laporan wawancara pengetahuan lingkungan di PTPN Mumbulsari

LAPORAN HASIL WAWANCARA

PENGETAHUAN LINGKUNGAN

PENGELOLAHAN LINGKUNGAN PERTANIAN

 

Disusun oleh:

  1.    Aini Maskuro               (0910211107)
  2.    Ana Muslikha               (0910211116)
  3.      Halimatus Sa’diyah      (0910211066)
  4.       Siti Aminah                   (09102110)
  5.      Arizal Irawan        (09102110)
  6.       Dian Nuriyanti             (09102110)
  7.     Siti Hasanah                  (09102110)

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2012

Profil Kurikulum Vitae

Nama               : Moh. Aris R. Wibowo

Jabatan            : Bidang Pengembangan Wisata Agro

Status              : Nikah

Mahasiswa dari Universitas Muhammad Seruji Semester 5 Tahun 2000

Alamat            : Rumah Dinas PTPN XII

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  TUJUAN

  1. Mengetahui permasalahan lingkungan yang ada di lingkungan pertanian dan pihak-pihak yang terlibat dalam permasalahan konflik tersebut.
  2. Membandingkan antara pengelolaan lingkungan pertanian secara konvensional yang dilakukan oleh masyarakat dan pengelolaan lingkungan pertanian yang dikelola oleh pemerintah (PTPN/PDP) atau oleh perusahaan.
  3. Mencoba menentukan pendekatan/instrument yang sesuai untuk mengelola pertanian.

1.2  DASAR TEORI

Sistem pertanian konvensional/intensif ditandai dengan masukan bahan-bahan kimia, seperti pestisida dan pupuk kimia sebagai faktor produksi, serta penyeragaman tanaman (monokultur). Hal ini terinspirasi oleh adanya revolusi hijau, sehingga orientasi pertanian hanyalah pada produksi yang tinggi. Pada akhirnya, ternyata sistem pertanian konvensional tersebut banyak menimbulkan permasalahan lingkungan, baik masalah biotik, fisik, maupun social. Permasalahan biotic contohnya adalah pemiskinan keanekaragaman hayati, resistensi hama dan akumulasi bahan kimia (pestisida) dalam tubuh makhluk hidup termasuk manusia. Permasalahan fisik dan kimia contohnya adalah degradasi tanah/lahan, pencemaran tanah oleh bahan kimia pertanian, pencemaran air oleh pestisida dan eutrofikasi perairan serta pencemaran udara akibat pemakaian pestisida system semprot. Permasalahan social contohnya adalah petani tidak mempunyai kemandirian untuk pengadaan benih sendiri serta harga bahan-bahan kimia yang semakin mahal sedangkan petani sudah tergantung dengan bahan-bahan kimia itu. Akibatnya antara biaya produksidan pendapatan dari panen tidak seimbang. Ditambah lagi, pada masa sekarang kepemilikan lahan oleh petani, terutama petani di Jawa, sangat sempit, tidak mencapai 0,5 Ha, sehingga menambah kesengsaraan petani. Masalah-masalah seperti itu dapat mengancam keberlanjutan system produksi petanian.

Pada masa sebelum intensifikasi pertanian digalakkan, system pertanian yang ada adalah tradisional. Pada masa itu penggunaan pupuk hanyalah dengan pupuk organic/kompos, dan pengendalian hamadengan menggunakan pestisida botanic, sedangkan untuk pembenihan, petani membuat dan memilih sendiri benih yang akan ditanam di lahannya. System tradisional pada masa itu juga memungkinkan system pengendalian hama secara alami dapat bekerja.

Dengan adanya pengalaman pahit dari system konvensional di atas, maka mulailah dilirik system pertanian yang ramah lingkungan yang menjamin keberlanjutan system produksi pertanian. Sesuai dengan penjelasan Agenda 21 Indonesia, pertanian berkelanjutan merupakan pengelolaan dan konservasi sumberdaya alam yangberorientasi pada perubahan teknologi dan kelembagaan, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan masyarakat banyak secara berkelnjutan bagi generasi sekarang dan mendatang. Dengan demikian, pembangunan di sector pertanian harus mampu mengkonservasi tanah, air tumbuhan dan sumber genetika hewan, tidak merusak lingkungan (mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta melestarikan sumberdaya alam), secara teknis tepat guna, secara akonomis layak dan secara social dapat diterima.

Agrowisata juga sangat erat dengan lingkungan asri indah seperti diwilayah Mumbulsari dengan fasilitas yang ada kita sulap yang tadinya lahan pabrik pengolahan kita buat menjadi kolam renang dan sirkuit trail sepeda.motor termasuk upaya lingkungan kita harus berupaya dalam pengembangan kebun ini terus mempertahankan lingkungan setempat tidak boleh kita mengesplotasi lahan yang menyebabkan lahan itu malah tandus.

Tentunya dengan adanya beberapa pilar pengembangan usaha ini PTPN XII bisa meraih omset yang lebih tinggi laba yang lebih tinggi sehingga kesejahteraan masyarakat karyawan juga meningkat sesuai dengan pengembangan penghasilan di masa masa yang akan datang termasuk pemkab jember terus melakukan kerjasama di semua segi aspek dengan program program yang ada

BAB II

METODOLOGI

2.1 ALAT DAN BAHAN

1. Alat tulis

2. Pedoman wawancara

3. Kamera (Kodak)

2.2 CARA PENGUKURAN

Dalam praktikum ini dilakukan pendataan masalah-masalah yang ada dalam lingkungan pertanian, dan siapa saja yang terlibat konflik/masalah tersebut. Pengukuran mengenai tingkat urgensi masalah yang harus diselesaikan, dilakukan dengan pemberian bobot (scoring) berdasarkan hasil wawancara dengan pihak-pihak yang terlibat konflik.

2.3 CARA KERJA

1.Tentukan dua lokasi agroekosistem yang mempunyai dua perbedaan system pengelolaannya (yang dikelola masyarakat dan yang dikelola pemerintah (PTPN/PDP) atau perusahaan.

2.Observasi wilayah kajian, amati kondisi fisik, biotic maupun social yang terjadi di kedua lingkungan itu. Jika perlu, gunakan kamera (Kodak) untuk merekamnya. Bandingkan antara kedua system pertanian tersebut. Amati masalah-masalah/konflik yang ada.

3.Siapkan pedoman wawancara/daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada pihak-pihak/orang-orang (minimal 20 orang) yang terlibat dalam konflik lingkungan pertanian tersebut. Daftar p[ertanyaan sesuaikan dengan tujuan praktikum. Jangan lupa tuliskan status responden, apakah ia sebagai petani, buruh tani, pedagang/pembeli hasil panen, masyarakat non petani yang tinggal di lingkungan pertanian, atau konsumen hasil pertanian.

4.Tabulasikan data tentang masalah lingkungan fisik dan biotic yang didapat dari hasil observasi lapangan dan/atau wawancara, serta masalah social yang didapat dari hasil wawancara dengan responden. Untuk semua masalah yang ditemukan, berilah bobot berdasarkan wawancara dengan responden. Bobot tertinggi diberikan untuk masalah yang paling urgen untuk diselesaikan.

5.Analisislah hasil yang didapat, bandingkan kedua sistem. Cobalah untuk mengambil keputusan mengenai pendekatan atau instrument / cara apa yang paling sesuai diterapkan untuk mengatasi permasalahan / konflik yang terjadi pada kedua lingkungan pertanian yang berbeda itu. Sistem pertanian mana yang paling banyak terjadi konflik atau masalah lingkungan.

BAB IV

PEMBAHASAN

            Pada kali ini, kami melakukan observasi di PTPN XII Mumbul Sari. Dengan narasumber M. Aries Wibowo selaku karyawan PTP Nusantara XII yang bergerak dibidang Pengembangan Wisata Agro. Dimana luas PTP Nusantara XII 39.886.140 Hektar yang dibagi menjadi :

  • Kebun Lengkong (Kantor Induk)
  • Avdeling Merawan
  • Gambiran
  • Mandigu
  • Gunung Mayang
  • Dampar
  • Talang

Di perkebunan terdapat pohon karet dan pohon sengon yang lebih dominan daripada tumbuhan lain. Pada PTPN XII ini terdapat 2 kegiatan yaitu kegiatan pengembangan dan perdagangan. Kegiatan pengembangan usaha yang meliputi dibidang perkebunan, agrowisata, agrobisnis, sedangkan pada kegiatan perdangan meliputi penyelenggaraan kegiatan pemasaran diberbagai macam hasil produksi dan pengusahaan budidaya tanaman contohnya : pembibitan, pengolahan lahan, penanaman dan pemeliharaan HGU (Hak Guna Usaha).

Selain terdapat pohon karet dan sengon juga terdapat pohon pisang, buah naga, pohon buah pepaya, dan tanaman pokok seperti cabai. Sumber Daya Manusia yang merupakan masyarakat sekitar dan berasal dari luar kecamatan. Limbah yang dihasilkan di PTPN XII adalah ranting-ranting pohon yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai bahan bakar yang digunakan untuk memasak dan bahan bakar untuk pembakaran batu kapur, daun digunakan sebagai pakan ternak serta serbuk kayu untuk penanaman jamur.

Limbah serbuk kayu dihasilkan dari pohon sengon yang siap ditebang antara 6-7 tahun atau dilihat dari struktur batangnya. Pemerintah tidak pernah memberikan subsidi bantuan untuk pengembangan PTP Nusantara XII. Pendapatan di dalam PTPN XII didongkrak untuk membangun BUMN. PTPN XII ini, merupakan rating dari 3 PTPN Jawa Timur, dimana pendapatan yang dihasilkan bermilyaran rupiah. Produksi yang dihasilkan berupa kayu dan karet. Kayu dan karet tsb diolah setengah jadi didalam negeri dan sisanya dijual diluar negeri dengan perbandingan 25 % dalam negeri dan 75% keluar  negeri.

Dalam sistem kerja di PTPN XII ini, terdapat sistem dinamis dan demokratis seperti sistem kepatuhan antara manager dan karyawan serta ada rasa hormat yang tinggi ketika manager memberikan tugas kepada karyawan dan karyawan langsung mengerjakannya.

Dampak Positif dan Negatif :

  • Dampak Positif;
    • Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar
    • Sebagian limbah-limbah yang di hasilkan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bahan bakar
    • Membuka usaha baru dengan pemanfaatan serbuk kayu untuk penanaman jamur
    • Dampak Negatif :
      • Tingkat keamanan yang kurang sehingga mengakibatkan adanya pencurian

DOKUMENTASI

Gambar: Tanaman yang terdapat di Perkebunan PTPN XII

By aimarusciencemania

laporan studi kasus di mumbul garden

LAPORAN HASIL WAWANCARA

PENGETAHUAN LINGKUNGAN

PENGELOLAHAN LINGKUNGAN PARIWISATA

Disusun oleh:

  1.       Aini Maskuro               (09102110)
  2.       Ana Muslikha               (0910211116)
  3.   Halimatus Sa’diyah      (0910211066)
  4.    Siti Aminah                   (09102110)
  5.       Arizal Irawan        (0910211082)
  6.       Dian Nuriyanti             (09102110)
  7.       Siti Hasanah                  (09102110)

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2012

Profil Kurikulum Vitae

Nama               : Moh. Aris R. Wibowo

Jabatan            : Bidang Pengembangan Wisata Agro

Status              : Nikah

Mahasiswa dari Universitas Muhammad Seruji Semester 5 Tahun 2000

Alamat            : Rumah Dinas PTPN XII

BAB l

PENDAHULUAN

1.1   Tujuan

  1. Mengenal permasalahan-permasalahan lingkungan disektor pariwisata, khususnya wisata alam
  2. Mencari alternatif pemecahan masalah dan pengelolaan konflik yang terjadi, serta pengelolaan lingkungan tempat wisata alam

1.2   Dasar Teori

Wisata alam (ekowisata) merupakan salah satu cara memanfaatkan sumber daya lingkungan. Ekowisata adalah bentuk perjalanan wisata yang dikelola dengan pendekatan konservasi yaitu kegiatan wisata alam yang tetap menjaga area tersebut tetap lestari sebagai area alam, juga berupaya melestarikan keutuhan budaya dan kesejahteraan penduduk setempat.

Satu lagi pilihan berwisata di akhir pekan dengan jarak yang relatif dekat dari kota Jember (+ 10 Km) bernama Mumbul Garden, sebuah wahana dengan fasilitas Kolam Renang, Taman Kolam dengan perahu kecil/kano, area bermain, area bersantai, aktifitas berkuda, camping ground, cafe dan sebuah Aula. Terdapat pula miniatur Jembatan Suramadu di tengah kolam mempercantik pemandangan di wahana ini. Selain itu disini dapat digunakan sebagai tempat gathering atau acara keluarga sejenisnya. Berikut beberapa “screenshot”nya

Masalah yang sering muncul dari ekowisata adalah adanya sikap para wisatawan yang sering tidak mencerminkan tindakan konservasi. Selain itu, timbullah kekhawatiran penduduk lokal atau penduduk sekitar bahwa mereka akan tergusur atau terpinggirkan bila daerah atau wilayahnya dijadikan tempat untuk ekowisata, serta kekhawatiran akan munculnya dampak negatif dari budaya atau perilaku pada pendatang atau wisatawan yang berkunjung ke tempat pariwisata tersebut. Sedangkan permasalahan yang dirasakan oleh wisatawan adalah kurangnya sarana dan prasarana, seperti fasilitas transportasi menuju lokasi wisata dan fasilitas kesehatan dan keamanan. Semua permasalahan tersebut dapat menimbulkan konflik kesehatan di antara berbagai pihak, baik masyarakat lokal, LSM atau ORNOP, pemerintah, maupun masyarakat yang merasa menbutuhkan tempat untuk berpariwisata.

Cara pengukuran :

Pada acara praktikum ini dilakukan pendataan masalah-masalah atau sumber-sumber konflik yang terjadi, dan pengukuran mengenai tingkat urgensi penyelesaian permasalahan atau konflik yang ada di lapangan. Pengukuran dilakukan dengan cara pembobotan (scoring) atas permasalahan atau sumber konflik yang didapatkan berdasar wawancara dengan semua pihak yang terlibat konflik. Untuk itu terlebih dahulu dibuat pedoman wawancara atau daftar pertanyaan.

BAB II

METODOLOGI

2.1    Alat dan Bahan:

  1. Alat tulis
  2. Kamera / HP kamera
  3. Pedoman Wawancara

2.2    Cara Kerja:

  1. Pilihlah kawasan ekowisata yang akan dijadikan lokasi praktikum
  2. Observasilah wilayah kajian, dan tentukan pihak-pihak atau orang-orang yang akan diwawancarai
  3. Catatlah kondisi lingkungan dan aktivitas apa saja yang dilakukan oleh manusia di lingkungan itu. Jika perlu abadikan dengan kamera.
  4. Siapkan pedoman wawancara atau daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada pihak-pihak atau orang-orang (minimal 30 orang) yang terlibat dalam konflik yang terjadi di lapangan. Daftar pertanyaan disesuaikan dengan tujuan praktikum. Jangan lupa tuliskan status responden, apakah ia penduduk asli, wisatawan, pengelola tempay wisata, LSM, aparat pemerintahan, atau pedagang di lokasi itu, atau status yang lainnya.
  5. Tabulasikan data tentang masalah atau konflik yang didapat, dan diberikan skor atau bobot untuk setiap masalah atau konflik itu. Skor tertinggi diberikan untuk masalah yang paling urgen untuk segera diatasi bersama. Ingat, pemberian skor adalah berdasarkan wawancara di lapangan, bukan atas pendapat anda sendiri.
  6. Analisislah hasil yang didapat, dan cobalah untuk mengambil keputusan (seolah-olah Anda adalah policy maker) mengenai pendekatan atau instrument atau cara apa yang paling sesuai diterapkan untuk menyelesaikan masalah atau konflik yang terjadi pada lingkungan ekowisata di atas.

BAB III

HASIL PENGAMATAN

3.1    Hasil Pengamatan :

3.1.1 Tabel 1: Masalah atau sumber konflik yang ditemukan berdasarkan wawancara dengan responden

Nomor Responden

Status Responden

Masalah yang dirasakan

Masalah yang dirasakan harus segera diatasi

1.

2.

Masyarakat sekitar

Petugas Mumbul Garden

Harga tiket masuk yang dinggap mahal atau tidak terjangkau oleh masyarakat sekitar

Pendapatan lebih rendah daripada pengeluaran.Petugas memberikan keuntungan kepada para pengunjung,Jika ada para wisatawan yang berkunjung ketempat pariwisata dengan jumlah 10 orang, maka pihak pengelola memberikan bonus gratis tiket untuk 1 orang

Pendapatan harus melebihi pengeluaran agar mencukupi dalam pembiayaan perawatan sehinga direncanakan harga tiket dinaikkan yang semula Rp 5.000 menjadi Rp 6.000

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada pengelolaan lingkungan pariwisata Studi Kasus Wisata Alam (ekowisata) kami melakukan observasi langsung dan melakukan wawancara di daerah Mumbul Sari. Pengembangan wisata agro dengan narasumber M. Aries Rahman Wibowo, Bidang Pengembangan Wisata Agro yang bertempat tinggal di rumah dinas PTPN XII.

Tempat pemandian Mumbul Garden (Lambaut) merupakan peninggalan bangsa Belanda pada tahun 1705 dimana terdapat pabrik kopi dan kakao. Oleh warga Indonesia dilanjutkan pada tahun 1994. Tetapi pada tahun 2004, pabrik kopi dan kakao ini ditutup. akan tetapi untuk perkebunan masih aktif seperti halnya sengon, karet, kates, pisang, lombok, (buah-buahan) untuk yang pohon sengon di ujung tombak.

Pariwisata mumbul garden terdiri dari beberapa kolam renang bekas bak rembang kopi dan kakao. Limbah yang dihasilkan pariwisata Mumbul Garden berupa limbah air dari kolam-kolam yang dialirkan langsung menuju lahan pertanian yaitu persawahan masyarakat. Sedangkan limbah yang lain adalah sisa-sisa makanan dan bungkus-bungkus makanan, diangkut ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara). Selain terdapat kolam renang, pariwisata Mumbul Garden juga memiliki fasilitas seperti: Out Bond, Danau Buatan, Jembatan Suramadu dan tempat permainan untuk anak balita dan anak-anak seperti : tempat mandi bola, miniatur Jembatan Suramadu yang di tengah kolam ikan sehingga mempercantik pemandangan di wahana ini, taman kolam dengan perahu kecil atau kano, area bermain, area bersantai, aktifitas berkuda, camping ground.. Selain itu terdapat tempat pemesanan makanan (Cafe) dan juga terdapat hewan seperti kera dan tempat pemancingan ikan seperti ikan nila dan ikan tombro serta sebuah aula.

Konflik yang sering timbul dalam pariwisata Mumbul Garden bermacam-macam, diantaranya :

  • Positif :

Membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar, menjadi maskot yang membanggakan bagi kecamatan Mumbul Sari karena merupakan satu-satunya tempat pariwisata yang ada di Kecamatan Mumbul Sari, Limbah air kolam dijadikan irigasi persawahan masyarakat sekitar dan adanya jaminan kesehatan bagi karyawan.

  • Negatif :

Masyarakat sekitar tidak suka keramaian yang ditimbulkan adannya hiburan pada event-event tertentu sehingga merasa terganggu, harga tiket masuk rendah itupun masih terjadi aksi tawar menawar (Negoisasi) dan pendapatan lebih rendah daripada pengeluaran sehingga tidak mencukupi pembiayaan perawatan.

ANALISIS MASALAH

Ekowisata di mumbul garden mengenai masalah sampah yang dibawa oleh pengunjung masih memerlukan perhatian yang ekstra oleh para petugas dimumbul garden untuk mengantisipasi pengunjung yang kurang sadar akan lingkungan sehingga dapat merusak keindahan dari ekowisata.Perhatian yang ekstra dengan cara memberikan sanksi bagi pengunjung yang melanggar peraturan berkenan dengan penbuangan sampah.

Selain itu analisa masalah juga terdapat pada kolam renang yang dibersihkan hanya 2 bulan sekali.Masalah ini dapat menggaggu lingkungan biotik yang berupa pengunjung yang menggunakan kolam renang tersebut terutama masalah kesehatan.Masalah kesehatan tersebut berupa  gangguan kulit karena air kolam yang kurang hygenis.Penyelesaian masalah terebut bisa berupa dengan adanya pembersihan kolam renang secara rutin   dan pemberian kaporit yang lebih aman.

DOKUMENTASI

Gambar : Saluran Aliran Limbah

By aimarusciencemania

laporan wawancara di TPA Pakusari

LAPORAN WAWANCARA PENGETAHUAN LINGKUNGAN

TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH (TPA) PAKUSARI

Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Pengetahuan Lingkungan

Dosen Pembina:Agus Prasetyo Utomo,S.Si

Disusun oleh:

Aini Maskuro                 (0910211107)

Halimatus sa’diyah        (0910211066)

Siti hasanah                    (0910211073)

Dian nuriyanti               (0910211075)

Arizal irawan                 (0910211082)

Siti aminah                     (0910211111)

Ana muslikha                  (0910211116)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

Januari, 2012

 

KATA PENGANTAR

          Puji syukur kepada Allah S.W.T yang telah memberikan karunia-Nya sehingga,penulis dapat menyusun makalah yang berjudul”Laporan akhir wawancara pengetahuan lingkungan di TPA Pakusari”dengan baik.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata Pengetahuan Lingkungan telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.Sehingga, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.Makalah ini disusun sebagai tugas awal yang menjadi kesepakatan dalam kontrak perkuliahan dengan strategi students center.Dengan demikian penulis berharap agar makalah ini dapat menambah khasanah pengetahuan baik bagi kelompok kami maupun bagi para pembaca dalam memahami konsep pengetahuan lingkungan secara umum.

Dewasa ini lingkungan hidup organisme sangat memerlukan perhatian yang serius karena fakta-fakta dan fenomena-fenomena yang terjadi telah menunjukkan adanya ketidak seimbangan alam.Seperti gempa bumi,tanah longsor,banjir,dan lain sebagainya.Semua itu terjadi akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak menggunakan etika lingkungan dalam mengeksploitasi,mengeksplorasi dan mendaya gunakan sumber daya alam yang ada.Sehingga diperlukan pengetahuan akan prinsip-prinsip lingkungan hidup,masalah-masalah dan cara menanggulanginya untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

Khususnya di daerah pembuangan akhir sampa, akhir-akhir ini sering menimbulkan masalah baru.Misalnya pencemaran terhadap tanah, air, maupun udara yang ditimbulkan akibat adanya bau tak sedap dari timbunan sampah.Diperlukan teknologi yang ramah lingkungan dalam pengelolaan sampah tersebut.Meskipun di TPA Pakusari telah menerapkan teknologi control landfill dalam pengelolaan sampah.Namun perlu adanya perhatian khusus dari Lingkungan Hidup dan dinas Tata Kota Kabupaten Jember itu sendiri.

Laporan  ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun,untuk kesempurnaan makalah di masa yang akan datang.Semoga makalah ini dapat menambah khasanah pengetahuan bagi para pembaca.

Jember, Januari 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………………………i

Daftar isi……………………………………………………………………………………………………………..ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang………………………………………………………………………………………………1

1.2  Rumusan Masalah………………………………………………………………………………………….1

1.3  Tujuan …………………………………………………………………………………………………………..1

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan konsep Pembangunana Berwawasan Lingkungan ……………………………………………………………………………………………………………………………..2

2.2 Pembangunan Sumber Daya alam Dan Sumber Daya Manusia………………………………………………………………………………………………………………..11

BAB III

PENUTUP…………………………………………………………………………………………………………….20

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………….22

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan

Adapun tujuan dar praktikum lapang pengetahuan lingkungan adalah :

  1. Untuk mengetahui macam-macam sampah di Jember
  2. Untuk mengetahui alur pembuangan sampah dan Rumah tangga hingga TPA
  3. Untuk mengetahui keberadaan masyarakat di sekitar TPA
  4. Untuk mengetahui keberadaan sampah di pasar Jember
  5. Untuk mengetahui pengelolaan sampah di TPA

1.2 Prinsip      

Masalah penanganan sampah ternyata tidak mudah, melibatkan banyak pihak, memerlukan teknologi memerlukan dana yang cukup besar dan memerlukan keinginan yang kuat untuk melaksanakannya.

Oleh karena itu sampah yang kita hasilkan dalam kehidupan sehari-hari harus lebih dihargai dengan tidak membuangnya di sembarang tempat, tetapi dikumpulkan terlebih dahulu di tempat yang lebih baik untuk seterusnya ditangani secara bersama-sama. Dengan cara ini ada dua keuntungan yang mungkin dapat diperoleh:

  1. Sampah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan
  2. Sampah tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan barang-barang yang jauh lebih bermanfaat

Masyarakat yang ingin hidup sehat sudah barang tertu pempunyai persepsi yang baik terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Lingkungan yang baik adalah lingkungan yang dapat memberi kenyamanan, rasa aman dan betah. Namun demikian ternyata lingkungan yang baik memerlukan perencanaan dan pengaturan pola kegiatan yang serasi dan rasional. Lingkungan permukiman yang padat penduduknya pada umumnya sudah mengalami pencemaran karena masalah pembuangan sampah menjadi amat sulit.

Untuk menaggulangi permasalahan sampah, pendekatan filosofis bahwa sampah itu bahan baku perlu digalakkan secara basional. Sejauh ini samapah di Indonesia baru dalam taraf hanya dibuang, belum dimanfaatkan.

“Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan”. (Kamus Istilah Lingkungan, 1994).

“Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.” (Istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink, 1996).

“Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula”. (Tandjung, Dr. M.Sc., 1982)

“Sampah adalah sumberdaya yang tidak siap pakai.” (Radyastuti, W. Prof. Ir, 1996).

 Jenis Sampah

 

Berdasarkan asalnya, sampah padat dapat digolongkan sebagai:

  • Sampah Organik
  • Sampah Anorganik

Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun.

Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.

Kertas, koran, dan karton merupakan perkecualian. Berdasarkan asalnya, kertas, koran, dan karton termasuk sampah organik. Tetapi karena kertas, koran, dan karton dapat didaur ulang seperti sampah anorganik lain (misalnya gelas, kaleng, dan plastik), maka di buku ini dimasukkan ke dalam kelompok sampah anorganik.

Sumber Sampah

 

a. Sampah dari Pemukiman

Umumnya sampah rumah tangga berupa sisa pengolahan makanan, perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain, sampah kebun/halaman, dan lain-lain.

b. Sampah dari Pertanian dan Perkebunan

Sampah dari kegiatan pertanian tergolong bahan organik, seperti jerami dan sejenisnya. Sebagian besar sampah yang dihasilkan selama musim panen dibakar atau dimanfaatkan untuk pupuk. Untuk sampah bahan kimia seperti pestisida dan pupuk buatan perlu perlakuan khusus agar tidak mencemari lingkungan. Sampah pertanian lainnya adalah lembaran plastik penutup tempat tumbuh-tumbuhan yang berfungsi untuk mengurangi penguapan dan penghambat pertumbuhan gulma, namun plastik ini bisa didaur ulang.

c. Sampah dari Sisa Bangunan dan Konstruksi Gedung

Sampah yang berasal dari kegiatan pembangunan dan pemugaran gedung ini bisa berupa bahan organik maupun anorganik. Sampah Organik, misalnya: kayu, bambu, triplek. Sampah Anorganik, misalnya: semen, pasir, spesi, batu bata, ubin, besi dan baja, kaca, dan kaleng.

d. Sampah dari Perdagangan dan Perkantoran

Sampah yang berasal dari daerah perdagangan seperti: toko, pasar tradisional, warung, pasar swalayan ini terdiri dari kardus, pembungkus, kertas, dan bahan organik termasuk sampah makanan dan restoran. Sampah yang berasal dari lembaga pendidikan, kantor pemerintah dan swasta biasanya terdiri dari kertas, alat tulis-menulis (bolpoint, pensil, spidol, dll), toner foto copy, pita printer, kotak tinta printer, baterai, bahan kimia dari laboratorium, pita mesin ketik, klise film, komputer rusak, dan lain-lain. Baterai bekas dan limbah bahan kimia harus dikumpulkan secara terpisah dan harus memperoleh perlakuan khusus karena berbahaya dan beracun.

e. Sampah dari Industri

Sampah ini berasal dari seluruh rangkaian proses produksi (bahan-bahan kimia serpihan/potongan bahan), perlakuan dan pengemasan produk (kertas, kayu, plastik, kain/lap yang jenuh dengan pelarut untuk pembersihan). Sampah industri berupa bahan kimia yang seringkali beracun memerlukan perlakuan khusus sebelum dibuang.

 Sampah Khusus

 

Sampah khusus di sini adalah sampah yang memerlukan penanganan khusus untuk menghindari bahaya yang akan ditimbulkannya. Sampah khusus ini antara lain meliputi:

a. Sampah dari Rumah Sakit

Sampah rumah sakit merupakan sampah biomedis, seperti sampah dari pembedahan, peralatan (misalnya pisau bedah yang dibuang), botol infus dan sejenisnya, serta obat-obatan (pil, obat bius, vitamin). Semua sampah ini mungkin terkontaminasi oleh bakteri, virus dan sebagian beracun sehingga sangat berbahaya bagi manusia dan makhluk lainnya.

Cara pencegahan dan penanganan sampah rumah sakit antara lain:

  • Sampah rumah sakit perlu dipisahkan.
  • Sampah rumah sakit harus dibakar di dalam sebuah insinerator milik rumah sakit.
  • Sampah biomedis disterilisasi terlebih dahulu sebelum dibuang ke landfill.
  • Sampah rumah sakit ditampung di sebuah kontainer dan selanjutnya dibakar di tempat pembakaran sampah.

b. Baterai Kering dan Akumulator bekas

Baterai umumnya berasal dari sampah rumah tangga, dan biasanya mengandung logam berat seperti raksa dan kadmium. Logam berat sangat berbahaya bagi kesehatan. Akumulator dengan asam sulfat atau senyawa timbal berpotensi menimbulkan bahaya bagi manusia. Baterai harus diperlakukan sebagai sampah khusus. Saat ini di Indonesia, baterai kering hanya dapat disimpan di tempat kering sampai tersedia fasilitas pengolahan.

Jenis sampah khusus lainnya adalah:

  • Bola lampu bekas
  • Pelarut dan cat
  • Zat-zat kimia pembasmi hama dan penyakit tanaman seperti insektisida, pestisida
  • Sampah dari kegiatan pertambangan dan eksplorasi minyak
  • Zat-zat yang mudah meledak dalam suhu tinggi

 Efek Sampah terhadap Manusia dan Lingkungan

 

a. Dampak terhadap Kesehatan

Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:

 

 

 

  • Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
  • Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
  • Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernakan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.
  • Sampah beracun: Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000 orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.

b. Dampak terhadap Lingkungan

Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis.

Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas-cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat meledak. 

 c. Dampak terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi

 

  • Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat: bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-mana.
  • Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.
  • Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting di sini adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja, rendahnya produktivitas).
  • Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain.

Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.

BAB II

METODELOGI

2.1  Alat, bahan, dan metode wawancara

2.1.1        Alat dan bahan

Adapun alat dan bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan wawancara adalah sebagai berikut:

  1. Alat tulis
  2. Kamera digital
  3. Perekam

2.1.2        Metode wawancara

  1. Wawancara dan melihat langsung di Pasar TPS, dan TPA;
  2. Wawancara dengan keluarga, pedagang pasar, masyarakat sekitar TPA, pemulung di TPA, Dinas tata kota

 

2.2  Prosedur Kerja 

  1. Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok, tiap kolompok terdiri dari 3-5 orang
  2. Mewawancarai masyarakat pada berbagai sasaran antara lain meliputi:
  3. Macam sampah yang dihasilkan atau dibuang
  4. Apakah ada pekerjaan pemilahan antara yang organik dan anorganik
  5. Apakah ada pengolahan sampah di tingkat rumah tangga
  6. Bagaimana alur pembuangan sampah dari rumah tangga hingga TPA
  7. Bagaimana perilaku pedagang dan pembelian dalam membuang sampah di pasar
  8. Kapan pengambilan sampah di pasar dilakukan
  9. Bagaimana pengaruh adanya TPA bagi masyarakat sekitar TPA
  10. Adakah pengaruh TPA terhadap kualitas air tanah, kenyamanan, kesehatan masyarakat sekitar TPA
  11. Adakah kompensasi yang diberikan pemerintah terhadap masyarakat sekitar TPA
  12. Bagainamakah pengelolaan sampah di TPA oleh pemulung dan oleh dinas tata kota
  13. Berapakah kuantitas sampah yang dihasilkan per hari
  14. Berapa kalikah frekuensi penyemprotan di TPA setiap bulannya
  15. Berapa biaya untuk mengelola sampah kota

BAB III

ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1                        HASIL WAWANCARA DI TPA PAKUSARI

Berdasarkan nara sumber yang berada di lapangan yang berhasil kelompok kami wawancarai adalah 3 narasumber yaitu:

  1. Bapak Sutikno selaku koordinator lapangan TPA Pakusari
    1.  Ibu Sumi selaku pemulung
    2. Ibu Yani selaku penduduk sekitar

Berikut keterangan dan penututuran dari ketiga nara sumber tersebut:

Penuturan Bapak Sutikno selaku Koordinator lapangan TPA Pakusari

Macam sampah yang dihasilkan atau dibuang

Sampah-sampah yang dibuang/ dihasilkan oleh TPA Pakusari adalah sampah organik yang berupa sampah basah seperti sisa sayuran yang berasal dari pasar, dari rumah tangga dari terminal dan dari stasiun.Selain itu juga terdapat sampah anorganik yang berupa plastik- plastik, kaleng-kaleng dan untuk di TPA Pakusari sampah B3(Barang- barang beracun) dikategorikan juga kedalam sampah anorganik dalam  hal pengolahannya.dikarenakan persediaan  lahan sampah terbatas.

Apakah ada pekerjaan pemilahan antara yang organik dan anorganik

Di TPA Pakusari telah diadakan pemilahan sampah yang termasuk organik dan sampah anorganik, namun kebanyakan sampah yang tergolong anorganik sebanyak 60% telah terambil oleh pemulung yang berperan sebagai mitra kerja  TPA Pakusari.Selain itu di TPA Pakusari juga terdapat ruang ingerator yang difungsikan untuk pengelolaan sampah-sampah medis yang datangnya dari rumah sakit dan puskesmas sekitar Jember.Adapun mekanisme pengolaan sampah-sampah medis adalah dengan dipakar pada ruang tersebut dengan menggunakan tenaga listrik yang di operasikan oleh tenaga ahli khusus.Pembakaran sampah-sampah medis dilakukan sampai sampah tersebut benar-benar menjadi abu.namun untuk prosesnya kelompok kami tidak dapat menyaksikan karena ruang tersebut tidak sedang dioperasikan

Apakah ada pengolahan sampah di tingkat rumah tangga

Untuk pengolahan sampah tingkat rumah tangga  disama ratakan dengan pengolahan sampah yang tergolong anorganik dan organik dengan sistem control landfill yaitu pengolahan sampah dengan cara sistem berlapis secara bergantian antara tanah dengan sampah.adapun mekanismenya dalah sampah dengan ketinggian 1 m ditimbun dengan tanah setinggi 40 cm dalam lubang yang telah diberi paralon untuk pembuangan biogas dengan dipasang estalator sebagai tempat pembuangan asap hasil pembusukan sampah.Setelah sampai batas ketinggian tertentu kemudian sampah tersebut dipadatkan dengan alat berat yaitu eksavator.Pelapisan tersebut dilakukan secara berselang seling sampai ketinggian lubang yang telah ditentukan pembusukan umumnya terjadi dari 9 bulan hingga 1 tahun. Hasil pembusukan tersebut diolah menjadi pupuk kompos berupa pupuk granular yang bekerja sama dengan PT Bumi Putra yang pabriknya terletak di dalam TPA,selama 3 bulan terakhir pabrik tersebut vakum yang dikarenakan pasokan sampah berkurang dan alat-alat pengelolaan kompos terkesan rusak.Namun untuk limbah dari rumah tangga yang berupa lumpur tinja (misalnya lumpur tinja dari sedot WC) di TPA Pakusari telah diadakan penanganan khusus yaitu dengan cara lumpur tinja terebut diletakkan pada bak penampung yang mampu memuat 35 m2 lumpur tinja kemudian lumpur tinja dipompa menuju bak inhok kemudian dialirkan ke kolam aerobik yang akan bermuara ke kolam maturasi yang bertujuan untuk dilakukan kontrol air jika menunjukkan skala 0,5 kadar air tersebut layak keluar untuk saluran irigasi yang sebelumnya juga diuji pada kolam yang terdapat disekitar pengelolaan lumpur tinja dengan adanya bio indikator yang berupa ikan.Apabila ikan-ikan tersebut beratarti air tersebut tidak layak di salurakan ke saluran irigasi.Pada kolam maturasi terjadi proses pengendapan lumpur tinja. Lalu menuju ke bak akhir yaitu bak pengering untuk dijadikan kompos yang dikelola oleh TPA Pakusari.Namun pengelolaan lumpur tinja untuk 3 bulan terakhir ini tidak difungsikan karena pasokan tinja dari sedot WC dan toilet mobil bila ada even konser untuk saat ini sangat minim.Dan biasanya hasil kompos lumpur tinja tersebut dipasok ke daerah perkebunan baik dalam maupun  luar Jember.

Bagaimana alur pembuangan sampah dari rumah tangga hingga TPA

Alur pembuangan sampah dari rumah tangga yaitu: sampah-sampah tiap rumah dari masing-masing RW dikumpulkan ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara) bermuara di depo-depo yang terdapat di kota kemudian dari depo-depo tersebut didatangi oleh truk-truk yang telah disiapkan oleh TPA Pakusari untuk di bawa ke TPA.

 

Bagaimana perilaku pedagang dan pembeli dalam membuang sampah di pasar

Perilaku pedagang dan pembeli dalam membuang sampah dipasar berdasarkan observasi yang kami lakukan adalah kurang memperhatikan pembuangan sampah oleh para pembeli umunya namun untuk pedagang-pedagang tertentu telah membuang sampah pada tempatnya dan dari tumpukan-tumpukan sampah untuk areal tempat pedagang kemudian ada petugas yang membawa ke tempat pembuangan sampah sementara di pasar Tanjung yang kemudian akan didatangi armada truk dari TPA Pakusari.(untuk wawancara dengan pihak pengelola sampah di pasar Tanjung tidak dapat kami lakukan karena kami kesulitan menemukan pengwai yang bertugas namun untuk para pembeli dan penjual sempat kami liat kegiatannya dalam membuang sampah )

Kapan pengambilan sampah di pasar dilakukan

Pengambilan sampah dari pasar  dilakukan  4 kali dalam sehari yaitu: pagi jam 8, siang jam 12, sore jam 3 dan malam jam 10.Adapun pengambilan sampah dilakukan dengan bantuan armada truk yang telah disiapkan oleh TPA Pakusari.

Bagaimana pengaruh adanya TPA bagi masyarakat sekitar TPA

Untuk masyarakat sekitar terhadap adanya TPA khususnya bagi pemulung yang berperan sebgai mitra kerja TPA Pakusari adalah sangat bernilai positif yang dapat difungsikan sebagai lahan pencarian keuntungan secara ekonami yaitu dengan memilah sampah-sampah anorganik yang telah lulus sortir dari pasar-pasar untuk dijual kepada pengepul.Ibu Sumi selaku pemulung yang bekerja selam 4 tahun mendapatkan keuntungan hasil memulung sampah anorganik seperti plastik-plastik dan kaleng-kaleng yaitu sebesar 4000-5000 dari 1-4 karung yang didapatkan selama 1 hari.

Untuk masyarakat daerah pemukiman yang berdekatan dengan TPA Pakusari selama TPA Pakusari berdiri sejak Februari 1992 tidak terdapat keluhan.Ibu Yani selaku penduduk sekitar TPA Pakusari menyatakan selama TPA berdiri belum dirasakan dampak kesehatan yang memburuk akibat pengelolaan sampah di TPA baik dari sanitasi air sumur maupun saluran irigasi dipersawahan penduduk sekitar tidak menunjukkan adanya pencemaran.

Adakah pengaruh TPA terhadap kualitas air tanah, kenyamanan, kesehatan masyarakat sekitar TPA

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tidak ada pengaruh yang buruk dengan berdirinya TPA Pakusari karena telah dilakukan kontrol terhadap sumur-sumur disekitar rumah penduduk yang dilakukan 3-6 bulan sekali dalam 1 tahun yang bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Jember.Begitu juga dengan kualitas tanah didaerah sekitar TPA juga minim terjadi pencemaran karena pembusukan dapat terjadi dengan adnya sampah organik yang terdapat di TPA yang dapat menyuburkan tanah.Sehingga tidak merusak kenyamanan dan kesehatan masyarakat sekitar TPA.

Adakah kompensasi yang diberikan pemerintah terhadap masyarakat sekitar TPA

Untuk kompensai dari pemerintah nara sumber juga kurang begitu paham namun beliau memberikan penjelasan bahwa kompensari dari pemerintah hanya untuk tenaga PNS.

Bagainamakah pengelolaan sampah di TPA oleh pemulung dan oleh dinas tata kota

Pengelolaan sampah oleh pemulung dilakukan dengan cara dipilah-pilah sampah jenis anorganik untuk dijual kepada pengepul namun untuk pengelolaan sampah dari dinas tata kota nara sumber dilapangan juga kurang begitu memahami,dan kelompok kami juga tidak melakukan wawancara dengan dinas tata kota karena persyaratan yang sangat rumit dan dinas tata kota sulit ditemui.

Berapakah kuantitas sampah yang dihasilkan per hari

TERDAPAT DILAMPIRAN UNTUK KUALIATAS SAMPAH PERMINGGU

Berapa kalikah frekuensi penyemprotan di TPA setiap bulannya

Penyemprotan lalat dilakukan dengan menggunakan alat yang bernama blower.Adapun frekuensi penyemprotannya untuk musim hujan dilakukan lebih inten yaitu dalam 1 minggu dilakukan 3 kali penyemprotan.Karena lalat dimusim hujan lebih banyak.

Berapa biaya untuk mengelola sampah kota

Dari segi biaya kelompok kami tidak dapat mengeksplor informasi dari nara sumber karena nara sumber tidak dapat menyebutkan biaya untuk mengelola sampah.

3.2    MASALAH- MASALAH DI TPA PAKUSARI

Di negara berkembang, sampah umumnya ditampung padalokasi pembuangandengan menggunakan sistem Sanitary Landfill

(Johanis, 2002).Sanitary Landfill adalah sistem pengelolaan sampah yang mengembangkan lahan cekungan dengan syarat tertentuyaitu jenis dan porositas tanah, dimana pada dasar cekungan dilapisi geotekstil untuk menahan peresapan lindi pada tanah serta dilengkapi dengan saluran lindi. TPA diIndonesia, sesungguhnya tidak menerapkan sistem Sanitary Landfill,namun paling bagus menggunakan metodeOpen Dumping,yaitu sampah ditumpuk menggunung tanpa adalapisan geotekstil dan saluran lindi. Cara penimbunan seperti ini dianggap murah danmudah. Karena kelihatanya mudah, sehingga penimbunannya tidak direncanakan dengan baik dan dilakukan dengan sembarangan sehingga tidak mengindahkan Sanitary Landfill yang seharusnya menjadi persyaratan mutlak sebuah TPA (Suganda, 2004). Hal inidikarenakan TPA di Indonesia tidak menerapkan aturan-aturan yang berlaku, sehinggasistem Sanitary Landfill  tidak diterapkan.Berikut adalah masalah-masalah di TPA Pakusari

 

 

 

3.2.1 Lalat Mulai serang TPA Pakusari

Sejak 12 Januari 2012.Lalat mulai menyerang Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Lahan TPA semakin kumuh dengan adanya puluhan kandang ayam milik warga, yang membuat lalat semakin kerasan.

Pengelola TPA Pakusari, RM Masbud, mengakui pihaknya meningkatkan penyemprotan lalat-lalat hingga seminggu dua kali. Dia yakin dengan penyemprotan secara kontinue akan mengurangi populasi lalat. (Edison)

http://www.prosalinaradio.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2513:lalat-mulai-serang-tpa-pakusari&catid=54:sosial-budaya&Itemid=411

3.2.2Pemkab Diminta Tambah Lahan TPA Pakusari

Monday, 12 December 2011 03:18

http://www.prosalinaradio.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2277:pemkab-diminta-tambah-lahan-tpa-pakusari&catid=54:sosial-budaya&Itemid=411

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Pakusari butuh pengembangan lahan. Tingat kejenuhan kawasan TPA yang didirikan tahun 1992 itu sudah 90 persen.

Menurut pengelola TPA Pakusari, RM. Masbud, dengan luas lahan 6,7 hektar, TPA perlu dikembangkan 4 hektar lagi. Selain pengembangan lahan, TPA Pakusari juga butuh kawasan penyangga atau baversoon.

Menurut Masbud, dengan kondisi titik jenuh mencapai 90 persen, jika tidak segera dikembangkan maka tahun depan akan terjadi kesulitan lahan pembuangan sampah.

Sesuai data, produksi sampah se Jember setiap harinya bisa mencapai seribu meter kubik lebih, namun yang bisa terangkut ke TPA Pakusari hanya 450 meter kubik saja. Dengan pola pengelolaan kontrol lenvil atau penimbunan, kini di TPA Pakusari sudah ada penimbunan 36 ribu meter kubik sampah. Untuk angkutan sampah, DPU Cipta Karya memiliki 24 dam truk, 6 diantaranya rusak. (Edison)

3.2.3Areal TPA Pakusari Bakal Diperluas

Editor: Sudi Selasa, 29 November 2011 01:32

IpolJatim_Jember ; Dipastikan setiap tahunnya volume sampah di Kabupaten Jember terus bertambah seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, kenaikan sampah itu sendiri mencapai 3 sampai 5 % pertahunnya. Dari pantauan di lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) Pakusari kebanyakan adalah sampah rumah tangga sedang selebihnya merupakan sampah non rumah tangga, berkat peran 200 orang pemulung di lokasi tersebut setidaknya tumpukan sampah bisa berkurang hingga 30% dari total sampah keseluruhan.

Dalam sehari di Kabupaten Jember sampah yang dihasilkan mencapai 550m3 per harinya, dari jumlah tersebut 450m3 ditampung di TPA Pakusari dan sisanya dibuang sembarangan oleh masyarakat baik di sungai, selokan maupun gorong-gorong. Kebiasaan sepertini inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya banjir di beberapa kawasan, termasuk kampus ketika musim penghujan..

Pernyataan ini disampaikan oleh Sugeng Hariyono Kasi Kebersihan Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Pemkab Jember, keberadaan ratusan pemulung di TPA Pakusari dirasa sangat menguntungkan dan dianggap sebagai mitra kerja. Selain sampah bisa terkurangi dengan sendirinya, mereka bisa menggantungkan hidupnya dari sampah untuk dijual kembali.

TPA Pakusari selama ini merupakan tempat penampungan sampah dari tiga kecamatan kota yakni Sumbersari, Kaliwates dan Patrang. Di luar kecamatan tersebut juga telah difungsikan TPA sejenis seperti di Balung, Ambulu, Tanggul, maupun Kencong, namun demikian meski Pemkab Jember telah menyediakan 4 TPA untuk menampung sampah namun kecenderungannya volume sampah di Kabupaten Jember malah terus menunjukan peningkatan. “Dalam memperlakukan sampah di TPA Pakusari tidak hanya mengandalkan tenaga pemulung, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Pemkab Jember juga telah melakukan kerjasama dengan pihak ketiga untuk melakukan pengomposan,” ungkapnya.

Lewat kerjasama dengan pihak ketiga itu, tumpukan sampah setelah dipilah-pilah oleh pemulung kemudian dikelola menjadi kompos. Kompos tersebut diharapkan dapat membantu petani dalam hal penyuburan tanah, untuk menggantikan pupuk non organic yang banyak digunakan oleh petani di Kabupaten Jember beralih. “Untuk menangani permasalahan sampah Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Pemkab Jember mengerahkan 16 unit truk sampah, belum lagi truk sampah milik dinas pasar untuk membersihkan sampah di Pasar Tanjung dan selanjutnya dibuang di TPA Pakusari,” tandas Sugeng.

Sugeng juga menambahkan, dengan luas lahan yang dimiliki oleh TPA Pakusari yakni 6,7 hektar dan semakin meningkatnya volume sampah di Kabupaten Jember, lokasi pembuangan sampah tersebut dinilai tidak lagi mencukupi. Karena itu Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Pemkab Jember melalui anggaran APBD 2012 berencana akan menambah luasan TPA Pakusari menjadi 3 hektar.

Dengan penambahan tersebut setidaknya tempat tersebut bisa lebih banyak lagi menampung kiriman sampah dari 3 kecamatan kota. Perluasan TPA, untuk sementara hanya dilakukan di Pakusari saja, sedang 4 TPA di lain di kecamatan-kecamatan dengan luas masing-masing 1,5 hektar masih dirasa mencukupi, apalagi volume sampah di luar kecamatan kota tidak sebanyak di kawasan perkotaan.

Dibagian lain Plt Kabag Humas Pemkab Jember Drs. Joko Soponyono, MSi menyambut baik keinginan Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang untuk memperluas areal TPA Pakusari, apalagi selama ini sampah di Kabupaten Jember terus meningkat setiap harinya dan itu butuh penanganan sampah secara optimal, salah satunya dengan melakukan perluasan areal TPA Pakusari. (ali)

http://infopoljatim.com/index.php?option=com_content&view=article&id=563&catid=66&Itemid=90

3.2.4 TPA Pakusari Kewalahan Tampung Sampah

Monday, 04 July 2011 00:00

nur ahmadi

Karena mesin daur ular sampah tidak beroperasi lagi, kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari semakin kritis. Lahan 6,8 hektar itu, 90 persennya sudah dipenuhi sampah.

Menurut Koordinator Lapangan TPA Pakusari, Mohammad Masbut, hingga akhir tahun ini TPA Pakusari tidak mampu menampung sampah karena lahan yang tersedia tinggal satu hektar.

Masalahnya PT. Bumi Subur Makmur, pihak yang mengoperasikan mesin pengolahan sampah, mengalami kendala biaya operasional karena gagal menjual produk pupuk organiknya.

Sementara itu, usai berkunjung ke TPA Pakusari, Ketua Komisi D DPRD, Ayub Junaidi, menyatakan akan segera memanggil managemen PT. Bumi Subur Makmur dan Dinas PU Cipta Karya terkait macetnya pengelolaan sampah tersebut. (Fatkhul)

http://www.prosalina.lcunej.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2027:tpa-pakusari-kewalahan-tampung-sampah&catid=54:sosial-budaya&Itemid=411

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3 Pengertian sampah dan pengelolaan sampah di TPA Pakusari

Dirangkum  Oleh : R.Muhamad  Masbut(koordinator TPA PAKUSARI)

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun

alam yang belum memiliki nilai ekonomis.

 

 

 

 

 

 

Timbunan sampah yang menggunung di TPA Pakusari jika tidak di tangani dan dikelola dengan baik akan menjadi masalah yang sangat pelik dikemudian hari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

:: Sumber-sumber sampah

1. Rumah Tangga
2. Pertanian
3. Perkantoran
4. Perusahaan
5. Rumah Sakit
6. Pasar dll.

 

::Secara garis besar, sampah dibedakan menjadi tiga jenis yaitu :

1. Sampah Anorganik/kering
Contoh : logam, besi, kaleng, plastik, karet, botol, dll yang tidak dapat mengalami pembususkan secara alami.

2. Sampah organik/basah
Contoh : Sampah dapur, sampah restoran, sisa sayuran, rempah-rempah atau sisa buah dll yang dapat mengalami pembusukan secara alami.

3. Sampah berbahaya
contoh : Baterei, botol racun nyamuk, jarum suntik bekas dll

:: Permasalahan Sampah::

Secara umum pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan lingkungan akan dapat mengakibatkan :
1. Tempat berkembang dan sarang dari serangga dan tikus

2. Menjadi sumber polusi dan pencemaran tanah, air dan udara

3. Menjadi sumber dan tempat hidup kuman-kuman yang membahayakan kesehatan.

 

::Tata cara Pemusnahan sampah

Beberapa cara pemusnahan sampah yang dapat dilakukan secara sederhana sebagai berikut :

a. Penumpukan.
Dengan metode ini, sebenarnya sampah tidak dimusnahkan secara langsung, namun dibiarkan membusuk menjadi bahan organik. Metode penumpukan bersifat murah, sederhana, tetapi menimbulkan resiko karena berjnagkitnya penyakit menular, menyebabkan pencemaran, terutama bau, kotoran dan sumber penyakit dana badan-badan air.

b. Pengkomposan. Cara pengkomposan meerupakan cara sederhana dan dapat menghasilkan pupuk yang mempunyai nilai ekonomi.

c. Pembakaran. Metode ini dapat dilakuakn hanya untuk sampah yang dapat dibakar habis. Harus diusahakan jauh dari pemukiman untuk menhindari pencemarn asap, bau dan kebakaran.

d. “Sanitary Landfill”. Metode ini hampir sama dengan pemupukan, tetapi cekungan yang telah penuh terisi sampah ditutupi tanah, namun cara ini memerlukan areal khusus yang sangat luas.

 

::Pemanfaatan Sampah::

1. Sampah basah : Kompos dan makanan ternak
2. Sampah kering : Dipakai kembali dan daur ulang
3. Sampah kertas : Daur Ulang

 

 

::Daur ulang
Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan , pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas pakai.

Material yang dapat didaur ulang :
1. Botol Bekas wadah kecap, saos, sirup, creamer dll baik yang putih bening maupun yang berwarna terutama gelas atau kaca yang tebal.
2. Kertas, terutama kertas bekas di kantor, koran, majalah, kardus kecualai kertas yang berlapis minyak.
3. Aluminium bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan kue dll.
4. Besi bekas rangka meja, besi rangka beton dll
5. Plastik bekas wadah shampoo, air mineral, jerigen, ember dll
6. Sampah basah dapat diolah menjadi kompos.

Manfaat pengelolaan sampah
1. Mengehemat sumber daya alam
2. Mengehemat Energi
3. Menguranagi uang belanja
4. Menghemat lahan TPA
5. Lingkungan asri (bersih,sehat,nyaman)

11

JENIS BARANG LAPAK

HARGA/KG

1

Gelas Aqua

1600

2

Kaleng Oli

1500

3

Ember biasa

1100

4

Keras (kaset, yakult, botol kecap)

150

5

Ember hitam (anti pecah)

800

6

Botol Aqua

700

7

Putian (botol bayclin, infus)

1600

8

Kardus

500

9

Kertas Putih

700

10

Majalah

350

11

Koran

500

12

Duplek (kardus tipis)

150

13

Semen

400

14

Besi Beton

700

15

Besi super

450

16

Besi pipa

250

17

Tembaga super

8000

18

Tembaga bakar

7000

19

Aluminium tebal

6000

20

Aluminium tipis

4000

21

Botol air besar

400

Botol bir kecil, sprite, fanta

200

::Sumber koperasi pemulung 2003::

Penimbunan dan landfill bukan lagi solusi untuk pengelolaan persampahan.

 

Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Pengomposan dapat mengendalikan bahaya pencemaran yang mungkin terjadi dan menghasilkan keuntungan.

Pengomposan merupakan penguraian dan pemantapan bahan-bahan organik secara biologis dalam temperatur thermophilic (suhu tinggi) dengan hasil akhir berupa bahan yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah. Pengomposan dapat dilakukan secara bersih dan tanpa menghasilkan kegaduhan di dalam maupun di luar ruangan.

Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa bahan tambahan. Bahan tambahan yang biasa digunakan misalnya cacing dan Decomposer SUPERFARM (Effective Microorganism). Keunggulan dari proses pengomposan antara lain teknologinya yang sederhana, biaya penanganan yang relatif rendah, serta dapat menangani sampah dalam jumlah yang banyak (tergantung luasan lahan).

Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.

Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang mengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian. Berikut disajikan bahan-bahan yang umum dijadikan bahan baku pengomposan.

Asal

Bahan

1. Pertanian
Limbah dan residu tanaman Jerami dan sekam padi, gulma, batang dan tongkol jagung, semua bagian vegetatif tanaman, batang pisang dan sabut kelapa
Limbah & residu ternak Kotoran padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak, cairan biogas
Tanaman air Azola, ganggang biru, enceng gondok, gulma air
2. Industri
Limbah padat Serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, limbah kelapa sawit, limbah pengalengan makanan dan pemotongan hewan
Limbah cair Alkohol, limbah pengolahan kertas, ajinomoto, limbah pengolahan minyak kelapa sawit
3. Limbah rumah tangga
Sampah Tinja, urin, sampah rumah tangga dan sampah kota

 

Dengan mememfaatkan sampah organic 

Sampah yang biasanya jadi masalah jika dikelola dan diproses jadi kompos merupakan komediti untuk menciptakan lapanngan kerja serta frovit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses pengomposan secara aerobik

 

Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara aerobik terdiri dari peralatan untuk penanganan bahan dan peralatan perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja. Berikut disajikan peralatan yang digunakan.

  1. 1.      Terowongan udara (Saluran Udara)
  • o Digunakan sebagai dasar tumpukan dan saluran udara
  • o Terbuat dari bambu dan rangka penguat dari kayu
  • o Dimensi : panjang 2m, lebar ¼ – ½ m, tinggi ½ m
  • o Sudut : 45o
  • o Dapat dipakai menahan bahan 2 – 3 ton
  1. 2.      Sekop
  • o Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya
  1. 3.      Garpu/cangkrang
  • o Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan dan pemilahan sampah
  1. 4.      Saringan/ayakan
  • o Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar diperoleh ukuran yang sesuai
  • o Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang diinginkan
  • o Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau saringan putar
  1. 5.      Termometer
  • o Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan
  • o Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke bagian dalam tumpukan dan menariknya kembali dengan cepat
  • o Sebaiknya digunakan termometer alkohol (bukan air raksa) agar tidak mencemari kompos jika termometer pecah
  1. 6.      Timbangan
  • o Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai berat yang diinginkan
  • o Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan dan pengemasan
  1. 7.      Sepatu boot
  • o Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja agar terhindar dari bahan-bahan berbahaya
  1. 8.      Sarung tangan
  • o Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama melakukan pemilahan bahan dan untuk kegiatan lain yang memerlukan perlindungan tangan
  1. 9.      Masker
  • o Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernafasan dari debu dan gas bahan terbang lainnya

                             MEKANISME /SIMULSI PROSES PENGOMPOSAN

           Sampah organic  / basah          proses memperkecil ukuran              penataan

 

            Pencampuran              controlling              pematangan           siap digunakan

                                                                                 penyaringan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 1.      Pemilahan Sampah
  • Pada tahap ini dilakukan pemisahan sampah organik dari sampah anorganik (barang lapak dan barang berbahaya). Pemilahan harus dilakukan dengan teliti karena akan menentukan kelancaran proses dan mutu kompos yang dihasilkan

Sistim pemilahan organic dan anorganik dengan mesin pemilah ( Confiyer )

  1. 2.      Pengecil Ukuran
  • Pengecil ukuran dilakukan untuk memperluas permukaan sampah, sehingga sampah dapat dengan mudah dan cepat didekomposisi menjadi kompos

Mesin pemotong untuk memperkecil ukuran sampah organik

  1. 3.      Penyusunan Tumpukan
  • Bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecil ukuran kemudian disusun menjadi tumpukan.
  • Desain penumpukan yang biasa digunakan adalah desain memanjang dengan dimensi panjang x lebar x tinggi = 2m x 12m x 1,75m.
  • Pada tiap tumpukan dapat diberi terowongan bambu (windrow) yang berfungsi mengalirkan udara didalam tumpukan.

Prosem penumpukan  sekaligus mencampur dgn em4,serbuk gergaji,dan kotoran hewan ternak

  1. 4.      Pembalikan
  • Pembalikan dilakuan untuk membuang panas yang berlebihan, memasukkan udara segar ketumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian air, serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.
  1. 5.      Penyiraman
  • Pembalikan dilakukan terhadap bahan baku dan tumpukan yang terlalu kering (kelembaban kurang dari 50%).
  • Secara manual perlu tidaknya penyiraman dapat dilakukan dengan memeras segenggam bahan dari bagian dalam tumpukan.
  • Apabila pada saat digenggam kemudian diperas tidak keluar air, maka tumpukan sampah harus ditambahkan air. sedangkan jika sebelum diperas sudah keluar air, maka tumpukan terlalu basah oleh karena itu perlu dilakukan pembalikan.
  1. 6.      Pematangan
  • Setelah pengomposan berjalan 30 – 40 hari, suhu tumpukan akan semakin menurun hingga mendekati suhu ruangan.
  • Pada saat itu tumpukan telah lapuk, berwarna coklat tua atau kehitaman. Kompos masuk pada tahap pematangan selama 14 hari

 

 

 

 

Pada proses pematangan perlu juga diperhatikan temperature maksimal adalah 60º

  1. 7.      Penyaringan
  • Penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos sesuai dengan kebutuhan serta untuk memisahkan bahan-bahan yang tidak dapat dikomposkan yang lolos dari proses pemilahan di awal proses.
  • Bahan yang belum terkomposkan dikembalikan ke dalam tumpukan yang baru, sedangkan bahan yang tidak terkomposkan dibuang sebagai residu.

Untuk memisahkan  kompos jadi dan yang masih berupa gumpalan sampah serta bahan residu lainnya perlu juga penyaringan / pengayakan

  1. 8.      Pengemasan dan Penyimpanan
  • Kompos yang telah disaring dikemas dalam kantung sesuai dengan kebutuhan pemasaran.
  • Kompos yang telah dikemas disimpan dalam gudang yang aman dan terlindung dari kemungkinan tumbuhnya jamur dan tercemari oleh bibit jamur dan benih gulma dan benih lain yang tidak diinginkan yang mungkin terbawa oleh angin.

Pada proses pengemasan diupayakan dilaksanakan penimbangan agar kwantitas kompos bisa sama pada setiap kemasan

Kontrol proses produksi kompos

 

  1. Proses pengomposan membutuhkan pengendalian agar memperoleh hasil yang baik.
    1. Kondisi ideal bagi proses pengomposan berupa keadaan lingkungan atau habitat dimana jasad renik (mikroorganisme) dapat hidup dan berkembang biak dengan optimal.
    2. Jasad renik membutuhkan air, udara (O2), dan makanan berupa bahan organik dari sampah untuk menghasilkan energi dan tumbuh.

Proses pengontrolan

 

Proses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan sampah adalah:

  1. Monitoring Temperatur Tumpukan
    1. Monitoring Kelembaban
    2. Monitoring Oksigen
    3. Monitoring Kecukupan C/N Ratio
    4. Monitoring Volume

Mutu kompos

 

  1. Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan tanaman.
    1. Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan terjadinya persaingan bahan nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman
    2. Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
  • Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,
  • Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi,
  • Nisbah C/N sebesar 10 – 20, tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya,
  • Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah,
  • Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan
  • Tidak berbau.

 

Mengelola Sampah, Mengelola Gaya Hidup

Dengan mengelola sampah menjadi kompos merupakan proses recycling  adalah solusi yang terbaik. Demi menciptakan lapangan kerja sekaligus untuk memperpanjang umur TPA Pakusari Jember.

Kerusakan alam dikemudian hari

Akan terhindari jk kita bisa menge

Lolah sampah dengan management yg Yang baik

 

BAB III

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan:

-          Macam dan jenis sampah serta pengelolaannya: terdapat sampah organik dan anorganik dimana keduanya diolah secara contolin landfill

-          Alur pembuangan sampah hingga TPA meliputi sampah-sampah dari TPS kemudian diangkut ke TPA.

-          Penanganan sampah di pasar: ditangani oleh petugas khusus kemudian dilanjutkan dengan pengangkutan ke TPA

-          Penanganan sampah di TPA oleh pemulung dengan dipilah-pilah dan dijual kepada pengepul sampah.

DAFTAR PUSTAKA

Tim mata kuliah.2011. Buku Petunjuk Praktikum Pengetahuan Lingkungan.Jember: Universitas Muhammadiyah Jember.

Nur  Akmadi 2011. TPA Pakusari Kewalahan tampung sampah (0nline)

http://www.prosalina.lcunej.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2027:tpa-pakusari-kewalahan-tampung-sampah&catid=54:sosial-budaya&Itemid=411 diacces tanggal 15 Januari 2012

Anonim.2011. Pemkab diminta tambah lahan TPA Pakusari.(online)

http://www.prosalinaradio.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2277:pemkab-diminta-tambah-lahan-tpa-pakusari&catid=54:sosial-budaya&Itemid=411 diacces tanggal 15 Januari 2012

Anonim, 2012. Lalat mulai serang TPA Pakusari .(on line)

http://www.prosalinaradio.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2513:lalat-mulai-serang-tpa-pakusari&catid=54:sosial-budaya&Itemid=411 diacces tanggal 15 Januari 2012

 

 

GRAFIK VOLUME SAMPAH

      

     DI TPA PAKUSARI TAHUN 1992 S / D TAHUN 2010 DALAM SATUAN M3

 

NO

TAHUN

VOLUME SAMPAH

KETERANGAN

1

1992

    9.564,7

 
2

1993

151.273,1

 
3

1994

166.338,1

 
4

1995

174.034,3

 
5

1996

177.082,5

 
6

1997

177.279,2

 
7

1998

177.827,2

 
8

1999

178.574,0

 
9

2000

179.812,8

 
10

2001

183.707,4

 
11

2002

185.362,6

 
12

2003

186.924,9

 
13

2004

187.217,5

 
14

2005

187.243,8

 
15

2006

188.848,3

 
16

2007

190.356,1

 
17

2008

191.015,5

 
18

2009

191.849,8

 
19

2010

194.526,9

 
20          2011               199.255,7  

 

 

REKAPITULASI SAMPAH  TAHUN 2010

TPA PAKUSARI KABUPATEN JEMBER

 

 

NO

 

BULAN

 

MINGGU KE

 

 

JUMLAH

PERBULAN / M3

 

 

JUMLAH

PERTAHUN / M3

1

11

111

1V

1 JANUARI 3.633,2 3.596,1 3.555,3 5.169,8 15.954,4  
2 FEBRUARI 3.563,2 3.563,1 3.548,5 3.569,5 14.224,3  
3 MARET 3.645,0 3.623,6 3.628,1 4.692,4 15.589,1  
4 APRIL 3.680,9 3.621,1 3.702,9 4.679,0 15.683,9  
5 MEI 3.634,4 3.624,3 3.595,8 4.584,2 15.443,7  
6 JUNI 3.614,6 3.543,3 3.577,4 4.581,4 15.316,7  
7 JULI 3.579,8 3.582,2 3.565,4 5.112,4 15.729,8  
8 AGUSTUS 3.583,6 3.584,4 3.685,9 5.052,6 15.906,4  
9 SEPTEMBER 3.549,1 3.601,0 3.584,8 4.543,7 14.278,6  
10 OKTOBER 3.603,9 3.600,3 3.601,4 4.119,5 14.925,5  
11 NOVEMBER 3.619,9 3.616,5 3.571,8 4.627,3 15.433,5

 

12 DESEMBER 3.668,2 3.609,2 3.608,4 5.155,2 16.041,0

184.526,9

                                                                                             PETUGAS TPA PAKUSARI

REKAPITULASI SAMPAH  TAHUN 2011

TPA PAKUSARI KABUPATEN JEMBER

 

 

NO

 

BULAN

 

MINGGU KE

 

 

JUMLAH

PERBULAN / M3

 

 

JUMLAH

PERTAHUN / M3

1

11

111

1V

1 JANUARI 3.632,5 3.667,2 3.613,6 5.170,5         16.083,8  
2 FEBRUARI 4.020,1 3.621,5 3.606,8 3.644,9         14.893,3  
3 MARET 3.606,4 3.620,7 3.604,2 5.120,6         15 751,9  
4 APRIL 3.781,1 3.715,0 3.668,9 4.644,8         15.859,8  
5 MEI 3.749,1 3.697,3 3.718,2 5.258,1         16.322,7  
6 JUNI 3.676,9 3.665,6 3.638,3 4.715,1         15.695,9  
7 JULI 3.639,3 3.657,4 3.634,7 5.198,1         16.129,5  
8 AGUSTUS 3.661,5 3.686,5 3.678,7 5.216,9         16.243,6  
9 SEPTEMBER 3.633,4 3.682,2 3.614,0 4.686,9         15.616,5  
10 OKTOBER 3.627,7 3.670,4 3.651,7 5.402,0         16.361,8  
11 NOVEMBER 3.604,7 3.743,3 3.927,9 4.263,1         15.539,0  
12 DESEMBER 3.712,1 3.681,5 3.519,6      

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                               PETUGAS TPA PAKUSARI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REKAPITULASI SAMPAH  TAHUN 2012

TPA PAKUSARI KABUPATEN JEMBER

 

 

NO

 

BULAN

 

MINGGU KE

 

 

JUMLAH

PERBULAN / M3

 

 

JUMLAH

PERTAHUN / M3

1

11

111

1V

1 JANUARI            
2 FEBRUARI            
3 MARET            
4 APRIL            
5 MEI            
6 JUNI            
7 JULI            
8 AGUSTUS            
9 SEPTEMBER            
10 OKTOBER            
11 NOVEMBER            
12 DESEMBER            

 

 

 

 

                                                                                                                               PETUGAS TPA PAKUSARI

                                                                                             MUSTHOFA

                                                                                                NIP.19701207 200701 1 015

 

Lampiran dokumentasi

Foto dokumentasi

Keterangan

Papan nama TPA Pakusari

Foto-foto kegiatan TPA Pakusari

Dokumentasi grafik penyemprotan lalat

Peta TPA Pakusari

Armada truk pengangkut sampah

 Mobil Pemadat sampah

Pabrik pupuk kompos

Hasil sampah yang dipungut pemulung

Bak pengering lumpur tinja dan kolam resapan lumpur tinja

Penampung lumpur tinja yang meluap

Papan nama proses pengolahan lumpur tinja

Sampah yang menggunung dengan controled landfill

Kegiatan pemulung

Rekapan kuantitas masukan sampah

Papan tarif retribusi persampahan kebersihan

Alat pengeruk sampah

Foto bersama dengan nara sumber

Sesi wawancara dengan nara sumber

By aimarusciencemania

laporan Biologi Terapan 3

LAPORAN

ALAT PERAGA

MODEL GAMETOGENESIS PADA MANUSIA

Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah BIOLOGI TERAPAN 3

Dosen pembimbing : Dra. Sawitri Komarayanti M.S

 

OLEH:

KELOMPOK 14

  1. 1.      AINI MASKURO                       (0910211107)
  2. 2.      EFRIYANTI NILASARI          (0910211100)

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

Januari, 2012

BAB I

IDENTITAS ALAT DAN MATERI

1.1  Nama alat peraga                        :  Model gametogenesis pada manusia

1.2  Kegunaan                                                :

  1. alat peraga gametogenesis pada manusia dapat digunakan untuk menjelaskan proses pembentukan gamet jantan & betina
  2. Alat peraga ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran pokok bahasan reproduksi sel sub pokok bahasan gametogenesis dengan jelas .
  3. Alat peraga ini dapat digunakan untuk menjelaskan konsep pembentukan gamet dengan jelas dari konsep abstrak menjadi konkrit .

1.3  Pokok bahasan                : Reproduksi Sel

1.4   Sub pokok bahasan       : Gametogenesis

1.5  Kelas                                 : XII semester I

1.6  Materi Pokok                   :

Pembentukan gamet (sel kelamin) yang terjadi melalui pembelahan meiosis dan berlangsung pada sel kelamin dalam alat perkembangbiakan disebut gametogenesis. Gametogenesis meliputi spermatogenesis (pembentukan spermatozoa / sperma) dan oogenesis (pembentukan ovum  atau sel telur ) . Secara prinsip keduanya melalui cara pembelahan yang sama,namun hasil akhirnya berbeda .

  • Pembentukan sperma (spermatogenesis)

Proses ini berlangsung dalam alat kelamin jantan yaitu testis . dalam testis terdapat bagian yang disebut tubulus seminiferus . dinding tubulus seminiferus  terdiri dari jaringan epithelium.di dalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel perimordium yang bersifat diploid. Sel-sel primordium adalah kelompok sel yang belum dewasa yang nantinya akan membentuk struktur khusus. Sel-sel primordium tersebut berulang kali mengalami pembelahan secara mitosis, diantaranya membentuk sperma togonium (Induk Sperma) yang akan berkembang menjadi spermatozoa dan sel sertoli yang berfunsi memberi nutrient pada spermatozoa. Selain itu pada tubulus seminefirus terdapat pula sel leydig yang mengekresikan horman testosterone yang berperan pada proses spermatogenesis.

 

 

  • Proses Spermatogenesis

Pada masa pubertas, spermatogenium membelah diri secara mitosis sehingga menghasilkan lebih banyak spermatogenium. Pada manusia, spermatogenium mengandung 23 pasang kromosom atau 46 kromosom (diploid)

Beberapa spermatogenium membelah diri kembali, sedangkan lainnya berkembang menjadi spermatosit primer yang juga mengandung kromosom sebanyak 46 kromosom. Sel-sel spermatosit primer tersrbut kemudian membelah secara meiosis menjadi dua spermatosit sekunder yang jumlah kromosomnya menjadi setengahnya (23 kromosom haploid). Selamjutnya spermatosit skunder membelah lagi secara meiosis menjadi empat spermatid. Jadi, spermatosit primer mengalami pembelahan meiosis I yang menghasilkan dua spermatosit sekunder. Selama pembelahan meiosis II, kedua spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan empat spermatid. Selanjutnya spermatid berdiferensiasi menjadi sel kelamin dewasa (masak) yang disebut spermatozoa atau sperma. Spermatozoa ini juga mempunyai 23 kromosom (haploid). Hasil akhir dari spermatogenesis adalah terbentuknya empat spermatozoa fungsional dari satu sel induk yang mengalami meiosis.

Pada manusia,proses spermatogenesis berlangsung setiap hari.siklus spermatogenesis berlangsung rata – rata 74 hari . artinya ,perkembangan sel spermatogonium menjadi spermatozoa matang memerlukan waktu rata-rata 74hari . sementara itu pemasakan spermatosit menjadi sperma memerlukan waktu 2 hari . proses pemasakan spermatosit menjadi sperma dinamakan spermiogenesis dan terjadi di dalam epididimis.

Pada pria dewasa normal,proses spermatogenesis terus berlangsung sepanjang hidup,walaupun kualitas dan kuantitasnya menurun dengan bertambahnya usia.

  • Bagian – bagian sperma

Sperma dewasa terdiri dari tiga bagian,yaitu kepala,bagian tengah,dan ekor . kepala sperma mengandung nucleus.bagian ujung kepala ini mengandung akrosom yang menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menembus lapisan – lapisan sel telur pada waktu fertilisasi.bagian tengah sperma mengandung mitokondria yang menghasilkan ATP sebagai sumber energy untuk pergerakan sperma . ekor sperma berfungsi sebagai alat gerak .

  • Pembentukan telur (oogenesis)

Oogenesis terjadi di dalam ovarium . manusia mempunyai 2 ovarium . sejak masa fetus,ovarium telah mengandung lebih dari tujuh juta sel oogonium yang akan berkembang menjadi ovum.pada manusia , sel oogonium mengandung kromosom sebanyak 23 pasang atau 46 kromosom (diploid). Selama masa fetus , oogonium berkembang ukurannya dan menjadi oosit primer .

Pada saat bayi wanita dilahirkan oosit primer jumlahnya kira – kira tinggal 1 juta. Selama masa kanak – kanak oosit primer mengalami masa istirahat hingga mencapai usia pubertas.

  • Proses oogenesis

Pada masa pubertas oosit primer melakukan pembelahan meiosis I menghasilkan satu sel oosit sekunder yang besar dan satu sel badan kutub pertama (badan polar primer) yang lebih kecil. Perbedaan bentuk ini disebabkan sel oosit sekunder mengandung hampir semua sitoplasma dan kuning telur, sedangkan sel badan kutub pertama hanya terdiri dari nucleus saja. Oosit sekunder ini mempunyai jumlah kromosom setengah dari kromosom oosit primer,yaitu 23 kromosom (haploid) .

Dalam pembelahan meiosis II,oosit sekunder membelah diri menghasilkan satu sel ootid yang besar dan satu badan kutub kedua (badan polar sekunder). Ootid yang besar tersebut mengandung hampir semua kuning telur dan sitoplasma. Pada saat yang sama ,badan kutub pertama membelah diri menjadi dua badan kutub . selanjutnya ootid tumbuh menjadi sel telur (ovum) yang mempunyai 23 kromosom (haploid). Sedangkan ketiga badan kutub kecil hancur sehingga setiap oosit primer hanya menghasilkan satu sel yang fungsional. Sel telur (ovum) yang besar itu mengandung sumber persediaan makanan , ribosom,RNA, dan komponen – komponen sitoplasma lain yang berperan dalam perkembangan embrio. Sel telur yang matang di selubungi oleh membrane corona radiate dan zona pelusida.

Oogenesis hanya berlangsung hingga usia 40 sampai 50 tahun . setelah wanita tidak mengalami menstruasi lagi (mengalamimenopause) sel telur tidak dihasilkan lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ALAT DAN BAHAN

2.1  Alat

Adapun alat-alat yang digunakan dalam pembuatan alat peraga gametogenesis adalah:

  1. Seperangkat kabel
  2. Triplek 180 cm x 90 cm
  3. Balok kayu 180 cm x 90 cm
  4. Plastik transparan  penutup
  5. Lem fox
  6. Gunting
  7. Pisau / Cutter
  8. Palu
  9. Paku
  10. Lem flanel

 

 

2.2  Bahan

Adapun bahan-bahan  yang digunakan dalam pembuatan alat peraga gametogenesis adalah:

  1. Bola  mini warna
  2. Kawat analogi benang spindel
  3. Flanel 2.5 m  sebagai background
  4. Malam (analogi Kromosom)
  5. Bola Lonjong (analogi Sperma)
  6. Bola ukuran sedang sebagai spermatosit dan oosit
  7. Lampu led dan perangkatnya
  8. Tulisan pada keterangan gametogenesis

 

 

BAB III

CARA KERJA ALAT

Berikut adalah cara kerja alat peraga kami:

 

  1. Hubungkan kabel ke stop kontak listrik .
  2. Secara otomatis komponen oogenesis & spermatogenesis yang dipasang lampu akan menyala 1 per 1 secara bergantian berdasarkan proses terjadinya ,namun terjadi ketidak sesuaian antara rencana desain alat dengan pelaksanaan.Lampu led yang dirangkai oleh tukang listrik yang kami tunjuk tidak menyala secara bergantian namun menyala secara bersamaan.Kami pada awalnya telah meminta agar lampu menyala secara bergantian namun jika meminta menyala bergantian sebanyak 34 buah lampu diperlukan regulator atau pengatur yang harganya kurang lebih 300 ribu.Untuk meminimalisisr biaya maka kelompokok kami memutuskan agar lampu dirangkai untuk menyala secara bersamaan dan berkedip bersamaan.Namun setelah pesanan pemasangan kami selesai oleh tukang listrik dibuat menyala bersamaan tanpa berkedip.Kami kecewa karena tidak sesuai dengan harapan.Kelompok kami berkonsultasi pada dosen pengampu mata kuliah Biologi Terapan 3 mengenai masalah tersebut.Kemudian dosen kami memberikan masukan untuk tidak mengganti rangkaian karena akan menambah biaya dan waktu yang lama sedangkan pameran segera dilaksanakan.Solusi dosen kami adalah untuk menambahkan keterangan tulisan penanda proses gametogenesis.Jadi lampu led yang berhasil dirangkai dengan nyala bersamaan tanpa berkedip berfungsi sebagai pembeda oogenesis dan spermatogenesis.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

CARA PEMBUATAN ALAT

 

Berikut adalah cara pembuatan alat peraga gametogenesis:

  1. Membuat Balok kayu +kaca penutup (kaca bisa di bongkar pasang) ,Namun pada saat pelaksanaan, balok yang kami pesan kepada teman kami ternyata balok kayu yang berupa kayu sirap yang masih muda sehingga diperlukan waktu untuk mengeringkannya.Saat perangkaian balok kayu tersebut, ternayata sangat berat sehingga kelompok kami memutuskan untuk menggunakan triplek sebagai dasar dan di 4 sisinya dibubuhi balok kayu agar alat kami tidak berbobot berat dan mempermudah untuk dibawa kekampus saat pameran alat peraga.
  2. Bola mini dan bola berukuran sedang  yang ber warna dipotong menjadi 2 bagian ,
  3. Merangkai kawat (analogi spindel) + dipasang kawat untuk beberapa bola sebagai analogi benang spindel,
  4. Merekatkan flanel berukuran 2,5 m dengan menggunakan lem flanel pada bagian atas triplek yang berfungsi sebagai background
  5. Merekatkan bola-bola yang telah disiapkan sesuai dengan urutan gametogenesis dengan menggunakan lem fox
  6. Lampu dimasukkan pada potongan bola mini warna sebanyak komponen gametogenesis,

 

  1. Membuat rangkaian listrik yang menghubungkan  lampu pada bola-bola tersebut,
  2. Memberi keterangan pada komponen Gametogenesis .

Untuk pembuatan balok kayu dan pemasangan lampu dibantu oleh tukang listrik dan Ayah dari anggota kelompok kami.

 

 

 

 

 

 

BAB V

 

GAMBAR ALAT

 

 

 

 

 

Gambar1: rancangan alat dari literatur

 

Gambar 2: rencana papan sebagai tempat pelekatan bola-bola

 

Gambar 3: papan dari gambar 2 diselimuti kain flanel dan dicoba di susun sebagai model gametogenesis

 

Gambar 4: bola-bola perangkatkat gametogenesis direkatkan pada balok kayu yang dibuat pada tahap kedua

 

 

 

Gambar 5: alat peraga setengah jadi

 

Gambar 6: model gametogenesis setengah jadi pada saat lampu dinyalakan

 

Gambar 7: model gametogenesis dengan keterangannya tanpa dipasang plastik penutup

 

 

 

 

Gambar 8: alat peraga dengan penutup kaca baik saat listrik nyala maupun saat listrik mati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

RANCANGAN DAN REALISASI BIAYA PEMBUATAN ALAT

 

6.1 Rancangan  Biaya Pembuatan                        :

No Nama Alat & Bahan Biaya Pembuatan
1 Seperangkat kabel
  1. 10.000,00
2 Lampu mini warna
  1. 40.000,00
3 Triplek 2×3 m
  1. 25.000,00
4 Balok kayu + kaca penutup
  1.                    90.000,00
5 Lem fox
  1. 12.500,00
6 Gunting
  1. 5.000,00
7 Kawat (analogi spindel)
  1. 12.500,00
8 Pisau / cutter
  1.          5.000,00
9 Bola mini warna 1 set
  1. 35.000,00
10 Bola lonjong 4 buah
  1.  Rp.                              10.000,00
11 Cat warna
  1. 15.000,00
12 Malam (analogi kromosom)
  1.                       4.000,00
  TOTAL
  1. 264.000,00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.1 Realisasi Biaya Pembuatan

 

No Nama Alat & Bahan Biaya Pembuatan
1 Bola mini 9 buahx @ 900
  1.             9.000,00
2 Lampu mini warna plus biaya pemasangan
  1.  100.000,00
3 Triplek 180cm x 90 cm
  1.                              50.000,00
4 Balok kayu
  1. 50.000,00
5 Lem fox
  1.                  9.000 ,00
9 Gunting
  1. 5.000,00
7 Kawat (analogi spindel)
  1.   2.500,00
8 Pisau / cutter
  1. 5.000,00
9 Mainan buah-buahanx@ 7500
  1.                   15.000,00
10 Bola plastik ukuran sedangx @ 1500
  1.  Rp.                                3.000,00
11 Flanel 3,5 m plus lem
  1. Rp.                               39.500,00
12 Malam (analogi kromosom)
  1.   3.000,00
13 Desain dan cetak nama model gametogenesis
  1. 16.000,00
14 Plastik transparan 2 m
  1. 21.000,00
  TOTAL
  1.             328.000,00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Hanjati.2008.LKPD BIOLOGI kelas XII semester 1. Gending : SMAN 1 Gending.
  • Pratiwi dkk.2007. Biologi untuk SMA kelas XII. Jakarta : Erlangga
  • Saktiyono.2006.Seribu Pena Biologi untuk SMA / MA kelas XII. Jakarta : Erlangga .

 

 

By aimarusciencemania

laporan hasil wawancara pengembangan program pengajaran

LAPORAN HASIL WAWANCARA

 Pengembangan Program Pengajaran Biologi

Disusun Untuk Memenuhi Tugas

 Pengembangan Program Pengajaran Biologi

Yang Dibina Oleh Dra.Sawitri Komarayanti M.S

 

Oleh:

Kelompok 4 (SMA IV-2 KARTIKA JEMBER)

Aini Maskuro                                      (0910211107)

Serlly Dita Lestari                               (0910211105)

Edhisma Shiekta                                 (0910211103)

M.Juri                                                  (0910211097)

Rahmatika Wulansari                        (0910211085)

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

Januari , 2012

 

BAB I

PROFIL GURU

 

1.1  Profil guru Biologi sampel 1 SMAN 1 Bondowoso

NAMA GURU                 : Nurul  Hidayati S.Pd

ALAMAT RUMAH         :Jalan Letnan Rantam gang Nyamplong Bond Bondowoso

TELP/HP                          :085236290077

PENDIDIKAN                : S1 Pendidikan Biologi Universitas Jember

LAMA MENGAJAR       : 21 Tahun

PENGALAMAN             : KURSUS       : -

PELATIHAN:

 

 

1.2  Profil guru Biologi sampel 2 SMA IV-2 Kartika Jember

NAMA GURU                       : Ratna Indah Sholehah, S.Pd

ALAMAT RUMAH               :Jalan Thamrin No.34 Ajung Jember

TELP/HP                                :085236035871

PENDIDIKAN                      : S1 Pendidikan Biologi Universitas Jember

LAMA MENGAJAR             : 5 Tahun

PENGALAMAN                   : KURSUS       : -

PELATIHAN:

  1. Pelatihan ESD dan MSPD 2011 di STM Jember
  2. Pelatihan KTSP 2007 di SMAN 5 Jember
  3. Pelatihan KTSP 2008 di SMAN 5 Jember

 

 

 

 

 

 

BAB II

PERTANYAAN  DAN  JAWABAN HASIL WAWANCARA

PENGEMBANGAN PROGRAM PENGAJARAN BIO

 

2.1   Standart Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD)

  1. Bagaimana mengkaitkan antara SKKD dengan materi pembelajaran?

Mengkaitkan antara SKKD dengan materi pelajaran yaitu dengan cara berpedoman pada kurikulum. Kurikulum yang digunakan adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Pada kurikulum Standart Kompetensi dan Kompetensi dasar setiap materi pelajaran Biologi telah tertera namun yang dikembangkan oleh guru adalah pengalaman atau kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi sekitar siswa (Contekstual Teacher Learning). Karena SMA IV-2 Kartika Jember terletak di sekitar kota Jember yang identik dengan khas oleh-oleh suwar suwir, agar CTL tercover maka guru memberikan pengalaman belajar yang tepat yaitu saat penjelasan topik jamur, guru mempraktekkan materi jamur tersebut dengan pengamatan pada salah satu tempat produksi suwar suwir.

 

  1. Kata-kata operasional mana yang lebih sering dipakai berdasarkan pengalaman mengajar dalam penyusunan RPP agar tercover dalam Kompetensi Dasar?

Kata-kata operasional yang sering digunakan adalah memahami, menjelaskan, mengklasifikasikan dan kata-kata operasional lainnya. Semua kata-kata operasional yang digunakan disesuaikan dengan kategori materi pelajaran yang akan diajarkan.

 

  1. Bentuk SKKD apa yang sulit dicapai siswa?

Berdasarkan pengalaman mengajar guru Biologi Selama 5 tahun tidak didapati SKKD yang secara global sulit untuk dicapai karena penilaian yang dilakukan  kurang lebih 85% siswa telah tuntas untuk setiap SKKD yang diajarkan di kelas X dan XI

 

 

 

  1. Upaya apa yang dilakukan guru apabila SKKD tidak dicapai siswa?

Apabila didapati siswa yang tidak mencapai SKKD maka guru Biologi mengambil tindakan untuk dilakukan remidi Ulangan Harian dengan pemberian tugas secara kelompok berupa makalah dan untuk remidi UAS terjadwal oleh sekolah pada setiap mata pelajaran.

 

2.2. INDIKATOR DAN TUJUAN

  1. Bagaimana cara mensinkronkan indikator dengan penilaian?

Untuk mensinkronkan antara indikator dan penilaian diperlukan kejelian dalam  menyetarakan penyusunan dan penyebaran item soal instrument penilaian dengan jumlah indikator yang terdapat pada RPP yang telah dibuat. Maksudnya apabila pada RPP terdapat 4 macam indikator maka instrument  penilaian hanya mengembangkan 4 macam indikator tersebut.

 

  1. Bagaimana teknik penyusunan dan pengembangan indikator afektif untuk mencapai tujuan pembelajaran biologi?

Teknik penyusunan dan pengembangan indikator afektif untuk menyapai tujuan pembelajaran Biologi adalah dengan melihat sikap siswa agar tujuan pembelajaran yang disisipi karakter bangsa dapat tercapai. Sikap yang dimaksud adalah keaktifan saat mengikuti pembelajaran rasa ingin tahu, saling menghormati, jujur, religius, gotong royong dan lain sebagainya.

 

  1. Bagaimana merumuskan indikator yang sesuai dengan karakter siswa yang berkaitan dengan SKKD?

Untuk merumuskan indikator agar sesuai dengan karakter siswa yang berkaitan tentang pencapaian SKKD adalah dengan berpedoman pada kurikulum dan silabus yang terbaru yaitu kurikulum dan silabus karakter bangsa. Dengan adanya karakter siswa yang heterogen namun untuk mencapai SKKD agar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang berkarakter bangsa diperlukan strategi pembelajaran yang tepat.

 

2.3     MATERI AJAR

  1. Bagaimana cara  mensiasati suatu materi ajar agar siswa mampu menangkap dan memahami materi tersebut?

Banyak cara yang dijadikan alernatif  guru agara siswa mampu menangkap dan memahami materi pelajaran misalnya dengan cara pembuatan peta konsep yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep materi yang pelajaran yang diajarkan, pembelajaran Biologi tidak lepas dengan pengamatan dan praktikum maka guru memanfaatkan lingkungan sekitar siswa sebagai sumber belajar biologi agar pembelalajaran dapat mencapai CTL (Contekstual teacher Learning)

 

  1. Bagaimana teknik penyusunan materi ajar dengan kombinasi beberapa literatur, cara menyeleksi isi dari literatur tersebut bagaimana agar tidak menyimpang dari tujuan pembelajaran?

Untuk penyusunan materi ajar dengan kombinasi beberapa literature agar dapat menyeleksi isi materi agar tidak menyimpang dari tujuan pembelajaran adalah dengan mengadakan analisis materi ajar sesuai dengan SKKD atau tidak kemudian apabila sudah sesuai maka langkah selanjutnya adalah guru membuat peta konsep dengan memadukan konsep dari 1 buku dengan buku lain namun dengan topik yang relevan dengan materi ajar.

 

  1. Bagaimana cara membagi cakupan isi materi pembelajaran dengan alokasi waktu yang ada?

Cara membagi cakupan isi materi pembelajaran dengan alokasi waktu yang ada yaitu dengan berpedoman pada silabus pembelajaran Biologi. Namun apabila di khawatirkan waktu tidak sesuai maka guru hanya menjelaskan pokok-pokok dari materi ajar melalui peta konsep yang telah dibuat.Untuk selanjutnya guru memberikan penugasan studi literatur dengan pemberian tugas makalah kepada peserta didik.

 

  1. Apakah setiap penyampaian materi pembelajaran sudah mencerminkan ketercapaian tujuan pembelajaran?

Biasanya penyampaian materi pembelajaran sudah mencerminkan ketercapaian tujuan pembelajaran, terbukti dengan adanya observasi praktek langsung pada pokok bahasan jamur dengan studi langsung ke lapang pembuatan suwar suwir kemudian siswa ditugaskan secara kelompok untuk membuat tape dari ketela pohon yang biasa disebut suwar suwir. Dan hasilnya siswa dapat mempraktekkan dengan baik cara pembuatan tape dengan konsep fermentasi dan sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang termuat dalam RPP (terlampir)

 

  1. Jika masih belum mencerminkan tujuan pembelajaran langkah-langkah apa saja yang diambil guru?

Karena secara umum sudah dapat mencerminkan tujuan pembelajaran langkah selanjutnya adalah meneruskan topik lain sesuai dengan program semester dan tahunan yang telah disusun (prota dan prosem terlampir)

 

2.4   STRATEGI PEMBELAJARAN

  1. Bagaimana menyesuaikan strategi pembelajaran yang digunakan dengan materi ajar?

Menyesuaikan materi ajar dengan  strategi  pembelajaran adalah dengan cara menggunakan strategi yaitu model dan metode setra pendekatan yang sesuai dengan materi ajar saat akan diajarkan contoh : materi ekosistem hewan laut maka siswa langsung  diarahkan oleh guru untuk melakukan pengamatan awetan hewan laut yang tersedia di laboratorium

 

  1. Bagaimana efek  terhadap kegiatan siswa dari  penggunaan multi metode untuk mendukung model pembelajaran yang digunakan?

Adapun efek kegiatan pembelajaran dengan menggukan multi metode adalah siswa sangat antusias saat mengikuti kegiatan pembelajaran,penguasaan materi sangat mengena terbukti saat guru memberikan   pertanyaan , siswa antusias untuk langsung menjawab, karena dengan praktikum secara langsung siswa dapat mengamati, memegang objek secara langsung sehingga lebih mudah mengingatnya.

 

  1. Bagaimana keefektifan penggunaan multi metode tersebut terhadap kegiatan pembelajaran?

Penggunaan multi metode terhadap kegiatan pembelajaran Biologi sangat baik respon siswa saat mengikuti KBM

 

  1. Berdasarkan pengalaman mengajar, Strategi pembelajaran apa yang biasanya dapat menarik antusias siswa dalam mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)?

Strategi pembelajaran yang biasa menarik antusiasme siswa dalam mengikuti KBM adalah metode praktikum, kuis lempar pertanyaan dan card short.

Mekanisme model pembelajaran card short:

  • tiap anak berhitung 1-5  DALAM 1 KELAS
  • yang dapat no 1 kumpul dengan no 1 guru mempunyai kertas yang berisi topik tertentu dilempar secara acak
  • guru membuat pertanyaan yang dibuat pada kertas manila contoh topic  KINGDOM, misal klp 1 mendapat monera maka klp 1 hrs menjwb
  • siswa sangat antusias dalam mengikuti KBM

 

Mekanisme model kuis system lempar pertanyaan

  • Sistem lempar pertanyaan bila tdk   menjawab maka siswa dapat point 4
  • jika tidak bisa menjawab -1
  • teman lain bisa jawab maka 2 kasih pertanyaan ke yang lain rebutan
  • siswa nilai tertinggi ditambah nilainya atau hadiah coklat jika langsung bs menjawab dapat nilai  5

 

  1. 5.      Apa tindakan guru yang diambil, apabila model/metode yang digunakan tidak menciptakan KBM yang kondusif?

Apabila pembelajaran boring / tidak kondusif guru dapat memberikan inter mezzo  dengan menceritakan pengalaman saat penelitan , saat micro teaching , saat PPL,  kadang dengan lempar pertanyaan.Jika siswa mulai tertarik  maka guru kembali ke penjelasan materi pelajaran.

 

2.5  LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

1)      Bagaimana mengkaitkan skenario pembelajaran dengan alokasi waktu yang ada?

Untuk mengkaitkan skenario dengan alokasi waktu yang ada  guru harus berpedoman pada silabus pembelajaran Biologi karena ada silabus telah tertera alokasi yang disiapkan untuk topik materi pembelajaran

 

2)      Bagaimana cara menyusun skenario pembelajaran agar menjadi PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif Dan Menyenangkan)?

Untuk menyusun skenario pembelajaran yang PAIKEM maka guru mengarahkan siswa untuk membentuk kelompok dengan salah satu model card short seperti yang dijelaskan diatas. Siswa diberikan masalah kemudian siswa berdiskusi dengan masing-masing kelompoknya untuk memecahkan masalah kemudian guru meminta perwakilan kelompok sampel untuk presentasi di depan kelas kelompok lain menyimak dan pada fase akhir siswa bersama-sama guru menyimpulkan bersama mengenai hasil akhir yang menjadi kasus.

 

3)      Apa kendala yang ditemui saat pelaksanaan skenario pembelajaran?bagaimana upaya untuk menanggulanginya?

Kendala yang dihadapi adalah membutuhkan waktu yang agak lama saat presentasi karena ada siswa yang sibuk dengan kegiatannya sendiri siswa belum siap dengan topik yang menjadi kasus denagan alasan belum membaca materi adapun cara menanggulanginya adalah dengan membatasi waktu untuk diskusi dan presentasi serta member peringatan pada siswa pembuat gaduh dan memberikan penugasan sebelumnya untuk membaca materi dan memberikan motivasi kepada siswa.

 

4)      Apakah langkah-langkah pembelajaran yang telah disusun sudah dapat merangsang pembentukan karakter siswa? jika tidak upaya apa yang dilakukan oleh guru?

Sudah mulai terbentuk  karakter siswa dengan short card yaitu rasa ingin tahu pada siswa dengan adanya system lempar pertanyaan rasa ingin tahu sudah mulai ada dengan adanya diskusi karakter sudah terbentuk yaitu menghargai pendapat orang lain.

 

5)      Bagaimana cara memunculkan masalah baru diakhir pembelajaran agar rasa ingin tahu  dan sikap kritis siswa meningkat?

Dengan cara sistem studi kasus diakhir pertanyaan siswa ditugaskan untuk studi literatur kemudian siswa ditugaskan untuk meresumnya dan membuat pertanyaan dari hasil studi ke literatur untuk dibahas pada pertemuan selanjutnya.

 

2.6  ALAT BAHAN DAN MEDIA

1)      Bagaimana pengaruh penggunaan media belajar biologi terhadap hasil  belajar siswa?

Keefektifan penggunaan alat peraga eksperimen hewan laut siswa mampu memahami materi karena mudah mengingat bisa melihat menyentuh secara langsung. Hasil ulangan harian lumayan bagus.

 

2)      Apa alternatif tambahan yang diambil guru apabila media pembelajaran bio tidak tersedia di sekolah?

Alternatif yang digunakan adalah dengan penugasan kepada siswa secara kelompok untuk mencari media gambar misal organ mata telinga, mata dan lain-lain. Memang tidak pernah membuat alat peraga baik dengan siswa maupun membuat sendiri namun guru hanya memanfaatkan alat peraga yang ada di lab.

 

2.7  PENILAIAN

1)      Bagaimana cara menyikapi siswa yang berbeda karakter dalam menilainya?

Cara menyikapinya melalui pendekatan psikis jarena guru tidak hanya bertugas sebagai  evaluator saja namun juga sebai konselor dan motivator  pada siswa yang berbeda karakter yang disebabkan berbeda latar belakang sosial ekonomi budaya dan lain-lain.

 

2)      Dalam proses penilaian cara apa yang dipakai untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa sesuai indikator?

Cara menilai kemampuan siswa yang berbeda untuk mengetahui tingkat kemampuan dan pengetahuan siswa sesuai atau tidak dengan indikator adalah dengan menggunakan soal essay pada saat Ulangan Harian hal ini terlihat dari  cara anak yang menjawab soal esay dengan tepat dan tidak ngeplek buku. Soal esay agar siswa terampil dalam menyusun kata-kata. Mengoreksi susah di antisipasi dengan adanya bobot soal dari mudah hingga sulit.

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

2.8   Deskripsi preparasi pelaksanaan wawancara 

Kelompok 4 mengadakan persiapan sebelum pelaksanaan observasi, adapun preparasi atau persiapan yang dilakukan oleh kelompok kami adalah:

  1. Meminta surat pengantar dari pengajaran FKIP Universitas Muhammadiyah Jember pada hari Jum’at tanggal 16 Desember 2011. Kebetulan surat pengantar bisa  langsung ditunggu untuk jadi dalam waktu 10 menit.
  2. Kurir kelompok kami adalah 2 orang dari Kelompok kami yaitu M. Juri dan Rahmatika Wulansari mengantar surat pengantar yang telah siap ke SMAN 1 Bondowoso pada hari Sabtu Tanggal 17 Desember 2011.
  3. Setiba di SMAN 1 Bondowoso yang beralamat Jalan Curah Dami 294 Bondowoso. Kurir kelompok Kami menemui TU untuk mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Kemudian staf TU memanggil guru Biologi yang dimaksud yaitu ibu Nurul.
  4. Mengadakan lobbying untuk menentukan waktu wawancara dan didapat hasil untuk rembuk antara ibu Nurul dengan kedua kurir kelompok kami yaitu waktu wawancara jatuh pada hari Selasa tanggal  20 Desember 2011 pada pukul 09.00 WIB
  5. Semua anggota kelompok berangkat ke Bondowoso pada hari senin tanggal 19 Desember 2011  pukul 17.00 WIB dengan mengendarai sepeda motor. Anggota kelompok perempuan yang berjumlah 3 orang menginap di rumah salah satu anggota kelompok kami yaitu rumah Rahmatika, sedangkan untuk anggota kelompok laki-laki kembali ke Jember. Alasan kelompok kami berangkat lebih awal dan bermalam disalah satu rumah anggota kelompok kami adalah agar ke esokan paginya bertepatan waktu pelaksanaan wawancara kami tidak terlambat dan mengurangi resiko kelelahan jika pagi hari berangkat dari Jember.

 

2.9   Hal-hal yang dtemui saat pelaksanaan wawancara

Kelompok wawancara mengadakan wawancara dengan salah satu guru Biologi SMAN 1 Bondowoso dengan alasan:

  1. SMA yang bonafit di Jember telah terbooking dari kelas A
  2. Sebagai perbandingan kualitas/mutu guru dan sekolah yang ada di Jember dan di luar kota (Bondowoso)
  3. Kebetulan salah satu anggota kelompok kami merupakan alumni SMAN 1 Bondowoso, harapan kami dengan adanya alumni di SMAN 1 Bondowoso dapat mempermudah memperoleh informasi dan peminjaman berkas-berkas yang berhubungan dengan perangkat mengajar guru untuk kelengkapan laporan kelompok kami.

 

Ketiga penjelasan di atas menjadi alasan pemilihan SMAN 1 Bondowoso dijadikan sebagai sampel wawancara. Namun fakta di lapangan tidak seperti yang kami harapkan karena guru yang kami wawancarai ternyata tidak dapat memberikan informasi yang kami harapkan. Hal tersebut dikarenakan waktu wawancara bertepatan dengan perekapan nilai untuk  pembagian raport. Hal ini membuat guru menjadi sibuk dan staf sekolah lainnya. Selain itu pada saat pelaksanaan wawancara guru tidak berkenan untuk diwawancarai karena melihat instrument wawancara yang akan disodorkan sangat banyak sehingga guru Biologi (Ibu Nurul ) mengeluh dan meminta kami untuk meninggalkan instrument wawancara untuk diisi di rumah beliau. Ketika kami menemui masalah tersebut maka, kami mau ataupun tidak mau kami harus menyerahkan instrument wawancara tersebut karena tidak ingin menyinggung perasaan Ibu Nurul. Meskipun demikian kenyataan yang didapat dilapangan tidak menyurutkan niat kami untuk berusaha melengkapi data yang dibutuhkan sebagai lampiran laporan kelompok kami. Adapun berkas yang kami butuhkan adalah: Kurikulum, silabus, contoh phortopholio, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan profil sekolah. Setelah bernegosiasi dengan staf  TU dan Waka Kurikulum kami hanya berhasil mendapatkan berkas berupa Kurikulum dan profil sekolah yang langsung difotokopi di Sekolah tersebut. Selain itu kami juga sempat menanyakaan kepada Ibu Nurul apakah setiap mengajar selalu menggunakan RPP, ibu Nurul mengaku bahwa beliau tidak membuat RPP setiap kali  mengajar. Dengan alasan yang kurang bisa diterima oleh logika mahasiswa FKIP Biologi yang memerlukan informasi dari pengalaman mengajar guru Biologi. Kami sangat kecewa karena kami tidak mendapatkan informasi yang bisa diserap guna sebagai referensi dan refleksi kelak setelah kami lulus dari bangku kuliah dan melaksanakan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan yaitu dengan menjadi seorang guru. Alasan beliau adalah beliau memang mulai menjadi guru selama 21 tahun  tidak pernah membuat RPP dan penilainya dengan sistem Ulangan Harian. Beliau langsung secara spontanitas membuat soal yang bersumber pada buku paket yang biasa di pakai dengan system pemberitahuan kepada siswa sehari sebelum diadakan evaluasi. Dengan ditemukannya fakta seperti itu bagaimana dapat memperoleh hasil belajar siswa yang optimum dan signifikan apabila cara pelaksanaan evaluasi dengan instrument soal yang dibuat secara spontanitas.

Setelah berkonsultasi dengan  dosen pengampu mata Kuliah Evaluasi dan Remidiasi Pembelajaran Biologi melalui sms dan saat mengikuti perkuliahan maka kami memutuskan untuk melakukan wawancara di sekolah lain dan kebetulan dosen kami mengijinkan. Kami memilih SMA Kartika IV-2 yang berada di Jl. KH. Wahid Hasyim No.14 Jember. Alasan kami memilih sekolah ini karena sekolah ini masih belum digunakan oleh kelompok lain, baik kelas A maupun kelas B. Meskipun kelompok kami belum mengetahui kualitas sekolah tersebut.

Guru biologi yang kami wawancarai adalah ibu Ratna Indah Sholehah, S.Pd. Sebelum melaksanakan wawancara kami juga mengadakan preparasi sebagai berikut:

  1. Meminta surat pengantar pada pengajaran Universitas Muhammadiyah Jember pada hari Kamis tanggal 22 Desember 2011 namun surat pengantar bisa diambil pada keesokan paginya
  2. Hari Jumat tanggal 23 Desember 2011 Kami mengambil surat pengantar di pengajaran FKIP dan pada pukul 11.30 perwakilan kelompok kami yaitu M.Juri dan Aini Maskuro langsung berangkat ke SMA Kartika IV-2 Jember yang beralamat di jalan K.H Wahid Hasyim no 14 Jember.
  3. Sesampainya di sekolah tersebut kami langsung menemui staf TU dan menyampaikan maksud dan tujuan kami mendatangi sekolah tersebut dan staf TU tersebut  mempersilahkan untuk menemui Kepala Sekolah dan akhirnya kami menemui kepala Sekolah dengan menyodorkan Surat Pengantar
  4. Pada saat itu guru Biologi yang akan kami wawancarai tidak sedang mengajar, dan untungnya kepala sekolah berkenan menelpon dan memberitahukan kepada guru Biologi bahwa sebentar lagi akan ada 2 mahasiswa Unmuh Jember yang akan mendatangi kediaman Beliau. Dengan demikian guru Biologi sudah tidak akan terkejut dengan kedatangan kami.
  5. Tepat Jam 12.00 WIB kami sampai di kediaman guru Biologi SMA IV-2 Kartika Jember yang bernama Ibu Ratna.
  6. Kami melakukan negosiasi dengan ibu Ratna berkaitan dengan waktu untuk diadakan wawancara dengan beliau. Dan didapat hasil lobbying dan negosiasi pelaksanaan wawancara akan berlangsung di Kediaman Ibu Ratna pada hari Sabtu Tanggal 31 Desember 2011 pukul 8.00 WIB.

 

Setelah saat wawancara tiba, Kami melakukan wawancara di kediaman beliau di Jalan Thamrin No.34 Ajung Jember. Disana selain melakukan wawancara kami juga meminta contoh RPP serta soal UAS kelas X SMA IV-2 Kartika. Karena sekolah masih libur maka kami membuat janji dengan beliau untuk bertemu lagi di SMA Kartika setelah liburan usai.

Saat berkunjung ke SMA IV-2 Kartika pada hari Senin tanggal 9 Januari 2012 pukul 8.45 WIB kelompok kami tiba di SMA IV-2 Kartika, dan kami melakukan sedikit wawancara lagi untuk melengkapi data yang kami perlukan. Setelah itu kami meminta profil sekolah kepada staf TU. Kami juga melakukan dokumentasi dengan mengambil beberapa foto mulai dari proses wawancara, kondisi sekolah, kegiatan proses kegiatan belajar mengajar, dan kondisi laboratorium.

 

3.3  Kondisi sekolah baik secara fisik dan non fisik

3.3.1  Kondisi Sekolah secara Fisik

Kondisi fisik sekolah yang kami jadikan sampel observasi yang kedua sangat berbeda sekali dengan sampel observasi pertama yaitu SMAN 1 Bondowoso karena secara status SMA IV-2 Kartika Jember merupakan sekolah swasta yang dibawah naungan yayasan Brawijaya Kodim dengan status disamakan berbeda dengan SMAN 1 Bondowoso yang merupakan sekolah negeri dibawah naungan DIKNAS. Berikut tabel perbandingan kondisi fisik dari kedua sampel observasi tersebut:

 

No Parameter pembanding SMAN1 Bondowoso SMA IV-2 Kartika Jember
1 Kondisi bangunan Lumayan megah dan kuat tanpa ada bercak lumut pada tembok Terkesan kuno terdapat bercak pada sebagian besar tembok
2  Luas tanah dan bangunan

 

Luas tanah seluruhnya 10.600 m2 bangunan: 3.675 m2 halaman 3.983 m2 lapangan olah raga 1.916 m2 lainnya 1.026 m2 Tanah 1064 m2

Bangunan 662 m2

Halaman 276 m2

Lapangan olah raga 450 m2

Kebun 50 m2

Lain-lain 1112 m2

3 Kategori lab Terdapat pemisahan lab bio, kimia dan fisika Lab bio, kimia dan fisika gabung menjadi 1 dalam lab IPA

 

4 Sarana dan prasarana dalam kelas Sangat menunjang papan white board terdapat atlas bio hasil karya poster-poster edukasi Hanya terdapat papan tulis hitam
5 Keadaan lab

Menunjang pembelajaran bio karna terdapat pemisahan kategori lab(foto terlampir tampak berjejer)

Kurang menunjang karena alat peraga sangat minim yang dibeli sekolah dan lab kurang efektif karena bio, kimia dan fisika gabung menjadi 1 ruang
6 Jumlah guru Berdasarkan laporan individu menengah jumlah guru pada tahun ajaran 2011/2012 secara keseluruhan adalah 44 orang (24 orang guru laki-laki dan 20 orang guru perempuan) Berdasarkan profil Sekolah Menengah Atas Tahun 2011/2012

Jumlah sebgai berikut:

  1. PNS 4 ORANG
  2. Guru tetap yayasan 2 orang
  3. Guru honorer 15 orang
  4. Guru sertifikasi 5 orang

 

7 Jumlah siswa Berdasarkan laporan individu menengah jumlah siswa pada tahun ajaran 2011/2012 adalah 149 siswa dan 102 siswi total 251 orang Berdasarkan profil SMA IV-2 Kartika Jember

Secara keseluruhan adalah: 135 orang

Keterangan: untuk dokumentasi laboratorium di SMAN 1 Bondowoso hanya dari luar dan tidak dapat mengambil gambar laboratorium dari dalam ruangan karena kunci dibawa petugas yang sedang tidak masuk

Hal serupa juga terjadi saat engambilan gambar laboratorium IPA di SMA IV-2 Kartika Jember namun bagian dalam masih dapat diambil gambarnya karena jendela dalam keadaan terbuka.

 

Kondisi Sekolah Secara Non fisik

Meskipun SMA IV-2 Kartika tergolong SMA swasta namun guru-guru dan warga sekolah lainnya sangat antusias dan kooperatif dalam melaksanakan kegiatan yang menunjang dengan adanya proses belajar mengajar. Hal ini terbukti dengan adanya  KBM berlangsung mulai pukul 7.15 WIB dan berakhir 12.30 WIB. Salah satu guru Biologi disana yang menjadi nara sumber dalam wawancara oleh Kelompok kami mulai membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang didalamnya juga dijelaskan instrument evaluasi yang akan digunakan meskipun belum ada perbaikan dari tahun 2009 hingga 2011 namun pada tahun ajaran baru ini guru Biologi akan mulai merombak RPP yang didalamnya juga memuat alat evaluasi dengan tujuan agar pembelajaran Biologi yang telah dilaksanakan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Di SMA IV-2 KARTIKA Jember ini masih menggunakan Kurikulum yang berlebel KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) mulai  tahun 2007 versi lama  seusai guru Biologi (Ibu Ratna) mengikuti pelatihan KTSP di SMAN 5 Jember. Pelatihan KTSP masih berlanjut pada tahun 2008 di tempat yang sama demi meningkatkan kepahaman dan pengetahuan guru Biologi mengenai KTSP ibu Ratna dipercaya untuk mengikuti pelatihan tersebut. Pelatihan mengenai Kurikulum yang berlebel KTSP terus digalakkan oleh DIKNAS terbukti dengan mulai dikeluarkannya Kurikulum KTSP terbaru yang mensisipkan Karakter Bangsa mulai tahun 2011. Ibu Ratna masih dipercaya mengikuti workshop KTSP Karakter Bangsa yang juga dilaksanakan oleh DIKNAS di gedung serbaguna Sartiajeng Kartika, Kaliwares, Jember. Namun untuk SMA IV-2 Kartika Jember masih belum mendapatkan KTSP Karakter Bangsa dikarenakan di SMA tersebut masih akan menyusul untuk mendapatkannya. Ibu Ratna juga tidak memberikan alasan mengapa atau penyebab sampai sekarang format KTSP Karakter Bangsa masih belum diberikan kepada Waka Karikulum SMA IV-2 Kartika Jember. Kelompok kami akan berusaha untuk mendapatkan format Kurikulum  dan Silabus Karakter Bangsa dari SMA IV-2 Kartika Jember meskipun Ibu Ratna tidak menjanjikan kapan format Kurikulum  dan Silabus Karakter Bangsa akan sampai di SMA IV-2 Kartika Jember. Meskipun demikian anggota Kelompok kami sudah memiliki contoh silabus yang menyisipkan Karakter Bangsa dari SMAN 1 Gending-Probolinggo  sebagai perbandingan juga sebagai lampiran di laporan kelompok kami  dan juga sebagai referensi kami untuk penyususnan RPP dan sistem penilaian berdasarkan Silabus Biologi yang berkarakter bangsa.

Adapun proses kegiatan Belajar Mengajar Biologi di SMA IV-2 Kartika Jember tidak dapat kami dokumentasikan karena pada saat kami melakukan dokumentasi hari Senin 9 Januari 2012 ibu Ratna sedang tidak ada jam mengajar di Kelas sebagai alternative, kami melakukan dokumentasi untuk kelas XI IPA yang sedang mengerjakan soal post test dari guru matematika (foto terlampir). Namun KBM Biologi berdasarkan hasil wawancara kami dengan ibu Ratna, di kelas X, dan XII IPA yang ibu Ratna ajar tergolong kelas normal. Maksudnya adalah saat KBM pasti terdapat siswa yang menyebabkan ramai dan tidak fokus pada kegiatan pembelajaran. Tindak lanjut yang dilakukan guru dengan memberi peringatan dan arahan serta motivasi agar kelas yang ramai dan tidak fokus tersebut dengan pemberian intermezzo berupa menceritakan pengalaman ibu Ratna saat penelitian, PPL, dan Microteaching . Apabila kelas sudah mulai tenang dan fokus kembali pada penjelasan materi saat itu berlangsung. Selain itu hasil KBM berhasil atau tidak baik atau tidak dapat tercermin dari hasil evaluasi Ulangan Harian, Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester.

Sebagian besar dari 24 siswa kelas X sudah dapat mencapai Kriteria Ketuntasan  Minimum Biologi kelas X yaitu 70 pada UAS Ganjil 2011 (soal ganjil tahun sebelumnya terlampir) hanya 4 siswa yang tidak tuntas untuk kelas XII IPA dari jumlah 20 Siswa sudah dapat mencapai KKM yaitu 72 hanya 3 siswa yang tidak tuntas di UAS ganjil  Biologi. Tindak lanjut untuk siswa-siswa yang belum mencapai KKM adalah dengan  remidi yang pelaksanaannya dijadwal oleh sekolah setelah UAS berakhir dengan tenggang waktu seminggu setelah UAS. Namun untuk KKM Biologi kelas XII adalah 74 terdapat perbedaan kuantitas KKM untuk setiap tingkatan kelas dengan alasan karena untuk tingkatan kesulitan  materi yang ada di masing-masing kelas berbeda semakin tinggi kelas yang diduduki siswa maka semakin tinggi pula bobot  materi Biologi yang harus ditempuh.

Untuk perbandingan  kondisi non fisik sampel objek wawancara di SMAN 1 Bondowoso kelompok kami tidak berhasil mendapatkan informasi meskipun instrument yang kami buat ditinggal untuk diisi di rumah Ibu Nurul. Karena banyak item pertanyaan yang tidak dijawab terbukti dengan lembar instrument wawancara (terlampir)

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

 

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan:

Kondisi fisik dari 2 sampel sekolah yang berbeda status sangat berbeda yaitu jauh lebih baik di sampel pertama, namun untuk kondisi non fisik identik dan cenderung lebih baik di sampel kedua. Jadi KBM pembelajaran Biologi di SMA IV-2 Kartika Jember cenderung lebih baik dibandingkan dengan di SMAN 1 Bondowoso. Begitu pula kualitas guru di sampel pertama meskipun pengalaman mengajar 25 tahun cenderung kurang baik dan cenderung lebih malas  membuat instrument evaluasi belajar dengan sistematis dibandingkan dengan guru Biologi  di SMA IV-2 Kartika Jember yang pengalaman mengajar masih 5 tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran foto dokumentasi

 

Dokumentasi sampel 1: SMAN 1 Bondowoso

Foto1: papan nama SMAN 1 Bondowoso

 

Foto 2: Kondisi saat istirahat di SMAN 1 Bondowoso

Foto 3: Ruang kelas tampak depan SMAN 1 Bondowoso

Foto 4: Foto laboratorium fisika, biologi dan kimia berjejer dari depan ke belakang

Foto 5: Kegiatan guru saat perekapan nilai raport

Foto 6: Ujian susulan oleh siswa yang tidak mengikuti UAS

Foto7: Foto bersama guru Biologi SMAN 1 Bondowoso

 

Dokumentasi sampel 2: SMA IV-2 KARTIKA Jember

Foto 8: papan nama SMA IV-2 KARTIKA JEMBER

 

Foto 9: pintu gerbang SMA IV-2 KARTIKA JEMBER

Foto 10: papan nama sanggar batik SMA IV-2 KARTIKA Jember

Foto 11: Kondisi luar kelas SMA IV-2 KARTIKA Jember

Foto 12: Kondisi Laboratorium SMA Kartika

Foto 13: Lapangan basket

Foto 14: Tempat Parkir

Foto 15: Proses KBM (pemberian post tes oleh guru mapel matematika)

Foto 16: Foto bersama dengan guru Biologi

Foto 17: Wawancara dengan guru Biologi

By aimarusciencemania

laporan hasil wawancara evaluasi remidiasi bio

 

LAPORAN HASIL WAWANCARA                               

Evaluasi Remidiasi Pembelajaran Biologi

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Evaluasi Remidiasi Biologi

Yang Dibina Oleh Dra.Sawitri Komarayanti M.S

 

Oleh:

Kelompok 4 (SMA IV-2 KARTIKA JEMBER)

Aini Maskuro                                                (0910211107)

Serlly Dita Lestari                             (0910211105)

Edhisma Shiekta                               (0910211103)

M.Juri                                                            (0910211097)

Rahmatika Wulansari                      (0910211085)

 

 

 

 

PROGRRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

Januari , 2012

BAB I

PROFIL GURU

1.1  Profil guru Biologi sampel 1 SMAN 1 Bondowoso

NAMA GURU                       : Nurul  Hidayati S.Pd

ALAMAT RUMAH               :Jalan Letnan Rantam gang Nyamplong Bond Bondowoso

TELP/HP                                :085236290077

PENDIDIKAN                      : S1 Pendidikan Biologi Universitas Jember

LAMA MENGAJAR             : 21 Tahun

PENGALAMAN                   : KURSUS       : -

PELATIHAN:

 

 

1.2  Profil guru Biologi sampel 2 SMA IV-2 Kartika Jember

 

 

NAMA GURU                       : Ratna Indah Sholehah, S.Pd

ALAMAT RUMAH               :Jalan Thamrin No.34 Ajung Jember

TELP/HP                                :085236035871

PENDIDIKAN                      : S1 Pendidikan Biologi Universitas Jember

LAMA MENGAJAR             : 5 Tahun

PENGALAMAN                   : KURSUS       : -

PELATIHAN:

  1. Pelatihan ESD dan MSPD 2011 di STM Jember
  2. Pelatihan KTSP 2007 di SMAN 5 Jember
  3. Pelatihan KTSP 2008 di SMAN 5 Jember

BAB II

PEMBAHASAN

PERTANYAAN DAN JAWABAN HASIL WAWANCARA

EVALUASI REMIDIASI PEMBELAJARAN BIOLOGI

 

2.1  PRINSIP DASAR PENILAIAN PEMBELAJARAN BIO

1)      Bagaimana cara mencegah kesalahan dalam penilaian?

Cara mencegah kesalahan dalam penilaian adalah guru harus melihat pedoman sistem penilaian yang telah ditentukan dari sekolah khususnya oleh guru biologi yang ada disekolah (SMA V1-2 KARTIKA Jember),yaitu dari segi  Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) lebih spesifiknya KKM pelajaran Biologi dari kelas 1 KKM Bio 70, KKM kelas 2 72,dan Kelas 3 KKM adalah 74.Terdapat perbedaan KKM setiap kelas karena terdapat perbedaan tingkatan kesulitan materi disetiap kelasnya.

2)      Kendala apa saja yang ditemui saat pelaksanaan penilaian?

Kebetulan tidak terdapat kendala dalam pelaksanaan penilaian,karena guru telah memberikan kisi-kisi soal sebelum pelaksanaan penilaian.

3)      Bagaimana upaya mengatasi kendala tersebut?

Upaya yang dilakukan tidak ada karena tidak ditemui kendala saat pelaksanaan pembelajaran

4)      Apa manfaat diadakan penilaian?

Manfaat diadakan penilaian adalah guru dapat mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran,selain itu guru dapat mengevaluasi kegatan pembelajaran yang telah dilakukan apakah sesuai atau tidak dengan tujuan pembelajaran serta siswa dapat mengetahui hasil belajar yang telah dilaluinya.

5)      Dari berbagai macam penilaian,(PAP atau PAN) penilaian mana yang paling efektif?

Penilaian yang paling efektif adalah PAP(Penilaian Acuan Patokan) karena pada PAP guru mempunyai patokan yang dijadikan standart penilaian, satandart penilaian ini dapat diperoleh dari hasil MGMP GURU MAPEL.Sehingga dapat meminimalisir terjadinya  kesalahan dalam penilaian.

6)      Hal-hal apa saja yang menjadi pertimbangan/perhatian untuk memperoleh hasil penilaian yang optimal?

Hal-hal yang diperhatikan untuk memperoleh penilaian yang optimal adalah :

ü  Sikap siswa

Yaitu:sikap siswa saat pelakasanaan pembelajaran, siswa yang memiliki minat dan antusias dalam mengikuti pelajaran,menjadi alah stu pertimbangan dalam penilian apabila siswa tersebut memperoleh hasil akhir yang jelak maka dapat ditopang nilanya dari segi sikap positif yang ditunjukkan.

ü  Keaktifan siswa

Yaitu: partisipasi siswa saat pelaksanaan KBM berlangsung yang meliputi keaktifan bertanya, keaktifan berkomentar, keaktifan menyanggah pernyataan teman saat diskusi, keaktifan menjawab pertanyaan yang dilempar daari guru dan teman lain saat diskusi, keaktifan mendengarkan pelajaran,serta keaktifan dalam membuat catatan atau jurnal mandiri belajar.

ü  Penguasaan materi

Yaitu: kemampuan siswa dalam mencerna materi pelajaran yang telah dilalui saat KBM hal ini terlihat dari nilai yang didapat saat pelaksanaan tes baik UH, UTS, maupun UAS serta nilai tugas.

7)      Kurikulum apa  yang digunakan di sekolah ini?mengapa menggunakan kurikulum tersebut?

Kurikulum yang digunakan di SMA V1-Kartika adalah KTSP untuk yang terbaru pembentukan karaker bangsa masih belum dilaksanakan.

8)      Apa kelebihan dan kelemahan dari kurikulum tersebut?

Sebenarnya kelebihan dan kelemahan dari hampirtidak ada karena hanya beda nama namun isi secara global tetap Cuma terdapat penambahan saja misal terdapat penambahan kolom pembentukan karakter bangsa saja untuk KTSP terbaru.

2.2  OBJEK PENILAIAN

1)      Penilaian ranah afektif apa yang paling sulit?

Pada umumnya untuk penilaian afektif atau sikap dari siswa hampir tidak ditemui kesulitan namun masih terdapat kesulitan sikap siswa untuk ikut serta dalam KBM yang dikarenakan minat akan mengikuti KBM bio masih minim, hal ini terlihat pada saat praktikum masih saja ditemui siswa yang tidak aktif, ramai sendiri serta sibuk dengan kegiatannya sendiri misal bermain handphone.Untuk Siswa yang sopan dan aktif diberikan reward dengan kategori T: tinggi, sedang untuk siswa yang tidak terlalu aktif terlalu aktif namun sopan diberikan reward dengan kategori S: sedang dan yang tidak aktif dan tidak sopan diberikan reward dengan kategori K: kurang.

2)      Bagaimana cara menanggulangi kesulitan tersebut?

Upaya untuk menanggulangi kesulitan tersebut dengan mengingatkan siswa yang masih sibuk dengan kegiatannya sendiri kemudian jika peringatan tersebut tidak diindahkan maka guru mengambil tindakan selanjutnya yaitu guru memberikan ultimatum atau ancaman untuk mengurangi nila siswa tersebut.

3)      Bagaimana langkah-langkah guru untuk mengembangkan dan menyeimbangkan ketiga ranah penilaian dalam pembelajaran Biologi?

Untuk mengembangkan dan menyeimbangkan ketiga ranah penilaian dalam pembelajaran Biologi adalah dengan melakukan perbaikan metode pembelajaran disetiap topik bahasan agar pembelajaran biologi menjadi PAIKEM dan diharapkan hasil pembelajaran bio memperoleh hasil yang maksimal

4)      Bagaimana cara untuk menilai skill siswa dengan latar belakang yang beragam?

Untuk menilai skill atau keterampilan siswa dapat dilihat saat pelaksanaan praktikum, siswa yang memang mengetahui prosedur kerja yang telah dipelajari sebelumnya akan terlihat lihai saat praktikum berlangsung baik dari segi penggunaan alat bahan maupun saat pelaksanaan ulangan harian maupun semester siswa tersebut dapat menguasai materi yang berhubungan dengan praktikum.

5)      Dalam  penilaian pembelajaran Biologi terdapat 2 objek yang dinilai yaitu produk dan proses, langkah-langkah apa saja yang diupayakan guru untuk peningkatkan kedua objek tersebut?

Untuk meningkatkan dan menyelaraskan kedua objek tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang mengena,pembelajaran bio mustahil dan tidak berarti aabila hanya pemberian materi saja tampa diadakan praktikum karena praktikum merupakan penerapan teori yang didapat sebelumnya dan untuk pembuktian teori yang didapat sebelunya sehingga keterampilan proses sains dapat terjadi saat KBM berlangsung yang diharapkan pembelajaran biologi menjadi tangan pertama (pembelajaran konstekstual) dan bermakna.

2.3   KESAHIHAN DAN KEHANDALAN

1)      Untuk menentukan kehandalan dan keshahihan alat ukur,disekolah ini menggunakan metode apa?

Di SMA KARTIKA Jember IV-2 menggunakan metode test dengan instrumen soal  uraian pada umumnya.

2)      Mengapa menggunakan metode tersebut?

Karena jika menggunakan tes dengan soal uraian maka penilaian akan lebih praktis dari segi pelaksanaannya, pembuatan soalnya lebih muda dan penentuan bobot soal lebih bervariasi dari bobot yang mudah, sedang hingga bobot soal yang tergolong sulit.

3)      Apa kelebihan dan kekurangan dari metode tersebut?

Kelebihan dari metode soal uraian:

ü  Mempermudah guru untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis dari masing-masing siswa

ü  Membantu dan melatih siswa untuk kreatif dalam menyusun kata-kata,perbendaharaan kosa kata dan penyusunan kalimat.

ü  Mempermudah guru untuk mengetahui kognitif siswa dari segi pemahaman siswa baik mulai dari kognitif 1 sampai kogntif 6

Kekurangan metode soal uraian:

ü  Membutuhkan waktu yang lama dari segi pengoreksian jawaban siswa karena soal bersifat subjektif

ü  Membutuhkan waktu yang lama bagi siswa dalam hal pengerjaan karena tidak disediakan pilihan jawaban sehingga ada beberapa siswa yang kehabisan waktu saat mengerjakan soal

ü  Kesulitan dalam penentuan skor dalam setiap butir soal bagi guru saat penskoran.

Upaya menanggulangi kekurangan tersebut adalah:

  1. Dlakukan pengoreksian saat kondisi guru memungkinkan (tidak lelah, tidak sakit dll)
  2. Siswa yang membuthkan waktu lama saat pengerjaan soal diadakan pendekatan yaitu mengadakan mediasi apa yang menjadi kesulitan siswa tersebut selama pengerjaan soal berlangsung serta memberikan motivasi dan arahan agar siswa tersebut semangat untuk belajar dan menambah pengetahuann di luar jam sekolah.
  3. Agar penentuan skor tidak terkesan subjektif apada anak tertentu dan penskoran berjalan merata pada semua jawaban anak maka dibuat kriteria untuk setiap butir soal pada masing-masing bobot soal yang berbeda tingkatan kesulitannya sehingga hal ini dapat menghindari kesalahan dalam penskoran nilai siswa.

4)      Bagaimana cara menentukan kesahihan dan kehandalan dari alat ukur yang digunakan?

Cara menentukan kesahihan dan kehandalan dari alat ukur yang digunakan adalah dengan mengadakan penyesuaian antara butir soal dengan tingkatan kesukaran soal baik dari yang mudah, sedang maupun sulit.

Dari pengklasifkasian tipe soal yang telah dibuat guru maka guru dapat mengadakan analisa kevalidan soal dari masing-masing bobot dengan menggunakan korelasi spearmen.

Rumus:

Rs = 1- 6

N3-N

di : selisih pasangan peringkat

N: banyak data

5)      Apa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesahihan dan kehandalan alat ukur yang digunakan?

Upaya yang dilakukan   untuk meningkatkan kesahihan dan kehandalan alat ukur yang digunakan adalah denga memberikan alternatif tambahan saat KBM berlangsung dengan sistem lempar pertanyaan  sehingga siswa yang mempunyai skor yang jelek dapat ditopang dengan hasil menjawab dan siswa yang skornya lumayan baik dapat meningkatkan skor yang diperoleh.

2.4  TEKNIK PENGUKURAN

1)      Apakah dengan teknik  pengukuran yang dilakukan guru,siswa mampu mencapai KD yang dirumuskan?

Secara garis besar siswa sudah mencapai KD terbukti dengan nilai ulangan harian yang rata rata kelas diatas KKM meskipun ada 2-4 anak yang harus melakukan remidi saat selesai UAS

2)      Jika ada siswa yang belum mampu mencapai KD yang telah dirumuskan, bagaimana tindak lanjutnya?

Tindak lanjut yang diambil yaitu dengan pemberian tugas makalah kelompok misal penugasan membuat makalah pencemaran lingkungan namun untuk remidi dilakukan apabila nilai UAS dibawa KKM siswa tersebut wajib mengikuti remidi.

3)      Bagaimana teknik pelaksanaan pembelajaran remidiasi Bio di sekolah ini?kapan pelaksanaannya?

Teknik remidi ulangan harian dilakukan dengan cara penugasan makalah perkelompok namun remidi UAS dilaksanakan setelah UAS dengan jadwal yang telah diatur oleh sekolah terdapat penurunan bobot soal yang tidak jauh beda dengan bobot soal UAS  agar siswa tersebut dapat memcapai KKM

4)      Bagaimana teknik penyusunan soal remidiasi Bio,apakah ada penurunan bobot kesulitan soal dari soal Ulangan Harian yang telah dilakukan?

Teknik penyusunan soal remidi pembelajaran Biologi terdapat penurunan bobot soal dari soal Ulangan Harian, seperti yang telah dijelaskan di atasagar siswa dapat mencapai KKM. Adapun penurunan bobot soal remidi adalah sebesar 2 tingkat penurunannya. Misal bobot soal sebesar 15 untuk 1 nomer maka bobot soal remidi menjadi 13

5)      Berdasarkan pengalaman mengajar, teknik pengukuran (bentuk soal) apa yang paling efektif?

Teknik pengukuran (bentuk soal) yang paling efektif adalah soal esay dan pilihan ganda.

6)      Apa kelebihan dan kekurangan dari teknik tersebut?

Kombinasi soal essay & pilihan ganda. Kombinasi ini tujuannya adalah untuk mengembangkan kejelian siswa dan siswa berfikir kritis.

Kelebihan soal esay

a)      Dapat membuat siswa berfikir kreatif

b)      Pembuatan soal lebih mudah

c)      Dapat mengetahui karakter siswa berfikir yang heterogen

d)     Terdapat bervariasi untuk tiap butir soalnya dengan ada tingkatan bobot soal dari mudah, sedang hingga sulit

Kelemahan soal esay

a)      Waktu yang diperlukan siswa untuk mengerjakan relative lama.

b)      Pengkoreksian lumayan lama.

c)      Pemberian skor pada masing-masing jawaban siswa lumayan sulit jika tidak dibuat criteria penilaian terlebih dahulu.

Kelebihan pilihan ganda

a)      Pengoreksian lembar jawaban lumayan cepat.

b)      Soal bersifat objektif sehingga mempermudah dalam pengskoran

Kekurangan

a)      Diperlukan kejelian guru dalam penyusunan tiap item pilihan soal guna untuk memancing keraguan siswa

b)      Tidak dapat mengetahui karakter siswa yang berfikir kritis

c)      Diperlukan ketelitian guru dalam membuat penyebaran soal dengan kategori mudah, sedang, hingga susah

7)      Model-model alat ukur (soal) non tes mana (phortopolio,observasi, angket dll) yang dikembengkan oleh sekolah apa saja?.Mohon pinjam contoh model tersebut.

SMA Kartika IV-2 Kartika Jember tidak menggunakan model alat ukur yang telah disediakan pilihan jawaban pada instrument wawancara namun SMA tersebut dari tahun ke tahun hanya menggunakan LKS (Lembar Kerja Siswa) yang biasa dikeluarkan oleh penerbit-penerbit. Seperti penerbit Simpati dan Krisna dan setiap tahun ajaran selalu ada pergantian penggunaan bertujuan agar terdapat variasi kajian referensi yang dipakai.

8)      Dari beberapa model tersebut mana yang lebih sering digunakan? Dan model yang seperti apa yang paling sulit dikembangkan dan dibuat serta dilaksanakan?

Jawab:  -

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1  Deskripsi preparasi pelaksanaan wawancara 

Kelompok 4 mengadakan persiapan sebelum pelaksanaan observasi, adapun preparasi atau persiapan yang dilakukan oleh kelompok kami adalah:

  1. Meminta surat pengantar dari pengajaran FKIP Universitas Muhammadiyah Jember pada hari Jum’at tanggal 16 Desember 2011.Kebetulan surat pengantar bisa  langsung ditunggu untuk jadi dalam waktu 10 menit.
  2. Kurir kelompok kami adalah 2 orang dari Kelompok kami yaitu M. Juri dan Rahmatika Wulansari mengantar surat pengantar yang telah siap ke SMAN 1Bondowoso pada hari Sabtu Tanggal 17 Desember 2011.
  3. Setiba di SMAN1 Bondowoso yang beralamat Jalan Curah Dami 294 Bondowoso.Kurir kelompok Kami menemui TU untuk mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan mereka.Kemudian staf TU memanggil guru Biologi yang dimaksud yaitu ibu Nurul.
  4. Mengadakan lobbying untuk menentukan waktu wawancara dan didapat hasil urun rembuk antara ibu Nurul dengan kedua kurir kelompok kami yaitu waktu w awancara jatuh pada hari Selasa tanggal  20 Desember 2011 pada pukul 09.00 WIB
  5. Semua anggota kelompok berangkat ke Bondowoso pada hari senin tanggal 19 Desember 2011  pukul 17.00 WIB dengan mengendarai sepeda motor.Anggota kelompok perempuan yang berjumlah 3 orang menginap di rumah salah satu anggota kelompok kami yaitu rumah Rahmatika, sedangkan untuk anggota kelompok laki-laki kembali ke Jember.Alasan kelompok kami berangkat lebih awal dan bermalam disalah satu rumah anggota kelompok kami adalah agar ke esokan paginya bertepatan waktu pelaksanaan wawancara kami tidak terlambat dan mengurangi resiko kelelahan jika pagi hari berangkat dari Jember.

3.2  Hal-hal yang dtemui saat pelaksanaan wawancara

Kelompok wawancara mengadakan wawancara dengan salah satu guru Biologi SMAN 1 Bondowoso dengan alasan:

  1. SMA yang bonafit di Jember telah terbooking dari kelas A
  2. Sebagai perbandingan kualitas/mutu guru dan sekolah yang ada di Jember dan di luar kota (Bondowoso)
  3. Kebetulan salah satu anggota kelompok kami merupakan alumni SMAN 1Bondowoso, harapan kami dengan adanya alumni di SMAN 1 Bondowoso dapat mempermudah memperoleh informasi dan peminjaman berkas-berkas yang berhubungan dengan perangkat mengajar guru untuk kelengkapan laporan kelompok kami.

Ketiga penjelasan di atas menjadi alasan pemilihan SMAN 1 Bondowoso dijadikan sebagai sampel wawancara. Namun fakta di lapangan tidak seperti yang kami harapkan karena guru yang kami wawancarai ternyata tidak dapat memberikan informasi yang kami harapkan. Hal tersebut dikarenakan waktu wawancara bertepatan dengan perekapan nilai untuk  pembagian raport. Hal ini membuat guru menjadi sibuk dan staf sekolah lainnya. Selain itu pada saat pelaksanaan wawancara guru tidak berkenan untuk diwawancarai karena melihat instrument wawancara yang akan disodorkan sangat banyak sehingga guru Biologi (Ibu Nurul ) mengeluh dan meminta kami untuk meninggalkan instrument wawancara untuk diisi di rumah beliau.Ketika kami menemui masalah tersebut maka, kami mau ataupun tidak mau kami harus menyerahkan instrument wawancara tersebut karena tidak ingin menyinggung perasaan Ibu Nurul.Meskipun demikian kenyataan yang didapat dilapangan tidak menyurutkan niat kami untuk berusaha melengkapi data yang dibutuhkan sebagai lampiran laporan kelompok kami.Adapun berkas yang kami butuhkan adalah: Kurikulum, silabus, contoh phortopholio, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan profil sekolah.Setelah bernegosiasi dengan staf TU dan Waka Kurikulum kami hanya berhasil mendapatkan berkas berupa Kurikulum dan profil sekolah yang langsung difotokopi di Sekolah tersebut.Selain itu kami juga sempat menanyakaan kepada Ibu Nurul apakah setiap mengajar selalu menggunakan RPP, ibu Nurul mengaku bahwa beliau tidak membuat RPP setiap kali  mengajar.Dengan alasan yang kurang bisa diterima oleh logika mahasiswa FKIP Biologi yang memerlukan informasi dari pengalaman mengajar guru Biologi.Kami sangat kecewa karena kami tidak mendapatkan informasi yang bias diserap guna sebagai referensi dan refleksi kelak setelah kami lulus dari bangku kuliah dan melaksanakan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan yaitu dengan menjadi seorang guru.Alasan beliau adalah beliau memang mulai menjadi guru selama 21 tahun  tidak pernah membuat RPP dan penilainya dengan system Ulangan Harian. Beliau langsung secara spontanitas membuat soal yang bersumber pada buku paket yang biasa di pakai dengan system pemberitahuan kepada siswa sehari sebelum diadakan evaluasi. Dengan ditemukannya fakta seperti itu bagaimana dapat memperoleh hasil belajar siswa yang optimum dan signifikan apabila cara pelaksanaan evaluasi dengan instrument soal yang dibuat secara spontanitas.

Setelah berkonsultasi dengan  dosen pengampu mata Kuliah Evaluasi dan Remidiasi Pembelajaran Biologi melalui sms dan saat mengikuti perkuliahan maka kami memutuskan untuk melakukan wawancara di sekolah lain dan kebetulan dosen kami mengijinkan.Kami memilih SMA Kartika IV-2 yang berada di Jl. KH. Wahid Hasyim No.14 Jember. Alasan kami memilih sekolah ini karena sekolah ini masih belum digunakan oleh kelompok lain, baik kelas A maupun kelas B.Meskipun kelompok kami belum mengetahui kualitas sekolah tersebut.

Guru biologi yang kami wawancarai adalah ibu Ratna Indah Sholehah, S.Pd. Sebelum melaksanakan wawancara kami juga mengadakan preparasi sebagai berikut:

  1. Meminta surat pengantar pada pengajaran Universitas Muhammadiyah Jember pada hari Kamis tanggal 22 Desember 2011 namun surat pengantar bisa diambil pada keesokan paginya
  2. Hari Jumat tanggal 23 Desember 2011 Kami mengambil surat pengantar di pengajaran FKIP dan pada pukul 11.30 perwakilan kelompok kami yaitu M.Juri dan Aini Maskuro langsung berangkat ke SMA Kartika IV-2 Jember yang beralamat di jalan K.H Wahid Hasyim no 14 Jember.
  3. Sesampainya di sekolah tersebut kami langsung menemui staf TU dan menyampaikan maksud dan tujuan kami mendatangi sekolah tersebut dan staf TU tersebut  mempersilahkan untuk menemui Kepala Sekolah dan akhirnya kami menemui kepala Sekolah dengan menyodorkan Surat Pengantar
  4. Pada saat itu guru Biologi yang akan kami wawancarai tidak sedang mengajar, dan untungnya kepala sekolah berkenan menelpon dan memberitahukan kepada guru Biologi bahwa sebentar lagi akan ada 2 mahasiswa Unmuh Jember yang akan mendatangi kediaman Beliau.Dengan demikian guru Biologi sudah tidak akan terkejut dengan kedatangan kami.
  5. Tepat Jam 12.00 WIB kami sampai di kediaman guru Biologi SMA IV-2 Kartika Jember yang bernama Ibu Ratna.
  6. Kami melakukan negosiasi dengan ibu Ratna berkaitan dengan waktu untuk diadakan wawancara dengan beliau.Dan didapat hasil lobbying dan negosiasi pelaksanaan wawancara akan berlangsung di Kediaman Ibu Ratna pada hari Sabtu Tanggal 31 Desember 2011 pukul 8.00 WIB.

Setelah saat wawancara tiba, Kami melakukan wawancara di kediaman beliau di Jalan Thamrin No.34 Ajung Jember. Disana selain melakukan wawancara kami juga meminta contoh RPP serta soal UAS kelas X SMA IV-2 Kartika. Karena sekolah masih libur maka kami membuat janji dengan beliau untuk bertemu lagi di SMA Kartika setelah liburan usai.

Saat berkunjung ke SMA IV-2 Kartika pada hari Senin tanggal 9 Januari 2012 pukul 8.45 WIB kelompok kami tiba di SMA IV-2 Kartika,dan kami melakukan sedikit wawancara lagi untuk melengkapi data yang kami perlukan. Setelah itu kami meminta profil sekolah kepada staf TU. Kami juga melakukan dokumentasi dengan mengambil beberapa foto mulai dari proses wawancara, kondisi sekolah, kegiatan proses kegiatan belajar mengajar, dan kondisi laboratorium.

3.3  Kondisi sekolah baik secara fisik dan non fisik

3.3.1        Kondisi Sekolah secara Fisik

Kondisi fisik sekolah yang kami jadikan sampel observasi yang kedua sangat berbeda sekali dengan sampel observasi pertama yaitu SMAN 1Bondowoso karena secara status SMA IV-2 Kartika Jember merupakan sekolah swasta yang dibawah naungan yayasan Kartika Jaya Cabang IV Brawijaya dengan status disamakan berbeda dengan SMAN 1 Bondowoso yang merupakan sekolah negeri dibawah naungan DIKNAS.Berikut tabel perbandingan kondisi fisik dari kedua sampel observasi tersebut:

No Parameter pembanding SMAN1 Bondowoso SMA IV-2 Kartika Jember
1 Kondisi bangunan Lumayan megah dan kuat tanpa ada bercak lumut pada tembok Terkesan kuno terdapat bercak pada sebagian besar tembok
2  Luas tanah dan bangunan

Luas tanah seluruhnya 10.600 m2 bangunan: 3.675 m2 halaman 3.983 m2 lapangan olah raga 1.916 m2 lainnya 1.026 m2Tanah 1064 m2

Bangunan 662 m2

Halaman 276 m2

Lapangan olah raga 450 m2

Kebun 50 m2

Lain-lain 1112 m23Kategori labTerdapat pemisahan lab bio, kimia dan fisikaLab bio, kimia dan fisika gabung menjadi 1 dalam lab IPA

4Sarana dan prasarana dalam kelasSangat menunjang papan white board terdapat atlas bio hasil karya poster-poster edukasiHanya terdapat papan tulis hitam5Keadaan lab

Menunjang pembelajaran bio karna terdapat pemisahan kategori lab(foto terlampir tampak berjejer)

Kurang menunjang karena alat peraga sangat minim yang dibeli sekolah dan lab kurang efektif karena bio, kimia dan fisika gabung menjadi 1 ruang6Jumlah guruBerdasarkan laporan individu menengah jumlah guru pada tahun ajaran 2011/2012 secara keseluruhan adalah 44 orang (24 orang guru laki-laki dan 20 orang guru perempuan)Berdasarkan profil Sekolah Menengah Atas Tahun 2011/2012

 

Jumlah sebgai berikut:

  1. PNS 4 ORANG
  2. Guru tetap yayasan 2 orang
  3. Guru honorer 15 orang
  4. Guru sertifikasi 5 orang

7Jumlah siswaBerdasarkan laporan individu menengah jumlah siswa pada tahun ajaran 2011/2012 adalah 149 siswa dan 102 siswi total 251 orangBerdasarkan profil SMA IV-2 Kartika Jember

Secara keseluruhan adalah: 135 orang

Keterangan: untuk dokumentasi laboratorium di SMAN 1 Bondowoso hanya dari luar dan tidak dapat mengambil gambar laboratorium dari dalam ruangan karena kunci dibawa petugas yang sedang tidak masuk

Hal serupa juga terjadi saat engambilan gambar laboratorium IPA di SMA IV-2 Kartika Jember namun bagian dalam masih dapat diambil gambarnya karena jendela dalam keadaan terbuka.

3.3.2        Kondisi Sekolah Secara Non fisik

Meskipun SMA IV-2 Kartika tergolong SMA swasta namun guru-guru dan warga sekolah lainnya sangat antusias dan kooperatif dalam melaksanakan kegiatan yang menunjang dengan adanya proses belajar mengajar.Hal ini terbukti dengan adanya  KBM berlangsung mulai pukul 7.15 WIB dan berakhir 12.30 WIB.Salah satu guru Biologi disana yang menjadi nara sumber dalam wawancara oleh Kelompok kami mulai membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang didalamnya juga dijelaskan instrument evaluasi yang akan digunakan meskipun belum ada perbaikan dari tahun 2009 hingga 2011 namun pada tahun ajaran baru ini guru Biologi akan mulai merombak RPP yang didalamnya juga memuat alat evaluasi dengan tujuan agar pembelajaran Bilologi yang telah dilaksanakan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.Di SMA IV-2 KARTIKA Jember ini masih menggunakan Kurikulum yang berlebel KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) mulai  tahun 2007 versi lama  seusai guru Biologi (Ibu Ratna) mengikuti pelatihan KTSP di SMAN 5 Jember.Pelatihan KTSP masih berlanjut pada tahun 2008 di tempat yang sama demi meningkatkan kepahaman dan pengetahuan guru Biologi mengenai KTSP ibu Ratna dipercaya untuk mengikuti pelatihan tersebut. Pelatihan mengenai Kurikulum yang berlebel KTSP terus digalakkan oleh DIKNAS terbukti dengan mulai dikeluarkannya Kurikulum KTSP terbaru yang mensisipkan Karakter Bangsa mulai tahun 2011. Ibu Ratna masih dipercaya mengikuti workshop KTSP Karakter Bangsa yang juga dilaksanakan oleh DIKNAS di gedung serbaguna Sartiajeng Kartika, Kaliwares ,Jember.Namun untuk SMA IV-2 Kartika Jember masih belum mendapatkan KTSP Karakter Bangsa dikarenakan di SMA tersebut masih akan menyusul untuk mendapatkannya. Ibu Ratna juga tidak memberikan alasan mengapa atau penyebab sampai sekarang format KTSP Karakter Bangsa masih belum diberikan kepada Waka Karikulum SMA IV-2 Kartika Jember. Kelompok Kami akan berusaha untuk mendapatkan format Kurikulum  dan Silabus Karakter Bangsa dari SMA IV-2 Kartika Jember meskipun Ibu Ratna tidak menjanjikan kapan format Kurikulum  dan Silabus Karakter Bangsa akan sampai di SMA IV-2 Kartika Jember.Meskipun demikian anggota Kelompok kami sudah memiliki contoh silabus yang menyisipkan Karakter Bangsa dari SMAN 1Gending-Probolinggo  sebagai perbandingan juga sebagai lampiran di laporan kelompok kami  dan juga sebagai referensi kami untuk penyususnan RPP dan system penilaian berdasarkan Silabus Biologi yang berkarakter bangsa.

Adapun proses kegiatan Belajar Mengajar Biologi di SMA IV-2 Kartika Jember tidak dapat kami dokumentasikan karena pada saat kami melakukan dokumentasi hari Senin 9 Januari 2012 ibu Ratna sedang tidak ada jam mengajar di Kelas sebagai alternative, kami melakukan dokumentasi untuk kelas XI IPA yang sedang mengerjakan soal post test dari guru matematika (foto terlampir).Namun KBM Biologi berdasarkan hasil wawancara kami dengan ibu Ratna, di kelas X, dan XII IPA yang ibu Ratna ajar tergolong kelas normal.Maksudnya adalah saat KBM pasti terdapat siswa yang menyebabkan ramai dan tidak focus pada kegiatan pembelajaran.Tindak lanjut yang dilakukan guru dengan member peringatan dan arahan serta motivasi agar kelas yang ramai dan tidak focus tersebut dengan pemberian intermezzo berupa menceritakan pengalaman ibu Ratna saat penelitian, PPL,  dan Microteaching .Apabila kelas sudah mulai tenang dan focus kembali pada penjelasan materi saat itu berlangsung.Selain itu hasil KBM berhasil atau tidak baik atau tidak dapat tercermin dari hasil evaluasi Ulangan Harian, Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester.

Sebagian besar dari 24 siswa kelas X sudah dapat mencapai Kriteria Ketuntasan  Minimum Biologi kelas X yaitu 70 pada UAS Ganjil 2011 (soal ganjil tahun sebelumnya terlampir) hanya 4 siswa yang tidak tuntas untuk kelas XII IPA dari jumlah 20 Siswa sudah dapat mencapai KKM yaitu 72 hanya 3 siswa yang tidak tuntas di UAS ganjil  Biologi.Tindak lanjut untuk siswa-siswa yang belum mencapai KKM adalah dengan  remidi yang pelaksanaannya dijadwal oleh sekolah setelah UAS berakhir dengan tenggang waktu seminggu setelah UAS.Namun untuk KKM Biologi kelas XII adalah 74 terdapat perbedaan kuantitas KKM untuk setiap tingkatan kelas dengan alasan karena untuk tingkatan kesulitan  materi yang ada di masing-masing kelas berbeda semakin tinggi kelas yang diduduki siswa maka semakin tinggi pula bobot  materi Biologi yang harus ditempuh.

Untuk perbandingan  kondisi non fisik sampel objek wawancara di SMAN 1 Bondowoso kelompok kami tidak berhasil mendapatkan informasi meskipun instrument yang kami buat ditinggal untuk diisi di rumah Ibu Nurul.Karena banyak item pertanyaan yang tidak dijawab terbukti dengan lembar instrument wawancara (terlampir)

BAB IV

KESIMPULAN

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan:

Kondisi fisik dari 2 sampel sekolah yang berbeda status sangat berbeda yaitu jauh lebih baik di sampel pertama, namun untuk kondisi non fisik identik dan cenderung lebih baik di sampel kedua.Jadi KBM pembelajaran Biologi di SMA IV-2 Kartika Jember cenderung lebih baik dibandingkan dengan di SMAN 1 Bondowoso.Begitu pula kualitas guru di sampel pertama meskipun pengalaman mengajar 21 tahun cenderung kurang baik dan cenderung lebih malas  membuat instrument evaluasi belajar dengan sistematis dibandingkan dengan guru Biologi  di SMA IV-2 Kartika Jember yang pengalaman mengajar masih 5 tahun.

Lampiran foto dokumentasi

Dokumentasi sampel 1:SMAN 1 Bondowoso

 

 

Foto 1: papan nama SMAN 1 Bondowoso

Foto 2: Kondisi saat istirahat di SMAN 1 Bondowoso

Foto 3: Ruang kelas tampak depan SMAN 1 Bondowoso

Foto  4: laboratorium fisika, biologi dan kimia berjejer dari depan ke belakang

Foto 5 :Kegiatan guru saat perekapan nilai raport

Foto 6: Ujian susulan oleh siswa yang tidak mengikuti UAS

Foto 7: Foto bersama guru Biologi SMAN 1 Bondowoso

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dokumentasi sampel 2: SMA IV-2 KARTIKA Jember

Foto 8: papan nama SMA IV-2 KARTIKA JEMBER

Foto 9: pintu gerbang SMA IV-2 KARTIKA JEMBER

Foto 10: papan nama sanggar batik SMA IV-2 KARTIKA Jember

Foto 11:Kondisi luar kelas SMA IV-2 KARTIKA Jember

Foto 12: kondisi di dalam Laboratorium SMA IV-2 KARTIKA Jember

Foto 13: foto laboratorium IPA tampak depan SMA IV-2 Kartika Jember

Foto 14 : Foto ruang guru tampak depan

Foto 15 : Lapangan basket

Foto 16 :Kegiatan Belajar Mengajar saat siswa mengerjakan soal post test dari guru matematika

Foto 17: Proses KBM (pemberian post tes oleh guru mapel matematika)

Foto 18: Foto bersama dengan guru Biologi

Foto 19: Wawancara dengan guru Biologi

By aimarusciencemania

desain alat peraga gametogenesis

 DESAIN ALAT PERAGA

MODEL GAMETOGENESIS PADA MANUSIA

Disusun untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah BIOLOGI TERAPAN 3

Dosen pembimbing : Dra. Sawitri Komarayanti, M.Si.

 

OLEH:

KELOMPOK 14

  1. 1.      AINI MASKURO                       (0910211107)
  2. 2.      EFRIYANTI NILASARI          (0910211100)

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2011

 

  1. Nama alat peraga        :  Model gametogenesis pada manusia
  2. Kegunaan                    :
    1. Alat peraga gametogenesis pada manusia dapat digunakan untuk menjelaskan proses pembentukan gamet jantan & betina
    2. Alat peraga ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran pokok bahasan reproduksi sel sub pokok bahasan gametogenesis dengan jelas .
    3. Alat peraga ini dapat digunakan untuk menjelaskan konsep pembentukan gamet dengan jelas dari konsep abstrak menjadi konkrit .
    4. Pokok bahasan            : Reproduksi Sel
    5.  Sub pokok bahasan    : Gametogenesis
    6. Kelas                           : XII semester I
    7. Materi Pokok              :

Pembentukan gamet (sel kelamin) yang terjadi melalui pembelahan meiosis dan berlangsung pada sel kelamin dalam alat perkembangbiakan disebut gametogenesis. Gametogenesis meliputi spermatogenesis (pembentukan spermatozoa / sperma) dan oogenesis (pembentukan ovum  atau sel telur ) . Secara prinsip keduanya melalui cara pembelahan yang sama,namun hasil akhirnya berbeda .

  • Pembentukan sperma (spermatogenesis)

Proses ini berlangsung dalam alat kelamin jantan yaitu testis . dalam testis terdapat bagian yang disebut tubulus seminiferus . Dinding tubulus seminiferus  terdiri dari jaringan epithelium.Di dalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel perimordium yang bersifat diploid. Sel-sel primordium adalah kelompok sel yang belum dewasa yang nantinya akan membentuk struktur khusus. Sel-sel primordium tersebut berulang kali mengalami pembelahan secara mitosis, diantaranya membentuk spermatogonium (induk sperma) yang akan berkembang menjadi spermatozoa dan sel sertoli yang berfunsi memberi nutrient pada spermatozoa. Selain itu pada tubulus seminefirus terdapat pula sel leydig yang mengekresikan horman testosterone yang berperan pada proses spermatogenesis.

 

 

  • Proses Spermatogenesis

Pada masa pubertas, spermatogonium membelah diri secara mitosis sehingga menghasilkan lebih banyak spermatogonium. Pada manusia, spermatogonium mengandung 23 pasang kromosom atau 46 kromosom (diploid)

Beberapa spermatogonium membelah diri kembali, sedangkan lainnya berkembang menjadi spermatosit primer yang juga mengandung kromosom sebanyak 46 kromosom. Sel-sel spermatosit primer tersebut kemudian membelah secara meiosis menjadi dua spermatosit sekunder yang jumlah kromosomnya menjadi setengahnya (23 kromosom haploid). Selamjutnya spermatosit sekunder membelah lagi secara meiosis menjadi empat spermatid. Jadi, spermatosit primer mengalami pembelahan meiosis I yang menghasilkan dua spermatosit sekunder. Selama pembelahan meiosis II, kedua spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan empat spermatid. Selanjutnya spermatid berdiferensiasi menjadi sel kelamin dewasa (masak) yang disebut spermatozoa atau sperma. Spermatozoa ini juga mempunyai 23 kromosom (haploid). Hasil akhir dari spermatogenesis adalah terbentuknya empat spermatozoa fungsional dari satu sel induk yang mengalami meiosis.

Pada manusia,proses spermatogenesis berlangsung setiap hari.siklus spermatogenesis berlangsung rata – rata 74 hari . artinya , perkembangan sel spermatogonium menjadi spermatozoa matang memerlukan waktu rata-rata 74 hari . sementara itu pemasakan spermatosit menjadi sperma memerlukan waktu 2 hari . Proses pemasakan spermatosit menjadi sperma dinamakan spermiogenesis dan terjadi di dalam epididimis.

Pada pria dewasa normal, proses spermatogenesis terus berlangsung sepanjang hidup, walaupun kualitas dan kuantitasnya menurun dengan bertambahnya usia.

  • Bagian – bagian sperma

Sperma dewasa terdiri dari tiga bagian,yaitu kepala,bagian tengah,dan ekor . Kepala sperma mengandung nucleus. Bagian ujung kepala ini mengandung akrosom yang menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menembus lapisan – lapisan sel telur pada waktu fertilisasi. Bagian tengah sperma mengandung mitokondria yang menghasilkan ATP sebagai sumber energy untuk pergerakan sperma . Ekor sperma berfungsi sebagai alat gerak .

  • Pembentukan telur (oogenesis)

Oogenesis terjadi di dalam ovarium . Manusia mempunyai 2 ovarium . Sejak masa fetus, ovarium telah mengandung lebih dari tujuh juta sel oogonium yang akan berkembang menjadi ovum.pada manusia , sel oogonium mengandung kromosom sebanyak 23 pasang atau 46 kromosom (diploid). Selama masa fetus , oogonium berkembang ukurannya dan menjadi oosit primer .

Pada saat bayi wanita dilahirkan oosit primer jumlahnya kira – kira tinggal 1 juta. Selama masa kanak – kanak oosit primer mengalami masa istirahat hingga mencapai usia pubertas.

  • Proses oogenesis

Pada masa pubertas oosit primer melakukan pembelahan meiosis I menghasilkan satu sel oosit sekunder yang besar dan satu sel badan kutub pertama (badan polar primer) yang lebih kecil. Perbedaan bentuk ini disebabkan sel oosit sekunder mengandung hampir semua sitoplasma dan kuning telur, sedangkan sel badan kutub pertama hanya terdiri dari nucleus saja. Oosit sekunder ini mempunyai jumlah kromosom setengah dari kromosom oosit primer,yaitu 23 kromosom (haploid) .

Dalam pembelahan meiosis II,oosit sekunder membelah diri menghasilkan satu sel ootid yang besar dan satu badan kutub kedua (badan polar sekunder). Ootid yang besar tersebut mengandung hampir semua kuning telur dan sitoplasma. Pada saat yang sama ,badan kutub pertama membelah diri menjadi dua badan kutub . selanjutnya ootid tumbuh menjadi sel telur (ovum) yang mempunyai 23 kromosom (haploid). Sedangkan ketiga badan kutub kecil hancur sehingga setiap oosit primer hanya menghasilkan satu sel yang fungsional. Sel telur (ovum) yang besar itu mengandung sumber persediaan makanan , ribosom,RNA, dan komponen – komponen sitoplasma lain yang berperan dalam perkembangan embrio. Sel telur yang matang di selubungi oleh membrane corona radiate dan zona pelusida.

Oogenesis hanya berlangsung hingga usia 40 sampai 50 tahun . setelah wanita tidak mengalami menstruasi lagi (mengalamimenopause) sel telur tidak dihasilkan lagi.

  1. Alat & Bahan              :
    1. Alat                 :
    2. Seperangkat kabel
    3. Lampu Mini Warna
    4. Triplek 2×3 m
    5. Balok kayu
    6. Kaca penutup
    7. Lem fox
    8. Gunting
    9. Kawat (Analogi Spindel)
    10. Pisau / Cutter

 

  1. Bahan              :
  2. Bola  mini warna
  3. Cat warna
  4. Malam (analogi Kromosom)
  5. Bola Lonjong (analogi Sperma)

 

  1. Cara kerja                    :
    1. Hubungkan kabel ke stop kontak listrik .
    2. Secara otomatis komponen oogenesis & spermatogenesis yang dipasang lampu akan menyala 1 per 1 secara bergantian berdasarkan proses terjadinya .
    3. Cara pembuatan          :
      1. Membuat Balok kayu +kaca penutup (kaca bisa di bongkar pasang) ,
      2. Bola mini warna dipotong menjadi 2 bagian ,
      3. Merangkai kawat (analogi spindel) + dipasang malam (analogi kromosom) ,
      4. Kawat lampu dimasukkan pada potongan bola mini warna sebanyak komponen gametogenesis,
      5. Bola yang didalamnya sudah terdapat kawat+malam+lampu direkatkan dengan lem ke balok kayu ,

 

  1. Membuat rangkaian listrik yang menghubungkan  lampu pada bola-bola tersebut,
  2. Memberi keterangan pada komponen Gametogenesis .
  3. GAMBAR ALAT DARI LITERATUR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11. Biaya pembuatan                    :

No Nama Alat & Bahan Biaya Pembuatan
1 Seperangkat kabel
  1. 10.000,00
2 Lampu mini warna
  1. 40.000,00
3 Triplek 2×3 m
  1.                   25.000,00
4 Balok kayu + kaca penutup
  1. 90.000,00
5 Lem fox
  1. 12.500,00
6 Gunting
  1. 5.000,00
7 Kawat (analogi spindel)
  1.                  12.500,00
8 Pisau / cutter
  1. 5.000,00
9 Bola mini warna 1 set
  1. 35.000,00
10 Bola lonjong 4 buah
  1.  Rp.                              10.000,00
11 Cat warna
  1.                    15.000,00
12 Malam (analogi kromosom)
  1.   4.000,00
  TOTAL
  1. 264.000,00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Hanjati.2008.LKPD BIOLOGI kelas XII semester 1. Gending : SMAN 1 Gending.
  • Pratiwi dkk.2007. Biologi untuk SMA kelas XII. Jakarta : Erlangga
  • Saktiyono.2006.Seribu Pena Biologi untuk SMA / MA kelas XII. Jakarta : Erlangga .

 

By aimarusciencemania