buku petunjuk praktikum pengetahuan lingkungan

BUKU PETUNJUK PRAKTIKUM

PENGETAHUAN LINGKUNGAN

 

 

Disusun oleh

Tim Mata Kuliah Pengetahuan Lingkungan

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

Januari, 2012

 

 

 

 

 

 

 

A. Topik 1      : PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTANIAN

 

B. Tujuan       :

  1. Mengetahui permasalahan lingkungan yang ada di lingkungan pertanian dan  pihak-pihak yang terlibat dalam permasalahan/konflik tersebut.
  2. Membandingkan antara pengelolaan lingkungan pertanian secara konvensional yang dilakukan oleh masyarakat dan pengelolaan lingkungan pertanian yang dikelola oleh pemerintah (PTPN/PDP) atau oleh perusahaan.
  3. Mencoba menentukan pendekatan/instrumen yang sesuai untuk mengelola pertanian.

 

C. Prinsip       :

Kegiatan pertanian yang dilakukan oleh petani sebagai subjek pelaku dapat menyebabkan perubahan pada kondisi lingkungan alami dari suatu lahan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan abiotik. Lingkungan pertanian (agroekosistem) merupakan ekosistem yang sudah dimodifikasi oleh manusia untuk menghasilkan pangan, bahan sandang maupun hasil-hasil pertanian yang lain. Agroekosistem mempunyai karakteristik berupa masukan energi tinggi dan unsur-unsur hara yang dipindahkan sepanjang rantai makanan dan mempunyai homeostatis yang rendah. Perubahan dari ekosistem alami menjadi ekosistem pertanian berpengaruh terhadap komposisi flora dan fauna secara kualitatif dan kuantitatif, juga faktor fisik lingkungan seperti tanah dan iklim.

Sistem pertanian konvensional/intensif ditandai dengan masukan bahan-bahan kimia, seperti pestisida dan pupuk kimia sebagai faktor produksi, serta penyeragaman tanaman (monokultur). Hal ini terinspirasi oleh adanya revolusi hijau, sehingga orientasi pertanian hanyalah pada produksi yang tinggi. Pada akhirnya, ternyata sistem pertanian konvensional tersebut banyak menimbulkan permasalahan lingkungan, baik masalah biotik, fisik, maupun sosial. Permasalahan biotik contohnya adalah pemiskinan keanekaragaman hayati, resistensi hama dan akumulasi bahan kimia (pestisida) dalam tubuh makhluk hidup termasuk manusia. Permasalahan fisik dan kimia contohnya adalah degradasi tanah/lahan, pencemaran tanah oleh bahan kimia pertanian, pencemaran air oleh pestisida dan eutrofikasi perairan serta pencemaran udara akibat pemakaian pestisida sistem semprot. Permasalahan sosial contohnya adalah petani tidak mempunyai kemandirian untuk pengadaan benih sendiri serta harga bahan-bahan kimia yang semakin mahal sedangkan petani sudah tergantung dengan bahan-bahan kimia itu. Akibatnya antara biaya produksi dan pendapatan dari panen tidak seimbang. Ditambah lagi, pada masa sekarang kepemilikan lahan oleh petani, terutama petani di Jawa, sangat sempit, tidak mencapai 0,5 Ha, sehingga menambah kesengsaraan petani. Masalah-masalah seperti itu dapat mengancam keberlanjutan sistem produksi pertanian.

Pada masa sebelum intensifikasi pertanian digalakkan, sitem pertanian yang ada adalah tradisional. Pada masa itu penggunaan pupuk hanyalah dengan pupuk organik/kompos, dan pengendalian hama dengan menggunakan pestisida botanik, sedangkan untuk pembenihan, petani membuat dan memilih sendiri benih yang akan ditanam di lahannya. Sistem tradisional pada masa itu juga memungkinkan sistem pengendaliaan hama secara alami dapat bekerja.

Dengan adanya pengalaman pahit dari sistem konvensional di atas, maka mulailah dilirik sitem pertanian yang ramah lingkungan yang menjamin keberlanjutan sistem produksi pertanian. Sesuai dengan penjelasan Agenda 21 Indonesia, pertanian bekerlanjutan merupakan pengelolaan dan konservasi sumberdaya alam yang berorientasi pada perubahan teknologi dan kelembagaan, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan masyarakat banyak secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang. Dengan demikian, pembangunan di sektor pertanian harus mampu mengkonservasi tanah, air tumbuhan dan sumber genetika hewan, tidak merusak lingkungan (mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta melestarikan sumberdaya alam), secara teknis tepat guna, secara ekonomis layak dan secara sosial dapat diterima.

 

D. Alat dan Bahan

1. Alat tulis

2. Pedoman wawancara

3. Kamera (Kodak)

 

C. Cara Pengukuran

Dalam praktikum ini dilakukan pendataan masalah-masalah yang ada dalam lingkungan pertanian, dan siapa saja yang terlibat konflik/masalah tersebut. Pengukuran mengenai tingkat urgensi masalah yang herus diselesaikan, dilakukan dengan pemberian bobot (scoring) berdasarkan hasil wawancara dengan pihak-pihak yang terlibat konflik.

 

F. Cara Kerja

  1. Tentukan dua lokasi agroekosistem yang mempunyai dua perbedaan  sistem pengelolaannya (yang dikelola masyarakat dan yang dikelola pemerintah (PTPN/PDP) atau perusahaan.
  2. Observasi wilayah kajian, amati kondisi fisik, biotik maupun sosial yang terjadi di kedua lingkungan itu. Jika perlu, gunakan kamera (kodak) untuk merekamnya. Bandingkan antara kedua sistem pertanian tersebut. Amati masalah-masalah/konflik yang ada.
  3. Siapkan pedoman wawancara/daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada pihak-pihak/orang-orang (minimal 20 orang) yang terlibat dalam konflik lingkungan pertanian tersebut. Daftar pertanyaan sesuaikan dengan tujuan praktikum. Jangan lupa tuliskan status responden, apakah ia sebagai petani, buruh tani, pedagang/pembeli hasil panen, masyarakat non petani yang tinggal di lingkungan pertanian, atau konsumen hasil pertanian.
  4. Tabulasikan data tentang masalah lingkungan fisik dan biotik yang didapat dari hasil observasi lapangan dan/atau wawancara, serta masalah sosial yang didapat dari hasil wawancara dengan responden. Untuk semua masalah yang ditemukan, berilah bobot berdasarkan wawancara dengan responden. Bobot tertinggi diberikan untuk masalah yang paling urgen untuk diselesaikan.
  5. Analisislah hasil yang didapat, bandingkan kedua sistem. Cobalah untuk mengambil keputusan mengenai pandekatan/instrumen/cara apa yang paling sesuai diterapkan untuk mengatasi permasalahan/konflik yang terjadi pada kedua lingkungan pertanian yang berbeda itu. Sistem pertanian mana yang paling banyak terjadi konflik/masalah lingkungan.

 

 

 

 

 

 

G. Analisis Data

Data yang didapat ditabulasikan sebagai berikut:

 

Tabel 1. Masalah/sumber konflik yang ditemukan berdasarkan observasi lapangan.

Permasalahan

Sistem Pertanian yang Dikelola Masyarakat

Sistem Pertanian yang Dikelola Pemerintah/Perusahaan

Lingkungan Fisik

   

Lingkungan Biotik

   

 

 

Tabel   2.  Masalah/sumber konflik yang ditemukan berdasarkan wawancara dengan responden

Sistem Pertanian Yang Dikelola Masyarakat

Sistem Pertanian Yang Dikelola Pemerintah/Perusahaan

No. Responden Status responden Masalah yang dirasakan Masalah yang dirasakan harus segera diatasi No. Responden Status responden Masalah yang dirasakan Masalah yang dirasakan harus segera diatasi
               

 

 

 

 

Dari Tabel 1 dan Tabel 2 di atas, rangkumlah semua masalah yang ada, kemudian beri bobot urgensi pemecahannya berdasarkan kolom paling kanan dari Tabel 2. Kemudian bandingkan antara kedua sistem. Menurut anda sistem mana yang paling menguntungkan?

 

Tabel 3.  Pembobotan (scoring) mengenai permasalahan yang didapatkan di lapangan.

Sistem Pertanian Yang Dikelola Masyarakat

Sistem Pertanian Yang Dikelola Pemerintah/Perusahaan

Nomor Permasalahan Bobot Nomor Permasalahan Bobot
           

 

 

H. Diskusi

  1. Bagaimana perbedaan pengelolaan lingkungan antara kedua sistem pertanian tersebut.
  2. Sistem mana yang paling banyak menimbulkan konflik dan permasalahan lingkungan? Siapa saja yang terlibat dalam masalah tersebut?
  3. Menurut anda, bagaimana cara menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi?
  4. Menurut anda, pendekatan/instrumen apa yang cocok untuk pengelolaan lingkungan pertanian?

 

 

 

 

I. Laporan

            Dari hasil analisis data dan diskusi di atas, kemudian dibuat laporan sementara dan dipresentasikan di depan kelas. Masukan-masukan yang didapat dari presentasi dan diskusi di kelas ditambahkan sebagai perbaikan laporan. Laporan yang telah diperbaiki tersebut kemudian dikumpulkan sebagai laporan akhir.

 

J. Format Laporan  Akhir adalah sebagai berikut

I.   Topik/judul

II.  Tujuan

III. Cara Kerja

IV. Hasil dan Pembahasan

V.  Kesimpulan

VI. Pustaka

 

 


A. Topik 2      : Pengelolaan Lingkungan Industri Kecil Menengah (UKM).

 

B. Tujuan   : Untuk mengetahui cara-cara pengelolaan limbah di Industri Kecil Menengah (UKM).

 

C. Prinsip       :

Untuk meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan masyarakat yang kita cita-citakan berupa masyarakat yang adil dan makmur baik moril maupun materiil, maka berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah pada akhir-akhir ini. Salah satu usaha yang sedang digalakkan sesuai dengan GBHN adalah sektor industri baik berupa industri berat maupun industri ringan. Indutri berat yang dimaksud adalah industri yang memproduksi mesin-mesin industri serta pengadaan bahan baku maupun industri yang memanfaatkan sumber daya alam dan energi serta industri untuk pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak. Tidak ketinggalan juga halnya dengan industri yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri berupa industri kecil dan kerajinan rakyat.

Dengan ditingkatkannya sektor industri maupun sektor pertanian diharapkan taraf kehidupan masyarakat akan dapat ditingkatkan lagi. Akan tetapi, disamping tujuan-tujuan tersebut di atas, maka dengan munculnya industri perlu dipikirkan juga efek sampingnya berupa limbah. Limbah tersebut dapat berupa limbah padat, limbah cair, maupun limbah gas. Ketiga jenis limbah ini dapat dikeluarkan sekaligus oleh satu industri ataupun satu persatu sesuai dengan proses yang ada di perusahaannya.

Adapun efek sampingan dari limbah tersebut dapat berupa :

  1. Membahayakan manusia karena dapat membawa suatu penyakit
  2. Merugikan dari segi ekonomi karena dapat menimbulkan kerusakan pada benda/bangunan maupun tanam-tanaman dan peternakan.
  3. Dapat merusak atau membunuh kehidupan yang ada di dalam air seperti ikan, dan binatang peliharaan
  4. Dapat merusak keindahan (estetika), karena pemandangan yang tidak sedap dan bau busuk terutama daerah hilir sungai yang merupakan daerah rekreasi.

Berdasarkan pertimbangan di atas, perlu kiranya diperhatikan efek sampingan yang akan ditimbulkan oleh adanya industri sebelum industri tersebut mulai beroperasi. Oleh karena itu perlu dipikirkan juga apakah industri tersebut juga menghasilkan limbah yang berbahaya, sehingga segera dapat ditetapkan perlu tidaknya disediakan bangunan pengolahan air limbah serta teknik yang digunakan dalam pengolahan. Air limbah suatu industri baru diperbolehkan ke dalam badan-badan air apabila telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Pengadaan alat untuk pengolahan limbah pada umumnya membutuhkan biaya yang relatif besar, sementara itu industri kecil biasanya diusahakan dalam skala rumah tangga, seperti pembuatan mie, tahu tempe, batik dan sebagainya dengan keterbatasan biaya, sehingga pada umumnya pengusaha melakukan teknologi sederhana untuk pengolahan limbahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

D. Metode    : Wawancara dengan pengusaha, masyarakat di sekitar kegiatn usaha, pekerja

 

E. Prosedur Kerja  :

1.      Menentukan industri yang dipilih atau disenangi

2.      Melakukan wawancara dengan pengusaha/masyarakat/pekerja

3.      Kemana pembuangan limbah oleh pengusaha

4.      Pengolahan limbah yang dilakukan oleh pengusaha

5.      Frekuensi pembuangan limbah per hari/minggu

6.      Waktu pembuangan limbah (pagi, siang, sore)

7.      Apakah dilakukan daur ulang untuk menangani limbah

8.      Jika ya bagaimana caranya

9.      Limbah yang dibuang berpengaruh positif atau negatif bagi lingkungan

10.  Jika negatif pengaruhnya apa

11.  Jika positif pengaruhnya apa

12.  Berapa kuantitas limbah yang dihasilkan per hari/minggu

13.  Apakah limbah yang dibuang mempengaruhi sumber daya air (warna; rasa; bau)

14.  Apakah limbah yang dibuang berpengaruh pada kesehatan manusia?Jelaskan (hewan, ikan, kenyamanan)

15.  Apakah limbah yang dibuang berpengaruh pada tanaman?Jelaskan

16.   Apakah ada keluhan masyarakat sekitar mengenai limbah yang dihasilkan? Jelaskan

17.  Untuk pengelolaan limbah membutuhkan biaya, berapa besarnya per hari/minggu/bulan

18.  Berapa persen biaya untuk pengolahan limbah dari nilai produksi

Catatan : Buatlah laporan sementara dan laporan akhirnya (masing-masing dilakukan secara kelompok.kelompok terdiri dari 3-5 orang).

 

F. Tugas       : – Buatlah pembahasan dari hasil kegiatan lapangan

- Buatlah pembahasan mengenai pengelolaan limbah (di perusahaan     yang diwawancarai dan yang seharusnya menurut anda)

                        - Buatlah kesimpulan

                        - Presentasikan hasil kelompok saudara

 

 

 

 

 

 

 

 

A. Topik 3      : Pengelolaan Lingkungan Permukiman (Pengelolaan Sampah).

 

B. Tujuan   : Untuk mengetahui

  1. Macam-macam sampah di Jember
  2. Alur pembuangan sampah dan Rumah tangga hingga TPA
  3. Keberadaan masyarakat di sekitar TPA
  4. Keberadaan sampah di pasar Jember
  5. Pengelolaan sampah di TPA

 

C. Prinsip       :

Masalah penanganan sampah ternyata tidak mudah, melibatkan banyak pihak, memerlukan teknologi memerlukan dana yang cukup besar dan memerlukan keinginan yang kuat untuk melaksanakannya.

Oleh karena itu sampah yang kita hasilkan dalam kehidupan sehari-hari harus lebih dihargai dengan tidak membuangnya di sembarang tempat, tetapi dikumpulkan terlebih dahulu di tempat yang lebih baik untuk seterusnya ditangani secara bersama-sama. Dengan cara ini ada dua keuntungan yang mungkin dapat diperoleh:

  1. Sampah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan
  2. Sampah tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan barang-barang yang jauh lebih bermanfaat

Masyarakat yang ingin hidup sehat sudah barang tertu pempunyai persepsi yang baik terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Lingkungan yang baik adalah lingkungan yang dapat memberi kenyamanan, rasa aman dan betah. Namun demikian ternyata lingkungan yang baik memerlukan perencanaan dan pengaturan pola kegiatan yang serasi dan rasional. Lingkungan permukiman yang padat penduduknya pada umumnya sudah mengalami pencemaran karena masalah pembuangan sampah menjadi amat sulit.

Untuk menaggulangi permasalahan sampah, pendekatan filosofis bahwa sampah itu bahan baku perlu digalakkan secara basional. Sejauh ini samapah di Indonesia baru dalam taraf hanya dibuang, belum dimanfaatkan.

 

D. Metode    :

  1. Wawancara dan melihat langsung di Pasar TPS, dan TPA;
  2. Wawancara dengan keluarga, pedagang pasar, masyarakat sekitar TPA, pemulung di TPA, Dinas tata kota

 

E. Prosedur Kerja  :

  1. Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok, tiap kolompok terdiri dari 3-5 orang
  2. Mewawancarai masyarakat pada berbagai sasaran antara lain meliputi:
  3. Macam sampah yang dihasilkan atau dibuang
  4. Apakah ada pekerjaan pemilahan antara yang organik dan anorganik
  5. Apakah ada pengolahan sampah di tingkat rumah tangga
  6. Bagaimana alur pembuangan sampah dari rumah tangga hingga TPA
  7. Bagaimana perilaku pedagang dan pembelian dalam membuang sampah di pasar
  8. Kapan pengambilan sampah di pasar dilakukan
  9. Bagaimana pengaruh adanya TPA bagi masyarakat sekitar TPA
  10. Adakah pengaruh TPA terhadap kualitas air tanah, kenyamanan, kesehatan masyarakat sekitar TPA
  11. Adakah kompensasi yang diberikan pemerintah terhadap masyarakat sekitar TPA
  12. Bagainamakah pengelolaan sampah di TPA oleh pemulung dan oleh dinas tata kota
  13. Berapakah kuantitas sampah yang dihasilkan per hari
  14. Berapa kalikah frekuensi penyemprotan di TPA setiap bulannya
  15. Berapa biaya untuk mengelola sampah kota

 

F. Tugas       :

  1. Buatlah laporan sementara dan laporan akhirnya
  2. Buatlah bahasan tentang:

-          Macam dan jenis sampah serta pengelolaannya

-          Alur pembuangan sampah hingga TPA

-          Penanganan sampah di pasar

-          Penanganan sampah di TPA oleh pemulung dan dinas tata kota

-          Peranan masyarakat sekitar dengan adanya TPA

  1. Presentasikan laporan saudara
  2. Buatlah cara-cara pengelolaan sampah menurut saudara
  3. Buatlah kesimpulannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A. Topik 4: Pengelolaan Lingkungan Pariwisata

Studi Kasus Wisata Alam (Ekowisata)

 

B. Tujuan   :

  1. Mengenal permasalahan-permasalahan lingkungan di sektor pariwisata, khususnya wisata alam.
  2. Mencoba mencari alternatif pemecahan masalah dan pengelolaan konflik yang terjadi, serta pengelolaan lingkungan tempat wisata alam.

 

C. Dasar Teori/Prinsip

Wisata alam (ekowisata) merupakan salah satu cara memanfaatkan sumberdaya lingkungan. Ekowisata adalah bentuk perjalan wisata yang dikelola dengan pendekatan konservasi yaitu kegiatan wisata alam yang tetap menjaga area tersebut tetap lestari sebagai area alam, juga berupaya melestarikan keutuhan budaya dan kesejahteraan penduduk setempat.

Masalah yang sering muncul dari ekowisata adalah adanya sikap para wisatawan yang sering tidak mencerminkan tindakan konservasi. Selain itu, timbullah kekhawatiran penduduk lokal bahwa mereka akan tergusur atau terpinggirkan bila daerah/wilayahnya dijadikan tempat untuk ekowisata, serta kekhawatiran akan munculnya dampak negatif dari budaya/perilaku para pendatang/wisatawan. Sedangkan permasalahan yang dirasakan oleh wisatawan adalah kurangnya sarana dan prasarana, seperti fasilitas transportasi kelokasi dan fasilitas kesehatan dan keamanan. Semua permasalahan tersebut dapat menimbulkan  konflik di antara berbagai pihak, baik masyarakat lokal,LSM/ORNOP, pemerintah, maupun masyarakat yang merasa membutuhkan tempat untuk berwisata alam.

 

D. Alat dan Bahan

  1. Alat tulis
  2. Kamera
  3. Pedoman wawancara

 

E. Cara Pengukuran

Pada acara praktikum ini dilakukan pendataan masalah-masalah/sumber-sumber konflik yang terjadi, dan pengukuran mengenai tingkat urgensi penyelesaian permasalahan/konflik yang ada dilapangan. Pengukuran dilakukan dengan cara pembobotan (scoring) atas masalah/sumber konflik yang didapatkan berdasar wawancara dengan semua pihak yang terlibat konflik. Untuk itu terlebih dahulu dibuat pedoman wawancara/daftar pertanyaannya.

 

F. Cara Kerja:

  1. Pilihlah kawasan ekowisata yang akan dijadikan lokasi praktikum.
  2. Observasilah wilayah kajian, dan tentukan pihak-pihak atau orang-orang yang akan diwawancarai.
  3. Catatlah kondisi lingkungan dan aktivitas apa saja yang dilakukan oleh manusia di lingkungan itu. Jika perlu abadikan dengan kamera.
  4. Siapkan pedoman wawancara/daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada pihak-pihak/orang-orang (minimal 30 orang) yang terlibat dalam konflik yang terjadi dilapangan. Daftar pertanyaan disesuaikan dengan tujuan praktikum. Jangan lupa tuliskan status responden,apakah ia penduduk asli, wisatawan, pengelola tempat wisata, LSM, aparat pemerintah, atau pedagang di lokasi itu, atau status yang lainnya.
  5. Tabulasikan data tentang masalah/konflik yang didapat, dan diberikan skor/bobot untuk setiap masalah/konflik itu. Skor tertinggi diberikan untuk masalah yang paling urgen untuk segera diatasi bersama. Ingat, pemberian skor adalah berdasarkan wawancara dilapangan, bukan atas pendapat anda sendiri.
  6. Analisislah hasil yang didapat, dan cobalah untuk mengambil keputusan (seolah-olah Anda adalah policy maker) mengenai pendekatan/instrumen/cara apa yang paling sesuai diterapkan untuk menyelesaikan masalah/konflik yang terjadi pada lingkungan ekowisata di atas.

 

G. Analisis Data

      Data yang didapat ditabulasikan sebagai berikut

Tabel 1. Masalah/sumber konflik yang ditemukan berdasarkan wawancara dengan responden

Nomor Responden

Status responden

Masalah yang dirasakan

Masalah yang dirasakan harus segera diatasi

       
       

Dari tabel 1 di atas, rangkumlah semua masalah yang ada, kemudian beri bobot urgensi pemecahannya berdasarkan kolom paling kanan dari Tabel 1 tersebut.

 

Tabel 2. Pembobotan (scoring) mengenai permasalahan yang didapatkan

Nomor

Permasalahan/konflik

Bobot

     
     

H. Diskusi       

1.      Bagaimanakah kondisi lingkungan di kawasan ekowisata itu? Apakah tujuan ekowisata telah tercapai?

2.      Bagaimanakah kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal? Apakah mereka merasa diuntungkan dengan adanya kegiatan ekowisata itu?

3.      Permasalahan lingkungan (fisik, biotik dan sosial) apa saja yang disebabkan oleh kegiatan ekowisata tersebut? Adakah konflik yang terjadi antara masyarakat lokal dan pendatang?

4.      Instrumen apa saja menurut anda yang dapat dipakai untuk mengelola lingkungan ekowisata?

 

I.       Laporan

Dari hasil analisis data dan diskusi diatas, kemudian dibuat laporan sementara dan dipresentasikan di depan kelas. Masukan-masukan yang didapat dari presentasi dan diskusi di kelas ditambahkan sebagai perbaikan laporan. Laporan yang telah diperbaiki tersebut kemudian dikumpulkan sebagai Laporan Akhir.

 

 

 

 

J. Format Laporan Akhir adalah sebagai berikut.

I.                   Topik/Judul

II.                Tujuan

III.             Cara Kerja

IV.             Hasil dan Pembahasan

V.                Kesimpulan

VI.             Pustaka

 

K. Tugas

Buatlah paper singkat tentang permasalahan lingkungan dari kegiatan pariwisata selain ekowisata

 

L. Pustaka

1. Sudarto, Gatot. 1999. Ekowisata, Wahana Pelestarian Alam, Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan, dan Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Kalpataru Bahari.

About these ads
By aimarusciencemania

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s