomites dan lain-lain.

 

2.3 Masalah-masalah Sumber Daya Alam

      Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.000 pulau, Indonesia membentangkan antara dua kawasan biogeografis , kawasan Indomelayu dan Australia dan mendukung berbagai jenis kehidupan flora dan fauna dalam hutan basah yang asli dan kawasan pesisir dan laut yang kaya. Sekitar 3.305 spesies hewan amfibi, burung, mamalia dan reptil dan sedikitnya 29.375 spesies tanaman berpembuluh tersebar di pulau-pulau ini, yang diperkirakan mencapai 40 persen dari biodiversitas di kawasan APEC. Namun, lingkungan alam yang indah dan sumber daya yang kaya harus terus menghadapi tantangan dari fenomena alam karena Indonesia terletak pada ring Api Pasifik seismik yang tinggi yang mengalami 90 persen gempa bumidunia.

Sungguh ironis memang Indonesia yang terkenal dengan Sumber Daya Alam berupa minyak bumi dan tergabung dalam negara penghasil minyak dunia yang tergabung dalam organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) Pada tahun delapan puluhan. Saat ini menjadi Negara pengimpor minyak untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri yang sangat pesat kenaikannya . Terlebih mulai akhir tahun 2004, harga minyak dunia mengalami peningkatan hingga lebih dari 70 persen. Berawal dari 28 dolar per barel meningkat tajam hingga menembus 50 dolar per barelnya. Pertamina sebagai BUMN yang menangani produksi minyak dan gas serta distribusinya pun harus berhutang kepada bank dengan mengajukan LC (Letter of Credit) untuk membayari pembelian minyak dari luar negeri. Akibatnya subsidi negara menjadi bertambah hingga 76 triliun dan APBN mengalami defisit 5 persen. Tiap harinya Pertamina membutuhkan minimal 50 juta dolar untuk mengimpor minyak kebutuhan dalam negeri. Dan perlu diketahui bahwa yang menikmati subsidi ini sebagian besar adalah orang yang memiliki kendaraan bermotor dan wiraswasta yang nota bene mereka adalah orang berpunya.
Pada umumnya negara berkembang seperti Indonesia menghadapi masalah dan tantangan dalam mengelola sumberdaya alamnya secara berkelanjutan. Diantara masalah-masalah tersebut adalah tekanan terhadap lingkungan alami. Permasalahan penyebab tekanan terhadap lingkungan tersebut yang diantaranya adalah kelangkaan beberapa jenis bahan bakar terutama premium dan minyak tanah. Kelakuan oknum yang tidak bertanggung jawab turut memperparah keadaan. Hal ini dipicu dari lemahnya pengawasan pemerintah terhadap sistem distribusi barang yang menjadi hajat hidup orang banyak ini.Perlu peran aktif pemerintah untuk terus memperkuat komitmen memperketat pengawasan terhadap sistem distribusi barang yang menjadi hajat hidup orang banyak.

Beberapa langkah dan kebijakan pemerintah yang dirasa kurang memperhatikan kepentingan dalam negeri diantaranya penjualan gas alam yang dihasilkan di Arun, Aceh ke negeri ginseng, Korea. Padahal di saat yang sama, PT. Pupuk Iskandar Muda (PIM) sangat membutuhkan pasokan gas alam untuk produksi pupuknya. Akhirnya kegiatan operasional perusahaan itu harus dihentikan selama 3 tahun dan kerugian yang ditimubulkan tidak kurang dari 300 juta dolar AS. Belum lagi nasib karyawan yang terapaksa dirumahkan.

Kasus yang sangat mencoreng muka negeri ini tentunya adalah tindakan beberapa penduduknya sendiri yang sengaja menyelundupkan bahan bakar minyak (BBM) ke luar negeri, khususnya ke negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Alasannya di kedua negara tersebut harga jualnya lebih tinggi dan tidak terkena PPN. Bukankah ini adalah keadaan yang sangat ironis. Di satu sisi banyak orang di dalam negeri yang membutuhkan BBM, tapi di sisi lainnya beberapa orang mencoba mengeruk keuntungan yang tidak sah (ilegal) dengan memanfaatkan kelemahan birokrasi dan bea cukai yang pada akhirnya membawa kerugian bagi semua pihak.

Pencemaran yang disebabkan oleh industri, pertanian dan sedimentasi. Pencemaran tersebut telah mengakibatkan kerusakan habitat bagi mahkluk hidup yang menghuni wilayah tersebut. Dewasa ini penurunan yang drastic terjadi terhadap kualitas lingkungan akibat kerusakan habitat mahkluk hidup oleh aktivitas manusia. Penurunan kualitas lingkungan tersebut ternyata sangat sulit dihindari karena kebutuhan lahan yang terus meningkat untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia. Diperkirakan bahwa 900 ribu hektar sampai 1,3 juta hektar hutan dibuka setiap tahunnya untuk berbagai macam keperluan, sehingga hanya sekitar 61 % habitat alami yang masih tersisa. Di Jawa dan bali hilangnya habitat mungkin mencapai 91 % sedangkan di Irian Jaya diperkirakan hanya sekitar 7 %. Kerusakan hutan yang terus berlangsung mengancam keberadaan ekosistem hutan yang berarti mengancam kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Berbagai bencana alam mulai sering muncul seperti banjir, kekeringan dan longsor sebagai akibat aktivitas manusia dalam mengeksploitasi alam tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan seperti banjir dan tanah longsor.

2.4 Konservasi Sumber Daya Alam

      Konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik (Piagam Burra, 1981). Konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan terhadap sesuatu yang dilakukan secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan cara pengawetan (Peter Salim dan Yenny Salim, 1991). Kegiatan konservasi selalu berhubungan dengan suatu kawasan, kawasan itu sendiri mempunyai pengertian yakni wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya (UU No. 24 Tahun 1992). Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan, dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.

Ruang Lingkup Sumber Daya

Sifat atau ciri-ciri sumber daya alam di Indonesia yang menonjol ada dua macam, yaitu penyebaran yang tidak merata dan sifat ketergantungan antara sumber daya alam. Sumber daya alam sendiri dapat diklasifikasikan berdasarkan kemampuannya menjadi dua golongan, yaitu sumber daya alam yang dapat pulih dan sumber daya alam yang tak dapat pulih. Sumber daya alam buatan adalah hasil pengembangan dari sumber daya alam hayati dan/atau sumber daya alam non hayati yang ditunjuk untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan/atau kemampuan daya dukungnya, antara lain hutan buatan, waduk, dan jenis unggul.

  • Konservasi sumber daya alam hayati

Konservasi Sumber Daya Alam di Indonesia

Mulai tahun 1970-an konservasi sumber daya alam di Indonesia berkembang dan memiliki suatu strategi yang bertujuan untuk:

a. Memelihara proses ekologi yang penting dan sistem penyangga kehidupan.

b. Menjamin keanekaragaman genetik.

c. Pelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistem.

Peranan kawasan konservasi dalam pembangunan meliputi:

a. Penyelamat usaha pembangunan dan hasil-hasil pembangunan.

b. Pengembangan Ilmu Pendidikan.

c. Pengembangan kepariwisataan dan peningkatan devisa.

d. Pendukung pembangunan bidang pertanian.

e. Keseimbangan lingkungan alam.

f. Manfaat bagi manusia.

Berdasarkan Pasal 5 UU No. 5 Tahun 1990 dan Strategi Konservasi Dunia kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya meliputi kegiatan:

a. Perlindungan proses-proses ekologis yang penting atau pokok dalam sistem-sistem penyangga kehidupan.

b. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.

c. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Kawasan dan Kegiatan Konservasi Hayati

Menurut UU No. 5 Tahun 1990, Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah penyangga kehidupan.

Kawasan Suaka Alam terdiri dari:

a. Cagar Alam.

b. Suaka Margasatwa.

c. Hutan Wisata.

d. Daerah perlindungan Plasma Nutfah.

e. Daerah pengungsian satwa.

Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam kegiatan pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi insitu) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). Konservasi insitu adalah konservasi jenis flora dan fauna yang dilakukan di habitat aslinya baik di hutan, di laut, di danau, di pantai, dan sebagainya. Konservasi exsitu adalah konservasi jenis flora dan fauna yang dilakukan di luar habitat aslinya.

  • Konservasi sumber daya alam non hayati

Konservasi Tanah dan Air, dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah seefisien mungkin, dan pengaturan waktu aliran sehingga tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Persoalan konservasi tanah dan air adalah kompleks dan memerlukan kerjasama yang erat antara berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti ilmu tanah, biologi, hidrologi, dan sebagainya. Pembahasan tentang konservasi tanah dan air ini selalu tidak akan terlepas dari pembahasan tentang siklus hidrologi. Siklus hidrologi ini meliputi proses-proses yang ada di dalam tanah, badan air, dan atmosfer, yang pada intinya terdapat dua proses yaitu evaporasi dan presipitasi yang dikendalikan oleh energi matahari. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan wilayah yang dibatasi oleh batas alam (topografi) di mana aliran permukaan yang jatuh akan mengalir ke sungai-sungai kecil menuju ke sungai besar akhirnya mencapai danau atau laut. Pengelolaan DAS berupaya untuk menselaraskan dikotomi kepentingan ekonomi dan ekologi. Kepentingan ekonomi jangka pendek akan terancam bila kepentingan ekologi diabaikan. Sebaliknya gerakan perbaikan ekologi yang melibatkan masyarakat tidak akan terpelihara secara terus menerus tanpa memberi dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Untuk mencapai tujuan pengelolaan DAS diperlukan upaya pokok dengan sasaran:

a. Pengelolaan Lahan

b. Pengelolaan Air

c. Pengelolaan Vegetasi.

Erosi dan Metode Konservasi Tanah dan Air

Erosi merupakan proses pengikisan tanah yang kemudian diangkut dari suatu tempat ke tempat lain oleh tenaga seperti: air, gelombang atau arus laut, angin, dan gletser. Ada dua jenis utama erosi yaitu erosi normal/geologi dan erosi yang dipercepat. Erosi normal yaitu proses-proses pengangkutan tanah yang terjadi di bawah keadaan vegetasi alami. Proses erosi ini berlangsung sangat lama dan proses ini yang menyebabkan kenampakan topografi yang terlihat sekarang ini, seperti: tebing, lembah, dan sebagainya. Sedangkan erosi dipercepat adalah pengangkutan tanah yang menimbulkan kerusakan tanah akibat aktivitas manusia yang mengganggu keseimbangan antara proses pembentukan dan pengangkutan tanah. Menurut bentuknya erosi dibedakan menjadi: erosi lembar, erosi alur, erosi parit, erosi tebing sungai, longsor, dan erosi internal. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi erosi adalah iklim, topografi, tumbuh-tumbuhan, tanah, dan manusia. Eischemeier (1976) mengembangkan persamaan rata-rata tahunan kehilangan tanah yaitu: A = R K L S C P, di mana A adalah banyaknya tanah yang tererosi, R adalah faktor curah hujan dan aliran permukaan, K adalah faktor erodibilitas tanah, L adalah faktor panjang lereng, S adalah faktor kecuraman lereng, C adalah faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman, dan P adalah faktor konservasi tanah. Beberapa metode konservasi tanah dapat dibagi dalam tiga golongan utama, yaitu: (1) metode vegetatif, (2) metode mekanik, dan (3) metode kimia.

  • Konservasi Energi dan Sumber Daya Mineral

Energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan energi supaya berkelanjutan antara lain adalah bagaimana mengatur penggunaan energi yang berkualitas, meminimumkan penggunaan energi untuk transportasi, dan mengubah energi secara efisien. Konservasi energi dapat dilakukan pada bidang-bidang transportasi, bangunan, dan industri. Jenis-jenis sumber daya mineral dapat digolongkan menurut kegunaannya yaitu menjadi sumber daya mineral logam dan non logam.

Sumber daya mineral logam dibagi menjadi:

1. logam yang berlimpah, contohnya besi dan aluminium.

2. logam yang jarang, contohnya tembaga dan seng.

Sumber daya mineral non logam dibagi menjadi:

1. mineral untuk bahan kimia pupuk buatan dan keperluan khusus, contohnya fosfat dan nitrat.

2. bahan bangunan, contohnya pasir dan asbes.

3. bahan bakar fosil, contohnya minyak bumi dan batu bara, dan

4. air, contohnya air sungai dan air tanah.

Ketentuan tentang pengelolaan sumber daya mineral diatur dalam Undang-undang No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan. Pada Pasal 3 Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa bahan-bahan galian dibagi atas 3 golongan, yaitu: golongan A adalah bahan galian strategis, golongan B adalah bahan galian vital, dan golongan C adalah bahan galian yang tidak termasuk dalam golongan A dan B.

Pelaksanaan Undang-undang No. 11 Tahun 1967 tersebut ditetapkan pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 32 Tahun 1969. Menurut ketentuan Pasal 1 PP tersebut dikatakan kuasa pertambangan untuk melaksanakan usaha pertambangan bahan galian golongan A dan B diberikan oleh Menteri, sedangkan golongan C diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

  • Konservasi Sumber daya buatan dan cagar budaya

Pengertian, Lingkup, dan Fungsi Sumber Daya Buatan

Sumber daya buatan adalah hasil pengembangan buatan dari sumber daya alam hayati atau non hayati yang ditunjuk untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan atau kemampuan daya dukungnya. Pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa sumber daya buatan adalah sumber daya alam yang karena intervensi manusia telah berubah menjadi sumber daya buatan. Bentuk sumber daya buatan ini dapat dilihat pada kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, maupun kawasan cagar alam. Fungsi kawasan-kawasan tersebut dapat sebagai pelindung kelestarian lingkungan hidup, dibudidayakan, permukiman, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan manusia dan kesinambungan pembangunan.

Benda Cagar Budaya

Benda Cagar Budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Benda Cagar Budaya, juga dapat berupa benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Benda Cagar Budaya berada dalam suatu lokasi yang disebut dengan situs, sedangkan situs berada dalam suatu kawasan yang disebut dengan kawasan cagar budaya. Bentuk benda cagar budaya dalam konteks lingkungan kota atau kawasan perkotaan dapat berupa satuan areal, satuan visual atau landscape, dan satuan fisik.

Konservasi Sumber Daya Buatan dan Cagar Budaya

Konservasi sumber daya buatan dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan yang mencakup preservasi, restorasi, rekonstruksi, adaptasi, dan revitalisasi. Adapun kriteria konservasi sumber daya buatan dapat ditinjau dari estetika, kejamakan, kelangkaan, peranan sejarah, memperkuat kawasan didekatnya, dan keistimewaan dari sumber daya buatan tersebut.

Strategi Konservasi Alam Indonesia

Strategi Konservasi Alam Indonesia sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan- ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (sekarang UU No. 23 Tahun 1997). Strategi konservasi sumber daya alam disusun dengan maksud untuk memberikan pedoman kepada para pengelolaan sumber daya alam dalam menggunakan sumber daya alam tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pembangunan. Menurut UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan lain. Kewenangan lain yang dimaksud meliputi kebijaksanaan tentang antara lain pendayagunaan sumber daya alam serta konservasi. Kebijakan ini dijelaskan lebih lanjut dalam PP No. 25 Tahun 2000 tentang Tugas Pemerintah yang berkaitan dengan konservasi sumber daya hayati

Strategi Konservasi Alam Dunia

Sasaran Strategi Konservasi Dunia adalah untuk mencapai tiga tujuan utama:

1. Menjaga berlangsungnya proses ekologis yang esensial.

2. Pengawetan keanekaragaman plasma nutfah.

3. Menjamin kelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistem.

Strategi Konservasi Alam Dunia meliputi:

1. Konservasi sumber daya hayati untuk pembangunan berkesinambungan.

2. Perlindungan Proses Ekologi yang terutama dan Sistem Penyangga Kehidupan.

3. Pengawetan Keanekaragaman Plasma nutfah.

4. Pemanfaatan Jenis dan Ekosistem secara lestari.

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sumber daya alam ialah semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kesejahteraan manusia, misalnya: tumbuhan, hewan, udara, air, tanah, bahan tambang, angin, cahaya matahari, dan mikroba (jasad renik)

Macam-macam Sumber Daya Alam

  • Berdasarkan sifat

Menurut sifatnya, sumber daya alam dapat dibagi 3, yaitu sebagai berikut :

1. Sumber daya alam yang terbarukan (renewable), 

2. Sumber daya alam yang tidak terbarukan (nonrenewable),

3. Sumber daya alam yang tidak habis,

  • Berdasarkan potensi
    Menurut potensi penggunaannya, sumber daya alam dibagi beberapa macam, antara lain sebagai berikut.
    1. Sumber daya alam materi

2. Sumber daya alam energi

3. Sumber daya alam ruang   

  • Berdasarkan jenis
    Menurut jenisnya, sumber daya alam dibagi dua sebagai berikut :
    1. Sumber daya alam nonhayati (abiotik)

2. Sumber daya alam hayati (biotik)

Konsep Sumber Daya Alam

Sumber daya adalah suatu konsep yang dinamis sehingga ada kemungkinan bahwa perubahan dalam informasi, teknologi dan relatif kelangkaannya dapat berakibat sesuatu yang semula di anggap tidak berguna menjadi berguna dan bernilai.

Masalah-masalah Sumber Daya Alam

  • kelangkaan beberapa jenis bahan bakar terutama premium dan minyak tanah.
  • tindakan beberapa penduduknya sendiri yang sengaja menyelundupkan bahan bakar minyak (BBM) ke luar negeri.
  • Pencemaran yang disebabkan oleh industri, pertanian dan sedimentasi.
  • Kerusakan hutan yang terus berlangsung mengancam keberadaan ekosistem hutan yang berarti mengancam kelangsungan hidup manusia itu sendiri

 

Konservasi Sumber Daya Alam

  • Konservasi sumber daya alam hayati
  • Konservasi sumber daya alam non hayati

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

http://kamulagingapain.blogspot.com/2010/11/peran-biologi-di-bidang-pengelolaan.html

http://klastik.wordpress.com/2008/03/19/konsep-konsep-dan-jenis-sumber-daya-alam-dan-energi/

http://skyrider27.blogspot.com/2009/11/masalah-sumber-daya-alam-di-indonesia.html

 

 

PENCEMARAN LINGKUNGAN

Macam-Macam Pencemaran Lingkungan dan Dampaknya Bagi Kesehatan

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengetahuan Lingkungan

yang dibina oleh Agus Prasetyo Utomo, S.Si

Oleh

  1. Serlly Dita Lestari                   0910211105
  2. Nurdina Rizki Amalia             0910211099
  3. Jessy Nur Afni                        0910211096
  4. Nur Imama Novitasari            0910211115
  5. Faik Nika’atul                         0910211114
  6. Corina Oktavia                        0910211093

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2011

 

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur bagi Allah SWT karena rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang kami beri judul “Pencemaran Lingkungan” dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah pengetahuan lingkungan. Penulis menyadari makalah ini tidak lepas dari bantuan dan keikut sertaan semua pihak. Pada kesempatan kali ini kami mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Kedua orang tua kami yang senantiasa memberikan dukungan baik berupa doa, motivasi, nasehat maupun finansial.
  2. Bapak Agus Prasetyo Utomo, S.Si selaku dosen mata kuliah Pengetahuan Lingkungan kami.
  3. Teman-teman semester 5 khususnya FKIP Biologi UMJ

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

 

Jember, 19 Oktober 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 

Kemajuan industri dan teknologi dimanfaatkan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Sudah terbukti bahwa industri dan teknologi yang maju identik dengan tingkat kehidupan yang lebih baik. Jadi kemajuan industri dan teknologi berdampak positif terhadap lingkungan hidup karena meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun di sisi lain manusia juga ketakutan akan adanya pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh kemajuan industri dan teknologi tersebut.

Dampak pencemaran lingkungan tidak hanya berpengaruh dan berakibat kepada lingkungan alam saja, tetapi berakibat dan berpengaruh terhadap kehidupan tanaman, hewan dan juga manusia. Pencemaran yang masuk melalui jalur makanan dan berada dalam daur pencemaran lingkungan cepat atau lambat akan sampai juga dampaknya pada manusia. Oleh sebab itu manusia dalam upayanya memperoleh kualitas dan kenyamanan hidup yang lebih baik, perlu juga untuk memperhatikan hal-hal apakah yang nantinya akan membuat terjadinya kerusakan lingkungan. Sehingga kita akan membuat suatu upaya agar lingkungan alam yang kita keruk SDA-Nya, segera dilakukan proses rehabilitasi terhadap alam untuk mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah lagi.

Banyak penyebab pencemaran lingkungan, tetapi secara umum dapat dikategorikan sebagai sumber pencemaran langsung dan tidak langsung. Sumber langsung meliputi buangan yang keluar dari industry, TPA (tempat pembuangan akhir), sampah dan sebagainya. Sumber tidak langsung yaitu bahan pencemar yang memasuki badan air dari tanah, air tanah, atau atmosfir yang berupa hujan.

Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran di sebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makluk hidup. Contohnya, karbon dioksida dengan kadar 0,033% di udara berfaedah bagi tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat memberikan efek merusak.

 

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apa saja macam dan masalah pencemaran lingkungan ?
  2. Bagaimanakah pengaruh pencemaran lingkungan terhadap kesehatan ?
  3. Bagaimanakah penanggulangan pencemaran lingkungan ?

 

1.3  Tujuan

 

  1. Mengidentifikasi  macam dan masalah pencemaran lingkungan ?
  2. Mengidentifikasi pengaruh pencemaran lingkungan terhadap kesehatan ?
  3. Mengetahui penanggulangan pencemaran lingkungan ?


 

BAB II

PEMBAHASAN

           

  1. A.    Macam-macam Pencemaran Lingkungan
  2. Berdasarkan Tempat Terjadinya

Menurut tempat terjadinya, pencemaran dibedakan menjadi pencemaran udara, air, dan tanah.

a)      Pencemaran Udara

Pencemaran udara disebabkan oleh asap buangan, misalnya gas CO2 hasil pembakaran, SO, SO2, CFC, CO, dan asap rokok.

  1. 1.      CO2

Pencemaran udara yang paling menonjol adalah semakin meningkatnya kadar CO2 di udara. Karbon dioksida itu berasal dari pabrik, mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar fosil (batubara, minyak bumi), juga dari mobil, kapal, pesawat terbang, dan pembakaran kayu. Meningkatnya kadar CO2 di udara tidak segera diubah menjadi oksigen oleh tumbuhan karena banyak hutan di seluruh dunia yang ditebang. Sebagaimana diuraikan diatas, hal demikian dapat mengakibatkan efek rumah kaca.

  1. 2.      CO
    Di lingkungan rumah dapat pula terjadi pencemaran. Misalnya, menghidupkan mesin mobil di dalam garasi tertutup. Jika proses pembakaran di mesin tidak sempurna, maka proses pembakaran itu menghasilkan gas CO (karbon monoksida) yang keluar memenuhi ruangan. Hal ini dapat membahayakan orang yang ada di garasi tersebut. Selain itu, menghidupkan AC ketika tidur di dalam mobil dalam keadaan tertutup juga berbahaya. Bocoran gas CO dari knalpot akan masuk ke dalam mobil, sehingga dapat menyebabkan kamatian.
  2. 3.      CFC
    Pencemara udara yang berbahaya lainnya adalah gas khloro fluoro karbon (disingkat CFC). Gas CFC digunakan sebagai gas pengembang, karena tidak beraksi, tidak berbau, tidak berasa, dan
    tidak berbahaya. Gas ini dapat digunakan misalnya untuk mengembangkan busa (busa kursi), untuk AC (freon), pendingin pada almari es, dan penyemprot (hair spray).
    Gas CFC yang membumbung tinggi dapat mencapai stratosfer terdapat lapisan gas ozon (O3). Lapisan ozon ini merupakan pelindung bumi dari pengaruh cahaya ultraviolet. Kalau tidakl ada lapisan ozon, radiasi cahaya ultraviolet mencapai permukaan bumi, menyebabkan kematian organisme, tumbuhan menjadi kerdil, menimbulkan mutasi genetik, menyebebkan kanker kulit atau kanker retina mata. Jika gas CFC mencapai ozon, akan terjadi reaksi antara CFC dan ozon, sehingga lapisan ozon tersebut “berlubang” yang disebut sebagai “lubang” ozon. Menurut pengamatan melalui pesawat luar angkasa, lubang ozon di kutub Selatan semakin lebar. Saat ini luasnya telah melebihi tiga kali luas benua Eropa. Karena itu penggunaan AC harus dibatasi.
  3. 4.      SO, SO2

Gas belerang oksida (SO, SO2) di udara juga dihasilkan oleh pembakaran fosil (minyak, batubara). Gas tersebut dapat beraksi dengan gas nitrogen oksida dan air hujan, yang menyebabkan air hujan menjadi asam. Maka terjadilah hujan asam.

Hujan asam mengakibatkan tumbuhan dan hewan-hewan tanah mati. Produksi pertanian merosot. Besi dan logam mudah berkarat. Bangunan – bangunan kuno, seperti candi, menjadi cepat aus dan rusak. Demikian pula bangunan gedungdan jembatan.

  1. 5.      Asap Rokok

Polutan udara yang lain yang berbahaya bagi kesehatan adalah asaprokok. Asap rokok mengandung berbagai bahan pencemar yang dapat menyababkan batuk kronis, kanker patu-paru, mempengaruhi janin dalam kandungan dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.
Perokok dapat di bedakan menjadi dua yaitu perokok aktif dan perokok pasif. Perokok aktif adalah mereka yang merokok. Perokok pasif adalah orang yang tidak merokok tetapi menghirup
asap rokok di suatu ruangan.

Menurut penelitian, perokok pasif memiliki risiko yang lebih besar di bandingkan perokok aktif. Jadi, merokok di dalam ruangan bersama orang lain yang tidak merokok dapat mengganggu kesehatan orang lain.

 

Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran udara antara lain :

1)      Terganggunya kesehatan manusia, seperti batuk dan penyakit pernapasan (bronkhitis, emfisema, dan kemungkinan kanker paruparu.

2)      Rusaknya bangunan karena pelapukan, korosi pada logam, dan memudarnya warna cat.

3)      Terganggunya oertumbuhan tananam, seperti menguningnya daun atau kerdilnya tanaman akibat konsentrasi SO2 yang tinggi atau gas yang bersifat asam.

4)      Adanya peristiwa efek rumah kaca (green house effect) yang dapat menaikkan suhu udara secara global serta dapat mengubah pola iklim bumi dan mencairkan es di kutub. Bila es meleleh maka permukaan laut akan naik sehingga mempengaruhi keseimbangan ekologi.

5)      Terjadinya hujan asam yang disebabkan oleh pencemaran oksida nitrogen.

b)      Pencemaran Air
Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur, atau komponen lainnya kedalam air sehingga menyebabkan kualitas air terganggu. Kualitas air yang terganggu ditandai dengan perubahan bau, rasa, dan warna. Ditinjau dari asal polutan dan sumber pencemarannya, pencemaran air dapat dibedakan antara lain :

  1. Limbah Pertanian

Limbah pertanian dapat mengandung polutan insektisida atau pupuk organik. Insektisida dapat mematikan biota sungai. Jika biota sungai tidak mati kemudian dimakan hewan atau manusia
orang yang memakannya akan keracunan. Untuk mencegahnya, upayakan agar memilih insektisida yang berspektrum sempit (khusus membunuh hewan sasaran) serta bersifat biodegradabel (dapat terurai oleh mikroba) dan melakukan penyemprotan sesuai dengan aturan. Jangan membuang sisa obet ke sungai. Sedangkan pupuk organik yang larut dalam air dapat menyuburkan lingkungan air (eutrofikasi). Karena air kaya nutrisi, ganggang dan tumbuhan air tumbuh subur (blooming). Hal yang demikian akan mengancam kelestarian bendungan. bemdungan akan cepat dangkal dan biota air akan mati karenanya.

 

  1. Limbah Rumah Tangga

Limbah rumah tangga yang cair merupakan sumber pencemaran air. Dari limbah rumah tangga cair dapat dijumpai berbagai bahan organik (misal sisa sayur, ikan, nasi, minyak, lemek, air buangan manusia) yang terbawa air got/parit, kemudian ikut aliran sungai.
Adapula bahan-bahan anorganik seperti plastik, alumunium, dan botol yang hanyut terbawa arus air. Sampah bertimbun, menyumbat saluran air, dan mengakibatkan banjir. Bahan pencemar lain dari limbah rumah tangga adalah pencemar biologis berupa bibit penyakit, bakteri, dan jamur.

Bahan organik yang larut dalam air akan mengalami penguraian dan pembusukan. Akibatnya kadar oksigen dalam air turun dratis sehingga biota air akan mati. Jika pencemaran bahan organik meningkat, kita dapat menemui cacing Tubifex berwarna kemerahan bergerombol. Cacing ini merupakan petunjuk biologis (bioindikator) parahnya pencemaran oleh bahan organik dari limbah pemukiman.

Dikota-kota, air got berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau yang menyengat. Didalam air got yangdemikian tidak ada organisme hidup kecuali bakteri dan jamur. Dibandingkan dengan
limbah industri, limbah rumah tangga di daerah perkotaan di Indonesia mencapai 60% dari seluruh limbah yang ada.

  1. Limbah Industri

Adanya sebagian industri yang membuang limbahnya ke air. Macam polutan yang dihasilkan tergantung pada jenis industri. Mungkin berupa polutan organik (berbau busuk), polutan anorganik (berbuaih, berwarna), atau mungkin berupa polutan yang mengandung asam belerang (berbau busuk), atau berupa suhu (air menjadi panas). Pemerintah menetapkan tata aturan untuk mengendalikan pencemara air oleh limbah industri. Misalnya, limbah industri harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai agar tidak terjadi pencemaran.

Dilaut, sering terjadi kebocoran tangker minyak karena bertabrakan dengan kapal lain. Minyak yang ada di dalam kapal tumpah menggenangi lautan dalam jarak ratusan kilometer. Ikan, terumbu karang, burung laut, dan hewan-hewan laut banyak yang mati karenanya. Untuk mengatasinya, polutan dibatasi dengan pipa mengapung agar tidak tersebar, kemudian permukaan polutan ditaburi dengan zat yang dapat menguraikan minyak.

 

  1. Penangkapan Ikan Menggunakan racun

Sebagia penduduk dan nelayan ada yang menggunakan tuba (racun dari tumbuhan atau potas (racun)untuk menangkap ikan tangkapan, melainkan juga semua biota air. Racun tersebut tidak hanya hewan-hewan dewasa, tetapi juga hewan-hewan yang masih kecil. Dengan demikian racun yang disebarkan akan memusnahkan jenis makluk hidup yang ada didalamnya. Kegiatan penangkapan ikan dengan cara tersebut mengakibatkan pencemaran di lingkungan perairan dan menurunkan sumber daya perairan.

 

Akibat yang dtimbulkan oleh pencemaran air antara lain

  1. Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya kandungan oksigen.
  2. Terjadinya ledakan populasi ganggang dan tumbuhan air (eutrofikasi, dan Pendangkalan Dasar perairan.
  3. Punahnya biota air, misalnya ikan, yuyu, udang, dan serangga air.
  4. Munculnya banjir akibat got tersumbat sampah
  5. Menjalarnya wabah muntaber.

 

c)      Pencemaran tanah

Pencemaran tanah banyak diakibatkan oleh sampah-sampah rumah tangga, pasar, industri, kegiatan pertanian, dan peternakan. Sampah dapat dihancurkan oleh jasad-jasad renik menjadi mineral, gas, dan air, sehingga terbentuklah humus. Sampah organik itu misalnya dedaunan, jaringan hewan, kertas, dan kulit. Sampah-sampah tersebut tergolong sampah yang mudah terurai. Sedangkan sampah anorganik seperti besi, alumunium, kaca, dan bahan sintetik seperti plastik, sulit atau tidak dapat diuraikan. Bahan pencemar itu akan tetap utuh hingga 300 tahun yang akan datang. Bungkus plastik yang kita buang ke lingkungan akan tetap ada dan mungkin akan ditemukan oleh anak cucu kita setelah ratusan tahun kemudian.

Sebaiknya, sampah yang akan dibuang dipisahkan menjadi dua wadah. Pertama adalah sampah yang terurai, dan dapat dibuang ke tempat pembuangan sampah atau dapat dijadikan kompos. Jika pembuatan kompos dipadukan dengan pemeliharaan cacing tanah, maka akan dapat diperoleh hasil yang baik. cacing tanah dapat dijual untuk pakan ternak, sedangkan tanah kompos dapat dijual untuk pupuk. Proses ini merupakan proses pendaurulangan (recycle). Kedua adalah sampah yang tak terurai, dapat dimanfaatkan ulang (penggunaulangan = reuse). Misalnya, kaleng bekas kue digunakan lagi untuk wadah makanan, botol selai bekas digunakan untuk tempat bumbu dan botol bekas sirup digunakan untuk menyimpan air minum.

Baik pendaurulangan maupun penggunaulangan dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Keuntungannya, beban lingkungan menjadi berkurang. Kita tahu bahwa pencemaran tidak mungkin dihilangkan. Yang dapat kita lakukan adalah mencegah
dampak negatifnya atau mengendalikannya.

 

Selain penggunaulangan dan pendaurulangan, masih ada lagi upaya untuk mencegah pencemaran, yaitu melakukan pengurangan bahan/ penghematan (reduce), dan melakukan pemeliharaan (repair). Di negara maju, slogan-slogan reuse, reduce, dan repair, banyak diedarkan ke masyarakat.

Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran tanah antara lain:

a)      Terganggunya kehidupan organisme (terutama mikroorganisme dalam tanah).

b)      Berubahnya sifat kimia atau sifat fisika tanah sehingga tidak baik untuk pertumbuhan tanaman, dan

c)      Mengubah dan mempengaruhi keseimbangan ekologi.

 

  1. Berdasarkan Macam Bahan Pencemaran
    Menurut macam bahan pencemarnya, pencemaran dibedakan menjdi berikut ini:

    1. Pencemaran kimiawi : CO2 logam berat (Hg, Pb, As, Cd, Cr, Ni,) bahan raioaktif, pestisida, detergen, minyak, pupuk anorganik.
    2. Pencemaran Biolagi : mikroorganisme seperti Escherichia coli, Entamoeba coli, Salmonella thyposa.
    3. Pencemara fisik : logam, kaleng, botol, kaca, plastik, karet.
    4. Pencemaran Suara : kebisingan.

 

Pencemaran Suara (kebisingan) Dikota-kota atau di daerah dekat industri / pabrik sering terjadi kebisingan. Pencemaran suara disebabkan oleh masuknya bunyi gaduh diatas 50 desibel (disingkat dB, merupakan ukuran tingkat kebisingan). Bunyi tersebut mengganggu kesehatan dan ketenangan manusia. Kebisingan menyebabkan penduduk menjadi sulit tidu, bahkan dapat mengakibatkan tuli, gangguan kejiwaan, dan dapat pula menimbulkan penyakit jantung, gangguan janin dalam kandungan, dan stress.

 

Saat ini telah diusahakan agar mesin-mesin yang digunakan manusia tidak terlalu bising. jika bising harus diusahakan adanya isolator. menanam tanaman berdaun rimbun di halaman rumah
meredam kebisingan. Bagi mereka yang suka mendengarkan musik yang hingar bingar, hendaknya mendengarkan di tempat khusus (misal di dalam kamar) agar tidak mengganggu orang lain.

 

  1. Berdasarkan Tingkat Pencemaran

Menurut tingkat pencemarannya, pencemaran dibedakan menjadi sebagai berikut :

  1. Pencemaran ringan, yaitu pencemaran yang dimulai menimbulkan gangguan ekosistem lain. Contohnya pencemaran gas kendaraan bermotor.
  2. Pencemaran kronis, yaitu pencemaran yang mengakibatkan penyakit kronis. Contohnya pencemaran Minamata, Jepang.
  3. Pencemaran akut, yaitu pencemaran yang dapat mematikan seketika.

Contohnya pencemaran gas CO dari knalpot yang mematikan orang di dalam mobil tertutup, dan pencemaran radioaktif.

 

  1. B.     Parameter Pencemaran Lingkungan

Untuk mengukur tingkat pencemaran diasuatu tempat digunakan parameter pencemaran. Parameterpencemaran digunakan sebagai indikator (petunjuk) terjadinya pencemaran dan tingkat pencemaran yang telah terjadi. Paarameter pencemaran meliputi parameter fisik, parameter kimia, dan parameter biologi.

  1. Parameter Fisik

Parameter fisik meliputi pengukuran tentang warna, rasa, bau, suhu, kekeruhan, dan radioaktivitas.

  1. Parameter Kimia

Parameter kimia dilakukan untuk mengetahui kadar CO2, pH, keasaman, kadar logam, dan logam berat. Sebagai contoh berikut disajukan pengukuran pH air, kadar CO2, dan oksigen terlarut.

  1. Pengukuran pH air

Air sungai dalam kondisi alami yang belum tercemar memiliki rentangan pH 6,5 – 8,5. Karena pencemaran, pH air dapat menjadi lebih rendah dari 6,5 atau lebih tinggi dari 8,5. Bahan-bahan organik biasanya menyebabkan kondisi air menjadi lebih asam.

Kapur menyebabkan kondisi air menjadi alkali (basa). jadi, perubahan pH air tergantung kepada macam bahan pencemarnya. Perubahan nilai pH mempunyai arti penting bagi kehidupan air. Nilai pH yang rendah (sangat asam) atau tinggi (sangat basa) tidak cocok untuk kehidupan kebanyakan organisme. Untuk setiap perubahan satu unit skala pH (dari 7 ke 6 atau dari 5 ke 4) dikatakan keasaman naik 10 kali. Jika terjadi sebaliknya, keasaman turun 10 kali. Keasaman air dapat diukur dengan sederhana yaitu dengan mencelupkan kertas lakmus ke dalam air untuk melihat perubahan warnanya.

  1. Pengukuran Kadar Oksigen Terlarut

Kadar oksigen terlarut dalam air yang alami berkisar 5 – 7 ppm (part per million atau satu per sejita; 1ml oksigen yang larut dalam 1 liter air dikatakan memiliki kadar oksigen 1 ppm). Penurunan kadar oksigen terlarut dapat disebabkan oleh tiga hal:

1)      Proses oksidasi (pembongkaran) bahan-bahan organik.

2)      Proses reduksi oleh zat-zat yang dihasilkan baktri anaerob dari dasar perairan.

3)      Proses pernapasan orgaisme yang hidup di dalam air, terutama pada malam hari.

Pencemaran air (terutama yang disebabkan oleh bahan pencemar organik) dapat mengurangi persediaan oksigen terlarut. hal ini akan mengancam kehidupan organisme yang hidup di dalam air. Semakin tercemar, kadar oksigen terlerut semakin mengecil. Untuk dapat mengukur kadar oksigen terlarut, dilakukan dengan metode Winkler.

Parameter kimia yang dilakukan melalui kegiatan pernapasan jasad renik dikenal sebagai parameter biokimia. contohnya adalah pengukuran BOD dab COD.

Pengukuran BOD

Bahan pencemar organik (daun, bangkai, karbohidrat, protein) dapat diuraikan oleh bakteri air. Bakteri memerlukan oksigen untuk mengoksidasikan zat-zat organik tersebut. akibatnya, kadar oksigen terlarut di air semakin berkurang. Semakin banyak bahan pencemar organik yang ada di perairan, semakin banyak oksigen yang digunakan, sehingga mengakibatkan semakin kecil kadar oksigen terlarut.

Banyaknya oksigen terlerut yang diperlukan bakteri untuk mengoksidasikan bahan organik disebut sebagai Konsumsi Oksigen Biologis (KOB) atau Biological Oksigen Demand, yang biasa disingkat BOD. Angka BOD ditetapkan dengan menghitung selisih antara oksigen terlarut awal dan oksigen terlarut setelah air cuplikan (sampel) disimpan selama 5 hari pada suhu 20oC. Karenanya BOD ditulis secara lengkap BOD205 atau BOD5 saja. Oksigen terlarut awal diibaratkan kadar oksigen maksimal yang dapat larut di dalam air. Biasanya, kadar oksigen dalam air diperkaya terlebih dahulu dengan oksigen. Setelah disimpan selama 5 hari, diperkirakan bakteri telah berbiak dan menggunakan oksigen terlarut untuk oksidasi. Sisa oksigen terlarut yang ada diukur kembali. Akhirnya, konsumsi oksigen dapat diketahui dengan mengurangi kadar oksigen awal

  1. Parameter Biologi

Di alam terdapat hewan-hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme yang peka dan ada pula yang tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu.
Organisme yang peka akan mati karena pencemaran dan organisme yang tahan akan tetap hidup. Siput air dan Planaria merupakan contoh hewan yang peka pencemaran. Sungai yang mengandung siput air dan planaria menunjukkan sungai tersebut belum mengalami pencemaran. Sebaliknya, cacing Tubifex (cacing merah) merupakan cacing yang tahan hidup dan
bahkan berkembang baik di lingkungan yang kaya bahan organik,meskipun spesies hewan yang lain telah mati. Ini berarti keberadaab cacing tersebut dapat dijadikan indikator adanya pemcemaran zat organik. Organisme yang dapat dijadikan petunjuk pencemaran dikenal sebagai indikator biologis. dengan oksigen akhir (setelah 5 hari). Indikator biologis terkadang lebih dapat dipercaya daripada indikator kimia. Pabrik yang membuang limbah ke sungai dapat mengaturpembuangan limbahnya ketika akan dikontrol oleh pihak yang berwenang.

Pengukuran secara kimia pada limbah pabrik tersebut selalu menunjukkan tidak adanya pencemaran. Tetapi tidak demikian dengan makluk hidup yang menghuni ekosistem air secara terus menerus. Disungai itu terdapat hewan-hewan, mikroorganisme, bentos, mikroinvertebrata, ganggang, yang dapat dijadikan indikator biologis.

 

  1. C.    Dampak Pencemaran Lingkungan

 

  1. Punahnya Spesies

Sebagaimana telah diuraikan, polutan berbahaya bagi biota air dan darat. Berbagai jenis hewan mengelami keracunan, kemudian mati. Berbagai spesies hewan memiliki kekebalan yang tidak sama. Ada yang peka, ada pula yang tahan. Hewan muda, larva merupakan hewan yang peka terhadap bahan pencemar. Ada hewan yang dapat beradaptasi sehingga kebal terhadap bahan pencemar., adpula yang tidak. Meskipun hewan beradaptasi, harus diketahui bahwa tingkat adaptasi hewan ada batasnya. Bila batas tersebut terlampui, hewan tersebut akan mati.

  1. Peledakan Hama

Penggunaan insektisida dapat pula mematikan predator. Karena predator punah, maka serangga hama akan berkembang tanpa kendali.

  1. Gangguan Keseimbangan Lingkungan

Punahnya spasies tertentu dapat mengibah pola interaksi di dalam suatu ekosistem. Rantai makanan, jaring-jaring makanan dan lairan energy menjadi berubah. Akibatnya, keseimbangan lingkngan terganggu. Daur materi dan daur biogeokimia menjadi terganggu.

  1. Kesuburan Tanah Berkurang

Penggunaan insektisida mematikan fauna tanah. Hal ini dapat menurunkan kesuburan tanah. Penggunaan pupuk terus menerus dapat menyebabkan tanah menjadi asam. Hal ini juga dapat menurunkan kesuburan tanah. Demikian juga dengan terjadinya hujan asam.

  1. Keracunan dan Penyakit

Orang yang mengkonsumsi sayur, ikan, dan bahan makanan tercemar dapat mengalami keracunan. ada yang meninggal dunia, ada yang mengalami kerusakan hati, ginjal, menderita kanker, kerusakan susunan saraf, dan bahkan ada yang menyebabkan cacat pada keturunan-keturunannya.

  1. Pemekatan Hayati

Proses peningkatan kadar bahan pencemar melewati tubuh makluk dikenal sebagai pemekatan hayati (dalam bahasa Inggrisnya dikenal sebagai biomagnificition.

  1. Terbentuknya Lubang Ozon dan Efek Rumah Kaca

Terbentuknya Lubang ozon dan terjadinya efek rumah kaca merupakan permasalahan global yang dirasakan oleh semua umat manusia. Hal ini disebabkan karena bahan pencemar dapat tersebar dan menimbulkan dampak di tempat lain.

 

Usaha-usaha Mencegah Pencemaran Lingkungan

  1. Menempatkan daerah industri atau pabrik jauh dari daerah perumahan atau pemukiman penduduk.
  2. Pembuangan limbah industri diatur sehingga tidak mencemari lingkungan atau ekosistem.
  3. Pengawasan terhadap penggunaan jenis-jenis pestisida dan zat kimia lain yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.
  4. Memperluas gerakan penghijauan.
  5. Tindakan tegas terhadap pelaku pencemaran lingkungan.
  6. Memberikan kesadaran terhadap masyarakat tentang arti lingkungan hidup sehingga manusia lebih mencintai lingkungan hidupnya.

 

  1. D.    Dampak pencemaran lingkungan bagi kesehatan

 

  1. 1.      Dampak pencemaran tanah bagi kesehatan

 

Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung , jalur masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium , berbagai macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak , serta kerusakan ginjal.

Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, dan mungkin tidak bias di Obati, PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati, Organofosfat dan karmabat menyebabkan ganguan pada saraf otot. Ada beberapa macam dampak pada kesehatan seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit. Zat kimia diatas bila dosis yang bayak, menimbulkan pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.

 

  1. 2.      Dampak pencemaran udara bagi kesehatan

 

Pencemaran udara dapat merugikan kesehatan manusia manusia antara lain dapat menimbulkan gangguan pada mata, saluran pernapasan, jantung, dan otak manusia.

  1. Mata
    Menyebabkan mata berair dan pedih Bila senyawa tersebut terdapat dalam jumlah banyak, penglihatan menjadi kabur.
  2. Hidung

Tenggorokan, dan paru-paru

Ozon ( O3 ) menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan terasa terbakar. Ozon juga dapat memperkecil paru-paru.

  1. Jantung
    CO yang dihirup akan berikatan dengan sel darah merah dan menyebabkan sel darah merah terhambat dan menyalurkan O2 ke seluruh tubuh. Sakit pada dada disebabkan oleh rendahnya kadar O2.
  2. Otak
    Fungsi dan koordinasi motorik menjadi lemah, karena kadar O2 di dalam otak menurun pada saat CO tertutup.

 

  1. Dampak pencemaran air bagi kesehatan

 

Air merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan di muka bumi terutama bagi manusia. Oleh karena itu apabila air yang akan digunakan mengandung bahan pencemar akan mengganggu kesehatan manusia, menyebabkan keracunan bahkan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian.

Bahan pencemar yang menumpuk dalam jaringan tubuh dapat meracuni organ tubuh tersebut, sehingga organ tubuh tidak bisa berfungsi lagi dan dapat menyebabkan kesehatan terganggu bahkan dapat sampai mati.

Selain bahan pencemar air seperti tersebut di atas ada juga bahan pencemar berupa bibit penyakit (bakteri/virus) misalnya bakteri coli, disentri, kolera, typhus, para typhus, lever, diare dan bermacam­macam penyakit kulit. Bahan pencemar ini terbawa air permukaan seperti air sungai dari buangan air rumah tangga, air buangan rumah sakit, yang membawa kotoran manusia atau kotoran hewan.

 

  1. E.     Cara penanggulangan pencemaran lingkungan

 

Berbagai upaya telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat untuk menanggulangi pencemaran lingkungan, antara lain melalui penyuluhan dan penataan lingkungan. Namun, usaha tersebut tidak akan berhasil jika tidak ada dukungan dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Untuk membuktikan kepedulian kita terhadap lingkungan, kita perlu bertindak. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi pencemaran lingkungan, diantaranya sebagai berikut:

  1. 1.      Membuang sampah pada tempatnya

Membuang sampah ke sungai atau selokan akan meyebabkan aliran airnya terhambat. Akibatnya, samapah akan menumpuk dan membusuk. Sampah yang membusuk selain menimbulkan bau tidak sedap juga akan menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis penyakit. Selain itu, bisa meyebabkan banjir pada musim hujan.

Salah satu cara untuk menanggulangi sampah terutama sampah rumah tangga adalah dengan memanfaatkannya menjadi pupuk kompos. Sampah-sampah tersebut dipisahkan antara sampah organik dan anorganik.

Selanjutnya, sampah organik ditimbun di dalam tanah sehingga menjadi kompos. Adapun sampah anorganik seperti plastik dan kaleng bekas dapat di daur ulang menjadi alat rumah tangga dan barang-barang lainnya.

 

  1. 2.      Penanggulangan limbah industry

Limbah dari industri terutama yang mengandung bahan-bahan kimia, sebelum dibuang harus diolah terlebih dahulu. Hal tersebut akan mengurangi bahan pencemar di perairan. Denan demikian, bahan dari limbah pencemar yang mengandung bahan-bahan yang bersifat racun dapat dihilangkan sehingga tidak mengganggu ekosistem.

Menempatkan pabrik atau kawasan industri di daerah yang jauh dari keramaian penduduk. Hal ini dilakukan untuk menghindari pengaruh buruk dari limbah pabrik dan asap pabrik terhadap kehidupan masyarakat.

 

  1. 3.      Penanggulangan pencemaran udara

Pencemaran udara akibat sisa dari pembakaran kendaraan bermotor dan asap pabrik, dapat dicegah dan ditanggulangi dengan mengurangi pemakaian bahan bakar minyak. Perlu dipikirkan sumber pengganti alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan, seperti kendaraan berenergi listrik. Selain itu, dilakukan usaha untuk mendata dan membatasi jumlah kendaraan bermotor yang layak beroperasi. Terutama pengontrolan dan pemeriksaan terhadap asap buangan dan knalpot kendaraan bermotor.

 

  1. 4.      Diadakan penghijauan di kota-kota besar

Tumbuhan mampu menyerap CO2 di udara untuk fotosintesis. Adanya jalur hijau akan mengurangi kadar CO2 di udara yang berasal dari asap kendaraan bermotor atau asap pabrik. Dengan demikian, tumbuhan hijau bisa mengurangi pencemaran udara. Selain itu, tumbuhan hijau melepaskan O2 ke atmosfer.

 

  1. 5.      Penggunaan pupuk dan obat pembasmi hama tanaman yang sesuai

Pemberian pupuk pada tanaman dapat meningkatkan hasil pertanian. Namun, di sisi lain dapat menimbulkan pencemaran jika pupuk tersebut masuk ke perairan. Eutrofikai merupakan salah satu dampak negatif yang ditimbulkan oleh pupuk buatan yang masuk ke perairan.

Begitu juga dengan penggunaan obat anti hama tanaman. Jika penggunaannya melebihi dosis yang ditetapkan akan menimbulkan pencemaran. Selain dapat mencemari lingkungan juga dapat meyebabkan musnahnya organisme tertentu yang dibutuhkan, seperti bakteri pengurai atau serangga yang membantu penyerbukan tanaman.

Pemberantasan hama secara biologis merupakan salah satu alternatif yang dapat mengurangi pencemaran dan kerusakan ekosistem pertanian.

 

  1. 6.      Pengurangan pemakaian CFC

Untuk menghilangkan kadar CFC di atmosfer diperlukan waktu sekitar seratus tahun salah satu cara penanggulangannya yaitu dengan mengurangi penggunaan CFC yang tidak perlu oleh manusia. Mengurangi penggunaan penggunaan CFC dapat mencegah rusaknya lapisan ozon di atmosfer sehingga dapat mengurangi pemanasan global.

Dewasa ini, tingkah laku manusia dengan sikap semena-mena terhadap lingkungan sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Selain mengeksploitasi alam secara serakah, manusia juga telah meracuni alam ini dengan berbagai jenis sampahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Pencemaran lingkungan terdiri dari pencemaran air, pencemaran udara, dan pencemaran tanah.

3.2 Saran

Penulis berharap setelah mengetahui berbagai macam pencemaran lingkungan, dampak serta cara penanggulannya kita dapat lebih menjaga lingkungan serta dapat mencegah dan menanggulangi pencemaran lingkungan yang terjadi di sekitar kita.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Prowel.2010.Mudah dan Cepat Menghafal Biologi.Yogyakarta:Pustaka Book

John W.Kimbal.1990.Biologi II Jilid 1 Edisi Kelima.Jakarta:Erlangga

Campbell.N.A.1993.Biologi First Edition.Redwood Citu:Benyamin Cummings Publishing Company Inc.

http://hend-learning.blogspot.com/2009/04/pencemaran-lingkungan.html

 

MAKALAH PENGETAHUAN LINGKUNGAN

(ETIKA MANUSIA TERHADAP LINGKUNGAN,KONSEP ETIKA LINGKUNGAN,MANUSIA PEMBINA LINGKUNGAN DAN USAHA PEMBINAANNYA)

Dosen pembimbinng : Agus Prasetyo Utomo, S.Si

 

 

 

 

Disusun oleh :

  1. 1.      Restu Vivi                  (0910211071)
  2. 2.      Ardi Mega                  (0910211077)
  3. 3.      Reta Setia                   (0910211078)
  4. 4.      Nova Yuda R.            (0910211083)
  5. 5.      Rahmatika W.           (0910211085)
  6. 6.      Djoni Eko                   (0910211094)
  7. 7.      Mefrianti  M.A.         (0910211114)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2011

Kata Pengantar

          Puji syukur kepada Allah S.W.T yang telah memberikan karunia-Nya sehingga,penulis dapat menyusun makalah yang berjudul”etika lingkungan”dengan baik.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Pengetahuan Lingkungan telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Sehingga, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Dengan demikian penulis berharap agar makalah ini dapat menambah pengetahuan baik bagi kelompok kami maupun bagi para pembaca dalam memahami konsep pengetahuan lingkungan secara umum.

Dewasa ini lingkungan hidup organisme sangat memerlukan perhatian yang serius karena fakta-fakta dan fenomena-fenomena yang terjadi telah menunjukkan adanya ketidak seimbangan alam. Seperti gempa bumi,tanah longsor,banjir,dan lain sebagainya. Semua itu terjadi akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak menggunakan etika lingkungan dalam mengeksploitasi, mengeksplorasi dan mendaya gunakan sumber daya alam yang ada. Sehingga diperlukan pengetahuan akan prinsip-prinsip lingkungan hidup, masalah-masalah dan cara menanggulanginya untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun,untuk kesempurnaan makalah di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca.

 

 

 

Jember, Oktober 2011

 

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Manusia selalu membahas tentang lingkungan, mengapa kita harus peduli terhadap lingkungan, dan berbagai langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki dan melestarikan lingkungan, namun apa sebenarnya linkungan itu. Lingkungan adalah pusat dari semua kehidupan, kehidupan kita, dan pengembangan setiap aktifitas yang berbeda yang tidak semuanya berhubungan dengan lingkungan, tetapi juga berlangsung dalam tatanan ekonomi bahkan perubahan-perubahan sebagai hasil komponen dalam kerugian yang sangat berpengaruh pada semua aspek.

Suatu lingkungan bersifat tiga dimensi ruang dan berkembang berdasarkan waktu. Ini tidak berarti bahwa lingkungan adalah seragam baik dalam waktu ruang maupun waktu. Pada kenyataannya faktor lingkungan alami selalu memperlihatkan perubahan baik secara vertikal mauoun lateral, dan dikaitkan dengan waktu, mereka juga memperlihatkan variasi baik secara harian mauoun tahunan. Dengan demikian waktu dan ruang lebih tepat dikatakan sebagai dimensi dari lingkungan, jadi bukan merupakan faktor atau komponen lingkungan.

1.2 Rumusan masalah

  • Bagaimana etika manusia terhadap lingkungan?
  • Apa konsep etika lingkungan?
  • Bagaimana manusia Pembina lingkungan?
  • Bagaimana usaha pembinaan lingkungan?

1.3 Tujuan

  • Untuk mengetahui etika manusia terhadap lingkungan
  • Untuk mengetahui konsep etika lingkungan
  • Untuk mengetahui bagaimana manusi membina lingkungan
  • Untuk mengetahui usaha pembianaan lingkungan

Bab II

Pembahasan

2.1 Etika Manusia Terhadap Lingkungan

Etika Lingkungan disebut juga Etika Ekologi. Etika Ekologi selanjutnya dibedakan menjadi dua yaitu:

  • etika ekologi dalam adalah pendekatan terhadap lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur mempunyai arti dan makna yang sama. Etika Ekologi ini memiliki prinsip yaitu bahwa semua bentuk kehidupan memiliki nilai bawaan dan karena itu memiliki hak untuk menuntut penghargaan karena harga diri, hak untuk hidup dan hak untuk berkembang. Premisnya adalah bahwa lingkungan moral harus melampaui spesies manusia dengan memasukkan komunitas yang lebih luas. Komunitas yang lebih luas disini maksudnya adalah komunitas yang menyertakan binatang dan tumbuhan serta alam
  • etika ekologi dangkal adalah pendekatan terhadap lingkungan yang menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk kepentingan manusia, yang bersifat antroposentris. Etika ekologi dangkal ini biasanya diterapkan pada filsafat rasionalisme dan humanisme serta ilmu pengetahuan mekanistik yang kemudian diikuti dan dianut oleh banyak ahli lingkungan. Kebanyakan para ahli lingkungan ini memiliki pandangan bahwa alam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Selain itu etika lingkungan juga dibedakan lagi sebagai:

  • etika pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia
  • etika pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua mahluk.

Etika diartikan sebagai kebiasaan hidup yang baik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Etika dipahami sebagai ajaran yang berisikan aturan tentang bagaimana manusia harus hidup yang baik sebagai manusia. Etika merupakan ajaran yang berisikan perintah dan larangan tentang baik buruknya perilaku manusia. Kaidah, norma dan aturan tersebut sesungguhnya ingin mengungkapkan, menjaga, dan melestarikan nilai tertentu, yaitu apa yang dianggap baik dan penting. Dengan demikian etika berisi prinsip-prinsip moral yang harus dijadikan pegangan dalam menuntun perilaku.

Secara luas, etika dipahami sebagai pedoman bagaimana manusia harus hidup dan bertindak sebagai orang baik. Etika memberi petunjuk, orientasi, dan arah bagaimana harus hidup secara baik sebagai manusia. Mengacu pada pemahaman tersebut maka etika lingkungan hidup pada hakekatnya membicarakan mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam, serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam tersebut.

Etika lingkungan hidup berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam dan juga relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam, dan antara manusia dengan makhluk hidup yang lain atau dengan alam secara keseluruhan, termasuk di dalamnya kebijakan politik dan ekonomi yang mempunyai dampak langsung atau tidak langsung terhadap alam. Pentingnya kelestarian lingkungan hidup untuk masa sekarang hingga masa yang akan datang, secara eksplisit menunjukkan bahwa perjuangan manusia untuk menyelamatkan lingkungan hidup harus dilakukan secara berkesinambungan, dengan jaminan estafet antar generasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Etika Lingkungan Hidup tidak hanya berbicara mengenai prilaku manusia terhadap alam. Etka lingkungan hidup juga berbicara mengenai relasi diantara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam di antara manusia dengan maksluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan. Termasuk didalamnya berbagai kebijakan politik dan ekonomi yang mempunyai dampak langsung atau tidak langsung dengan alam.

2.2 konsep etika lingkungan

Undang-undang lingkungan hidup

Undang-undang tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup disahkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 11 Maret 1982. Undang-undang ini berisi 9 Bab terdiri dari 24 pasal. Undang-undang lingkungan hidup bertujuan mencegah kerusakan lingkungan, meningkatkan kualitas lingkungan hidup, dan menindak pelanggaran-pelanggaran yang menyebabkan rusaknya lingkungan.

Undang-undang lingkungan hidup antara lain berisi hak, kewajiban, wewenang dan ketentuan pidana yang meliputi berikut ini.

  1. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang balk dan  sehat.
  2. Setiap orang berkewajiban memelihara lingkungan dan mencegah serta menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan
  3. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan serta dalam rangka  pengelolaan lingkungan hidup. Peran serta tersebut diatur dengan  perundang-undangan.
  4. Barang siapa yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya  melakukan perbuatan yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup  atau tercemamya lingkungan hidup diancam pidana penjara atau denda.

2.3 Manusia Pembina lingkungan

Seorang pemerduli lingkungan hidup, khususnya tanaman pertanian dan perkebunan, dengan penelitiannya yang terus menerus tiada henti dengan dibantu oleh keluarga dan beberapa karyawan serta di dukung oleh sebuah yayasan, maka dia dapat menemukan berbagai obat untuk penanggulangan hama, pupuk tanaman, dan lain-lain sebagai yang berasal dari alam sekitar kita. Dengan ilmu yang didapat dari bangku kuliah sampai selesai, ia berupaya untuk memberikan pengertian tentang pupuk dan obat-obatan tanaman yang ramah lingkungan, semua jenis bahan kimia dihindarkan sekecil mungkin. Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, dan pengembangan lingkungan hidup.

Seberkas angan-angan telah diwujudkan dengan berbagai kegiatan. Kegiatan menurut dia adalah sebuah proses belajar berinteraksi dan membangun, bersilaturahmi dengan berbagai pihak dalam rangka mewujudkan masyarakat tani yang kuat dan mandiri. Hal ini dipandang sebagai bagian utama dari agenda nasional untuk pembangunan berkelanjutan, dimana memanfaatkan dan melestarikan keanekaragaman sumberdaya hayati dan kearifan budaya nusantara dipakai sebagai pijakan dasar. Masyarakat Indonesia sebagian besar petani adalah aset bangsa yang sangat bernilai untuk mengembangkan kepribadian bangsa yang cinta kelestarian lingkungan hidup. Bila kita tekun bekerjasama dengan mereka, maka kita akan banyak belajar dari kearifan-kearifan masa lampau yang sebenarnya masih sangat relevan untuk dikembangkan menjadi sebuah tehnologi yang sangat mendukung bagi pemecahan berbagai masalah negeri ini.

Untuk lebih dekat dengan para petani, dia memperkenalkan riset kepada para petani. Riset yang diperlukan oleh petani adalah sebuah model riset yang sederhana, mudah mereka mengembangkan sendiri, murah dan mudah ditularkan antar mereka. Untuk itulah pengembangan metode riset dasar aplikatif yang diambil dari kearifan bertani masalalu dari berbagai belahan dunia, yang disebutnya sebagai metode Titen-Tangkap dan Tulis atau baca, pahami dan ciptakan. Menciptakan tehnologi dapat dimulai dengan cara mengamati kondisi alam dengan segala makhluk hidup di atasnya secara utuh dengan memperhatikan dimensi biofisis dalam ruang dan waktu tertentu. Riset aplikasi yang dihasilkan akan mudah dimengerti setelah dilakukan materialisasi atas temuan-temuan baik berupa tulisan, media audio, video maupun barang dalam kemasan yang mudah dimobilisasikan. Hasil riset yang sudah dihasilkan tetap dikembangkan antara lain sebagai berikut :

Laru/Biang kompos padat maupun cair; untuk mempercepat proses pengomposan, meningkatkan kualitas hasil pengomposan dan akhirnya mengefektifkan  dan mengefisiensikan penggunaan kompos sebagai media dasar pertumbuhan.

Pupuk organik cair, pupuk perikanan, mineral bio-aktif untuk ternak, dan lain sebaginya.

Dengan sederhananya tehnologi yang dia ciptakan, dikembangkan dan aneka bahan juga tersedia di sekitar kita, maka proyeksi ke masa depan antara lain : petani akan mudah mengadopsi dan menyebarluaskan tehnologi tersebut hingga secara signifikan akan mengurangi ketergantungan akan asupan kimia sekaligus memulihkan kualitas lingkungan habitat, keanekaragaman hayati pendukung pertanian berkelanjutan sehingga pedesaan akan menjadi pusat pertumbuhan agroindustri ramah lingkungan. Pendidikan di pedesaan mudah mengintegrasikan materi praktis pembuatan pupuk organik cair dalam salah satu mata pelajarannya sehingga secara tidak langsung akan menumbuhkan kecintaan anak didik akan dunia pertanian dan mendukung perbaikan tehnologi keluarga petani. Pembuatan pupuk organik cair oleh petani ini diharapkan mampu meyakini petani bahwa mereka mampu menjadi produsen pupuk minimal bagi dirinya sendiri sekaligus memperbaiki lingkungan tempat tinggal yang menyatu dengan kerjanya sehari-hari.

Sehubungan dengan pemanfaatan sumber daya alam, agar lingkungan tetap lestari, harus diperhatikan tatanan/tata cara lingkungan itu sendiri. Dalam hal ini manusialah yang paling tepat sebagai pengelolanya karena manusia memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan organisme lain. Manusia mampu merombak, memperbaiki, dan mengkondisikan lingkungan seperti yang dikehendakinya, seperti:

  1. manusia mampu berpikir serta meramalkan keadaan yang akan dating
  2. manusia memiliki ilmu dan teknologi
  3. manusia memiliki akal dan budi sehingga dapat memilih hal-hal yang baik.

Pengelolaan ini mempunyai tujuan sebagai berikut.

  1. Mencapai kelestarian hubungan manusia dengan lingkungan hidup sebagai tujuan membangun manusia seutuhnya.
  2. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya secara bijaksana.
  3. Mewujudkan manusia sebagai pembina lingkungan hidup.
  4. Melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan untuk  kepentingan generasi sekarang dan mendatang.

Melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Melalui penerapan pengelolaan lingkungan hidup akan terwujud kedinamisan dan harmonisasi antara manusia dengan lingkungannya. Untuk mencegah dan menghindari tindakan manusia yang bersifat kontradiksi dari hal-hal tersebut di atas, pemerintah telah menetapkan kebijakan melalui Undang-undang Lingkungan Hidup.

2.4 Usaha pembinaan lingkungan

Upaya pengelolaan yang telah digalakkan dan undang-undang yang telah dikeluarkan belumlah berarti tanpa didukung adanya kesadaran manusia akan arti penting lingkungan dalam rangka untuk meningkatkan kualitas lingkungan serta kesadaran bahwa lingkungan yang ada saat ini merupakan titipan dari generasi yang akan datang.

Upaya pengelolaan limbah yang saat ini tengah digalakkan adalah pendaurulangan atau recycling. Dengan daur ulang dimungkinkan pemanfaatan sampah, misalnya plastik, aluminium, dan kertas menjadi barang-barang yang bermanfaat.

Usaha lain dalam mengurangi polusi adalah memanfaatkan tenaga surya. Tenaga panas matahari disimpan dalam sel-sel solar untuk kemudian dimanfaatkan dalam keperluan memasak, memanaskan ruangan, dan tenaga gerak. Tenaga surya ini tidak menimbulkan polusi.

Selain tenaga surya, tenaga angin dapat pula digunakan sebagai sumber energi dengan menggunakan kincir-kincir angin. Di beberapa negara maju telah banyak dilakukan pemisahan sampah organik dan anorganik untuk keperluan daur ulang. Dalam tiap rumah tangga terdapat tempat sampah yang berwarna-warni sesuai peruntukkannya.

 

 

Bab III

Kesimpulan

Perubahan dan perkembangan etika lingkungan, merupakan proses intelektual dan emosional. Koservasi lingkungan yang berdasar maksud baik saja terbukti lemah bahkan berbahaya, karena mengabaikan pemahaman kritis baik terhadap alam maupun sisi ekonomis dari penggunaan alam.

Etika diartikan sebagai kebiasaan hidup yang baik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam dan juga relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam, dan antara manusia dengan makhluk hidup yang lain atau dengan alam secara keseluruhan, termasuk di dalamnya kebijakan politik dan ekonomi yang mempunyai dampak langsung atau tidak langsung terhadap alam.

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Daftar Pustaka

STRATEGI PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Pengetahuan Lingkungan

Dosen Pembina:Agus Prasetyo Utomo,S.Si

Oleh:

 Aini Maskuro (0910211107)

Halimatus sa’diyah    (0910211066)

Siti hasanah               (0910211073)

Dian nuriyanti           (0910211075)

Arizal irawan             (0910211082)

   Siti aminah         (0910211111)

   Ana muslikha    (0910211116)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2011

 

KATA PENGANTAR

          Puji syukur kepada Allah S.W.T yang telah memberikan karunia-Nya sehingga,penulis dapat menyusun makalah yang berjudul”Strategi Berwawasan Lingkungan”dengan baik.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Botani Tumbuhan Tinggi telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.Sehingga, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.Makalah ini disusun sebagai tugas awal yang menjadi kesepakatan dalam kontrak perkuliahan dengan strategi students center.Dengan demikian penulis berharap agar makalah ini dapat menambah khasanah pengetahuan baik bagi kelompok kami maupun bagi para pembaca dalam memahami konsep pengetahuan lingkungan secara umum.

Dewasa ini lingkungan hidup organisme sangat memerlukan perhatian yang serius karena fakta-fakta dan fenomena-fenomena yang terjadi telah menunjukkan adanya ketidak seimbangan alam.Seperti gempa bumi,tanah longsor,banjir,dan lain sebagainya.Semua itu terjadi akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak menggunakan etika lingkungan dalam mengeksploitasi,mengeksplorasi dan mendaya gunakan sumber daya alam yang ada.Sehingga diperlukan pengetahuan akan prinsip-prinsip lingkungan hidup,masalah-masalah dan cara menanggulanginya untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun,untuk kesempurnaan makalah di masa yang akan datang.Semoga makalah ini dapat menambah khasanah pengetahuan bagi para pembaca.

 

 

 

Jember, Oktober 2011

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………………………i

Daftar isi……………………………………………………………………………………………………………..ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang………………………………………………………………………………………………1

1.2  Rumusan Masalah………………………………………………………………………………………….1

1.3  Tujuan …………………………………………………………………………………………………………..1

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan konsep Pembangunana Berwawasan Lingkungan ……………………………………………………………………………………………………………………………..2

2.2 Pembangunan Sumber Daya alam Dan Sumber Daya Manusia………………………………………………………………………………………………………………..11

BAB III

PENUTUP…………………………………………………………………………………………………………….20

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………….22

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Di abad Milenium ini, kemajuan akan ilmu pengetahuan dan teknologi ((IPTEK) seakan menimbulkan  polemik terhadap lingkungan hidup manusia.Hal ini karena kebanyakan manusia hanya mementingkan kepentingan individu tanpa memikirkan dampak bagi lingkungan hidup dalam penggunaan sumber daya alam(SDA). Selain itu penyebab kerusakan lingkungan akibat ulah manusia juga disebabkan karena kurangnya kesadaran akan etika lingkungan.

Kerusakan lingkungan hidup dapat terjadi melalui pencemaran lingkungan,yang meliputi  udara, air, dan tanah.Contoh pencemaran udara meliputi:global warming,penipisan lapisan ozon, dan hujan asam.Pencemaran air:limbah sungai,eutrofikasi dll.Pencemaran tanah:tanah solid akibat penumpukan pupuk kimia dll.

Dengan adanya contoh kerusakan-kerusakan di atas,maka diharapkan manusia sebagai pengelola lingkungan hidup dapat mengetahui konsep pembangunan berwawasan lingkungan dan pembangunan sumber daya alam serta sumber daya manusia untuk meminimalisirkan kerusakan yang telah terjadi.

1.2  Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat di rumuskan rumusan masalah sebagai berikut:

1)      Jelaskan definisi dan konsep pembangunan lingkungan!

2)      Bagaimana pembangunan sumber daya alam dan sumber daya manusia?

1.3  Tujuan

Dari rumusan masalah di atas,tujuan penulisan makalah ini adalah:

1)       Menjelaskan definisi dan konsep pembangunan lingkungan;

2)      Mendeskripsikan pembangunan sumber daya alam dan sumber daya manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi  dan Konsep Pembangunan Berwawasan lingkungan

Pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan berkelanjutan yang mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam untuk menopangnya.(Administrator,2011) http://klh.tegalkota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=14:pembangunan-berwawasan-lingkungan&catid=6:berita&Itemid=14

 

Menurut Prof. Dr. Emil Salim Lingkungan Hidup adalah segala benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati dan mempengaruhi hal-hal yang hidup termasuk kehidupan manusia.

Menurut UU No.4 Tahun 1982 tentang pokok-pokok pengelolaan Lingkungan Hidup, jumto UU No. 23 Tahun 1997, Pasal I bahwa lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk lainnya.

Menurut Prof.Dr.Otto Soemarwoto, Lingkungan adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita.

KOMPONEN-KOMPONEN EKOSISTEM

Di dalam lingkungan terdapat hidup terdapat tiga komponen ekosistem, yaitu :

a.Unsure Fisik (abiotik)

Unsure fisik yang terdapat didalam lingkungan hidup terdiri atas tanah, air, sinar mathari, senyawa kimia, dan sebagainya.fungsi unsure fisik didalam lingkungan sebagai media untuk berlangsungnya kehidupan. Sebagai contoh air dioperlukan oleh semua makhluk hidup untuk mengalirkan zat-zat makanan dan matahari merupakan energi utama untuk bergerak atau berubah.

b.Unsure Hayati (biotic)

Unsure hayati dalam lingkungan hidup terdiri atas semua makhluk hidup yang terdapat di bumi, mulai dari tingkat yang paling rendah sampai ke tingkat tinggi, mulai dari bentuk yang paling kecil hingga yang paling besar.sebagai contohnya adalah manusia, hewan, tumbuhan dan jasad renik.

c.Unsure Budaya

Disamping lingkungan fisik alamiah, manusia juga memiliki lingkungan lain sebagai pelengkap kehidupan yang disebut dengan lingkungan budaya. Lingkunga budaya merupakan abtraksi yang berwujud nilai, norma, gagasan dan konsep dalam memahami dan menginterpretasikan lingkungan. (Agustinarahmayani,2008)

 

DEFINISI PEMBANGUNAN

Pembangunan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas hidup secara bertahap dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki negara secara bijaksana.

Menurut Rostow pembangunan adalah

Tranformasi suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern yang lebih produktif.

Rostow membagi pembangunan menjadi lima tahapan yaitu :

1. Masyarakat tradisional ( the traditional society)

Ciri-cirinya :

  1. Cara produksi masih primitive.
  2. Tingkat produktifitas masih rendah khususnya bidang pertanian.
  3. Kegiatan politik dan pemerintahan masih rendah berada pada tuan tanah

2. Tahap Prasyarat Lepas Landas ( The pra condition for take off) Ciri-cirinya :

Masa transisi masyarakat mempersiapkan untuk mencapai pertumbuhan atas kekuatan sendiri.

3. Tahap lepas landas (the take off) Ciri-cirinya :

Pertumbuhan ekonomi selalu terjadi, adanya kemajuan pasar dan terbukanya

pasar-pasar baru.

4. Tahap menuju kedewasaan ( the drive to maturity)

Ciri-cirinya :

  1. Kondisi masyarakat sudah secara efektif mengunakan teknologi modern di hamper semua kegiatan produksi dan kekayaan alam.
  2. Struktur dan keahlian para pekerja bertambah tinggi.
  3. Struktur dan keahlian para tenaga kerja mengalami perubahan di mana sector industry semakin penting sementara sector pertanian menurun.

Konsep pembangunan berwawasan lingkungan.

Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan upaya sadar dan terencana yang memadukan unsure lingkungan hidup termasuk sumberdaya kedalam proses pembangunan.

Sumber daya yang mendukung pembangunan antara lain :

  1. sumber daya alam.yaitu air, tanah, udara.
  2. sumber daya manusia.
  3. ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ciri-ciri pembangunan berwawasan lingkungan :

  1. Menjamin pemerataan dan keadilan.
  2. Menghargai keanekaragaman hayati.
  3. Menggunakan pendekatan integratif
  4. Menggunakan pandangan jangka panjang.

Konsep pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan kita sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam pembangunan berkelanjutan perlu dilakukan berbagai upaya :

  1. Menyatukan persepsi tentang pelestarian.
  2. Menstabilkan populasi bumi baik di darat maupun di laut.
  3. Melanjutkan mengamankan penggunaan sumber daya.
  4. Menggunakan sumber daya secara efisien dan tidak membahayakan biosfer.
  5. Mengembangkan dan menerapkan teknologi maju untuk mendukung pengelolaan dan pengembangan lingkungan.
  6. Mendukung program ekonomi baru yang memiliki strategi yang berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya dan pengembangan lingkungan.

 

Pembangunan berkelanjuan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Dokumen-dokumen PBB, terutama dokumen hasil World Summit 2005 menyebut ketiga hal dimensi tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan.

Skema pembangunan berkelanjutan:pada titik temu tiga pilar tersebut, Deklarasi Universal Keberagaman Budaya (UNESCO, 2001) lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa “…keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi alam”. Dengan demikian “pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual”. dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Konsep lingkungan hidup menurut UNCC

Dalam pembicaraan mengenai perubahan iklim, Cina setuju membuka dialog menghadapi berakhirnya Kyoto Protokol. Dialog-dialog ini diharapakan dapat memberi kemajuan konferensi UNCC (United Nation Climate Conference) yang berlangsung di Bali pada Desember 2007. (Agustinarahmayani,2008)
Adapun ciri-ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah sebagai berikut:

a. Menjamin pemerataan dan keadilan.

b. Menghargai keanekaragaman hayati.

c. Menggunakan pendekatan integratif.

d. Menggunakan pandangan jangka panjang.

Pada masa reformasi sekarang ini, pembangunan nasional dilaksanakan tidak lagi berdasarkan GBHN dan Propenas, tetapi berdasarkan UU No. 25 Tahun 2000, tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN).

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai tujuan di antaranya:

a. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan   berkelanjutan.

b. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat.

c. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.( Afandi kusuma, 2009)

Implementasi pembangunan berwawasan lingkungan adalah dengan reboisasi, menanam seribu pohon dan gerakan bersih lingkungan tampaknya mengalami kendala yang berarti. Artinya, tidak seimbangnya antara yang ditanam dan yang dieksploitasi menjadi salah satu penyebabnya. Ada empat hal pokok dalam upaya penyelamatan lingkungan. Pertama, konservasi untuk kelangsungan hidup bio-fisik. Kedua, perdamaian dan keadilan (pemerataan) untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari dalam hidup bersama.

Ketiga, pembangunan ekonomi yang tepat, yang memperhitungkan keharusan konservasi bagi kelangsungan hidup bio-fisik dan harus adanya perdamaian dan pemerataan (keadilan) dalam melaksanakan hidup bersama. Keempat, demokrasi yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk turut berpartisipasi dalam melaksanakan kekuasaan, kebijaksanaan dan pengambilan keputusan dalam meningkatkan mutu kehidupan bangsa. Pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berimbang haruslah berorientasi pada kebutuhan pokok hidup manusia, pemerataan sosial, peningkatan kualitas hidup, serta pembangunan yang berkesinambungan. Agar pembangunan yang berwawasan lingkungan ini dapat berjalan dengan baik, maka pembangunan tersebut perlu memiliki pandangan jauh ke depan yang dirumuskan sebagai visi pembangunan. Dan dapat diimplementasikan ke dalam pembangunan jangka panjang secara ideal serta berorientasi kepada kepentingan seluruh rakyat. Visi pembangunan yang dimaksud adalah tercapainya peningkatan kualitas hidup seluruh masyarakat melalui: pengembangan kecerdasan, pengembangan teknologi, ketrampilan dan moral pembangunan sumber daya manusia yang tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta seni untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana dan berkesinambungan. Oleh karena itu, pembangunan harus mengandung makna perkembangan dan perbaikan kualitas hidup masyarakat melalui keadilan. Berhasil atau tidaknya visi ini sangat tergantung pada misi pembangunan melalui strategi pembangunan yang dijalankan. Srategi pembangunan adalah usaha untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia dalam mendayagunakan sumber daya alam dengan segenap peluang serta kendalanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

  1. Penggunaan teknologi bersih yang berwawasan lingkungan dengan segala perencanaan yang baik dan layak.
  2. Melaksanakan rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat guna dalam menghasilkan barang dan jasa yang unggul, tangguh dan berkualitas tinggi, yang berdampak positif bagi kelangsungan hidup pembangunan itu sendiri.
  3. Adanya pengawasan dan pemantauan terhadap jalannya pembangunan, sehingga sesuai dengan rencana dan tujuannya.

Di dalam kebijakan pengelolaan lingkungan hidup titik tekannya ada di daerah, untuk itu seyogyanya di dalam program pembangunan nasional/daerah merumuskan program pembangunan sumberdaya alam dan lingkungan hidup, yang mencakup :

  1. Program Pengembangan dan Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Bertujuan memperoleh dan menyebarluaskan informasi mengenai potensi dan produktivitas sda dan lh melalui inventarisasi dan evaluasi serta penguatan sistem informasi.
  1. Program Peningkatan Efektivitas Pengelolaan, Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Alam. Bertujuan menjaga keseimbangan pemanfaatan dan pelestarian sda dan lh laut, air, udara, atau dengan harapan tercapainya sasaran berupa terlindunginya kawasan-kawasan konservasi dari kerusakan akibat pemanfaatan sda yang tidak terkendali dan eksploitatif.
  2. Program Pencegahan dan Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan Hidup. Bertujuan meningkatkan kualitas lh dalam upaya mencegah kerusakan dan pencemaran  lingkungan serta pemulihan kualitas lingkungan yang rusak akibat pemanfaatan sda yang berlebihan.
  3. Program Penataan Kelembagaan dan Penegakan Hukum, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Hidup. Bertujuan untuk mengembangkan kelembagaan, menata sistem hukum, perundangan, kebijakan, serta terlaksananya upaya penegakan hukum secara adil dan konsisten.
  4. Program Peningkatan Peranan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup. Bertujuan meningkatkan peranan dan kepedulian semua pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sda dan pelestarian fungsi lh.

Mengingat kompleksnya di dalam pengelolaan LH, maka dalam pelaksanaan pembangunan dibutuhkan perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan LH yang sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yaitu pembangunan ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup yang berimbang sebagai pilar-pilar yang saling tergantung dan saling memperkuat satu sama lain. Di samping itu yang terjadi di lapangan adalah menurunnya kualitas lingkungan hidup, dan banyaknya hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup di daerah dalam masa otonomi daerah, di antaranya :

  1. Ego sektoral dan daerah, yang terjadi adalah pengelolaan hidup dilaksanakan overlaping antar sektor satu dengan sektor yang lain.
  2. Tumpang tindih perencanaan antar sektor.
  3. Dana yang masih sangat kurang untuk bidang lingkungan hidup.
  4. Keterbatasan sumberdaya manusia.
  5. Eksploitasi sumberdaya alam masih terlalu mengedepankan profit dari sisi ekonomi.
  6. Lemahnya implementasi peraturan perundangan.
  7. Lemahnya penegakan hukum lingkungan khususnya pengawasan.
  8. Pemahaman masyarakat tentang lingkungan hidup masih rendah.
  9. penerapan teknologi yang tidak ramah lingkungan.( Sudarmadji,2011)

Pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berimbang haruslah berorientasi      pada kebutuhan pokok hidup manusia, pemertaan sosial, peningkatan kualitas hidup, serta pembangunan yang berkesinambungan.

Agar pembangunan yang berwawasan lingkungan ini dapat berjalan dengan baik, maka pembangunan tersebut perlu memiliki pandangan jauh ke depan yang dirumuskan sebagai visi pembangunan. Dan dapat diimplementasikan ke dalam pembangunan jangka panjang secara ideal serta  berorientasi kepada kepentingan seluruh rakyat. Visi pembangunan yang dimaksud adalah tercapainya peningkatan kulitas hidup seluruh masyarakat melalui pengembangan kecerdasan, pengembangan teknologi, keterampilan dan moral  pembangunan sumber daya manusia yang tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta seni untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana dan berkesinambungan.

Oleh karena itu,pembangunan harus mengandung makna perkembangan dan perbaikan kualitas hidup masyarakat melalui keadilan.

Berhasil atau tidaknya visi ini sangat tergantung pada misi pembangunan melalui strategi pembangunan yang dijalankan.

Strategi pembangunan adalah usaha untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia dalam mendayagunakan sumber daya alam dengan segenap peluang serta kendalanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara :

  1. penggunaan teknologi bersih yang berwawasan lingkungan dengan segala perencanaan yang baik dan layak.
  2. Melaksanakan rekayasa ilmu pengetgahuan dan  teknologi yang tepat guna dalam menghasilkan barang dan jasa yang unggul, tangguh dan berkualitas tinggi, yang berdampak positif bagi kelangsungan hidup pembangunan itu sendiri.
  3. Adanya pengawasan dan pemantauan terhadap jalannya pembangunan, sehingga sesuai dengan rencana dan tujuannya.

Selain itu pembangunan harus dilaksanakan sesuai misinya, seperti adanya rencana pembangunan dan pemantauan, harus dilakukan pengevaluasian serta pengauitan. Bertujuan untuk memberikan umpan balik yang diperlukan bagi penyempurnaan pelaksanaan maupun tahap perencanaan pembangunan berikutnya.

Prinsip pembangunan berwawasan lingkungan adalah pendayagunaan sumber daya alam sebagai pokok kemakmuran rakyat dilakukan secara terencana, bertanggungjawab, dan sesuai daya dukungnya dengan mengutamakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup bagi pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Konsep pembangunan ini bertujuan membangun kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang mampu menyelaraskan tanggung jawab moral dengan strategi pembangunan berwawasan lingkungan. Hal ini perlu ditegaskan mengingat adanya kecenderungan gaya hidup konsumerisme, hingga bergesernya potensi fisik alami manusia (nature of human physical potention) akibat meluasnya pemanfaatan perangkat teknologi (dependent on technological instruments) dalam proses pembangunan itu berlangsung.

Konsep pembangunan yang ramah lingkungan ini bersifat ekonomis, karena dapat menghasilkan keuntungan lebih besar dengan modal yang lebih kecil yang bersifat bekelanjutan (sustainable). Baik dari segi lingkungan biogeofisik-kimia karena tidak terjadi kerusakan maupun sosial-ekonomi dan budaya.

Problem pembangunan yang hanya bertumpu pada satu aspek menyebabkan keterbelakangan dan kemiskinan menjadi suatu hal yang anakronistis, yang memperdebatkan the gap between poor and rich tentang perbedaan urgensi environmental priorities. Karena itu, strategi pembangunan yang konseptual harus meletakkan konsep pembangunan dengan unsur SDM yang integral dan bermoral.

Kompleksitas pembangunan melahirkan aneka pro dan kontra. Artinya, kolaborasi dampak pembangunan biasanya melahirkan dua temperamen. Pertama, pembangunan akan menghasilkan output yang bersifat positif, yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada perubahan kualitas hidup. Kedua, akan menimbulkan pula dampak negatif yang tidak menguntungkan seperti berdirinya industri kimia. Di satu sisi bermanfaat untuk menunjang kualitas hidup manusia, namun limbah industri tersebut menjadi problema bagi lingkungan hidup(Syafruddin,2008).

2.2 Pembangunan Sumber daya alam dan sumber daya manusia

2.2.1 Pembangunan SDA

Degradasi kualitas sumberdaya alam dan lingkungan hidup (ecological losses) secara empiris juga berarti: (1) Menghilangkan sebagian sumber-sumber kehidupan dan mata pencaharian masyarakat (economic resources losses); (2) Mengerosi kearifan lokal melalui perusakan sistem pengetahuan, teknologi, institusi, religi, dan tradisi masyarakat lokal (social and cultural losses); dan (3) Mengabaikan hak-hak masyarakat dan kemajemukan hukum dalam masyarakat (the political of legal pluralism ignorance).

Dari perspektif hukum dan kebijakan publik, degradasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup lebih dilihat sebagai akibat dari anutan politik hukum dan kebijakan pemerintah untuk mendukung pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Instrumen hukum (legal instrument) yang diproduk pemerintah dalam bentuk peraturan perundang-undangan (state law) selama kurun waktu tiga dekade terakhir ini cenderung memperlihatkan karakteristik yang bersifat eksploitatif, sentralistik, sektoral, represif, mengabaikan hak-hak masyarakat, dan mengingkari adanya kemajemukan hukum dalam komunitas-komunitas masyarakat.

Keadaan tersebut membutuhkan  perbaikan hukum  yang tetap mendukung pembangunan  yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang berbasis kelestarian lingkungan, khususnya mencakup aspek wawasan, orientasi dan instrumen hukum yang menjamin kelestarian lingkungan hidup, desentralistik, akomodatif terhadap penguatan kelembagaan  dan kearifan Pemanfaatan sumberdaya alam dalam pembangunan harus dilandasi dengan pendekatan pendayagunaan sumberdaya alam  dengan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran masyarakat secara berkelanjutan. Pola konsumsi sumberdaya alam seharusnya memberi kesempatan dan peran-serta masyarakat serta memberdayakan masyarakat untuk dapat mengelola sumberdaya alam secara optimal dan lestari .

Masih sangat terbatas kebijakan yang secara eksplisit mendorong pada pola produksi dan konsumsi yang optimal dan berkelanjutan.  Selain itu, pola konsumsi yang dikaitkan dengan peningkatan gizi dan kesehatan masih merupakan masalah utama bagi daerah-daerah. (Naomi Ruth Dimara,SH,2009)

 

Dalam sebagian kehidupan masyarakat dan budaya perkotaan telah berkembang gaya hidup konsumtif, karena sebagian besar mereka tidak lagi mengkonsumsi berdasarkan nilai guna, nilai pakai, tetapi sesuatu yang hanya merupakan “simbol” di mana image atau citra menjadi sangat penting. Hal ini seiring dengan semakin pesatnya kemajuan dunia informasi dan komunikasi. Permasalahan Lingkungan seperti pencemaran, degradasi lahan kritis, dan kelangkaan sumberdaya alam akan cenderung berkembang sebagai dampak dari pola produksi/ industri dan konsumsi yang berlebihan.

Konsumsi energi meningkat sekitar 5-8% per tahun. Konsumen terbesar adalah sektor industri (49%), transportasi membutuhkah 32% dan selebihnya adalah untuk kebutuhan rumah tangga.  Berubahnya struktur ekonomi dari pertanian ke industri dan meningkainya aktivitas ekonomi di berbagai sektor kehidupan, mempengaruhi Iaju peningkatan konsumsi energi yang secara langsung juga akan meningkatkan emisinya. Untuk mencegah dan mengatasi dampak emisi ini pola konsumsi dan produksi sumberdaya energi perlu segera ditangani secara tepat dan cermat.

Semakin terbatasnya ketersediaan sumberdaya air, maka pola konsumsi air harus mempertimbangkan sumberdaya air di masa mendatang. Bidang agrokompleks masih akan tetap menjadi konsumen terbesar. Walaupun demikian, di beberapa wilayah, persaingan pemanfaatan sumberdaya air akan canderung menajam antara pertanian, industri dan rumah tangga. Beberapa hal yang perlu diprioritaskan adalah sebagai

Salah satu tantangan pokok abad 21 adalah agar kualitas hidup manusia terus meningkat dan pembangunan tetap berlanjut. Dalam kaitan ini, hal yang sangat penting adalah bagaimana mengaktualisasikan konsep pembangunan berkelanjutan menjadi komitmen dan arahan untuk melakukan tindakan nyata dalam berbagai kegiatan pembangunan.

Sesuai dengan perhatian dan kepentingan semua pihak untuk menjaga keberlanjutan pembangunan serta menjamin kelestarian bumi dengan segala isi dan kehidupannya, maka  dimensi penting dalam pembangunan SDA-LH, adalah:

(1).  kerja sama sinergis antar daerah,

(2)   pengendalian kependudukan,

(3)   penanggulangan dan pengentasan kemiskinan,

(4)   optimalisasi pola konsumsi sumberdaya alam,

(5)   perlindungan dan peningkatan kesehatan lingkungan,

(6)   penataan ruang, pemukiman dan perumahan,

(7)   integrasi lingkungan ke dalam pengambilan keputusan pembangunan.

Dipahami bahwa sebagai masyarakat yang sedang membangun, segala cita-cita, tujuan, dan sasaran hanya dapat dicapai apabila institusi yang ada mampu menggerakan segala potensi daerah yang tersedia dan peniadakan berbagai hambatan yang menghadang. Kemampuan institusi akan meningkat apabila sumberdaya manusia yang menjalankan dan menggerakkannya mempunyai kemampuan yang memadai. Dengan demikian peningkatan sumberdaya manusia dan pemberdayaan masyarakat merupakan ujung tombak dari semua Program Pembangunan.

Penanggulangan kemiskinan dan ketertinggalan harus dijadikan program penting dalam menjamin pembangunan yang berkelanjutan, karena kemiskinan selain akan menjadi beban pertumbuhan juga akan menjadi penyebab degradasi sumberdaya alam – lingkungan hidup. Masyarakat miskin tidak akan mampu memelihara SDA-LH apalagi memulihkan kerusakannya. Di lain pihak, kemiskinan juga dapat terjadi akibat degradasi kualitas SDA-LH dan pemutusan akses masyarakat terhadap sumberdaya milik bersama (common property resources). Karena itu pengelolaan sumberdaya alam merupakan upaya penting dalam kaitannya dengan penanggulangan kemiskinan. (Naomi Ruth Dimara,SH,2009)

Pembangunan sumber daya manusia Indonesia mengalami perlambatan akibat kondisi ekonomi dan sosial politik serta pertahanan dan keamanan yang kurang menguntungkan. Indikator-indikator di bidang pembangunan itu menunjukkan Indonesia jauh tertinggal dari negara lain seperti Singapura, Thailand dan Malaysia. “Masalah besarnya adalah korupsi,” kata Kwik Kian Gie, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas usai acara Mid Term Review Program Kerjasama Indonesia dan UNICEF tahun 2001-2005 di Gedung Bappenas Jakarta, Rabu (22/10). Ia menilai, setiap masalah sosial yang ada akan berhadapan adanya tindakan korupsi terhadap dana pembangunan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Hal senada juga diutarakan oleh Steven Allen, Kepala perwakilan UNICEF untuk Indonesia. Ia menyatakan, dana itu bisa jadi masalah tetapi juga sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup sumber daya manusianya. UNICEF menginginkan agar Indonesia mengalokasi dana lebih besar bagi pendidikan, kesehatan dan perlindungan sosial. Steven menambahkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat bergantung bagaimana implementasi kebijakan dan peraturan yang dibuat pemerintah. Ia mencontohkan seperti undang-undang perlindungan anak yang dibuat Indonesia. Undang-undang itu sampai saat ini belum mampu mengatasi terjadinya pelanggaran hak anak.(Edy chan,2003)

 

 

 

 

 

 

UPAYA-UPAYA YANG DILAKUKAN DALAM HAL PEMBANGUNAN SDA

1. Upaya yang Dilakukan Pemerintah

Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain:

a. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna Tanah.

b. Menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.

c. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan).

d. Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan pokoknya:

1) Menanggulangi kasus pencemaran.

2) Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3).

3) Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

e. Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon.

2. Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup oleh Masyarakat Bersama Pemerintah

Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Beberapa upaya yang dapat dilakuklan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain:

a. Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan)

Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah menjadi padang tandus. Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.

b. Pelestarian udara

Udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. Kalian mengetahui bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya oksigen.

Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme. Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara lain:

1) Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita

Tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.

2) Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran, baik pembakaran hutan maupun pembakaran mesin Asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan cerobong asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan filter pada cerobong asap pabrik.

3) Mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfer Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa dengan gas ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu memantulkan kembali sinar ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan akan merusakkan jaringan kulit dan menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan global terjadi di antaranya karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer.

c. Pelestarian hutan

Eksploitasi hutan yang terus menerus berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi dengan penanaman kembali, menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan. Padahal hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air.

Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan:

1) Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.

2) Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.

3) Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.

4) Menerapkan sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan.

5) Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan.

d. Pelestarian laut dan pantai

Seperti halnya hutan, laut juga sebagai sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan pantai banyak disebabkan karena ulah manusia. Pengambilan pasir pantai, karang di laut, pengrusakan hutan bakau, merupakan kegatan-kegiatan manusia yang mengancam kelestarian laut dan pantai. Terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai disebabkan telah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami terhadap gempuran ombak.

Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara:

1) Melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai.

2) Melarang pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut.

3) Melarang pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan.

4) Melarang pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.

e. Pelestarian flora dan fauna

Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di antaranya adalah:

1) Mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa.

2) Melarang kegiatan perburuan liar.

3) Menggalakkan kegiatan penghijauan.( Afandi kusuma ,2009)

 

2.2.2 Pembangunan SDA dan Sejarah  Masalah SDM Di Indonesia

Pembangunan yang telah berlangsung selama tiga dasa warsa lalu lebih berorientasi untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi (economic growth development) dengan mengeksploitasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup.  Untuk mendukung orientasi pembangunan tersebut diciptakan paradigma pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berbasis negara (state-based resource management), yang pada kenyataannya merupakan paradigma pembangunan yang berbasis pemerintah (government-based resource management).

Pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi cenderung bersifat eksploitatif dan mengabaikan kaidah-kaidah kelestarian, konservasi, dan keberlanjutan.  Konsekuensi yang ditimbulkan adalah timbulnya dampak negatif yang berupa degradasi kualitas sumberdaya alam serta pencemaran lingkungan hidup yang serius seperti yang terjadi di berbagai kawasan di Indonesia.(Naomi Ruth Dimara,SH,2009)

Pikiran Dasar

Pikiran dasar (Premis) penulisan ini adalah Pengembangan SDM merupakan hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan ketahanan dan kekuatan bangsa Indosesia dimasa sekarang dan masa-masa yang akan datang.

Pengembangan SDM bukan menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi seluruh masyarakat Indonesia.

Pikiran dasar ini selanjutnya akan disandingkan dengan fakta yang penulis ambil dari literatur buku maupun publikasi tulisan-tulisan di Internet. Kemudian ditarik kesimpulan.

SDM Indonesia Era Orde Baru

Setelah Soeharto menduduki bangku Presiden Indonesia, maka terbentuklah suatu era yang disebut dengan Orde baru yang merupakan era atau orde dimana bangsa Indonesia dibawah pemerintahan Presiden Soeharto mulai membangun disegala aspek kehidupan, untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain. Pada era orde baru ini, perkembangan bangsa Indonesia sangat pesat dan sempat tumbuh menjadi kekuatan yang cukup diperhitungkan hingga mencapai puncaknya pada tahun 1996 sampai pertengahan 1997.

SDM di era Krisis Ekonomi

Pada saat krisis Ekonomi pada akhir tahun 1997 yang melanda negara-negara dikawasan Asia dimana Indonesia juga didalamnya, mengakibatkan perekonomian dengan segala aspek didalamnya menjadi hancur dan mengalami kemunduran dan terpuruk. Kondisi ini bisa terlihat dengan banyaknya perusahaan yang tidak bisa bertahan dan ditutup, mengakibatkan timbulnya pengangaguran yang cukup besar dan juga terjadi ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dengan angkatan kerja. Kondisi ini turut memicu keterpurukan masyarat Indonesia yang mengakibatkan meningkatnya tingkat kemiskinan diIndonesia. Dalam kondisi krisis multi ekonomi ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara disisi lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Merujuk HDI tahun 2004 dimana terjadi kesenjangan antara kesejahteraan dan kesempatan hidup yang semakin terpuruh. Faktanya tidak adanya pembagian akses kehidupan dan pendapatan yang merata.

Kondisi keterpurukan ekonomi yang berlangsung cukup lama ini mengindikasikan bahwa dasar perekonomian Indonesia beserta SDM didalamnya tidak kuat menghadapi terpaan goncangan ekonomi dari luar dan juga terpaan globalisasi yang semakin kuat masuk dalam tatanan moral bangsa. Hal ini dikarenakan pembangunan perekonomian dan SDM Indonesia dimasa orde baru terlalu otoriter dan tersentralisasi tanpa melibatkan daerah dan lapisan masyarakat yang ada, sehingga pembangunan ekonomi dan SDM yang sudah bagus itu tidak kuat dan rentan terhadap terhadap goncangan ekonomi dan globalisasi yang kuat.

SDM di era Globalisasi

Krisis ekonomi yang multi dimensional ditambah dengan globalisasi yang kuat merasuk masuk ke Indonesia mengakibatkan kemunduran ekonomi disertai dengan keterpurukan pengembangan SDM Indonesia sebagai akibat dari pengaruh globalisasi yang tidak pandang bulu merasuki dan mempengaruhi semua kalangan dan lapisan masyarakat. Akibat dari krisis yang berkepanjangan mengakibatkan banyak perusahaan yang bangkrut dan gulung tikar, yang selanjutnya mengakibatkan angka pengangguran yang cukup besar. Kemudian diperparah lagi dengan ketahanan dan kualitas SDM Indonesia yang tidak kuat dan tidak mampu untuk menghadapi persaingan global yang kuat. Ketidak mampuan SDM ini mengakibatkan Indonesia tidak mempunyai daya saing untuk mengangkat kembali perekonomian dan mengembangkan SDMnya.

Kenyataan ini belum menjadi kesadaran bagi bangsa Indonesia untuk kembali memperbaiki kesalahan pada masa lalu. Rendahnya APBN untuk sektor pendidikan (tidak lebih dari 12%) pada pemerintahan era reformasi. Ini menunjukan belum adanya perhatian serius dari pemerintah pusat terhadap perbaikan kualitas SDM. Padahal sudah saatnya pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah secara serius membangun SDM yang berkualitas, dan sudah saatnya bangsa Indonesia secara benar dan tepat memanfaatkan potensi sumberdaya yang dimiliki dengan kemampuan SDM yang tinggi sebagai kekuatan dalam membangun perekonomian nasioanal.

Orang tidak bekerja alias pengangguran merupakan masalah bangsa yang tidak pernah terselesaikan. Ada tiga hambatan yang menjadi alasan mengapa orang tidak bekerja, yaitu hambatan kultur, kurikulum pendidikan dan pasar kerja. Hambatan kultur yang dimaksud adalah budaya dan etos kerja. Sementara yang menjadi masalah dari kurikulum pendidikan adalah belum adanya standar baku kurikulum yang mampu menciptakan dan mengembangkan kemandirian SDM yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar kerja lebih disebabkan rendahnya kualitas SDM yang ada untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.

Ekonomi abat ke 21 yang ditandai dengan globalisasi ekonomi merupakan suatu kegiatan ekonomi perdagangan dimana negara-negara diseluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritori negara. Globalisasi sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Indonesia dikancah persaingan global menurut World Competitiveness Report menempati urutan ke 45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti, dibawah Singapura (8), Malaysia (34), cina(35), Filipina (38), dan Thailand (40).

Realitas globalisasi yang demikian membawa membawa sejumlah implikasi bagi pengembangan SDM di Indonesia. Problem utama dalam pengembangan SDM Indonesia adalah terjadinya missalocation of human resources. Pada ere sebelum reformasi pasar tenaga kerja mengikuti era konglomeresi. Dimana tenaga kerja yang ada cenderung memasuki dunia kerja yang bercorak konglomeratif yaitu mulai dari sektor manufaktur sampai dengan perbankan. Dengan begitu, dunia pendidikan akhirnya masuk dalam kemelut ekonomi poitik, yakni terjadi kesenjangan ekonomi yang terakselerasi struktur pasar yang masih terdistorsi. Kenyataan menunjukan banyak lulusan terbaik pendidikan masuk kesektor-sektor ekonomi yang justru bukan memecahkan masalah ekonomi, tetapi malah memperkuat proses konsentrasi ekonomi dan konglomerasi, yang mempertajam kesenjangan ekonomi.Hal ini terjadi karena visi SDM terbatas pada struktur pasar yang sudah ada dan belum sanggup menciptakan pasar sendiri, karena kondisi makro ekonomi yang memang belum kondusif untuk itu.

Dengan demikian, pada era reformasi dewasa ini, alokasi SDM masih belum mampu mengoreksi kecenderungan terciptanya konsentrasi ekonomi yang memang telah tercipta sejak pemerintahan masa lalu. Sementara disisi lain Indonesia kekurangan berbagai keahlian untuk mengisi berbagai tuntutan globalisasi.

Ketimpangan pengembangan SDM Indonesia dapat terlihat dengan tingkat kualitas pendidikan yang berbeda cukup besar antara satu daerah/provinsi dengan daerah/provinsi lainnya, dan juga antara kota dengan kampung/desa yang mana pembangunan pendidikan dari yang paling dasar sampai dengan tingkat atas sangat terasa. Hal ini dibuktikan dengan kurangnya fasilitas pendidikan maupun guru yang mengajar di desa yang mengakibatkan tingginya angka buta huruf dan kadar penggunaan bahasa Indonesia yang masih rendah di pedesaan maupun daerah pelosok. Dengan demikian maka akan sulit bagi bangsa Indonesia untuk bisa meningkatkan kualitas hidup dan SDMnya jika kondisi ketimpangan ini tidak diperhatikan dan diperbaiki.

Hubungannya dengan Pembangunan Berkelanjuatan

Pembangunan berkelanjutan adalah Kegiatan usaha memenuhi kebutuhan, dengan menggunakan sumberdaya yang ada pada diri dan lingkungannya, tanpa menghambat kebutuhan generasi masa depan, menuju tingkat kehidupan yang lebih tinggi, dengan atau tanpa bantuan dari luar, didalam batas hukum dan HAM yang Universal Fakta bahwa kebijakan pemerintah orde baru yang lebih menitik beratkan pada pembangunan disegala lini tanpa melibatkan atau memperhatikan aspirasi masyarakat bawah, dan juga sistem pengembangan SDM yang tidak merata antar daerah kota dan pedesaan yang mengakibatkan ketahanan perekonomian dan SDM yang tidak bisa untuk bertahan dari krisis multi dimensional, yang disusul juga dengan era globalisasi yang tidak bisa dihindari oleh Indonesia, mengakibatkan pembangunan Indonesia sangat terpuruk dan seterusnya untuk bisa bergerak naik dari keterpurukan dan untuk tidak mudah terpuruk lagi maka Indonesia harus bisa menjaga Ketahanan SDMnya supaya bisa kuat. Pengembangan SDM sudah seharusnya ditujukan lakukan dengan perbaikan mutu pendidikan dan lebih berorientasi pada perkembangan persaingan global, supaya SDM Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara lain. Disamping itu untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan bukan saja di dukung oleh sektor pendidikan saja, tetapi harus juga diperhatikan tingkat kesejahteraan masyarakat berupa tingkat kekurangan gizi, kematian bayi, usia harapan hidup, fasilitas kesehatan sampai dengan pemberdayan gender sampai dengan tingkat kemiskinan.

Kalau kita melihat masing-masing indikator menurut HDI, kesejahteraan seperti usia harapan hidup, melek huruf orang dewasa, rata-rata tahun bertahan disekolah dan pengeluaran perkapita, maka dari tahun 1996 sebelum krisis ke tahun 1999 dan 2002 sesudah krisis moneter, pada umumnya terjadi perbaikan indeks untuk seluruh Indonesia. Kecuali pengeluaran perkapita dari 587,4 juta rupiah (1996) menurun ke 578,8 juta rupiah (1999) tetapi lantas naik menjadi Rp 591,2 juta (2002).

Setelah itu dalam laporan UNDP 2007/2008 menyebutkan bahwa pembangunan sektor kesehatan di Indonesia menunjukan kemajuan. Umum harapan hidup meningkat, angka kematian bayi dan ibu menurun. Namun berbagai keberhasilan itu dikhawatirkan akan mengalami guncangan karena penurunan anggaran pembangunan kesejahteraan dan pendidikan, serta mundurnya pelaksanaan keluarga berencana akibat desentralisasi dan otonomi daerah.

Dengan melihat kenyataan diatas, maka kita tidak boleh cepat berpuas diri, karena kita masih tertinggal jauh dari negara-negara tetangga kita yang secara kultur dapat dikatakan sama dengan kita. Namun meskipun tingkat kesejahteraan relatif meningkat, tetapi rendahnya pembangunan pendidikan Indonesia mempengaruhi kualitas manusia Indonesia. Hal ini sering dijadikan pegangan untuk melihat indeks pembangunan manusia (HDI) Indonesia amat rendah. Padahal pengukuran HDI berdasarkan 3 indikator yaitu  panjang usia, pendidikan dan standar hidup.( Prof. DR. W.I.M. Poli.2007)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan:

Definisi pembangunan  berwawasan lingkungan:

pembangunan berkelanjutan yang mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam untuk menopangnya

Ciri-ciri pembangunan berwawasan lingkungan:

a.Menjamin pemerataan dan keadilan.

b. Menghargai keanekaragaman hayati.

c. Menggunakan pendekatan integratif.

d. Menggunakan pandangan jangka panjang

Pembangunan SDA dan SDM meliputi kombinasi  antara upaya yang dilakukan oleh warganegara dan upaya pemerintah

Sejarah  Masalah SDM Di Indonesia

SDM Indonesia Era Orde Baru

Setelah Soeharto menduduki bangku Presiden Indonesia, maka terbentuklah suatu era yang disebut dengan Orde baru yang merupakan era atau orde dimana bangsa IndonesiaPada era orde baru ini, perkembangan bangsa Indonesia sangat pesat dan sempat tumbuh menjadi kekuatan yang cukup diperhitungkan hingga mencapai puncaknya pada tahun 1996 sampai pertengahan 1997.

SDM di era Krisis Ekonomi

Pada saat krisis Ekonomi pada akhir tahun 1997 yang melanda negara-negara dikawasan Asia dimana Indonesia juga didalamnya, mengakibatkan perekonomian dengan segala aspek didalamnya menjadi hancur dan mengalami kemunduran dan terpuruk.  Hal ini dikarenakan pembangunan perekonomian dan SDM Indonesia dimasa orde baru terlalu otoriter dan tersentralisasi tanpa melibatkan daerah dan lapisan masyarakat yang ada, sehingga pembangunan ekonomi dan SDM yang sudah bagus itu tidak kuat dan rentan terhadap terhadap goncangan ekonomi dan globalisasi yang kuat.

 

 

 

 

SDM di era Globalisasi

Krisis ekonomi yang multi dimensional ditambah dengan globalisasi yang kuat merasuk masuk ke Indonesia mengakibatkan kemunduran ekonomi disertai dengan keterpurukan pengembangan SDM Indonesia sebagai akibat dari pengaruh globalisasi yang tidak pandang bulu merasuki dan mempengaruhi semua kalangan dan lapisan masyarakat. Dengan demikian maka akan sulit bagi bangsa Indonesia untuk bisa meningkatkan kualitas hidup dan SDMnya jika kondisi ketimpangan ini tidak diperhatikan dan diperbaiki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Siroth, Muhammad dkk.1998.Pembangunan Berwawasan Lingkungan.(online)

http://www.angelfire.com/id/akademika/mspemling98.html Diacces tanggal 16 Oktober 2011.

Syafruddin.2008 Pembangunan Berwawasan Lingkungan.(online)

http://dinazhar.multiply.com/journal/item/8?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Diacces tanggal 16 Oktober 2011.

Administrator.2011. Pembangunan Berwawasan Lingkungan.(online)

http://klh.tegalkota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=14:pembangunan-berwawasan-lingkungan&catid=6:berita&Itemid=14 Diacces tanggal 16 Oktober 2011.

Sudarmadji.2010.Pembangunan Berwawasan Lingkungan.(online)

http://geo.ugm.ac.id/archives/125 diacces tanggal 16 Oktober 2011.

Agustinarahmayan.2008. pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup

http://agustinarahmayani.wordpress.com/2008/04/17/pemanfaatan-dan-pelestarian-lingkungan-hidup/

afandi kusuma 2009. lingkungan hidup,kerusakan lingkungan pengertian kerusakan lingkungan dan pelestarian(online)

http://afand.cybermq.com/post/detail/2405/linkungan-hidup-kerusakan-lingkungan-pengertian-kerusakan-lingkungan-dan-pelestarian- diacces tanggal 16 Oktober 2011

 

Edy can.2003.Pembangunan Sumber Daya Manusia Melambat(On line)

http://tempointeraktif.com/hg/nasional/2003/10/22/brk,20031022-67,id.html diacces tanggal 16 Oktober 2011

Naomi Ruth Dimara,SH.2009.PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP DAN POLA HIDUP MASYARAKAT(On line)

http://vogelkoppapua.org/?page=article.detail&id=14 diacces tanggal 16 Oktober 2011

 

Prof. DR. W.I.M. Poli.2007.Pembangunan Sumber daya manusia.(Online)

http://sammy-ekonomiku.blogspot.com/2008/03/pengembangan-sumber-daya-manusia.html

Diacces tanggal  17  Oktober 2011

 

 

LAMPIRAN:

Dokumentasi Foto Anggota

 

 

 

 

Aini Maskuro(0910211107)                            Halimatus sa’diyah(0910211066)

 

Siti Aminah (0910211111)                             Arizal Irawan Putra (0910211082)

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. 1.                  Latar Belakang

Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) pertama kali dicetuskan berdasarkan atas ketentuan yang tercantum dalam pasal 16 Undang-undang No.4 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Berdasarkan amanat pasal 16 tersebut diundangkan pada tanggal 5 Juni 1986 suatu Peraturan Pemerintah No.29 tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).Peraturan pemerintah (PP) No.29/ 1986 tersebut berlaku pada tanggal 5 Juni 1987 yaitu selang satu tahun setelah di tetapkan. Hal tersbut diperlukan karena masih perlu waktu untuk menyusun kriteria dampak terhadap lingkungan sosial mengingat definisi lingkungan yang menganut paham holistik yaitu tidak saja mengenai lingkungan fissik/kimia saja namun meliputi pula lingkungan sosial.
Berdasarkan pengalaman penerapan PP No.29/1986 tersebut dalam deregulasi dan untuk mencapai efisiensi maka PP No.29/1986 diganti dengan PP No.51/1993 yang di undangkan pada tanggal 23 Oktober 1993. Perubahan tersebut mengandung suatu cara untuk mempersingkat lamanya penyusunan AMDAL dengan mengintrodusir penetapan usaha dan/ atau kegiatan yang wajib AMDAL dengan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan demikian tidak diperlukan lagi pembuatan Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). Perubahan tersebut mengandung pula keharusan pembuatan ANDAL , RKL, dan RPL di buat sekaligus yang berarti waktu pembuatan dokumen dapat diperpendek. Dalam perubahan tersebut di introdusir pula pembuatan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) bagi kegiatan yang tidak wajib AMDAL. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL) ditetapkan oleh Menteri Sektoral yang berdasarkan format yang di tentukan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Demikian pula wewenang menyusun AMDAL disederhanakan dan dihapuskannya dewan kualifikasi dan ujian negara.

Dengan ditetapkannya Undang-undang No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH), maka PP No.51/1993 perlu diganti dengan PP No.27/1999 yang di undangkan pada tanggal 7 Mei 1999, yang efektif berlaku 18 bulan kemudian.

Perubahan besar yang terdapat dalam PP No.27 / 19999 adalah di hapuskannya semua Komisi AMDAL Pusat  dan diganti dengan satu Komisi Penilai Pusat yang ada di Bapedal. Didaerah yaitu provinsi mempunyai Komisi Penilai Daerah. Apabila penilaian tersebut tidak layak lingkungan maka instansi yang berwenang boleh menolak permohohan  ijin yang di ajukan oleh pemrakarsa. Suatu hal yang lebih di tekankan dalam PP No.27/1999 adalah keterbukaan informasi dan peran masyarakat.

Implementasi AMDAL sangat perlu di sosialisasikan tidak hanya kepada masyarakat namu perlu juga pada para calon investor agar dapat mengetahui perihal AMDAL di Indonesia. Karena semua tahu bahwa proses pembangunan di gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi, sosial dan budaya. Dengan implementasi AMDAL yang sesuai dengan aturan yang ada maka di harapkan akan berdampak positip pada recovery ekonomi pada suatu daerah.

  1. 2.                  Rumusan Masalah
  2. Apakah yang dimaksud dengan AMDAL?
  3. Apa saja manfaat dari AMDAL ?
  4. Siapa saja pemangku kegiatan AMDAL ? dan apa manfaat AMDAL bagi masing-masing pemangku tersebut ?
  5. Bagaimana prosedur AMDAL ?

 

  1. 3.                  Tujuan
  2. Untuk mengetahui konsep AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
  3. Untuk mengetahui manfaat dari AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
  4. Untuk mengetahui siapa saja pemangku kegiatan AMDAL dan manfaat AMDAL bagi masing-masing pemangku tersebut
  5. Untuk mengetahui prosedur (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Analisis Dampak Lingkungan

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang sering disingkat AMDAL, merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia yang semakin meningkat. Reaksi ini mencapai keadaan ekstrem sampai menimbulkan sikap yang menentang pembangunan dan penggunaan teknologi tinggi. Dengan ini timbullah citra bahwa gerakan lingkungan adalah anti pembangunan dan anti teknologi tinggi serta menempatkan aktivis lingkungan sebagai lawan pelaksana dan perencana pembangunan. Karena itu banyak pula yang mencurigai AMDAL sebagai suatu alat untuk menentang dan menghambat pembangunan.

Dengan diundangkannya undang-undang tentang lingkungan hidup di Amerika Serikat, yaitu National Environmental Policy Act (NEPA) pada tahun 1969. NEPA mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Dalam NEPA pasal 102 (2) (C) menyatakan, “Semua usulan legilasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang akan diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan diharuskan disertai laporan Environmental Impact Assessment (Analsis Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut”.AMDAL mulai berlaku di Indonesia tahun 1986 dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1086. Karena pelaksanaan PP No. 29 Tahun 1986 mengalami beberapa hambatan yang bersifat birokratis maupun metodologis, maka sejak tanggal 23 Oktober 1993 pemerintah mencabut PP No. 29 Tahun 1986 dan menggantikannya dengan PP No. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL dalam rangka efektivitas dan efisiensi pelaksanaan AMDAL. Dengan diterbitkannya Undang-undang No. 23 Tahun 1997, maka PP No. 51 Tahun 1993 perlu disesuaikan. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1999, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999. Melalui PP No. 27 Tahun 1999 ini diharapkan pengelolaan lingkungan hidup dapat lebih optimal.

Pembangunan yang tidak mengorbankan lingkungan dan/atau merusak lingkungan hidup adalah pembangunan yang memperhatikan dampak yang dapat diakibatkan oleh beroperasinya pembangunan tersebut. Untuk menjamin bahwa suatu pembangunan dapat beroperasi atau layak dari segi lingkungan, perlu dilakukan analisis atau studi kelayakan pembangunan tentang dampak dan akibat yang akan muncul bila suatu rencana kegiatan/usaha akan dilakukan.

AMDAL adalah singkatan dari analisis mengenai dampak lingkungan. Dalam peraturan pemerintah no. 27 tahun 1999 tentang analisis mengenai dampak lingkungan disebutkan bahwa AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain:

a.       jumlah manusia yang terkena dampak

b.      luas wilayah persebaran dampak

c.       intensitas dan lamanya dampak berlangsung

d.      banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak

e.       sifat kumulatif dampak

f.       berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak

Suatu rencana kegiatan dapat dinyatakan tidak layak lingkungan, jika berdasarkan kajian AMDAL, dampak negatif dari ditimbulkannya tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. Demikian juga, bila biaya yang diperlukan untuk menanggulangi dampak negatif lebih besar dari pada manfaat dari dampak positif yang akan ditimbulkan, maka rencana kegiatan yang diputuskan dinyatakan tidak layak lingkungan.suatu rencana kegiatan yang diputuskan tidak layak lingkungan tidak dapat dilanjutkan pembangunanya.

Bantuk hasil kajian AMDAL berupa dokumen AMDAL yang terdiri dari 5 ( lima) dokumen yaitu :

  1. Dokumen  Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup ( KA-ANDAL )

KA-ANDAL adalah suatu dokumen yang berisi tentang ruang lingkup serta kedalaman kajain ANDAL. Ruang lingkup kajian ANDAL meliputi penentuan dampak-dampak penting yang akan dikaji secara lebih mendalam dalam ANDAL dan batas-batas studi ANDAL. Sedangkan kedalaman studi berkaitan dengan penetuan metodologi yang akan digunakan untuk mengkaji dampak.

Penentuan ruang lingkup dan kedalaman kajian ini merupakan kesepakatan antara Pemrakarsa Kegiatan dan Komisi Penilai AMDAL melalui proses yang disebut dengan proses pelingkupan.

  1. Dokumen Analisis  Dampak Lingkungan Hidup ( ANDAL )

ANDAL adalah dokumen yang bersis tentang telaah secara cermat terhadap dampak penting yang telah diidentifikasi didalam dokumen KA-ANDAL kemudian ditelaah secara lebih cermat dengan menggunakan metodologi yang telah disepakati. Telaah ini bertujuan untuk menentukan besaran dampak. Setelah besaran dampak diketahui, selanjutnya dilakukan penentuan sifat penting dampak dengan cara membandingkan besaran terhadap kriteria dampak penting yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tahap kajian selanjutnya adalah evaluasi terhadap keterkaitan antara dampak yang satu dengan yang lainnya. Evaluais dampak ini bertujuan untuk menentukan dasar-dasar pengelolaan dampak yang akan dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif.

  1. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup ( RKL)

RKL adalah dokumen yang memuat upaya-upaya untuk mencegah, mengendalikan dan menaggulangi dampak penting lingkungan hidup yang bersifat negatif serta memaksimalkan dampak positif yang terjadi akibat rencana suatu kegiatan. Upaya-upaya tersebut dirumuskan berdasarkan hasil arahan dasar-dasar pengelolaan dampak yang dihasilkan dari kajian ANDAL.

  1. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup ( RPL )

RPL adalah dokumen yang memuat program-program pemantauan untuk melihat perubahan lingkungan yang disebabkan oleh dampak-dampak yang berasal dari rencana kegiatan. Hasil pemantauan ini digunakan untuk mengevaluasi efektifitas upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan, ketaatan pemrakarsa terhadap peraturan lingkungan hidup dan dapat digunakan untuk mengevaluasi akurasi prediksiyang digunakan dalam kajian ANDAL.

  1. Dokumen Ringkasan Eksekutif

Ringkasan Eksekutif adalah dokumen yang meringkas secara singkat dan jelas kajian ANDAL. Hal-hal yang perlu disampaikan dalam ringkasan eksekutif biasanya adalah uraian secara singkat tentang besaran dampakdan sifat penting dampak yang dikaji didalam ANDAL dan upaya-upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang akan dilakukan untuk mengelola dampak-dampak tersebut hasil.

Prinsip-Prinsip Dari Amdal Adalah

  1. AMDAL bagian integral dari Studi Kelayakan Kegiatan Pembangunan
    1. AMDAL bertujuan menjaga keserasian hubungan antara berbagai kegiatan agar dampak dapat diperkirakan sejak awal perencanaan
    2. AMDAL berfokus pada analisis: Potensi masalah, Potensi konflik, Kendala SDA, Pengaruh kegiatan sekitar terhadap proyek

Dengan AMDAL, pemrakarsa dapat menjamin bahwa proyeknya bermanfaat bagi masyarakat, aman terhadap lingkungan.

2.2 Manfaat AMDAL

AMDAL bermanfaat untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan agar layak secara lingkungan. Dengan AMDAL, suatu rencana usaha dan/ atau pembangunan diharapkan dapat meminimalkan kemungkianan dampak negatif terhadap lingkungan hidup, dan mengembangkan dampak positif, sehingga sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan ( sustainable).

2.3 Pemangku Kepentinagn AMDAL

Pihak-pihak yang berkepentingan dalam proses AMDAL adalah Pemerintah, Pemrakarsa, masyarakat yang berkepentingan. Peran masing-masing pemangku kepentinagn tersebut secara lebih lengkap adalah sebagai berikut :

  1. Pemerintah

Pemerintah berkewajiban memberikan keputusan apakah suatu rencana kegiatan layak atau tidak layak lingkungan. Keputusan kelayakan lingkungan ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan rakyat dan kesesuaian dengan kebijakan pembangunan berkelanjutan. Untuk mengambil keputusan,  pemerintah memerlukan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan, baik yang berasal dari pemilik kegiatan/ pemrakarsa maupun dari pihak-pihak lain yang berkepentingan. Informasi tersebut disusun secara sistematis dalam dokumen AMDAL.

Dokumen ini dinilai olek Komisi Penilai AMDAL untuk menetukan apakah informasi yang terdapat didalamnya telah digunakan untuk pengambilan keputusan dan untuk menilai apakah rencana kegiatan tersebut dapat dinyatakan layak atau tidak layak berdasarkan suatu kriteria yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah.

  1. Pemrakarsa

Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Pemrakarsa inilah yang berkewajiban menjalankan kajian AMDAL. Meskipun pemrakarsa dapat menunjuk pihak lain ( seperti konsultan lingkungan hidup ) untuk membantu melaksanakan kajian AMDAL, namun bertanggung jawab terhadap hasil kajian dan pelaksanaan ketentuan-ketentuan AMDAL tetap ditangan pemrakarsa.

  1. Masyarakat yang berkepentingan

Masyarakata yang berkepntingan adalah masyarakat yang terpengaruh oleh segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL. Masyarakat mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam AMDAL yang setara dengan kedudukan pihak-pihak lain yang terlibat dalam AMDAL. Didalam kajian AMDAL, masyarakat bukan obyek kajian namun merupakan subyek yang ikut serta dalam proses pengambilan keputusan tentang hal-hal yang berkaitan dengan AMDAL. Dalam proses ini masyraakat menyampaikan aspirasi, kebutuhan, nilai-nilai yang dimiliki masyarakat dan usulan-usulan penyelesaian masalah untuk memperoleh keputusan terbaik.

Dalam proses AMDAL masyarakat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu :

  1. Masyarakat yang terkena dampak : masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana kegiatan (orang atau kelompok yang diuntungkan/beneficiary group s), dan orang atau kelompok masyarakat yang dirugikan ( at-risk groups )
  2. Masyarakat pemerhati : masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana kegiatan, tetapi mempunyai perhatian terhadap kegiatan maupun dampak-dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Manfaat AMDAL bagi masing-masing pemangku kepentingan

  1. Bagi pemerintah, AMDAL bermanfaat untuk :

-                 Mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan serta pemborosan sumber daya alan secara luas.

-                 Menghindari timbulnya konflik dengan masyrakat dan kegiatan lain disekitarnya.

-                 Manjaga agar pelaksanaan pembangunan tetap sesuia dengan prinsip-prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

-                 Perwujudan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup.

-                 Bahan bagi rencana pengembangan wilayah dan tata ruang.

  1. Bagi pemrakarsa, AMDAL bermanfaat untuk :

-                 Menjamin keberlangsungan usaha dan / atau kegiatan karena adanya proporsi aspek ekonomis, teknis dan lingkungan.

-                 Menghemat dalam pemanfaatan sumber daya ( modal, bahan baku dan energi).

-                 Dapat menjadi referensi dalam proses kredit perbankan.

-                 Memberikan panduan untuk menjalin interaksi saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar sehingga terhindar dari konflik sosial yang saling merugikan.

-                 Sebagai bukti ketaatan hukum, seperti perijinan.

  1. Bagi masyarakat AMDAL bermanfaat untuk :

-        Mengetahui sejak dini dampak positif dan negatif akibat adanya suatu kegiatan sehingga dapat menghindari terjadinya dampak negatif dan dapat memperolrh dampak positif dari kegiatan tersebut.

-        Melaksanakan kontrol terhadap pemanfaatan sumberdaya alam dan upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan pemrakarsa kegiatan, sehingga kepentingan kedua belah pihak saling dihormati dan dilindungi.

-        Terlibat dalam proses pengambilan keputusan terhadap rencana pembangunan yang mempunyai pengaruh terhadap nasib dan kepentingan bersama.

2.4 Prosedur AMDAL

1)        Proses penapisan ( screening ) wajib AMDAL

Proses penapisan atau kerap juga disebut proses seleksi wajib AMDAL adalah proses untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak. Di Indonesia, proses penapisan dilakukan dengan proses penapisan satu langkah.

2)        Proses pengumuman

Setiap rencana kegiatan yang diwajibkan untuk membuat AMDAL wajib mengumumkan rencana kegiatannya kepada masyarakat sebelum pemrakarsa melakukan penyusunan AMDAL . pengumuman dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa kegiatan.

3)        Proses pelingkupan ( scooping )

Pelingkupan merupakan suatu proses awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting yang terkait dengan rencana kegiatan. Tujuan pelingkupan adalah untuk menetapkan batas wilayah studi, mengidentifikasi dampak penting terhadap lingkungan, menetapkan tingkat kedalaman studi,  menetapkan lingkup studi, menelaah kegiatan lain yang terkait dengan rencana kegiatan yang dikaji. Hasil akhir dari proses pelingkupan adalah dokumen KA-ANDAL. Saran dan masukan masyarakat harus menjadi pertimbangan dalam proses pelingkupan.

4)        Proses penyusunan dan penilain KA-ANDAL

Setelah KA-ANDAL selesai disusun, pemrakarsa dapat memajukan dokumen kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu penilaian adalah 75 hari, diluar waktu yang dibutuhkan penyususn untuk memperbaiki atau menyempurnakan kembali dokumennya.

5)        Proses penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL

Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada KA-ANDAL yang telah disepakati ( hasil penilaian komisi ANDAL ).Setelah selesai disusun, pemrakarsa dapat mengajukan dokumen kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal penilai ANDAL, RKL, dan RPL adalah 75 hari diluar waktu yang dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki atau menyempurnakan kembali dokumennya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang sering disingkat AMDAL, merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia yang semakin meningkat. Reaksi ini mencapai keadaan ekstrem sampai menimbulkan sikap yang menentang pembangunan dan penggunaan teknologi tinggi.

Prinsip-Prinsip Dari Amdal Adalah Amdal bagian integral dari Studi Kelayakan Kegiatan Pembangunan dan bertujuan menjaga keserasian hubungan antara berbagai kegiatan agar dampak dapat diperkirakan sejak awal perencanaan. Amdalberfokus pada analisis: Potensi masalah, Potensi konflik, Kendala SDA, Pengaruh kegiatan sekitar terhadap proyek.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://setanon.blogspot.com/2010/03/prinsip-pembangunan-berawawasan.html

http://ruangkotahanun.blogspot.com/2011/06/pengertian-tujuan-dan-manfaat-amdal.html

hhttp://www.angelfire.com/id/akademika/mspemling98.html Diacces tanggal 16 Oktober 2011.

Syafruddin.2008 analisis lingkungan.(online)

http://dinazhar.multiply.com/journal/item/8?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

ttp://saveforest.webs.com/amdal_kehutanan.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKALAH PENGETAHUAN LINGKUNGAN

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

( Disusn untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengetahuan Lingkungan )

 

 

 

 

KELOMPOK 8 :

 

 

 

Disusun Oleh :

  1. Nur Evi Agustin              (0910211067)
  2. Umi Kholila                     (0910211084)
  3. Sri Wahyuni                     (0910211089)
  4. Yudi Irmawanto               (0910211090)

Ani Mar’atu A.                (0910211092)

  1. Mohamad Juri                  (0910211097)
  2. Vivin Diana Damayanti    (0910211102)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

Oktober, 2011

 


By aimarusciencemania

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s